Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 83


__ADS_3

"Hati-hati dalam berkata bro, takutnya loe yang kena batunya.."ucap Dimas.


"Loe nyumpahin hidup gue miskin, meralat begitu Dim.? Apa loe lupa, selama ini yang bayarin loe makan siang itu siapa? Gue kan?Yang kasih loe baju-baju mahal ini siapa? Gue kan.? Sepatu, jam tangan, ini semua dari gue Dim. Jadi maksudnya apa loe berkata seperti itu? Tidak tahu terima kasih sekali loe jadi orang Dim.." sahut Andre..


Benar jika semua yang melekat di tubuh Dimas maupun Hadi adalah pemberian dari Andre, ia selalu mentraktir sahabatnya setiap bulan setelah gajian.


Andre sebenarnya dari dulu emang orang baik, tapi baik bukan pada istrinya/Riana, tapi pada orang lain, seperti teman-teman serta teman kencannya.


"Gue gak nyumpahin loe, tapi kenyataannya memang seperti itu. Loe menelantarkan anak dan istri gue gara-gara hal spele. Loe bilang bentuk istri loe kaya gembel, gue tanya berapa loe kasih jatah buat istri loe sebulan? Loe juga tidak bisa menentukan takdir, anak perempuan atau laki-laki sama saja, sama-sama membawa keberkahan bukan pembawa sial." jawab Dimas.


"Memang barang yang melekat di tubuh gue semua pake duit loe, jam tangan, sepatu, kemeja, makan siang pun loe yang bayarin..."


"Ngaku juga kan loe? Jadi gue banyak andil dalam hidup loe Din." sahut Andre sebelum Dimas meneruskan ucapannya.


"Tapi gue gak minta, loe sendiri yang beliin gue dan Hadi barang beginian.."Sahut Dimas.


"Jadi loe..


"Gue bukannya tidak tahu terima kasih Ndre, justru gue berterima kasih banyak pada loe, karena loe sudah menganggap gue dan Hadi melebihi kata sahabat. Loe beliin semua kebutuhan gue dan Hadi, loe juga bayarin kita makan saat makan bersama. Gue ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Dan sebagai seorang sahabat, gue juga berhak mengingkatkan dan menuntun loe ke jalan yang benar..."Sahut Dimas.


Andre menundukan kepala. Sedangkan Hadi membenarkan ucapan Dimas.


"Gue jadi pengen tahu kabar terkini mantan istri dan anak loe, kira-kira mereka tinggal di mana ya? Apa mereka masih hidup atau sudah meninggal.? Mengingat mereka hidup sebatang kara di dunia ini membuat gue merasa bersalah karena sudah mendukung hubungan loe dengan istri baru loe itu Ndre..." Ucap Dimas.


'Tidak, gue tidak salah. Mereka sendiri yang salah jadi wajar jika gue seperti itu. Ya, gue benar.." batin Andre di rasuki kegelapan.


"Apa loe tahu di mana mereka tinggal Ndre.." lanjut Dimas.


"Gue tidak tahu dan tidak ingin tahu keberadaan mereka. Gak penting juga. Terserah mereka mau hidup di mana sekarang, mau di kolong jembatan ke, di gubuk reod ke, mati atau hidup'pun gue gak perduli, bodo amat. gue sudah tidak ada urusan lagi dengan mereka, jadi loe gak perlu ungkit-ungkit masa lalu gue lagi Dim.." jawab Andre.


"Wah, ternyata istri baru loe hebat juga ya Dim. Hebat karena sudah membuat loe gelap mata. Ingat Bim, wanita itu tidak seutuhnya tulus sama loe, dia cuma ingin mem.."belum sempat Dimas meneruskan ucapannya, Andre lebih dulu..


Bugghh.


Andre menonjok wajah Dimas.


"Sadar Dre, ini kantor.." ucap Hadi menghalangi Andre yang ingin memukul Dimas kembali.


"Ha ha ha.." Dimas tertawa.

__ADS_1


"Dimas, gue mohon loe jangan pancing emosi Andre.." sahut Hadi, ia tidak ingin persahabatannya hancur gara-gara masalah pribadi Andre.


"Sebegitu bencinya loe pada mereka Dim, dan segitu sayangnya loe pada wanita bermuka dua itu? Gue pikir loe makin ke sini ingat dengan dosa-dosa loe, tapi nyatanya loe makin kesini makin menjadi...Gue sangat yakin, seyakin-yakinnya suatu saat loe akan menyesal karena sudah menelantarkan mereka hanya demi hidup bersama dengan wanita palsu itu, Andre Wijaya" ujar Dimas menyeka darah di bibirnya, lalu pergi dari sana.


"Lepas.." Ucap Andre.


"Gue minta maaf, gue kejar Dimas dulu.." Ucap Hadi.


"Pergi loe semua, gue gak butuh punya sahabat kaya kalian berdua. Kalian berdua orang-orang bodoh yang salama ini hidup bergantungan pada gue. Bukan gue yang akan menyesal, tapi kalian berdua yang akan menyesal karena sudah memperlakukan gue seperti ini.." Teriak Andre.


"Dasar biadab, anjing loe semua.." teriak Andre kalap.


"Ternyata Dimas bener, loe makin menjadi Dre.." ucap Hadi meninggalkan Andre sendirian di sana.


"Brengsekk, dasar sahabat bermuka dua.." Bentaknya menggelegar.


'Wanita tidak hanya menghancurkan kepercayaanku, tapi dia juga sudah menghancurkan persahabatan yang selama gue jalin bersama mereka. Dasar wanita pembawa sial..'batin Andre.


Restaurant..


Dreett


"Tuan, sepertinya saya harus menerima telpon dulu.." Ucap Riana.


"Ah ya silahkan Nona, kalau begitu saya keluar.."ujar Raymond.


"Anda tidak perlu keluar, ini putri kecil saya.." sahut Riana tersenyum.


'Sangat cantik.."batin Raymond.


"Assalamualaikum sayang.." ucap Riana tersenyum manis.


Namun senyum itu langsung sirna begitu mendengar suara Nilla di sebrang sana.


"Kak Riana ini saya, Nilla..." Ucap Nilla terdengar panik di sana.


"Ada apa Nilla? Kenapa kamu menghubungi saya pake nomor Reyna.? Reyna mana.."Cecar Riana bingung.


'Benar, pasien anak kecil 4 tahun yang lalu itu bernama Reyna. Riana Reyna, nama yang bagus."batin Raymond.

__ADS_1


"Re-Reyna..." Nilla terbata, ia tidak sanggup mengatakannya.


"Reyna kenapa, Nilla.." Tanya Riana beranjak dari kursinya.


'Kenapa dengan putrinya.."batin Raymond.


"Reyna demam kak."Jawab Nilla.


"Demam, bagaimana bisa? Bukankah tadi pas aku tinggalkan Reyna saat tidur, ia baik-baik saja.." Tanya Riana.


"Benar kak, tadi pas lagi tidur Reyna mengigau nama seseorang. Dan sekarang demamnya sangat tinggi. Kakak tolong segera pulang ya, aku bingung harus membawa Reyna ke mana." Jawab Nilla panik.


"Ya sudah, aku pulang sekarang. Tapi tolong pantau terus keadaannya, dan jangan lupa beri Reyna minum air putih.." Ujar Riana.


"Iya kak, kakak hati-hati di jalan.." ucapnya.


Panggilan berakhir.


"Putri kecil anda kenapa Nona.." tanya Raymond.


"Reyna demam, dan sepertinya saya harus pulang sekarang juga. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak pada anda karena sudah banyak membantu saya, maaf jika saya sudah menyita waktu berharga anda Tuan Raymond.."ucap Riana tulus.


"Kalau begitu saya permisi.."Lanjut Riana melangkah, namun langkahnya terhenti di sana.


"Tunggu.." Ucap Raymond memegang pergelangan tangan Riana.


Deg..


'Ada apa ini? Kenapa dengan jantungku.."batin Raymond berdegup kencang saat bersentuhan dengan Riana.


'Tangannya sangat lembut, selembut sutra.."batin Raymond.


"Tuan Raymond, bisa tolong lepaskan tangan saya. " ucap Riana.


"Ah ya tentu, saya minta maaf.."Ucap Raymond melepaskan tangan Riana.


"Apa boleh saya ikut dengan anda? Saya ingin membantu anda dan ingin bertemu dengan putri kecil anda Nona..." tanya Raymond menyampaikan keinginannya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2