
"Selamat pagi Om.." Ucap Riana setelah menerima sambungan telpon dari Sekretaris kakeknya.
"Heumm,, kenapa kamu tidak hubungi Om kalau kamu sudah sampai ke tempat tujuan Riana? Kamu tahu, Tante'mu itu tidak bisa tidur semalaman karena menunggu kabar dari kalian.." Cecar Om Mike.
"Oh astaga, maafkan aku Om, aku lupa kasih kabar pada kalian.."URcap Riana merasa bersalah. Karena sangat ingin mengunjungi rumah kedua orang tuanya, ia jadi melupakan orang yang selama 4 tahun belakangan ini turut andil dalam hidupnya.
"Apa itu Riana.." Tanya Tante Shierra di sebrang sana.
"Iya mah.." Jawab Om Mike, Riana juga mendengar itu.
"Allhamdulilah, akhirnya cucu kita bisa di hubungi juga. Kemarikan ponselnya pah, mamah ingin bicara dengan Riana.." Ujar Tante Shierra.
"Riana, tente'mu ingin bicara.." Ucap Om Mike.
"Iya om.."
"Hallo sayang? Kamu udah sampai kan? Sampai jam berapa? Kenapa tidak hubungi tante dan Om? Bagaimana kabar Reyna? Dia baik-baik saja kan saat di pesawat? gak mabok kan.." Cecar Tante Shierra.
"Kalau tanya satu-satu dong Mah, Riana pasti pusing itu jawabnya.." sahut Om Mike.
"Maaf Pah, abisnya mamah khawatir dengan mereka. Si Triss juga gak hubungi kita.." Jawab Tante Shierra.
Riana tersenyum senang mendengarnya.
"Maaffin Riana ya Tan, sudah membuat Tante dan Om khawatir.." Ucap Riana merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa sayang. Tapi kamu, Reyna dan yang lainnya baik-baik saja kan.." Tanya Tante Shierra.
"Allhamdulilah aku dan yang lainnya baik-baik saja Tan. Reyna juga anteng di pesawat."Jawab Riana.
"Syukurlah kalau begitu, Tante senang mendengarnya.." Ucap Tante Shierra dan di lanjutkan dengan pembicaraan ringan.
Tidak lupa, Tante Shierra bertanya ini dan itu. Dari sarapan, kamar, fasilitas dan masih banyak lagi yang Tante Shierra tanyakan.
Riana'pun satu-persatu menjawab pertanyaan tante'nya dengan hati senang dan bahagia karena masih ada yang perduli dan mengkhawatirkan keadaannya dan putrinya.
Sampai percakapan itu selesai begitu Riana teringat dengan jadwalnya hari ini. Yaitu, mencari lokasi pembangunan untuk kantor pusat The King Sallex Group.
"Ini lokasi terbesar dan terluas di daerah ini yang saya dapat dari sumber kita . Bagaimana menurut
__ADS_1
anda, apa lahan ini cocok untuk pembangunan kantor pusat kita atau kita mencari lahan lain, Nona.."Tanya Trisstan.
"Kalau menurutmu gimana.." Tanya Riana balik, ia akan meminta pendapat orang lain terlebih dahulu, dan selanjutnya ia sendiri.
"Kalau menurut saya, lahan ini sangat cocok. Luas, panjang, tempatnya strategis dekat dengan pusat perbelanjaan, cafe dan tentunya dekat dengan rumah sakit itu.." Jawab Trisstan menunjuk Molland Hospital.
'Dan dekat juga dengan rumah bunda dan ayahku..'"batin Riana memandangi TPU yang agak jauh dari tempat tersebut.
"Saya sependapat denganmu Trisstan. Baiklah, segera urus tempat ini.." Jawab Riana.
"Tapi ada satu masalah dengan pemilik lahan ini Nona.."Ucap Trisstan.
"Apa itu.." Tanya Riana menatap sekretarisnya dengan pandangan serius.
Trisstan yang di tatap seperti itu langsung menundukan kepalanya.
"Soal harga." Jawab Trisstan.
"Harga? Memangnya kenapa dengan harganya? Apa uang kita tidak cukup untuk membeli lahan ini.." Tanya Riana bingung.
"Bukan seperti itu Nona, hanya saja Pemilik lahan ini menjualnya dengan harga sangat tinggi yang melewati batas penjualan Nona." Jawab Trisstan.
"Benarkah? Kenapa bisa seperti itu.." Tanya Riana.
"Waww, tinggi juga ya rupanya.." Ucap Riana.
"Benar. Lalu, apa kita harus mencari lahan lain Nona.." Tanya Trisstan.
"Tidak perlu, saya sudah sangat cocok dengan lahan ini. Tidak masalah soal harga, yang penting kita bisa mendapatkannya dan segera melakukan pembangunan kantor pusat kita.."Jawab Riana tegas.
"Baiklah, saya melakukan sesuai perintah anda Nona. tapi saya tidak menjamin jika rentenir itu tidak akan mempersulit pembelian lahan ini.." Ujar Trisstan.
"Jika mereka melewati batas, saya sendiri yang akan mengatasinya Trisstan.." Jawab Riana.
"Kau urus semua soal ini, saya akan pulang sekarang.." Lanjut Riana.
"Tumben anda pulang di jam seperti ini Nona? Memangnya ada apa.." Tanya Trisstan, pasalnya ia selalu tahu jadwal Nona'nya.
"Saya ada janji pergi dengan Reyna."Jawab Riana.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya.."
" Kau tidak perlu ikut, karena saya bisa menjaga diri, dan lagi pula ada orang-orang kita yang di tugaskan menjagaku. Saya pergi.." sahut Riana cepat sebelum Triistan melanjutkan kata-katanya.
"Hati-hati.." ucap Trisstan.
"Thank.."
Mansion..
"Bunda, bunda dari mana? Reyna tungguin dari tadi gak pulang-pulang juga. Katanya sebentar, kok lama.." Tanya Reyna setelah sang bunda memasuki kediamannya.
"Bunda ada urusan bisnis dulu sayang, maaf ya karena sudah membuat putri bunda yang cantik jelita ini menunggu.." Jawab Riana menarik hidung mancung.
"Bisnis lagi,." Ucap Reyna pelan, cemberut.
"Reyna marah.." Tanya Riana mensejajarkan dengan tinggi sang putri tercinta.
"Reyna gak marah, cuma kesal saja. Katanya liburan, kok masih ada soal bisnis lagi sih. Bunda kan udah janji mau anterin Reyna ke tempat indah itu, kenapa bunda selalu ingkar janji kalau menyangkut soal Reyna, hiks hiks hiks.."Pada akhirnya kekecewaan itu terucap juga dari bibir imut Reyna.
"Sayang, maafkan bunda." Ucap Riana membawa Reyna ke dalam dekapannya.
"Hiks hiks hiks,, kenapa bunda selalu menomor dua'kan Reyna.? Reyna ingin kembali seperti dulu yang selalu di utamakan oleh bunda, yang selalu di peluk setiap saat, selalu tidur bersama. Reyna sangat merindukan moment-moment itu bunda.." Ucap Reyna sesegukan.
"Maafkan bunda sayang.." Hanya itu yang terucap dari bibir Riana.
"Bunda janji setelah semua ini selesai, bunda akan mengembalikan kamu ke masa-masa itu sayang. Bunda janji itu.." Ucap Riana.
'Ya Allah, maafkan aku karena sudah membuat anakku menderita seperti ini.."batin Riana menangis.
"Sekali lagi maafkan bunda sayang.." Ucap Riana tulus.
"Reyna pengen seperti dulu bunda.." ucapnya sedikit agak tenang.
"Iya sayang, tapi bunda tidak bisa mengabulkan permintaanmu sekarang karena Bunda harus melalukan sesuatu pada perusahaan peninggalan kakek dan nenek. Setelah semuanya selesai, bunda pasti akan mengabulkan semua permintaan Reyna. Jadi, tolong beri bunda waktu lagi untuk memperbaiki ini semua.." Ucap Riana, ia harap putrinya bisa mengerti posisinya.
"Bunda tidak membongi Reyna kan.." Tanya Reyna memastikan, lalu mengusap air matanya.
"Tentu tidak sayang. " Jawab Riana.
__ADS_1
"Baik, karena Reyna sangat menyayangi bunda jadi Reyna akan memberi bunda waktu untuk memperbaiki perusahaan kakek dan nenek.."Ucap Reyna membuat bunda'nya tersenyum.
Bersambung .