
"Unda, unda. Hiks hiks.." Tangis Reyna pecah saat membuka mata tidak melihat keberadaan bundanya pangsung, apa lagi tempat itu sangat asing baginya.
"Bentar ya sayang, bunda kamu lagi di jemput sama Om Dokter. Pasti bentar lagi bunda kamu kesini, kamu tenang ya.." ucap Suster yang di tugaskan menjaga Reyna.
"Eyna au unda, Eyna au unda kalang ( Reyna mau bunda, Reyna mau bunda sekarang )" Ucap Reyna menangis sesegukan.
Tak lama kemudia orang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga dengan wajah cemas.
"Reyna.." panggil bundanya setelah membuka pintu ruangan anaknya, setelah itu ia belari mendekati sang anak yang sedang menangis.
"Unda,, hiks hiks hiks.." panggil Reyna.
"Maafin bunda karena ninggalin Reyna, sekarang Reyna tenang ya bunda akan di sini sama kamu sayang.." ucap Riana memeluk putri kesayangannya.
"Unda dangan tinggayin Eyna agi, Eyna akut. ( Bunda jangan tinggalin Reyna lagi, Reyna takut )." ujar Reyna dalam pelukan bundanya.
"Iya sayang, bunda tidak akan meninggalkan Reyna lagi. Suster, terima kasih karena sudah menjaga anak saya." ucap Riana tulus.
"Sama-sama Nyonya Riana, Semoga nona Reyna cepat sembuh, kalau begitu saya permisi dulu Nyonya." ucap Suster undur diri.
"Ya silahkan Suster, sekali lagi terima kasih." ujar Riana tersenyum manis.
"Sama-sama nyonya, sudah menjadi tugas saya menjaga dan merawat pasien di rumah sakit ini." ujar Suster, setelah itu ia keluar dari ruangan Reyna untuk melanjutkan tugasnya.
"Unda adi dayi ana?. ( Bunda, tadi dari mana )" Tanya Reyna setelah melepaskan pelukannya.
" Bunda tadi habis dari luar sayang, sekarang kamu makan dulu ya. Bunda suapin." ucap Riana, ia sengaja tak memberitahukan keberadaan kedua buyutnya pada sang anak, biarkan mereka sendiri mengenalkan dirinya langsung pada Reyna.
"Eyna dak mau akan bubul , Eyna ngen akan nasi goleng uatan unda. ( Reyna gak mau makan bubur, Reyna pengen makan nasi goreng buatan bunda )" Tolaknya.
"Iya nanti bunda bikinin, tapi setelah Reyna pulang dari sini ya. Reyna kan lagi sakit, jadi makannya harus bubur dulu ok." ucap Riana.
__ADS_1
"Oteh deh, pi napa baju unda nyak dalahnya?.( Okeh deh, tapi kenpa baju bunda banyak darahnya.?" tanya Reyna melihat penampilan bundanya berpernampilan sama saat Riana mengantar Reyna ke rumah sakit.
"Ehh, sebentar ya bunda ganti baju dulu." pamit Riana mengambil bajunya di dalam koper, lalu masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Reyna menatap bundanya dengan bingung, pasalnya ia tidak ingat apa yang terjadi padanya.
Tak lama kemudian Riana ke luar dari kamar mandi dengan rapi, memakai pakaian baru yang tidak ada bekas darahnya.
"Sekarang Reyna makan ya.." ucap Riana mengambil mangkuk berisi bubur dari rumah sakit itu.
"Ya unda.." jawab Reyna mengangguk.
Riana dengan sabar menyuapi anaknya sampai habis tak tersisa.
Ceklekkk..
Pintu ruangan Reyna di buka dari luar, Riana beserta anaknya menoleh pada suara itu dan menunggu yang membuka pintu itu masuk.
"Unda, eka siapa ?. ( Bunda, mereka siapa )." tanya Reyna menatap bingung pada orang-orang yang masuk ke ruangannya.
"Mereka..." ucap Riana terhenti saat Reyhan mendekati putrinya.
"Hallo cantik, Panggil saya om Ray. Om adalah pemilik rumah sakit ini." ucap Raymond memperkenalkan dirinya.
Tuan Allex dan Nyonya Maya beserta sekertaris Mike mendekati ranjang Reyna.
Degg..
Langkah Nyonya Maya terhenti saat melihat wajah Reyna dari dekat, lututnya bergetar hebat memandang lekat fotocopyan anak laki-laki satu-satunya versi perempuan.
"Tua-an muda Ju-uuan.." ucap Sekertaris Mike terbata.
__ADS_1
Begitu juga dengan Sekertaris Mike, ia terkejut melihat wajah yang seperti Tuan Mudanya dulu saat kecil. Karena ia bekerja dengan Tuan Allex sudah lama saat Tuannya belum mengenal Nyonya Maya, jadi Mike hafal betul dengan wajah itu.
"Ju-an.." ucap Nyonya Maya terbata, tubuhnya hampir saja ambruk tapi Tuan Allex segera memegang kedua bahunya.
"Unda, napa meka liatin Eyna kaya gitu. Mangnya da yang salah ma nampiyan Eyna?. ( Bunda, kenapa mereka lihatin Reyna kaya gitu. Memangnya ada yang salah sama penampilan Reyna )" tanya Reyna polos.
"Juan, anakku..." ujar Nyonya Maya memeluk Reyna erat.
"Juan, mommy sangat merindukanmu nak.." ucapnya menangis.
"Mommy sadarlah, dia bukan Juan melainkan cucunya Juan anak kita." ucap Tuan Allex mengusap punggung istrinya.
Tuan Raymond yang berada di ruangan itu tidak mengerti dengan pembicaraan mereka. Apa lagi saat Nyonya Maya memanggil pasien itu dengan sebutan Juan, yang sudah lama menghilang bak di telan bumi itu. Hati Raymond bertanya-tanya apa maksud dari ucapan mereka.
"Aku Eyna nek, kan Uan. ( Aku Reyna nek, bukan Juan ) " ucap Reyna melepaskan diri dari pelukan Nyonya Maya.
"Nenek dangan nanis, kata unda kalau nanis tal wajahna jeyek. ( Nenek jangan nangis, kata bunda kalau nangis entar wajah kita jelek )" tambah Reyna menghapus air mata yang terus berjatuhan dari pepupuk mata Nyonya Maya.
"Juan.." ujarnya.
"Nyonya sadarlah." ucap Riana.
"Juan..." Teriak Nyonya Maya histeris, ia mengingat betapa banyak dosa yang pernah ia perbuat pada anak dan menantunya yang sudah lama meninggal.
"Juan, maafin mommy nak.." teriaknya lagi, setelah itu badannya ambruk di tangan Tuan Allex.
"Hiks hiks.. Eyna akut unda. (Hiks hiks.. Reyna takut bunda). " ucap Reyna dalam dekapan bundanya.
" Jangan takut ya sayang, ada bunda di sini.." ujar Riana menengakan anaknya.
Bersambung..
__ADS_1