
"Kapan pertemuan itu berlangsung Han.."Tanya Raymond belum tahu kapan pertemuan itu di laksanakan.
"Beliau bilang, sore ini Tuan.." Jawan Han.
"Kenapa musti sore?kenapa tidak sekarang saja, kau kan tahu sore ini kita ada jadwal dengan klain kita.."Ucap Raymond.
"Soal itu sudah saya batalkan Tuan, dan mereka memaklumi kita. "Ujar Han.
"Memaklumi? Memaklumi apa maksudnya Han? Memangnya kau beri alasan apa pada mereka.." Tanya Raymond bingung.
"Saya bilang, anda membatalkan pertemuan ini karena anda ingin melamar pacarnya secara mendadak.." Jawab Han pelan di kata-kata terakhirnya.
"APA.."Teriak Raymond langsung bangkit dari tempat duduknya karena terkejut.
"Kau bilang apa barusan hah.." Bentak Raymond.
"He he, maaf Tuan. Saya bingung mencari alasan yang tepat untuk itu dan hanya itu alasan yang tepat untuk membatalkan pertemuan itu Tuan Ray. Dan mereka langsung menyetujui pembatalan pertemuannya "Jawab Han menundukan kepala..
"He he, maafkan saya Tuan, abisnya di situ kondisi saya terpojok.."Lanjut Han.
"Shitt.." Ucap Raymond kembali duduk dengan kasar.
"Kenapa kau mengatakan itu sih? Mereka bisa beranggapan yang tidak-tidak soalku nantinya Han. Bagaimana kalau hal ini sampai ke telinga paparazi, dan mereka langsung membuat artikel yang tidak-tidak soal aku besok, apa kau tidak kepikiran ke sana Han.."Cevar Raymond kesal.
"Oh astaga, kenapa saya bisa lupa soal itu..." jawab Han menepuk jidatnya sendiri.
"Ck ck, kau ini selalu saja begitu.." ucap Reyhan.
"Ya maaf, namanya juga lupa. Tapi sepertinya hal ini tidak sampai ke telinga mereka, anda kan tahu sendiri kalau klain kita yang ini orangnya sangat tertutup. Jadi, berita murahan itu tidak akan ada besok.." Ujar Han.
"Bagaimana kalau dugaan kau salah.." Tanya Raymond.
"Tidak mungkin, saya yakin itu tidak akan terjadi Tuan.." Jawab Han seyakin-yakinnya.
"Kau membuatku pusing saja Han.." Ucap Raymond memijat pelipisnya .
"Pusingpun akan berakhir bahagia Ray.."Sahut Han.
"Bahagia apanya? Dasar tidak jelas.." sahut Raymond.
"Bahagia karena bisa bertemu dengan wanita cantik itu" Jawab Han membayangkan wajah Riana saat di TPU.
"Ck ck.." Raymond menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran.
__ADS_1
"Kenapa? Kau tidak berharap ketemu dengan beliau.." Tanya Han.
"Bukankah itu bagus?, kau kan bisa mencari tahu wanita yang selama ini kau cari dari beliau. Siapa tahu beliau mau memberi tahu keberadaannya.."Lanjut Han.
"Tidak segampang itu membocorkan identitas seseorang yang sudah mereka lindungi Han.." Ujar Raymond.
"Memang benar, tapi kan labih baik di coba dulu, siapa tahu pemimpin perusahaan itu mau membocorkannya." ujar Han memberi semangat untuk Tuannya.
"Ya, semoga saja..
"Kau sangat berharap bertemu wanita itu lagi Ray.." Tanya Han sedikit hati-hati.
"Tentu, kalau tidak mana mungkin sejauh ini kita mencari keberadaannya.." Jawab Raymond.
"Apa aku boleh tahu, alasan kau ingin sekali bertemu wanita itu.."Tanya Han.
"Apa kau menyukainya.." lanjut Han.
"Aku juga tidak tahu dengan pola pikiranku yang ingin sekali bertemu dengan wanita itu. Aku sudah mencoba melupakannya, tapi rasanya sangat sulit. Entah itu menyukai, atau sebatas kasihan semata.."Jawab Raymond.
"Kisah tidak jelas tapi sangat rumit." Ujar Han.
Tempat Pemakaman Umum.
"Sepertinya ini udah mau sore sayang, kita pulang yuk.."Ajak Riana setelah Reyna menceritakan kisahnya 4 tahun belakangan ini, dan tidak lupa dengan membaca do'a bersama di sana.
"Tapi ini udah mau sore sayang, dan sepertinya bentar lagi hujan. Kalau Reyna betah, besok kan kita bisa kesini lagi." Ujar Riana.
"Sebentar lagi bund,.." Ucap Reyna.
"Ya sudah, sebentar lagi ya habis itu kita pulang.." Jawab Riana pasrah.
"Ok bunda, terima kasih.." Ujar Reyna mencium pipi bundanya.
'Aku kan ada janji temu dengan pemimpin Molland Group, aku kan yang membuat janji itu, masa aku sendiri yang telat. Kan gak sopan namanya.."batin Riana.
'Atau aku suruh Trisstan saja, untuk menemani mereka terlebih dahulu.? Ya, sepertinya itu ide bagus.."batinnya.
[Trisstan, kamu lagi di mana.]Riana mengirimkan pesan. Kalau lewat suara, ia takut putrinya marah karena ia masih mengurus masalah bisnis..
Lama tak ada balasan, mungkin Trisstan masih sibuk, pikir Riana.
Ting..
__ADS_1
[Saya masih di lokasi, ada apa Nona..]Balas Trisstan.
[Masih di lokasi? Kenapa lama sekali? Apa ada masalah di sana? Jangan menghubungi saya, ada Reyna di sini.] Tanya Riana bingung.
[Benar Nona. Seperti dugaan saya, pemilik lahan ini mempersulit pembelian lahannya] jawab Trisstan.
'Ck ck, menyebalkan sekali.." batin Riana.
[Ya sudah, tinggalkan saja dulu soal itu. Lebih baik kamu sekarang pergi ke Restaurant untuk menemui orang yang akan kita temui sore ini. Saya belum bisa berangkat sekarang, Reyna masih betah di TPU ] Bunyi Pesan Riana.
[Katakan pada pemilik lahan itu, besok saya akan menemuinya] lanjutnya.
[Baik Nona] Jawab Trisstan.
Riana menyimpan kembali ponsel canggihnya ke dalam tas.
Lokasi lahan..
"Tuan Jack, sepertinya saya harus permisi sekarang karena bos saya memanggil.." Ucap Trisstan pada pemilik lahan itu.
"Lalu bagaimana dengan niatan anda yang ingin membeli lahan ini? Apa anda berniat mempermainkan saya, haaahh.. " Bentak seorang laki-laki bertubuh gemuk, kulit hitam pekat, rambut gondrong, bertato serta kumis tebal yang menghiasi wajahnya. itu adalah Tuan Jack, si rentenir kelas kakap yang di segani banyak pengusaha, tapi tidak untuk Molland Group.
"Lepaskan tangan anda Tuan Jack.." Ucap Trisstan dengan wajah mengerikan saat Pemilik lahan itu mencengkram kerah kemeja yang di gunakan Trisstan.
"Lepaskan, atau saya akan mematahkan tangan anda sekarang juga.." ujar Trisstan.
Tuan Jack langsung melepaskan tangannya dari kerah Trisstan saat ia merasa ancaman Trisstan itu lebih menakutkan.
"Anda tidak perlu khawatir soal lahan ini, karena saya dan bos saya akan kemari besok untuk membeli lahan anda ini Tuan Jack yang terhormat.." Ucap Trisstan merapikan kemeja, setelah itu ia pergi meninggalkan Tuan Jack yang tengah kebingungan.
"Tuan, kenapa anda melepaskan si brengsek itu begitu saja? Seharusnya anda memberi pelajaran pada orang itu karena sudah membuang-buang waktu berharga anda. " sahut anak buahnya.
"Biar kami yang memberi pelajaran untuknya Tuan,." sahut lainnya.
"Tidak perlu, biarkan saja dia pergi. Kita tunggu saja besok, kalau dia dan bos'nya tidak datang, baru kita beri dia pelajaran." Ujar Tuan Jack.
"Tapi Tuan, si Brengsek itu sudah kurang ajar pada anda. Saya tidak terima jika Tuan saya di perlakukan tidak sopan oleh orang tidak jelas itu, saya harus memberinya pelajaran sekarang juga.." Ucapnya menggebu-gebu.
"Apa kau tuli hah? Bukankah saya sudah katakan jangan memberi orang itu pelajaran. Apa kalian tidak merasakan aura yang berbeda dalam dirinya? Dia sepertinya orang kuat, kita tidak boleh gegabah.." Bentaknya emosi karena bisa lemah di hadapan Trisstan..
"Anda benar Tuan, saya rasa orang itu sangat kuat melebihi kuatnya Molland Group.."ucap anak buahnya yang punya insting yang sama dengan Tuannya.
"Maaf Tuan.."Ucapnya menundukan kepala.
__ADS_1
"Dan sepertinya kita harus hati-hati.."Ucap Orang itu..
Bersambung.