
Pukul 7 malam waktu setempat, Tapi Riska tak kunjung ada kabar juga. Andre tidak berhenti-hentinya menghubungi Riska dan berharap kalau istrinya mengangkat panggilan darinya, namun tetap saja tidak membuahkan hasil..
Andre kesal, Andre marah , Andre emosi karena Riska tak juga pulang ke rumah juga. Karena Andre sempat berpesan pada orang rumah, kalau Riska datang di minta untuk menghubunginya balik, itu pesan Andre dari jam 9 pagi, namun sampe jam 7 malam ini orang rumah tidak menghubunginya. Karena itu Andre yakin, kalau Riska belum pulang juga.
"Kemana perginya wanita itu jam segini belum pulang juga.." Ucap Andre mondar-mandir, mana anaknya belum siuman, membuat Andre tambah frustasi. Ingin menyuruh dokter memeriksa anaknya kembali, tapi Andre takut dokter itu mengatakan keadaan yang sebenarnya pada ibunya..Dan pada akhirnya Andre mendiamkan anaknya begitu saja dan berharap anaknya bangun.
"Ima, apa begini kerjaan istriku setiap harinya.." Tanya Andre..
"Ya gak mungkin lah Ndre, Riska begitu. Riska kan wanita baik-baik, jadi gak mungkin dia keluyuran tidak jelas seperti itu.."sahut ibu Erin.
"Tapi buktinya seperti ini buk.." ucap Andre.
"Ti-tidak Tuan, ini pertama kalinya Nyonya pergi selama ini. Biasanya Nyonya sering menghabiskan waktunya di dalam rumah bersama Den Andra.." jawab Ima berbohong.
Kalau Ima mengatakan yang sebenarnya, bisa-bisa Andra mati saat itu juga. Tidak hanya itu, Riska juga pernah mengancam kalau ia akan membuat hidup Ima hancur..
"Tuh kan, apa ibu bilang, Riska tidak seperti itu.." sambung Ibu Erin.
Tok.
Tok.
"Itu mungkin Riska Ndre. Ima, cepat buka pintunya.." titah Ibu Erin..
"Iya Nya." jawab Ima buru-buru membuka pintu.
Ceklekk..
"Tuan, silahkan masuk.." ucap Ima, ternyata yang mengetuk pintu adalah pak Ridwan.
"Iya, di mana mereka...
"Ada di dalam, Tuan." jawab Ima.
"Siapa yang datang Im? Riska kan.." sahut ibu Erin dari dalam.
"Mana perempuan itu, saya akan memberinya pel.."Ucap Andre terhenti begitu melihat pak Ridwan berdiri di sana sembari menatapnya datar.
__ADS_1
"Bapak datang.." Ucap ibu Erin berbasa-basi..
"Ya.." jawabnya singkat, lalu mendekati ranjang di mana cucunya berada..
"Gimana keadaan Andra.." tanya pak Ridwan mengusap kening anak itu..
"Andra baik-baik saja pak."Jawab Andre bicara seperlunya saja, karena ia tahu pak Ridwan tidak suka berbicara panjang lebar dengannya. Kepergian Riana dan Reyna membuat pak Ridwan sangat berubah.
"Andra bangun nak, ini kakek.." ucap pak Ridwan memegang tangan cucunya.
'Maafkan kakek karena selama ini tidak memperdulikanmu nak, tidak memperdulikan perasaanmu, tidak menganggap keberadaanmu juga. Tapi percaya lah, kakek sangat menyayangimu. Hanya saja kakek terlalu kecewa dengan sikap orang tuamu dan nenekmu, sayang. Maafkan kakek cucuku.."batin pak Ridwan, setelah sekian lama baru kali ini pak Ridwan kembali menitikan air matanya setelah terakhir melepaskan kepergian cucu dan mantan menantunya, 4 tahun yang lalu.
'Kenapa dengan bapak? Apa bapak sadar sekarang kalau Andra adalah cucunya."batin Andre.
'Sepertinya bapak sudah mulai berubah, semoga saja bapak kembali padaku seperti dulu.." batin ibu Erin tersenyum.
"Ka-kek.." Ucap Andra terbata, perlahan membuka mata, lalu menyesuikan dengan cahaya di ruangan itu.
"Iya nak, kakek di sini sayang. " Ucap pak Ridwan lembut. Baru kali ini pak Ridwan berkata lembut seperti itu.
"Allhamdulillah, Den Andra sadar juga." Ucap Ima bernafas lega, begitupun ibu Erin..
"Ha-us.." jawab Andra.
"Andra haus, papah ambilkan dulu ya.." Ucapnya menuangkan air ke dalam gelas.
"Syukurlah Andra sudah sadar, nenek khawatir sekali melihat kamu tidak sadar-sadar nak." ucap ibu Erin mencium pipi cucunya.
"Ini sayang, papah bantu minum ya." ucap Andre, si kecil ngikut saja dan pada akhirnya 1 gelas air putih itu tandas dengan sekali tegukan.
"Andra laper gak.." Tanya pak Ridwan.
"Laper kek." jawab Andra tersenyum.
"Kebetulan, kakek bawa makanan untuk Andra. Andra makan ya, setelah itu minum obat.." ucap pak Ridwan.
"Iya kek, asal kakek yang suapi Andra ya.." Ucapnya.
__ADS_1
"Iya sayang." jawabnya..
'Alhamdulilah, akhirnya bapak menganggap keberadaan anakku juga "batin Andre.
Perlahan pak Ridwan membuka kotak putih yang ia bawa dari rumahnya, dan memperlihatkan isi kotak tersebut.
"Wah, kayanya enak banget itu kek.." ucap Andra langsung tergiur dengan makanan yang di bawa kakeknya.
"Biar ibu aja pak yang nyuapi Andra, bapak kan pasti capek abis bekerja.." sahut Ibu Erin berbasa-basi dan berharap pak Ridwan berkata lembut juga pada dirinya. Namun pak Ridwan langsung menatap tajam istrinya, saat istrinya hendak mengulurkan tangan untuk mengambil kotak tersebut.
"Ya sudah, bapak saja yang nyuapin.." ucap ibu Ida mengembalikan tangannya pada tempat semula.
'Ck ck, ku pikir bapak sudah berubah, tapi ternyata tidak."batin ibu Erin kesal.
"Ibu jangan ganggu bapak dong, kalau bapak berubah fikiran lagi gimana? emang ibu tega melihat cucu kesayangan ibu sedih.."Ucap Andre menarik tangan ibunya agar menjauh dari sana..
"Ya ibu hanya mengetesnya saja kalau bapak sudah berubah atau tidak, tapi ternyata tidak."jawab ibu Erin manyun.
"Biarkan bapak merubah sikapnya dengan perlahan dulu bu, jangan mengganggunya. Mau bapak diemin kita atau apa gimana biarkan saja dulu, yang penting sekarang Andra mendapatkan kasih sayang dari kakeknya."ucap Andre..
"Tapi ibu bosan Ndre di diemin bapak kamu terus selama 4 tahun belakangan ini, di rumah sendirian kalau adik kamu gak ada, makan sendiri, tidur sendiri, bapak juga tidak pernah lagi makan masakan ibu, jarang juga makan di rumah. Paling kalau makan itu juga hasil masakannya sendiri. Ibu kesepian tahu Ndre, bapak mana pernah ngajak ibu ke lapaknya. Padahal kalau bapak ngajak sih, pasti ibu mau-mau saja sekalian bantuin.."ujar ibu Erin.
'Maaffin Andre karena tidak jujur dengan kesalahan kita dulu bu.." batin Andre makin rumit.
"Makanannya enak kek, kakek beli di mana.." tanya Andra.
"Kakek gak beli sayang, ini masakan kakek sendiri. Kamu suka.."Tanya Pak Ridwan.
"Kakek pinter masak juga ya, masakan kakek enak banget, Andra sangat suka. Belajar dari mana kakek bisa masak seenak ini? Pasti dari nenek.." tanya nya.
"Salah..Kakek belajar masak seenak ini bukan dari nenekmu nak.."Jawab pak Ridwan.
"Lalu, dari siapa kek? Tidak mungkin juga kan dari mamah Andra, secara kan mamah gak bisa masak..." Tanya Andra.
"Dari bundanya Reyna ."jawab pak Ridwan tersenyum.
Andre maupun ibu Erin membulatkan mata mendengar nama itu.
__ADS_1
Bersambung...