Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 74


__ADS_3

"Damn it.."Raymond emosi karena sudah kehilangan jejak mobil putih itu..


"Shiiittt, dasar tidak becus.." Akhirnya kemarahan Raymond di limpahkan pada Sekretaris Han, karena Han yang memegang kemudi.


"Bukan karena aku tidak becus, mobilnya yang tidak becus.." Han tidak terima jika ia di kalahkan.


"Apa maksudmu menyalahkan mobilku hah..." Begitupun Raymond tidak terima jika mobil kesayangannya di salahkan.


"Apa kau tidak sadar, kalau aku sudah mengemudikan mobil ini dengan kecepatan penuh hah. Semua peralatan kecepatan sudah aku pasang, tapi tetap saja mobil ini kalah cepat dengan mobil pemilik wanita cantik itu.." Jawab Han kesal.


"Ck ck,, bagaimana mungkin mobil ini bisa kalah cepat? Jelas-jelas mobil ini paling terkenal kecepatannya di bandingkan dengan mobil lain." Raymond frustasi.


"Wajar Ray jika mobil ini kalah cepat, secara mobil ini sudah lama berada di tanganmu. Sedangkan mobil putih itu masih baru, dan mesinnya pasti sangat mulus ,semulus pemiliknya ." Sahut Han terkekeh dengan


"Baru juga satu tahun.." sahut Raymond.


"Setahun atau sebulan pun sama saja, buktinya kecepatan mobil ini kalah sama mobil itu.." Ucap Han.


"Ck ck ckk,, sangat menyebalkan sekali. Sepertinya besok kau harus cari mobil yang baru, terutama yang memiliki kecepatan tinggi.." Titah Raymond.


"Lalu mobil ini mau kau kemana kan Ray.."Tanya Han, berharap kalau mobil itu berpindah ke tangannya. Meski bekas, tapi kalau masalah body tidak perlu di ragukan lagi. Masih mulus, dan mengkilap seperti masih baru.


"Buang.." Jawab Raymond singkat.


"Kenapa di buang? Kan sayang, masih bagus pula. Mending kau jual atau kau berikan kepad-.." Ucap Han terhenti begitu Raymond kembali membuka mulutnya.


"Cepat jalan, jangan banyak tanya.." Sahut Raymond cepat.


"Ck ck, dasar pelit. " Ucap Han pelan.


Belum sempat Han menginjak pedal gassnya, sebuah mobil hitam berhenti tempat di depan mobil Raymond.


"Siapa dia? Kenapa menghalangi jalan kita.." Ucap Han.


"Sepertinya orang itu anak buah perempuan tadi.."Jawab Raymond.


Tak lama kemudian, pemilik mobil yang menghadang jalan mobil Raymond ke luar dari sana.

__ADS_1


"Sepertinya aku pernah melihat orang itu.." Ucap Raymond melihat wajah pemilik mobil dari lampu mobilnya.


"Bukankah orang itu anak bungsu dari Tuan Mike.."Ujar Han menduga.


"Benar.."Jawab Raymond.


"Keluar kau sekarang juga brengsek." Teriaknya sembari menodongkan pistol ke arah mobil Raymond.


Han segera ke luar, sedangkan Raymond masih betah dalam mobilnya.


"Ada apa anda menyuruh kami ke luar Tuan Trisstan.."Tanya Han santai.


"Siapa kau? Dari mana kau tahu namaku hah..." Tanya Trisstan, mungkin karena Han berdiri di tempat yang gelap membuat Trisstan tidak dapat mengenali wajahnya.


"Jelas saya mengenal anda, bukankah anda mantan pemimpin Juan'Corp.." Ucap Han.


"Jangan bertele-tele, atau saya akan membunuh kau brengsek.." Ucap Trisstan emosi.


"Apa alasan anda membunuh saya Tuan Trisstan.." Han menyeringgai tipis dalam kegelapan.


"Karena kau sudah berani mengikuti Nona saya,, Dengar, saya tidak main-main dengan ucapan siapa. Jawab dengan jujur, siapa kau sebenarnya brengsek? Dan apa tujuan kau mengikuti Nona saya.." Tanya Trisstan masih setia menodongkan senjatanya pada Han.


"Santai Tuan, anda tidak perlu bermain kasar.." Ujar Han selow.


"Saya hitung sampai 3, jika kau tidak jujur, saya akan menebak kau saat hitungan ke tiga." Ujar Trisstan.


"Ck ck, terlalu banyak drama.." ucap Raymond dari dalam mobil.


Satu


Dua


"Tig.." Ucap Trisstan terhenti setelah lawannya berpindah ke tempat yang lebih terang.


"Apa anda mengenali saya Tuan Trisstan.." Tanya Han.


"Bukankah kau sekretaris Han.." Tanya balik Trisstan, tanpa menurunkan senjatanya.

__ADS_1


"Heem..." Jawab Han.


"Kenapa anda mengikuti Nona saya Sekretaris Han.." Tanya Trisstan.


Belum sempat Han menjawab pertanyaan Trisstan, Raymond lebih dulu ke luar dari sana.


"Tuan Raymond.." Ucap Trisstan terkejut, pasalnya ia tidak menyangka jika di dalam mobil itu ada pengusaha sukses no 2 seAsia.


Kenapa beliau mengikuti mobil nona'nya? Apa ada dendam yang masih tersalip di sana? Tapi apa? Karena setahunya, 4 tahun belakangan ini Nona'nya itu tidak punya masalah atau musuh dengan siapapun. Apa lagi dengan pemimpin perusahaan Molland Group, yang tidak punya sangkut paut sedikitpun dengan perusahaan itu, pikir Trisstan.


"Ya, selamat malam Tuan Trisstan. Senang bisa bertemu anda kembali, meski di waktu yang sangat tidak tepat.." Ujar Raymond.


"Kenapa anda mengikuti mobil Nona saya Tuan Raymond? Apa anda punya niatan tertentu pada Nona saya.." Tanya Trisstan penuh selidik, tanpa menghiraukan sapaan Raymond..


"Siapa Nona yang anda maksud Tuan Trisstan.." Tanya Raymond penasaran dengan jabatan wanita yang di ucap anak bungsu dari pasangan Tuan Mike dan Nyonya Shirra.


Reyhan bertanya seperti itu karena ia tidak tahu dengan profesi Trisstan yang sekarang. Yang ia tahu, bahwa Trisstan itu pernah mengelola perusahaan Juan'Corp. Tapi Raymond tidak mendengar kabar tentang Trisstan lagi, setelah pewaris sah kekayaan keluarga Sallex datang.


'Aku tidak boleh mengatakan yang sebenarnya pada Tuan Raymond tentang Nona Riana.."batin Trisstan.


"Saya rasa, saya tidak perlu menjawab pertanyaan anda Tuan Raymond, karena bagi saya itu tidak penting. Tapi saya ingatkan, jangan sekalipun anda mencari masalah dengan Nona saya jika perusahaan anda ingin selamat dari kata bangkrut..."Ujar Trisstan, setelah itu ia membungkukan badan untuk menghormati Raymond, setelahnya ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Raymond dan Han begitu saja.


" Berani sekali orang itu. Apa katanya, jangan mencari gara-gara dengan Nona'nya jika perusahaan kita ingin selamat? Dia pikir, dia siapa dengan beraninya berkata seperti itu pada kita. Dia pikir perusahaan kita bisa di kalahkan oleh Nona'nya? Emang Nona'nya itu punya usaha apa? Aneh sekali bocah itu..." Ucap Han.


"Perusahaan kita memang bisa di kalahkan Han.." Ucap Raymond menatap mobil yang sudah melesat jauh.


"Hah? Ngomong apa kau barusan.? Di kalahkan? Perusahaan mana yang bisa mengalahkan perusahaan besar kita Raymond? Gak ada.." Ucap Han terkekeh.


"Perusahaan kita memang besar Han. Tapi, apa kau lupa dengan posisi Molland Group seAsia ini.." Tanya Raymond.


"Posisi? Perusahaan no dua yang tersukses seAsia ini maksudmu Ray.." Tanya Han.


"Ya, dan sepertinya kau sudah tahu jawaban perusahaan mana yang bisa mengalahkan perusahaan kita Han.." Jawab Raymond.


"Maksudmu..." Ucap Han terhenti.


"Kita lanjutkan besok. Lebih baik kita pulang sekarang, karena udara malam sangat dingin.." Sahut Raymond memasuki mobilnya, begitupun juga Han.

__ADS_1


Han langsung menancapkan gas tanpa berani bertanya lagi, karena ia tahu mood Tuan'nya saat ini tidak baik..


Bersambung..


__ADS_2