
"Tugas kau sekarang, pantau terus kedatangan mereka. Lebih khususnya, tempat tinggal mereka. Karena saya tidak ingin kecolongan lagi seperti dulu.." Titah Raymond tegas.
"Tentu, orang-orang kita saat ini tengah memantau pesawat Jett pribadi yang membawa beliau ke kota ini."Jawab Han.
"Tapi, kenapa anda sangat ingin tahu sekali keberadaan tempat tinggal pemimpin Sallex Group itu? Apa jangan-jangan anda tertarik dengan pemimpinnya juga,?Saya Dengar-dengar pemimpin Sallex group sangat cantik sekali, walaupun beliau sudah bukan gadis lagi, tapi body nya tidak bisa di ragukan lagi Tuan, bak gitar Spanyol.."Lanjut Han membayangkan kemolekan tubuh penerus keluarga Sallex , membuat iler Han hampir menetes.
Membayangkannya saja membuat Han tergila-gila, apa lagi kalau sampai melihat wajah beliau langsung, bisa-bisa Han seperti ikan mujair yang klepek-klepek tidak jelas..
"Jadi maksudmu, pemimpin perusahaan Sallex Group seorang janda? Atau apa.." Raymond terkejut, karena ia baru tahu soal itu..
"Benar, lebih tepatnya seorang ibu muda cantik beranak satu."Jawab Han..
"Kenapa kau tidak memberitahu ku soal ini Han.." Tanya Raymond...
"Bukankah berita ini tidak penting bagimu? Karena itu, saya tidak memberitahumu." Jawab Han.
"Ck, menyebalkan sekali kau ini.." Ucap Raymond.
"Menyebalkan apanya? Apa jangan-jangan, anda naksir ya .." Tuduh Han penuh selidik
"Siapa bilang? dan jawabannya Tentu tidak, saya hanya penasaran saja dengan biodata pemimpin perusahaan yang tidak di ketahui identitasnya itu .."Jawab Raymond...
'Tentu tidak, karena saya sudah mempunyai pelabuhan hati yang tepat untuknya berlindung. Walaupun hati itu susah kuraih dan ku kejar. Tapi saya percaya, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali.. Kalau itu terjadi, saya berjanji tidak akan melepaskanmu lagi Nona."batin Raymond.
"Anda senyum-senyum sendiri kenapa? Jangan bilang kalau anda tengah membayangkan ibu pasien anak kecil kita 4 tahun yang lalu?.." Tanya Han.
"Kalau iya, memang kenapa? Masalah untuk anda Tuan Sekretaris Han.." Tanya balik Raymond..
__ADS_1
"Tidak, kenapa anda tidak melupakan wanita itu saja?, Kan masih banyak wanita lain di luaran sana yang cantik dan tentunya pantas bersanding denganmu.. Contohnya, seperti pemimpin perusahaan Sallex itu, kan lebih pantas di bandingkan dengan wanita yang sudah memiliki suami dan anak itu..".Itu pendapat Han.
Mereka belum tahu saja kalau perempuan yang di bicarakan mereka berdua itu adalah perempuan yang sama. Perempuan 4 tahun yang lalu dan perempuan yang pemimpin perusahaan Sallex Group, adalah wanita yang sama. Yakni, Riana Sallex Robert.
"Wanita itu sudah tidak bersuami lagi Han, mereka sudah bercerai 4 tahun yang lalu dengan bersamaan hilangnya wanita itu Han. Saya tidak bisa melupakan wanita itu. Entah,, saya juga tidak mengerti dengan cara pikir saya yang seperti ini.."Jawab Raymond.
"Dari mana anda tahu kalau wanita itu sudah bercerai dengan suaminya?.."Tanya Han.
"Dari mananya itu tidak penting, yang jelas mereka sudah bercerai lama. Dan suaminya itu memilih hidup bersama dengan istri barunya ketimbang hidup dengan istri dan anaknya yang waktu itu di rawat di rumah sakit kita.."Jawab Raymond..
Han mengangguk-angukan kepala mendengar ucapan Tuannya.
"Siapa nama mantan suaminya itu Tuan? Saya lupa, tapi sepertinya saya kenal dengan beliau.." tanya Han.
"Andre, lebih tepatnya Andre Wijaya.." Jawab Raymond.
"Tentu, kenal baik malah." Jawab Han.
"Kau kenal baik dengan laki-laki brengsek itu Han? .." Tanya Raymond.
"Ya benar. Bukan hanya saya saja, tapi anda juga kenal baik dengan Andre Wijaya itu.." Ujar Han.
"Saya? Kapan,bah.."Ucap Raymond terhenti begitu teringat dengan salah satu nama pegawai di perusahaannya.
"Jangan bilang Andre yang kau maksud adalah Andre Wijaya yang bekerja di perusahaan kita Han.."Tanya Raymond...
"Benar Tuan, lebih tepatnya Andre Wijaya yang mempunyai jabatan lumayan tinggi di perusahaan kita, yakni sebagai Direktur Keuangan.."Jawab Han.
__ADS_1
"Apa.." Raymond terkejut.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Direktur Keuangan kita adalah laki-laki brengsek itu Han? Tahu gini, saya tidak akan menaikan jabatannya, mungkin saja saya akan membuatnya menderita.."Ucap Raymond, mengingat betapa putus asanya wanita itu seorang diri saat mencari pendonor darah untuk putri kecilnya. Mengingat saat perempuan itu membawa 2 koper besar ke rumah sakit dengan keadaan sangat memperihatinkan. Mata bengkak karena terlalu lama menangis, pipi merah seperti bekas tamparan, rambut acak-acakan seperti bekas jenggutan serta darah kering yang melekat di pakaian wanita itu. Mengingat semua itu, membuat Raymond sangat emosi.
"Tenang Tuan, saya mohon kontrol emosi anda. Ini kantor, dan anda pemimpinnya di sini. Sungguh mustahil bukan kalau masalah pribadi di sangkut pautkan dengan pekerjaan? Anda harus profesional, jangan karena ini mereka memandang anda dengan rendah Tuan." Han buru-buru meneangkan Raymond , sebelum Tuan nya itu lepas kendali dan pada akhirnya mempermalukan dirinya sendiri.
Mendengar kata-kata itu, perlahan membuat Raymond sadar dengan posisinya di sana.
"Apa kita harus memecat laki-laki brengsek itu Han? Rasanya saya tidak sudi, jika perusahaan ini memperkerjakan laki-laki brengsek seperti Andre.."Ujar Raymond.
"Kita tidak bisa memecatnya begitu saja Tuan. Mau jawab apa kalau beliau menanyakan hal itu? Bisa-bisa nama perusahaan kita tercoreng karena memecat karyawannya handalnya tanpa alasan. Apa lagi kenerja beliau sangat bagus di perusahaan ini, rasanya tidak mungkin bukan kalau itu kita lakukan pada pegawai handal seperti pak Andre Wijaya. "Ujar Han.
"Lalu, saya harus bagaimana? Membiarkannya begitu saja bekerja di perusahaan ini.. " Tanya Raymond, karena yang di ucapkan sekretarisnya ada benarnya juga.
"Apa lagi selain membiarkannya bekerja di perusahaan ini. Lebih baik, Kita lihat dulu saja kinerjanya seperti apa ke depa. Kalau tetap seperti ini, kita pertahankan. Tapi kalau sebaliknya, kenapa tidak kita pecat saja.."Jawab Han.
Raymond menganggukan kepala.
"Jadi, tugas kau sekarang selidiki lagi kenerja laki-laki brengsek itu. Siapa tahu dia sudah melakukan sesuatu pada kita yang membuat perusahaan kita rugi." Ujar Raymond.
"Itu sudah saya lalukan dari dulu soal mengawasi kinerja semua karyawan kita Tuan. Tapi sudah 3 tahun belakangan ini, pak Andre Wijaya masih tetap pada pendiriannya untuk tidak melakukan yang membuat perusahaan kita bangkrut. Justru beliau, selalu mengerjakan tugasnya dengan baik dan jujur, bahkan anda sendiri puas bukan dengan hasil kerjanya.."Tanya Han.
"Ya, saya akui kinerja laki-laki brengsek itu selama ini sangat bagus. Tapi tetap saja, mulai sekarang kau lebih ketat lagi mengawasi kinerjanya. Kalau sedikit saja ada yang membuatmu curiga, segera beritahu saya secepatnya Han.." Ujarnya.
"Baik Tuan."Jawab Han.
'Segitu besarnya kah perasaan Raymond pada wanita satu anak itu, sampai ia sendiri menyelidiki perempuan tidak di kenal itu seperti ini, bahkan Raymond ingin sekali menghancurkan mantan suami wanita itu. Sungguh ajaib sekali memang wanita biasa-biasa itu. Hanya beberapa kali mereka bertemu , membuat sang pengusaha muda ini takluk pada pesona mantan istri karyawannya sendiri..Sungguh keajaiban yang tidak bisa di lihat dengan mata.."batin Han.
__ADS_1
Bersambung..