Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 65


__ADS_3

"Ayo masuk sayang, kenapa malah berdiri di depan pintu.."Tanya Riana bingung.


"Bunda, ini pesawat apa hotel? bagus banget.." Tanya Reyna. Maklum, karena anak kecil itu belum pernah melihat yang namanya pesawat jett.


"Ini mah bukan hotel bintang 5 lagi, tapi bintang 10..Mirip istana.."Tambah Nilla takjub, dengan pemandangan di indah di depan matanya.



'Ya Tuhan, betapa bahagianya Reyna melihat kemewahan ini. Maafkan bunda, karena telat mengenalkanmu dengan semua ini nak..'batin Riana.


"Kamu suka sayang.." Tanya Riana.


"Suka, sangat suka bunda.", jawab Riana antusias.


"Nilla, bagaimana menurutmu? Apa kamu suka.." Tanya Riana beralih pada pengasuh anaknya.


"Mewah, dan aku sangat menyukainya Nona. Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk menaiki pesawat semewah ini Nona.." Jawab Nilla.


"Sama-sama, lagi pula kamu juga berhak menikmatinya juga. Kalau bukan karenamu, Reyna tidak mungkin sepintar ini."Jawab Riana, setelah itu mereka masuk ke lebih dalam lagi.


"Pada dasarnya Reyna memang sangat pintar Nona, maka dari itu ia mudah memahami pelajaran. Sedangkan aku, hanya membantunya sedikit saja.."Ujar Nilla merendah.


"Bagiku, itu sama saja." sahut Riana.



"Ini kamar kita.."ucap Riana.



"Ranjangnya sangat empuk, seperti ranjang di kamar aku, bun" Ucap Reyna.


"Nilla, kalau kamu mau istirahat, istirahat di kamar ini saja ya. Soalnya perjalanan kita sangat jauh, bisa menghabiskan waktu 14 sampai 16 jam'an."ucap Riana.


"Hahh.."Nilla melongo di buatnya.


"Selama itu bun.." sahut Reyna terkejut.


"Iya sayang, karena jarak Jerman dan Indonesia sangat jauh. Tapi kalau menggunakan pesawat jet, bunda juga kurang tahu waktu yang di butuhkan berapa jamnya." Jawab Riana.


Si kecil mengaggukan kepala sembari ber oh ria.


"Soal istirahat, Nona..."


"Jangan memanggilku dengan sebutan Nona, sebenarnya aku sangat risih dengan panggilan itu. Panggil saja aku kakak, aku rasa itu lebih cocok untukku.." sahuh Riana.


"Tapi itu tidak sopan, Nona.." Ucap Nilla keberatan.

__ADS_1


"Tidak. Justru aku senang di panggil dengan sebutan itu. Berasa kek punya adik sendiri.." Ucap Riana.


"Cocok , bunda sama kak Nilla seperti adik kakak.."Sahut Reyna.


"Coba kamu panggil aku dengan sebutan kakak, Nilla.." sahut Riana.


"Tapi..


"Ayolah, aku tidak menerima penolakan untuk itu.."Sahut Riana.


"Baiklah kakak, tapi aku keberatan jika harus istirahat di kamar ini. Biar aku istirahat di luar saja ya, kak." Ujarnya.


"Nah itu baru cocok,..."sahut Riana.


"Kalau kamu tidak istirahat di kamar ini, lalu mau di mana? Soalnya, pesawat ini hanya tersedia 1 kamar saja."Lanjut Riana.


"Di sofa kan bisa.." Jawab Nilla.


"Tidak, tidak enak kalau tidur di sana. Tubuhmu bisa pegal-pegal nanti, pokoknya kita akan istirahat bersama di kamar ini, titik.."Ucapnya.


"Reyna setuju.." Sahut Reyna berloncat kegirangan.


"Baiklah, aku akan istirahat di sini. ." Jawabnya pasrah.


"Yes, yes yes. Akhirnya Reyna bisa tidur bersama dengan bunda dan kak Nilla..."sahut si kecil.


"Seneng dong bunda, sangat malah.."Jawab Reyna.


"Tapi bunda, apa Reyna boleh melihat-lihat seluruh bagian pesawat ini.."Lanjut Reyna.


"Aku juga kak, aku sangat penasaran ada apa saja dalam pesawat ini.."Tambah Nilla.


"Kalian boleh melihat bagian pesawat ini sepuas-puasnya, tapi jangan berlari-lari ya.." Ujar Riana.


"Ok Bunda..


"Ok Kak,, kami pergi dulu...


"Bunda gak ingin ikut.." Tanya Reyna.


"Tidak sayang , bunda mau istirahat sebentar.." jawab Riana.


"Baiklah, By by, bunda.."Reyna melambaikan tangan sebelum ke luar dari sana.


"By sayang. Ingat, jangan lari-lari ya.." Sahut Riana.


"Iya.."teriaknya menjauh dari pandangan bundanya.

__ADS_1


"Tuan, Tuan. saya ada berita sangat penting..."Teriak Sekretaris Han berlari setelah mendapatkan informasi dari anak buahnya.


"Berisik, kau tidak lihat apa, Kalau saya lagi bekerja.? Kau pikir ini hutan, pake teriak segala?Ganggu orang saja bisanya.." Umpat Raymond kesal, lagi fokus-fokusnya bekerja, eh malah terganggu dengan teriakan sekretarisnya yang bising, kan kesal, pikir Raymond .


"Ya maaf, abisnya berita ini penting sekali, maka dari itu saya tidak sabar ingin memberi tahu anda.." Jawab Han.


"Berita apa? Awas kalau tidak penting, saya benar-benar akan mengirimmu ke hutan Amazon. Biar kau di makan hewan buas di sana."Ucap Raymond..


Ucapan Raymond membuat sekretaris Han bergidik ngeri, apa lagi saat membayangkan ular Anaconda di hutan tersebut, membuat Han ketakutan walaupun hanya dengan membayangkannya saja.


'Apa lagi kalau saya melihatnya langsung, bisa di taplok seluruh badan saya.."batin Han, meneguk air liur yang terasa kering.


"Cepat katakan? Atau saya..


"Tidak Tuan, jangan mengirim saya ke hutan itu. Hutan itu sangat berbahaya, apa lagi bagi pria tampan seperti saya ini, bisa-bisa saya jadi bahan rebutan di sana nantinya.." Sahut Han.


"Rebutan apa?Rebutan para monyet, apa rebutan para hewan buas yang ingin memakan tubuhmu.?" Ada dua pilihan yang Raymond sediakan untuk sekretarisnya.


"Jawaban ada dua-duanya sangat tepat Tuan, maka dari itu jangan kirim saya ke sana.." Han menangkupkan kedua tangannya..


"Tidak lucu..Cepat bilang, berita penting apa yang membuatmu teriak-teriak.." Raymond mengembalikan pembahasannya ke awal..


"Baik.. Saya mendapat kabar dari orang kepercayaan kita, kalau pemimpin perusahaan Keluarga Sallex hari ini akan datang ke kota kita Tuan..", Jawab Han.


Mendengar kabar tersebut, Raymond langsung berpindah ke mode serius..


"Datang ke kota kita? Untuk apa? Maksudnya ada urusan apa beliau ke kota ini? Bukankah orang-orang Sallex tidak memiliki urusan apa-apa di sini.." Tanya Raymond.


"Menurut informasi yang saya dapat, pemimpin perusahaan Sallex Group datang ke kota ini karena beliau tengah mencari lokasi untuk pembangunan kantor pusatnya yang baru. Mereka berencana menyatukan 3 perushaan tersebut, menjadi 1 perusahaan raksasa. Kalau untuk nama perusahaan barunya, saya tidak tahu karena mereka masih merahasiakan nama perusahaan tersebut."Jawab Han.


"Seorang pemimpin Sallex Group terjun langsung ke lapangan untuk mencari lokasi pembangunan kantor pusatnya? Apa saya tidak salah denger.?"Tanya Raymond terkekeh sekaligus terkejut.


"Tidak Tuan, memang seperti itu info yang saya dapatkan dari orang-orang kita." Jawab Han.


"Kenapa beliau sendiri musti repot-repot mencari lokasi untuk pembangunan kantor pusat? Kenapa tidak mengutus orang-orang saja? Dengan begitu beliau tidak pusing dan capek juga bukan.."Tanya Raymond.


"Lagi pula, kenapa mereka ingin membangun kantor pusatnya di kota ini?Kenapa tidak di kotanya saja biar lebih dekat.? Jerman , Indonesia kan sangat jauh, butuh beberapa jam nyampe ke lokasi.."Lanjut Raymond penasaran.


"Kedatangan pemimpin perusahaan Sallex Group datang ke kota ini bukan hanya mencari lokasi pembangunan saja Tuan, tapi beliau juga memiliki tujuan penting lain di kota ini. Untuk tujuan pentingnya saya tidak tahu. Dan alasan kenapa pemimpin perusahaan Sallex Group memutuskan untuk pembangunan kantor pusatnya, karena beliau ingin dekat dengan tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya.."Jawab Han sesuai info.


"Peristirahatan terakhir? Apa kedua orang tua beliau sudah meninggal dan di makamkan di kita ini Han.."Tanya Raymond terkejut.


Han menganggukan kepala sebagai jawaban.


'Kalau benar seperti itu, aku harus mencari tahu asal usul ahli waris keluarga Sallex yang tidak di ketahui identitasnya..'batin Raymond. Bukan karena ingin menjatuhkan nama pemimpin perusahaan tersebut, hanya saja Raymond sangat penasaran dengan kebenarannya..


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2