Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 85


__ADS_3

"Mana Reyna.."Tanya Riana memasuki kediamannya.


"Nona kecil di kamarnya, Nona.." jawab pelayan.


Tanpa membuang banyak waktu, Riana langsung berlari menuju kamar putrinya yang terletak di lantai dua.


"Kakak sudah datang.."Melihat Riana, Nilla langsung bangkit dari sana.


"Kak Nilla jangan pergi, Reyna kedinginan kak.."ucap Reyna menahan perut Nilla supaya berbaring lagi di sana.


"Reyna sayang, bunda datang nak.." sahut Riana pelan mengusap kepala Reyna.


Mendengar suara yang di rindukannya, Reyna langsung melepaskan Nilla begitu saja.


"Bunda..."Panggil Reyna.


"Iya sayang, ini bunda. Kamu kedinginan kan? Sini bunda peluk.."jawab Riana.


'Ya Tuhan, panasnya tinggi sekali.."batin Riana saat merasakan hawa panas dari tubuh putrinya.


"Yang erat bunda, ini benar-benar dingin.."ujar Reyna.


"Iya sayang..".


"Nilla, kamu udah kasih obat penurun panasnya kan.." tanya Riana.


"Sudah kak, sesuai anjuran juga. Tapi panasnya tidak turun-turun." jawab Nilla panik.


"Reyna, kamu kenapa sayang.." sahut Trisstan langsung mendekatkan diri pada Reyna yang tengah dalam pangkuan bunda'nya.


"Nilla, apa yang terjadi pada Reyna? Kenapa dia bisa seperti ini.." tanya Trisstan.


"Sudah Trisstan, lebih baik kamu sekarang siapkan mobil, kita harus segera membawa Reyna ke rumah sakit.." sahut Riana.


"Baik Nona.."Trisstan segera melakukan apa yang harus di lakukannya.


"Biar Reyna, aku yang bawa kak.." ucap Nilla.


"Reyna biar sama kakak, kamu tolong nanti bawakan baju ganti untuk Reyna. Kakak duluan ya, nanti kamu nyusul.." ujar Riana.


"Iya kak..."Riana langsung menggendong putrinya ke luar dari sana.


Namun sepertinya ada sesuatu yang Nilla lupakan.


"Kak, kakak mau bawa Reyna ke rumah sakit mana.."Tanya Nilla berteriak.


"Molland Hospital.." jawab Riana juga berteriak, lalu masuk ke dalam lift darurat.


"Molland Hospital? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi di mana ya.."ucap Nilla.


"Ah sudahlah, itu tidak penting. Aku harus segera menyiapkan pakaian ganti untuk Reyna.." lanjut Nilla.

__ADS_1


Mobil..


"Tolong lebih cepat lagi, Tan. Badan Reyna sangat panas..." Sahut Riana panik.


"Baik Nona.." jawab Trisstan. Tapi sebelum itu, ia tak lupa mematikan semua AC dalam mobilnya.


"Ya Allah, semoga anakku baik-baik saja."Ucap Riana menangis, ini ke dua kalinya Reyna masuk rumah sakit dengan keadaan mencemaskan. Pertama, gara-gara kebodohan ayah kandungnya sendiri, nyawa Reyna terancam dan kedua yang sekarang ini.


Riana berharap, demam yang di derita Reyna hanyalah demam biasa.


"Bunda jangan nangis, Reyna baik-baik saja kok.." Ucap Reyna pelan, lalu mengusap air mata sang bunda.


"Iya sayang, bunda percaya kalau Reyna baik-baik saja, Reyna kan anak pintar.."jawab Riana memaksakan untuk senyum.


"Masih dingin nak.." lanjut Riana.


"Masih bund, tapi gak sedingin tadi juga " jawab Reyna.


"Ahh syukurlah, setidaknya kabar itu bisa membuat bunda lebih tenang sayang.." ucap Riana.


Begitu juga Trisstan yang mendengarkan.


"Apa perut Reyna sakit.." tanya Riana.


Reyna menggelengkan kepalanya lemah dengan mata sedikit demi sedikit menutup.


Dan pada akhirnya Reyna jatuh pingsan karena tidak bisa menahan suhu badannya yang terlalu panas.


"Reyna.." panggil Riana menepuk pelan pipi putrinya.


"Ada apa dengan Reyna, Nona.." sahut Trisstan.


"Saya tidak tahu, Reyna tidak merespon ucapan saya Tan." jawab Riana menangis.


"Astaga.."Trisstan terkejut, lalu segera menambah kecepatan lajunya


"Reyna, bangun nak. Ini bunda, sayang.."Riana masih berusaha membangunkan anaknya.


"Reyna bangun sayang, jangan seperti ini, bunda takutt.." ucap Riana.


"Tenang Nona, saya yakin Reyna baik-baik saja. Reyna hanya pingsan biasa..."sahut Trisstan..


Molland Group..


"Katanya mau kerja, kok malam melamun? Senyum-senyum pula, kaya orang gila saja.."Ucap Han memasuki ruangan Tuan'nya.


"Kenapa? Masalah buatmu.." sahut Raymond kesal, karena lamunannya terbuyarkan.


"Tentu, karena pekerjaan itu tidak selesai, pasti aku yang terkena dampaknya, kan." sahut Han.


"Kalau itu sih pasti, kau kan Sekretarisku.." sahut Raymond.

__ADS_1


"Tidak, kerjaanku masih banyak dan kau urus pekerjaanmu sendiri.."tolak Han mentah-mentah.


"Bodo amat, emang aku pikirin. Itu kan memang tugas seorang Sekretaris, menggantikan poisisi Tuannya, di saat Tuannya sedang sibuk.,, jadi wajar-wajar saja.." Ucap Raymond enteng.


"Kau bilang, pekerjaan kau masih banyak. Tapi kenapa kau keluyuran di saat pekerjaanmu banyak? Apa kau berniat membohongiku agar aku tidak memberimu pekerjaan lebih, beegitu.." sambung Raymond.


"Aku ke sini hanya ingin mengecekmu saja, benar-benar kerja atau melamunkan wanita itu. Dan ternyata jawabannya adalah melamunkan wanita itu."Jawab Han.


"Kerja atau tidak, itu urusanku dan tidak ada urussannya denganmu. Cepat pergi, mengganggu saja.."sahut Raymond.


"Aku tidak akan pergi, sebelum menyampaikan berita penting ini padamu.."Ucap Han.


Mendengar itu, Raymond langsung bangkit dari kursinya.


"Berita penting apa?Apa soal wanita itu? Apa terjadi sesuatu padanya dan putrinya..? Tolong jawab Han, jangan diam saja.." Cecar Raymond.


"Wanita itu lagi? Apa hanya wanita itu yang ada di kepala kau Han.?Baru beberapa kali saja bertemu, kau sudah seperti seorang budak cinta saja.."Sahut Han.


"Lalu hal apa.." Tanya Trisstan.


"Berkas ini, tolong di tanda tanganni.." jawab Han meletakan berkas yang di kerjakannya.


"Ck ck, ku pikir berita penting apa. Ternyata hanya tanda tangan saja, dasar menyebalkan." sahut Raymond.


Molland Hospittal..


"Bagaimana dengan anak saya dokter? Dia baik-baik saja kan.." Tanya Riana.


"Putri anda demam tinggi, dan alhamdulilah demamnya sekarang sudah mulai turun, Nona.."jawab Dokter.


"Allhamdulilah,.."Ucap Riana bernafas lega mendengarnya.


" Jujur saja, saya sediikit takut menanganinya karena ini pasien pertama yang memiliki demam di atas rata-rata dan keadaannya yang masih normal. Biasanya yang terkena demam sepertinya beliau memiliki penyakit tertentu, seperti kejang-kejang dan beberapa penyakit lainnya, tapi tidak untuk putri anda Nona. Karena itu saya lama mengecek kondisinya karena hanya ingin memastikan ketakukan saya saja, sekali lagi saya minta maaf.."ucap Dokter menjelaskan prosedurnya.


"Tidak apa-apa dok, saya mengerti. Tapi beneran tidak ada penyakit yang serius kan dok dalam tubuh anak saya.." Tanya Riana memastikan.


"Benar, semua normal. Kalau anda masih minta bukti, ini hasilnya.." Jawab Dokter memberikan hasil medis yang mengatakan bahwa anaknya baik-baik saja.


"Benar, semuanya normal Nona..."sahut Trisstan.


"Syukurlah kalau begitu, apa saya boleh menemui anak saya kan.." tanya Riana.


"Tentu Nona Riana, kalau begitu saya permisi..." jawab Dokter tersenyum ramah.


Riana langsung masuk dengan meninggalkan Trisstan yang tengah menatap gerak-gerik dokter tersebut, yang sepertinya terpesona dengan kecantikan Nona'nya.


'Baru kali ini saya melihat wanita secantik beliau, benar-benar sangat cantik.."batin Dokter tersebut.


"Hati-hati dok, beliau bukan orang biasa.."ucap Trisstan.


"Sa-saya minta maaf, saya permisi.." Dokter tersebut buru-buru pergi dari sana.

__ADS_1


'Ck, dasar dokter mata keranjang.."batin Trisstan.


Bersambung..


__ADS_2