Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 93


__ADS_3

"Suster, tolong katakan di mana anak saya di rawat.." tanya Andre di meja resepsionis.


"Namanya Tuan? Biar mudah mencari ruangannya.." tanya suster.


"Atas nama Andra Wijaya.." jawab Andre tidak sabaran.


"Sebentar..


"Pasien atas Andra Wijaya masih di tangani oleh dokter, di ruang perawatan VIP lantai 20, kamar 232."Ucap suster..


Tanpa sepatah kata lagi, Andre langsung berlari menuju lift..


'Semoga kamu baik-baik saja nak.."batin Andre cemas.


Ting..


Lift terbuka, dan Andra'pun segera mencari kamar sesuai yang di ucapkan suster tadi..


Namun langkah Andre terhenti di tengah jalan saat melihat orang-orang berpakaian serba hitam berbaris rapi di depan satu ruangan paling ujung, yang jelas itu ruangan VVIP.


'Siapa mereka?Pasti mereka tangah menjaga majikannya yang sakit. Pasti orang kaya.."batin Andre bertanya-tanya. Namun ingatannya kembali tertuju pada sang putra kesayangannya, lalu melanjutkan langkahnya. Entah kebetulan atau di sengaja, ternyata ruangan Andra tepat di samping ruangan yang di jaga ketat itu.


Melihat Ima dan supirnya di sana, Andre langsung menghampirinya.


"Mana Andra? Apa kata dokter? Andra baik-baik saja kan Ima.." tanya Andre.


"Den Andra masih di tangani dokter, Tuan.." jawab Ima menundukan kepala.


"Kenapa Andra bisa masuk rumah sakit Ima? Bukankah tadi pagi Andra baik-baik saja?.."Tanya Andre.


"Den Andra sudah pingsan saat di tengah perjalanan menuju rumah sakit Tuan. Sebenarnya tadi padi badan Den Andra memang sudah demam. Saya sudah melarangnya untuk pergi ke sekolah, tapi Den Andra'nya malah tidak mau, Tuan.." jawab Ima ketakutan.


"Kenapa kau tidak bilang jika anak saya demem, hah..?"bentak Andre emosi.


"De-Den Andra melarang saya untuk mengatakan keadaannya yang sebenarnya Tuan, maafkan saya.."Jawab Ima.


"Seharusnya kau tidak perlu dengarkan ucapan Andra, Ima. Kalau kau mengatakan yang sebenarnya, Andra tidak mungkin jatuh pingsan seperti ini.."ujar Andre.


'Anda benar, tapi saya juga tidak ingin Andra mendapat hukuman dari istri anda Tuan Andre.."batin Ima.


"Bagaimana kalau sakit Andra nambah parah,?Apa kau mau tanggung jawab hah.." bentak Andre.


Bentakan itu lumayan karas, hingga orang-orang yang berada di sana menoleh pada Andre, termasuk penjaga yang menjaga ruangan VVIP.


"Maafkan saya Tuan.." ucap Ima.

__ADS_1


"Bisa pelankan suara anda Tuan? Anak majikan saya sedang sakit di dalam.."Sahut salah satu dari penjaga itu.


"Maaf.." ucap Andre singkat.


"Shittt, sebenarnya siapa sih orang-orang itu?Mengganggu saja..." Andre menyugar rambutnya sendiri.


"Kau sudah menghubungi Nyonya'mu.." tanya Andre tidak sekeras tadi.


"Sudah Tuan, tapi tidak di angkat." jawab Ima.


Sedangkan Pak Supir hanya mendengarkan saja di sana.


"Ck ck, kemana perginya wanita itu, kurang ajar.." Ucap Andre kesal. Yang membuat Andre sangat emosi adalah, saat anaknya sakit si ibu tidak berada di sampingnya.


Apa lagi Andre teringat dengan ucapan Riska yang mendukung Andra untuk berangkat sekolah, ibu macam apa anaknya sakit tidak tahu apa-apa, pikir Andre.


Ruangan sebelah..


"Reyna mau makan sesuatu? Biar bunda carikan sayang.." Ucap Riana mencoba dekat dengan putrinya.


"Gak mau. "jawab Reyna, jutek.


"Mainan, atau apa gitu sayang. "Kembali mencoba.


"Gak mau."jawabnya acuh tak acuh.


"Gak apa Nilla, aku ngerti kok. Reyna pasti marah padaku, tapi tidak apa-apa, aku yang salah.." sahut Riana.


Drrettt.


Drrett..


"Bunda terima telpon dari Om Mike dulu ya sayang.." ucap Riana..


Jangankan menjawab, menatap bundanya sendiripun rasanya enggan.


Dengan perasaan tidak menentu, Riana mengangkat panggilan dari Om'nya.


"Hallo Om.." ucap Riana setelah menjauhi putrinya.


"Riana, apa benar Reyna masuk rumah sakit.?" tanya Om Mike langsung ke intinya...


"Benar Om, tapi sekarang sudah mendingan kok.." jawab Riana.


"Syukulah, tapi kenapa kamu tidak memberi tahu Om soal ini? Kalau Om tahu keadaan Reyna seperti ini, pasti Om dan Tante sudah berada di sana." ucapnya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin membuat Om dan Tante khawatir. Om tidak perlu ke sini, Reyna bentar lagi juga di perbolehkan untuk pulang.."ujar Riana.


"Ya sudah kalau begitu Om lega mendengarnya. Tapi kalau boleh tahu, kenapa kamu mengirim Trisstan pulang? Apa semuanya sudah beres.." tanya Om Mike.


"Trisstan tidak mengatakan sesuatu pada Om.."tanya Riana balik..


"Om sudah mendengarnya, dan Om minta maaf ya. Tapi, apa lahan itu sudah kamu dapatkan sayang?Trisstan bilang, pemiliknya bukan orang sembarangan." tanyanya.


"Belum Om. Rencananya sore ini juga aku mau menemui pemilik lahannya, dan Om tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri." jawab Riana meyakinkan Om'nya.


"Baik, om percaya dengan kemampuan kamu nak. Tapi jangan lupa bawa orang-orang kita, hanya untuk berjaga-jaga saja jika pemilik lahan ini mempermainkanmu." ujar Om Mike..


"Pasti Om." jawab Riana.


"Kalau begitu om tutup dulu ya, jaga diri kamu baik-baik, sampaikan salam Om pada Reyna. Dan Tolong sampaikan kata maaf Om juga pada pemilik rumah sakit itu, atas kekacauan anak Om."ujarnya.


"Baik Om, aku akan menyampaikannnya.." ujar Riana, lalu sambungan terputus.


'Hufff, bagaimana aku harus menyampaikan kata maaf Om Mike, jika aku saja tidak tahu di mana pemilik rumah sakit ini berada." batin Riana..


Riana mengalihkan pandangannya ke arah Reyna, dan Reyna langsung memalingkan wajahnya saat ketahuan tengah mengawasi gerak gerik bundanya.


'Bunda tahu kamu kecewa sama bunda, sayang. Tapi bunda juga tahu, kalau kamu sangat menyayangi bunda."batin Riana tersenyum, setidaknya rasa sakit itu sedikit sirna dari hatinya.


Molland Group..


'Kalau saja aku tidak menawarkan diriku sebagai ayah Reyna, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini..Riana tidak mungkin marah padaku, dan aku tidak sefrustasi ini, sial sial sial.." batin Raymond kesal pada dirinya sendiri.


"Baru bertemu saja sudah rumit begini, apa lagi ke depannya. Sepertinya aku akan gagal mendapatkan wanita itu...


"Tidak, itu tidak boleh terjadi. Tuhan sudah memberiku kesempatan dan aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu. Ya, aku harus berjuang lagi untuk mendapatkan hatinya.." ucap Raymond bersungguh-sungguh.


"Tuan.." panggil seseorang.


"Cck, mengganggu saja. Ada apa.." tanya Raymond ketus.


"Ini soal lahan itu Tuan.." ucap Han.


"Kenapa? apa kau mendapat informasi tentang calon pembeli lahan itu ." tanya Raymond tegas.


"Kalau soal identitasnya, saya tidak tahu. Tapi Saya mendapat kabar, jika rentenir itu akan bertemu langsung dengan pembeli lahan tersebut sore ini juga Tuan.." jawab Han.


"Di mana.." tanya Raymond..


"Di lokasi. "jawab Han.

__ADS_1


"Bagus, segera awasi lahan itu. Aku jadi penasaran dengan pembeli lahan super mahal itu." ucap Raymond...


Bersambung.


__ADS_2