
"Tadi saja hampir nangis, tapi sekarang malah senyum-senyum sendiri tidak jelas.." ucap Han.
"Kau ini, mengganggu kesenangan orang saja.." Ucap Raymond kesal.
"Ha ha, karena itulah pekerjaanku Ray.." jawab Han.
"Potong gaji baru tahu rasa loh." ucap Raymond.
"Ckck, gak bosen apa kasih aku ancaman begituan? Basi tahu..
"Tentu tidak, karena itu adalah pekerjaanku. Kalau basi tinggal buang saja Han, gampang.." jawab Raymond..
"Sudah-sudah, males sekali aku berdebat dengan kau. Sekarang tanda tanganni berkas ini sekarang juga.." Perintah Han.
"Siapa kau berani memerintahkanku? Aku ini bos'mu, ingat itu Han. Hanya aku yang bisa memerintah kan kalian, bukan kalian yang memerintahkan ku.." ucap Raymond.
"Aku juga sekretaris mu Ray. Kalau bukan aku yang suruh menyuruh, lalu siapa lagi yang akan mengatur jadwalmu dan menyuruh mu mendatangani berkas ini?." Ucap Han.
"Aku tahu semua pekerjaanku, kau nya saja yang ingin mencari masalah denganku. Tinggal letakan saja berkas itu di sana, aku akan mentanda tanganinya tanpa kau suruh." Ucap Raymond.
"Baiklah, ini berkasnya Tuan."Rese,,"lanjut dengan isi hati Han.
"Aku mendengar itu. " ucap Raymond sambil mengecek berkas di tangannya.
'Bodo amat, emang gue fikirin."batin Han dengan wajah datar tapi hati menyebalkan.
"Kalau gaji kau bulan ini ku potong lagi, apa kau akan berkata seperti itu juga. " ucap Raymond.
"Tidak akan." jawab Han.
'Potong lagi, potong lagi, kapan kayanya gue kalau gaji segitu saja langsung kena potong mulu. Memang gajinya sangat besar, tapi gaji besarpun percuma kalau di potong terus.'batin Han.
"Memang kalau kau sudah kaya, kau mau apa Han.." tanya Raymond.
"Buka usaha, beli rumah besar, mobil mewah, punya 2 istri cantik, punya anak kembar lucu." jawab Han cuek.
"Kalau cita-citamu semua terkabulkan, kau mau apa.." tanya Raymond.
"Kalau aku menjadi orang sukses, aku akan membuat perusahaanmu bangkrut, dan membuatmu menjadi gembel. Dan saat kau menjadi gembel, saat itu pula aku akan datang menawarkanmu pekerjaan. Dan aku pula akan menjadikanmu sekretarisku, biar kau tahu seperti apa pekerjaan sekretaris itu, biar kau tahu sekesal apa sekretaris saat gajinya selalu di potong setiap bulan oleh Tuan'nya yang tidak memiliki perasaan itu.." jawab Han.
__ADS_1
"Kau berkata seperti itu mengingatkan ku pada seseorang. " Ucap Raymond santai meski mendengar niat jahan sekretarisnya.
"Siapa.." tanya Han malas..
"Kau." jawab Raymond menunjuk Han.
"Aku? Ada apa denganku ." Tanya Han polos.
"Aku memungutmu dari jalanan, mengajakmu sekolah tinggi, memberikan apa yang kau butuhkan, membuatmu cerdas, mengajakmu untuk bergabung di perusahaan ini, menjadikan kau sekretaris ku, dan ku potong gajimu sesuai kegagalan mu dalam bekerja. Bukankah itu kau? Apa kau lupa masa-masa itu.."Tanya balik Raymond.
"Terima kasih, terima kasih karena bantuanmu aku menjadi secerdas ini dan setampan ini. Tapi, sepertinya kau tidak ikhlas membantuku. Kalau begitu, total saja uang yang kau keluarkan selama ini untukku,. Aku akan menggantinya dengan cara mencicil."Ucap Han.
"Benarkah kau ingin mengganti uangku?Tapi sepertinya kau tidak bisa menggantinya, secara ku rasa uang itu tidak berjumlah sedikit. Kalau tidak salah sampai milyaran, eh bukan, tapi triliunan." ucap Raymond membuat mata Han hampir ke luar dari sana.
"Hah? Apa sebanyak itu..:"Tanya Han tidak percaya.
"Ya, kau pikir membuatmu jadi seperti ini dengan harga murah meriah? Tentu tidak Han, semua serba mahal."Jawab Raymond tersenyum sinis.
"Sudahlah, kau tidak perlu pusing memikirkan soal uang. Kau tidak perlu membayarnya juga dengan uangmu, tapi kau bisa membayarnya dengan cara lain."Ucap Raymond.
"Cara lain . " Tanya Han.
"Sialan kau Ray.." Ucap Han baru sadar kalau dirinya masuk ke dalam jebakan Raymond.
"Ha ha ha ha ha.." Raymond tertawa sampai tebahak-bahak melihat wajah Han yang sangat kesal padanya.
"Tidak lucu.."ucap Han.
"Ha ha ha ha, wajah kau lucu sekali Han.." ucap Raymond sembari memegangi perutnya yang terasa sakit akibat terlalu lama ketawa.
"Senang kau ya bahagia di atas penderitaanku.."ucap Han.
"Sangat,sangat dan sangat bahagia sekali Han.." jawab Raymond.
Molland Hospital..
Ting..
[Riana, om denger kamu berkelahi dengan pemilik lahan itu, apa itu benar..]Bunyi pesan dari om Mike.
__ADS_1
'Om Mike tahu dari mana kalau aku berkelahi dengan mereka? Emmhh, pasti Om Mike mengirim orang-orangnya ke negara ini untuk memata-mataku."batin Riana bingung setelah membuka pesan di ponselnya.
[Benar Om, tapi Om tenang saja, aku sudah mendapatkan lahan itu kok.]Balas Riana.
[Om tidak masalah jika lahan itu tidak kamu dapatkan, tapi yang jadi masalahnya di situ kamu baik-baik saja atau tidak? Apanya yang luka?Sudah di obati dokter kan.] Cecar Om Mike.
'Ternyata Om Mike tidak perduli dengan lahan itu.." batin Riana tersenyum karena Om Mike begitu mengkhawatirkannya.
[Kenapa Om tidak tanyakan langsung saja pada orang-orang om, pasti mereka juga tahu jawabannya..] Pesan Riana.
'He he he, pasti Om Mike sedang berfikir dari mana aku tahu soal itu. Om Mike, om Mike.."batin Riana.
[Om ingin mendengarnya darimu langsung Riana.] Jawab Om Mike setelah 5 menit yang lalu tidak membalas pesan Riana..
[Aku baik-baik saja Om.].Pesanya.
[Kamu tidak sedang membohongi Om kan]..Bunyi pesannya..
[Beneran om, aku baik-baik saja. Kalau Om tidak percaya, Om Mike bisa tanyakan langsung saja pada orang-orang yang Om suruh memata-mataiku itu] Jawab Riana.
[Kamu ini paling bisa menyudutkan Om, nak.]pesannya.
"Ha ha ha, siapa suruh bermain curang.."ucap Riana tertawa.
Untung Reyna saat ini sudah tidur, kalau tidak pasti ia akan bertanya kenapa bundanya tertawa sembari menatap ponsel seperti itu.
Sedangkan Nilla juga tengah sibuk mengirim pesan dengan orang tua angkatnya.
[Kapan kamu pulang nduk?Sudah lama sekalu kita tidak bertemu, emak kangen sama kamu sayang..]Bunyi pesan dari ibunda Nilla.
[Nilla juga kangen sama emak, tapi Nilla gak bisa pulang sekarang mak, anak majikan Nilla lagi sakit , ini juga sekarang lagi di rumah saki mak].jawab Nilla..
[Gimana keadaan abang mak?Mendingan kan..]Tanya Nilla mengalihkan pembicaraan.
[Sakit abah nambah parah La, udah berobat kesana kemari tapi tak kunjung sembuh juga. Abah pernah bicara pada emak, kalau abah ingin sekali bertemu dengan Nilla. Pulang ya sayang, kasihan abah.]Jawabnya.
'Ya Tuhan, sakit abah nambah parah. Aku harus segera pulang, tapi aku bingung mengatakannya pada kak Riana.."batin Nilla sembari menatap majikannya yang tengah sibuk dengan ponselnya..
Bersambung..
__ADS_1