
Setelah jarum di tangan Tuan Allex di lepas oleh dokter, ia berpamitan pada gadis kecil itu untuk menemui istrinya di ruangan istirahat yang tersedia di rumah sakit Molland Hospital.
"Cucu grandpa yang cantik, cepat sembuh ya. Grandpa pamit dulu, ada urusan penting yang harus grandpa selesaikan dengan ibumu.."ucap Tuan Allex mencium kening Reyna dengan durasi lama.
'Kenapa Tuan Allex menyebut dirinya Grandpa pada gadis kecil ini, setahuku Tuan Allex tidak punya keturunan lagi selain Tuan Juan yang sudah lama menghilang. Lalu ini dari anak yang mana.." Batin dokter itu bertanya-tanya.
"Dokter, tolong jaga gadis kecil ini sebelum ibunya masuk ke ruangan ini, dan jangan lupa, lakukan perintah saya yang tadi.." ucap Tuan Allex tegas.
"Baik Tuan Allex.." jawab dokter.
Tuan Allex ke luar dari ruangan itu dengan langkah lebar.
"Tuan Allex, apakah darah anda cocok dengan darah anak saya? Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah baik-baik saja.."tanya Riana beruntun.
"Tenang nona.." ucap Sekertaris Mike.
"Tak apa Mike.." ucap Tuan Allex.
"Apa anda benar-benar ibunya..", tanya Tuan Allex pada Riana.
"Maksudnya.." tanyanya.
"Maksud saya apakah anda ibu kandung dari gadis kecil itu ." tanya Tuan Allex hanya untuk memastikannya saja.
"Benar tuan, saya ibu kandungnya. Memangnya ada apa ini.." tanya Riana bingung.
"Nak, boleh kamu ikut sebentar dengan saya, hanya sebentar tidak akan lama.." pinta Tuan Allex mengucap hangat.
"Tapi, Reyna...." ucapnya terhenti.
"Jadi nama gadis kecil itu adalah Reyna, nama yang sangat cantik seperti orangnya.." Puji Tuan Allex.
"Kamu tidak usah khawatir nak, Dokter sedang menjaga anakmu dengan ketat, dan Reyna keadaannya baik-baik saja mungkin sebentar lagi akan siuman."ucap Tuan Allex tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, saya akan ikut dengan anda.."ucap Riana pasrah, sebenarnya ia ingin menemui anaknya terlebih dahulu, tapi kalau di lihat-lihat dari wajah Tuan Allex sepertinya ada hal sangat penting dan mengharuskannya ikut dengan Tuan Allex.
"Kita mau kemana.." tanya Riana bingung saat masuk lift.
"Kita akan ke ruangan istri saya.." jawab Tuan Allex.
"Apa istri Tuan Allex sakit juga.." tanya Riana dengan wajah terkejut.
"Tidak, dia hanya kelelahan saja saat perjalanan dari Jerman menuju kemari.." jawab Tuan Allex.
'Tuan Allex bicara panjang dengan orang asing ini, sungguh ke ajaiban yang drastis."batin sekertaris Mike melihat tuannya bersikap hangat pada orang asing.
__ADS_1
"Ya Tuhan, maafkan saya Tuan Allex, gara-gara saya istri anda sakit. Sekali saya minta maaf Tuan.." ucap Riana tidak enak.
"Tidak ada yang perlu di maafkan nak, lagian itu hal yang biasa bagi lansia seperti kami ini yang gampang lelah." ucapnya menenangkan ibu dari gadis kecil itu.
"Tapi.."
"Jangan merasa tidak enak pada kami nak, justru kami akan menyesal seumur hidup jika tidak menolong Reyna anakmu.." ucap Tuan Allex menyela ucapan Riana yang merasa tidak enak padanya.
"Terima kasih Tuan Allex, anda sangat baik sekali pada keluarga saya.." ucap Riana tersenyum manis.
'Senyum itu, seperti.."batin Tuan Allex menatap senyum manis Riana.
Ting..
Pintu lift terbuka di lantai 10 rumah sakit itu, Tuan Allex dan lainnya ke luar dari lift itu menuju ruangan istirahat istrinya.
Saat melewati ruangan Raymond, Riana tak sengaja melihat pemilik rumah sakit Mollad Hospital itu lewat kaca pemutus ruangannya tengah duduk di meja kebesarannya dengan menutup mata.
Saat Raymond membuka matanya, pandangan mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain hingga Riana menyadari kelakuannya, ia memutuskan tatapan itu dan menatap lurus ke depan.
'Kenapa Tuan Allex mengajak wanita itu ke tempat istrinya, mungkin wanita itu ingin bertemu dengan Nyonya Maya dan mengucapkan terima kasih karena sudah menolong anaknya." batin Raymond beranjak dari duduknya.
'Ceklekk..
"Silahkan masuk Tuan, nona.." ucap Mike membukakan pintu ruangan istirahat Nyonya Maya.
"Heeem..." dehem Tuan Allex singkat.
"Sama-sama nona.." jawab Mike.
Riana mengikuti langkah Tuan Allex dari belakang dengan langkah lemas saat menatap seorang wanita yang tidak muda lagi tengah terbaring dengan wajah damai.
Saking lemasnya, Riana tidak bisa menopang tubuhnya sendiri dan terduduk di lantai dengan meneteskan air mata.
"Nona.." ucap sekertaris Mike terkejut saat Riana terduduk di lantai.
"Nak.." Begitupun Tuan Allex terkejut saat menoleh ke belakangnya mendapati Riana terduduk di lantai dengan pandangan kosong serta air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Siapa kalian sebenarnya.." tanya Riana dengan tubuh bergetar hebat, menatap lekat wanita paruh baya yang masih terlelap.
Tuan Allex dan sekertaris Mike terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari ibu gadis kecil itu.
"Emmm, daddy.." ucap Nyonya Maya saat pertama membuka mata melihat suaminya berdiri dengan membelakanginya.
"Sayang, kamu sudah bangun.." ujar Tuan Allex mendekati istrinya.
__ADS_1
"Emm., Siapa wanita itu.? Kenapa duduk di lantai? Kenapa kalian tidak membantu berdiri.. "cecar Nyonya Maya turun dari ranjang menghampiri Riana yang tengah menundukan kepalanya.
Tuan Allex membiarkan istrinya mendekati Riana yang masih dengan posisi yang sama.
"Nak, ayo bangun.." ucap Nyonya Maya, saat berjongkok di depan Riana.
"Apa benar kalian adalah orang tua ayahku.." tanya Riana mendongakan kepalanya dengan menatap mata Nyonya Maya.
Degg...
'Mata itu..'batin Nyonya Maya membulatkan mata.
"Maksudnya apa.." tanya Nyonya Maya dengan wajah terkejut saat Riana bertanya.
"Nak bangunlah.." sahut Tuan Allex membantunya bangun dengan memegang kedua bahu Riana. Sebenarnya ia juga terkejut mendengar Riana bertanya tadi.
"Duduklah.."lanjut Tuan Allex mendudukan Riana di sofa ruangan itu.
Nyonya Maya pun beranjak dan mengikuti langkah suaminya yang membawa Riana ke tempat lebih nyaman.
"Siapa sebenarnya perempuan ini mas..."tanya Nyonya Maya pada suaminya.
"Dia adalah ibu dari anak yang membutuhkan darah daddy di rumah sakit ini.." jawab Tuan Allex jujur.
"Bukan itu maksudku mas. Siapa wanita ini, kenapa matanya mirip sekali dengan anak kita, Juan.." ucap Nyonya Maya memperjelas.
"Ja-adi be-enar ka-alian adalah orang tua kandung dari ayah saya.." tanya Riana terbata.
"Apakah ayahmu bernama Juandra.." tanya nyonya Maya.
" Ya.." jawab Riana singkat meneteskan air.
Degg...
Jantung kedua pasangan paruh baya itu berdetak dengan sangat cepat saat mendengar jawaban singkat dari Riana.
"Sayang kami merindukan kalian nak, sekarang di mana ayahmu."tanya nyonya Maya memeluk Riana dengan erat.
"Ya Tuhan, akhirnya Engkau mengambulkan do'a kami untuk mempertemukan kami dengan cucu kami ini,.."ucap Tuan Allex bahagia, saking bahagianya sampai ia meneteskan air mata dengan memeluk wanita dua wanita itu.
Riana menangis dalam dekapan nenek dan kakeknya itu, ia bahagia bisa menemukan kedua orang tua dari Alm.ayahnya.
Sekertaris Mike melihat itu jadi meneteskan air mata, akhirnya tuannya itu menemukan keluarganya yang sudah lama ia cari.
"Tapi, kedua orang tua kamu mana sayang? Juandraku di mana? Kami ingin bertemu dengannya dan meminta maaf pada mereka..".tanya Nyonya Maya, tidak sabar ingin mencurahkan segala ke rinduannya pada sang anak, dan meminta maaf atas segala ke salahan yang pernah mereka buat hingga anaknya itu meninggalkan kedua orang tuanya dengan wanita pilihannya.
__ADS_1
"Mereka...
Bersambung..