
"Aww, sakiitt." Andra langsung terbangun begitu Riska mencubit bagian lengannya.
"Saakit,, hu hu hu. Kenapa mamah cubit aku.." Tanya Andra sembari menangis.
"Kenapa kamu bilang? Jelas mamah cubit kamu, abisnya kamu ini susah di bangunkan."Jawab Riska
Andra menundukan kepala sembari menghapus air matanya.
"Sudah, jangan nangis terus, cengeng banget jadi anak laki. Sana mandi, Ini sudah jam berapa Andra? Kamu hari ini masuk sekolah. Bangun cepetan, jangan tidur lagi.."Lanjut Riska.
"Ada apa ini Nyonya.." Tanya pengasuh Andra yang bernama Mia.
"Ini lagi. Dari mana saja kamu baru datang? Bukannya hari ini sekolahnya Andra? Kenapa anak ini belum kamu bangunkan juga hah.."bentak Riska.
Mia sudah tidak kaget lagi mendengar majikannya teriak-teriak, karena ia sudah terbiasa mendengar bentakan majikannya itu.
Namun tidak untuk Andra. Meski setiap hari mendengar bentakan orang tuanya, tapi balita itu masih saja dia terkejut.
Wajar saja, karena ia masih kecil dan umurnya juga masih 3 tahun. Jadi masih rentan mendengar teriakan.
Karena terlalu sering mendengar bentaakan dari sang mamah, sampai situasi tersebut terbawa ke alam mimpi.
Tidak hanya sekali , dua kali Andra teriak-teriak saat tidur, tapi sering. Bahkan sudah satu minggu ini anak kecil itu selalu berteriak dalam tidurnya.
Entah seperti apa mimpi Andra saat tengah malam, yang jelas ia berteriak-teriak dengan wajah ketakutan.
"Saya minta maaf Nyonya, saya akan mengurus Tuan Andra secepatnya.."Mia langsung mendekap tubuh kecil itu yang tengah meringkuk dengan menutup kedua telinganya.
"Cepat kau urus anak ini karena papahnya sebentar lagi ke sini.."Setelah itu Riska ke luar dengan membanting pintu sangat keras.
Brakkk..
"Astagfiraallah, Nyonya.."Mia terperanjat mendengarnya.
"Hiks hiks hiks.."Andra makin menangis di buat seperti itu oleh Riska.
"Cup cup cup sayang, jangan menangis lagi ya.. Ada mbak di sini yang jagain kamu.."Ucap Mia menenangkan anak kecil itu.
__ADS_1
"Mamah napa jahat sekali sama aku mbak? Hiks hiks hiks.."Tanya Andra.
"Mamah kamu tidak jahat kok sayang. Sudah ya,sekarang kita mandi. Abis itu Andra pake seragam sekolah, kan hari ini Andra mau sekolah.."Mia buru-buru mangalihkan pembicaraan sebelum Tuannya melihat situasi seperti ini. Kalau Andre melihat anak kesayangannya menangis seperti ini, pasti ia sangat marah besar, pikir Mia.
Karena selama 3 tahunan itu Andre tidak pernah melihat anaknya menangis. Yang Andre tahu, bahwa anaknya itu baik-baik saja di bawah pengawasan wanita yang sangat di cintainya.
Namun tanpa Andre sadari, ternyata anaknya berada di bawah pengawasan orang yang salah.
Mia Ingin mengadukan hal tersebut pada Tuannya, namun ia selalu ragu saat Riska selalu mengancamnya.
Riska berkata. Ia akan melenyapkan Andra Kalau Mia mengatakan yang sebenarnya pada Andre.
Mia langsung mengurungkan niatnya untuk berkata yang sebenarnya pada Andre setelah mendengar ancaman yang tidak masuk akal dari majikannya.
Kenapa di bilang tak masuk akal? karena Riska adalah ibu'nya. Ibu mana yang ingin membunuh anak kandungnya sendiri? Orang bodoh bukan.
Meski itu hanya sebuah ancaman semata, tapi tetap saja kata-kata itu tidak pantas untuk di lontarkan pada anak kecil.
Ingin pulang atau pindah kerja, namun Mia tidak bisa, karena ia tidak bisa meninggalkan anak asuhnya dalam pengawasan ibu jahat seperti majikannya itu.
Seperti apa nasib Andra setelah Mia pergi dari kediaman Andre?Apa akan ada yang membelanya saat di marahi? Apa akan ada yang memperdulikan Andra di rumah itu selain dirinya dan Andre ? Tentu jawabannya tidak ada.
Kejam bukan..
'Maafkan mbak sayang, mbak datang terlambat ke kamar kamu. Kalau mbak tidak datang terlambat, kamu tidak mungkin seperti ini nak..Mbak janji, dari sekarang mbak akan selalu mengutamakan kamu dalam segala hal. Ya ,mbak janji padamu.."batin Mia meneteskan air mata, sembari mengancingkan seragam anak asuhnya.
"Mbak Mia kok nangis.." Ucap Andra..
"Ehh, mbak gak nangis kok sayang. Mata mbak Mia tadi kelilipan.." Jawab Mia menghapur air matanya.
Mia fikir Andra akan percaya begitu saja pada ucapannya, namun nyatanya tidak.
"Mbak Mia nangis pasti gara-gara aku ya Mbak? Maafkan aku mbak Mia, gara-gara aku mbak Mia sampai kena amukan mamah.."Tanya Andra menundukan kepala.
"Heii, siapa bilang ini gara-gara kamu sayang? mata mbak beneran kelililan debu kok. Mbak juga gak marah kok soal mamah kamu,. Sudah ya, kita lupakan hal tadi. Sekarang kita turun untuk sarapan, habis itu kita berangkat ke sekolah kamu."Ujar Mia.
"Maafkan aku Mbak.." Andra menundukan kepala.
__ADS_1
Ingin sekali Mia menangis sekenceng-kencengnya di situasi seperti ini , namun ia tahan kembali karena tidak ingiin membuat anak asuh nya merasa bersalah.
"Selamat pagi jagoan papah.."Andre langsung membuka pintu kamar anaknya Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Pagi juga pah.."Andra langsung mengubah raut wajahnya secepat mungkin sebelum papahnya itu mengetahui raut wajah nya yang sebenarnya.
"Hei jagoan, kenapa wajahmu seperti ini?Mata kamu merah, apa kamu habis nangis.." Tanya Andre melepas pelukannya.
Ternyata usaha Andra sia-sia. Andra bungkam , tidak berniat sedikitpun untuk bicara.
"Andra tolong cerita sama papah. apa yang terjadi padamu?Kenapa wajahmu bisa merah seperti ini?Kamu habis nak? Tapi nangis karena apa..." Tanya Andre.
Andra tetap bungkam . Karena terus saja tidak mendapat jawaban dari sang anak, Andre langsung beralih pada pengasuh anaknya. Karena Andre yakin, pengasuhnya itu tahu jawaban dari pertanyaannya.
'Aku mau jawab apa kalau Tuan Andre bertanya padaku? Kalau aku menjawabnya dengan jujur, aku takut nanti ini berimbas pada Andra. Mending aku berbohong saja dulu, toh ini juga demi kebaikan anaknya. Lagi pula, Tuan Andre mana percaya dengan omonganku.:"batin Mia
"Mia.."panggilan Andre berhasil menyadarkan Mia dari lamunannya.
"Ah iya Tuan.." jawab Mia, sedikit gugup.
"Anda pasti tahu bukan alasan kenapa jagoan saya wajahnya bisa seperti ini? Apa Andra jatuh di kamar mandi atau apa.." Tanya Andre.
'Tuh kan bener, terus aku harus menjawab apa.'batin Mia bertanya-tanya.
"Mia, kamu denger kan saya bicara apa.. "Tanya Andre.
"Dengar Tuan, saya minta maaf...
" Tuan kecil menangis karena ia melihat saya meneteskan air mata Tuan, makannya Tuan Kecil ikut menangis. Padahal saya tidak menangis kok, tapi mata saya kelilipan debu, makannya mengeluarkan air mata.."Jawab Mia asal.
"Yang di ucapkan mbak Mia, apa benar sayang."Tanya Andre pada anaknya.
"Iya pah.."Jawab Andra menatap seorang pria yang sangat menyayangi dirinya.
"Oh begitu, papah pikir kamu menangis karena apa. Ya sudah, kita turun ya.."Andre mengangkat tubuh anaknya.
'Untung alasan itu melintas di kepalaku, kalau tidak aku mana bisa jawab. Dan untungnya, Andra mendukung alasan aku..."batin Mia bernafas lega.
__ADS_1
Bersambung..