
"Assalamualaikum bunda, ayah. Aku datang." Ucap Riana setelah berhasil menemukan keberadaan tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya.
Ya, Riana sedikit kesulitan saat mencari keberadaan makan orang tuanya karena TPU yang dulu sedikit berbeda dengan yang sekarang. Kalau dulu makam di sana tidak terlalu banyak, masih banyak tempat-tempat yang kosong di sana. Tapi sekarang, tempat itu sudah di penuhi makam orang-orang yang membuat Riana lupa akan jalan menuju ke makam orang tuanya.
"Maafkan Riana karena telah meninggalkan kalian berdua selama 4 tahun ini ayah, Bunda." Ucap Riana bersimpuh di kedua makam orang tuanya.
Riana menumpahkan segala kesedihannya yang selama ini di alaminya dengan hati tabah dan sabar. Ia menangis di pusara sang bunda, lalu beralih pada pusara ayahnya.
"Kenapa kalian harus datang pada mimpi Reyna,? Kenapa ayah dan bunda tidak datang padaku? Kalian tahu, padahal aku sangat berharap bunda dan ayah datang ke mimpi ku karena aku sangat merindukan ayah sama bunda.." Ucap Riana.
"Aku tahu, ayah sama bunda seperti itu karena kecewa padaku kan.." tanya Riana terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Ya, wajar saja karena 4 tahun belakangan ini aku melupakan kalian begitu saja.." ujarnya.
"Aku tidak melupakan kalian, hanya saja pekerjaanku di sana terlalu rumit dan tidak bisa di tinggalkan begitu saja..
Riana menceritakan semua yang selama ini di alaminya saat berada di kota kelahiran ayah'nya. Dari ia sekolah bisnis, belajar ilmu bela diri, saat awal memasuki kantor, pertama meeting, soal Reyna yang sudah masuk sekolah, gelar yang di dapat Reyna serta bantuan-bantuan yang Om Mike dan Tante Shierra lakukan untuknya.
Tidak lupa juga, Riana juga menceritakan semua kebiasaannya di sana, berangkat pagi pulang malam, menghabiskan semua waktunya di kantor serta menceritakan bagaimana dirinya melupakan kewajiban sebagai ibu dari anaknya.
Dari rasa sedih sampai saat-saat bahagiapun Riana ceritakan pada kedua tanah yang memanjang di samping kiri dan kanannya.
"Maaf karena tidak bisa membawa cucu kalian sekarang, tapi aku janji besok aku akan membawanya untuk menghadap ayah sama bunda. Kalian tahu, cucu kalian itu sangat ingin sekali mengunjungi tempat ini. Dia bilang, katanya sering melihat kalian berdiri di sini dalam mimpinya. Tapi dia selalu kesal, karena kalian katanya tidak membiarkan Reyna untuk mendekati kalian..
"Ha ha, sungguh lucu sekali anak itu.."..
"Bunda, ayah. Aku ke sini bukan hanya merindukan kalian saja. Tapi aku ke sini karena aku ingin meminta izin pada bunda dan ayah mengenai rencanaku..
"Aku sudah menyatukan 3 perusahaan kita menjadi perusahaan raksasa, dan aku akan membangun kantor pusatnya di kota kita. Apa ayah dan bunda setuju dengan rencanaku? Aku harap kalian setuju, karena aku melakukan semua ini hanya untuk dekat bersama kalian seperti dulu.."Ucap Riana.
'Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan sekarang sayang. Raih cita-citamu dan buktikan pada dunia kalau kamu bukan seorang wanita yang lemah.."Bisik seseorang tepat di telinga Riana.
"Apa itu ayah.." Tanya Riana mencari keberadaan orang yang membisikannya.
"Aku tahu bunda dana ayah ada di sini, dan terima kasih karena sudah memberiku izin..."Lanjut Riana.
Setelah itu, Riana berdo'a di sana untuk kedua orang tuanya. Tak lupa, Riana juga mengirimkan do'a untuk kakek dan neneknya.
__ADS_1
"Sudah pukul 2 dini hari, tapi kenapa Nona Muda belum keluar juga dari TPU itu.." Tanya pengawal masih setia berjaga di sana.
"Mungkin Nona masih kangen-kangennan kali sama orang tuanya.." Jawab temannya.
"Kangen-kangennan sih boleh, tapi harus lihat waktu dan tempatnya juga kali bro."..
"Kita susul saja, gimana..
"Pengen sih , soalnya gue takut terjadi sesuatu sama Nona. Tapi gue takut bro, tempatnya serem, gelap lagi.." Ucapnya bergidik ngeri.
"Ternyata loe gede badan doang, tapi nyali kecil. Payah loe,, kalau Tuan Mike tahu, bisa-bisa loe langsung di pecat..
"Ya loe'nya jangan kasih tahu beliau lah.." ucapnya.
"Makannya kalau gak mau di aduin, kita susul Nona Muda ke dalam sana.."ujarnya.
"Ya udah deh, ayok. Tapi gue di tengah-tengah kalian ya..
"Dasar penakut..
Lalu 6 orang pengawal itu keluar dari mobil..
Raymond dan sekretaris Han baru pulang dari tempat kerjanya setelah menyelesaikan setumpuk berkas yang di acuhkan Raymond gara-gara berita kedatangan pemimpin perusahaan Sallex Group.
"Karena jalur ini yang paling dekat menuju kediamanmu.." Jawab Han cuek. Han sangat kesal karena Raymond melibatkan ia ke dalam pekerjaan yang seharusnya di kerjakan bos'nya itu.
"Bersikap sopanlah kalau kau ingin mendapatkan banus bulan ini.." Ucap Raymond.
Mata Han langsung berbinar seketika, lalu menampilkan wajah ramah tamahnya.
"Saya melewati jalur ini karena jalur ini paling dekat dengan kediaman Molland, Tuan.." Ucap Han sopan.
"Aku sudah tahu itu.."Ucap Raymond.
"Ck ck, serba salah sekali hidupku ini. Tapi tak apa, ini semua demi bonusku.."batin Han.
"Segitu inginnya kah.." Ucap Raymond.
__ADS_1
"Tentu.." Jawab Han fokus ke depan.
Sedangkan Raymond langsung sibuk dengan ponsel pintarnya.
"Siapa mereka? Kenapa tengah malam berada di kuburan.." Ucap Han, tidak sengaja melihat segerombolan pria berbadan kekar yang baru keluar dari mobil BMW hitam.
"Mereka siapa? Hantu... "tanya Raymond tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Mana ada hantu pake mobil mewah seperti itu.." Jawab Han.
Mendengar itu, Raymond langsung duduk tegak dan mengikuti arah mata sekretarisnya.
"Siapa mereka.." Tanya Raymond bingung melihat mereka memasuki TPU.
"Aku juga tidak tahu, sepertinya mereka bukan preman. Pakaianya serba hitam dan rapi, seperti pengawal saja..." Jawab Han.
"Benar, mereka memang pengawal. Pengawal pemilik mobil putih itu.."Ujar Reyhan menunjuk mobil sport mewah berwarna putih.
"Hentikan mobil kita di tempat gelap itu Han, dan matikan lampunya sekarang juga.." Ucap Raymond.
"Untuk apa kita berhenti di sini? Ini tempatnya parah hantu Ray, apa kau tidak takut ." Tanya Han sembari melihat sekelilingnya.
"Sudah diam, dan lihat apa yang mereka lakukan di tempat ini.." Ujar Raymond.
"Ck, Tuan mereka lagi bersemedi kali Ray, makannya mereka di sini. Mending kita pulang saja yuk, takut nih.." Ucap Han.
"Kau pilih diam atau bonusmu akan ku tarik kembali." ancam Raymond.
"Saya pilih diam Tuan, puas kau.." Jawab Han pelan di kata-kata ujungnya.
Tak lama kemudian, segerombolan pria itu ke luar sana..
"Apa mereka mengawal perempuan itu.." Ucap Raymond.
"Perempuan? Mana.." Tanya Han.
"Kenapa kalian menyusulku? Bukankah sudah saya katakan kalian boleh menjaga saya dari kejauhan.." omel Riana, karena tergangu dengan kedatangan anak buahnya, saat ia tengah berdo'a untuk kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung.