Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 121


__ADS_3

Kota B, asal kota kelahiran Nilla dan kedua orang tuanya. Kita B juga adalah tempat terakhir peristriahatan kedua orang tua Nilla.. Dan kota B adalah tempat kedua orang tua sambungnya tinggal..


Selama di perjalanan, Nilla nampak tidak tenang. Hatinya gelisah memikirkan bapak'nya yang tengah sakit parah di sana. Rasa takut mulai menghantui isi pikirannya, takut kehilangan untuk yang ke tiga kalinya.


'Semoga bapak baik-baik saja.."Batin Nilla.


"Kamu tidak perlu khawatir, bapak kamu pasti baik-baik saja Nilla.. Kita sudah membawakan dokter untuk memeriksa keadaan bapak kamu, dan semoga dokter Yuan bisa menyembuhkan beliau dari penyakitnya.." sahut Riana menepuk pelan bahu Nilla.


"Tapi aku takut kak, perasaan aku tidak enak.." ucap Nilla dengan mata berkaca-kaca.


"Bedo'alah semoga bapak kamu baik-baik saja di sana. Sebentar lagi pesawat kita akan mendarat, tolong persiapkan diri kamu sebaik-baiknya Nilla.." Ucap Riana.


Nilla tidak menjawab, ia panik, ia khawatir, ia gelisah, hatinya tidak tenang. Nilla tidak bisa berfikir dengan jernih, jika situasi sudah seperti ini..


'Kamu masih beruntung karena mempunyai orang tua angkat yang sangat menyayangi kamu dan menerima mu sebagai anak kandung sendiri. Sedangkan aku, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain anakku.." batin Riana..


Sedangkan orang yang Riana fikirkan tengah beristirahat di kamar yang ada pada pesawat tersebut.


40 menit kemudian, pesawat yang di tumpangi Riana dan yang lainnya perlahan mendarat di tempatnya dengan sempurna.


Nila tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain keluar dari pesawat tersebut dengan langkah terburu-buru.


"Anda mau ke mana Nona.." Tanya Jack, menghalangi jalan Nilla..


"Aku mau turun pak, tolong cepat turunkan aku dari pesawat ini.." ucap Nila.


"Tunggu sebentar Nona, karena pendaratan masih dalam proses. Pesawat ini belum sepenuhnya mendarat dengan sempurna, saya khawatir anda kenapa-napa.."Ucap Jack masih berdiri tegak di sana.


"Tapi..


"Nila , tolong tunggu sebentar lagi.." sahut Riana yang sedari tadi melihat kejadian tersebut..


Nila tidak menjawab, tapi ia menuruti ucapan majikannya dengan mendudukan bokongnya di kursi paling ujung.


Riana menghela nafas panjang, lalu bangun dari tempatnya dan pergi ke kamar untuk membangunkan putri tidur yang lagi tidur.


30 menit berlalu..

__ADS_1


Kini mereka semua tengah berada di dalam mobil menuju kediaman Nilla berada. Jalan yang berlubang membuat mobil itu lambat untuk berjalan. Sedangkan Nila sudah tidak sabar lagi ingin segera sampai ke tempat tujuan.


"Depan belok kiri pak.." sahut Nilla menjadi petunjuk arah karena ia yang paling tahu jalannya.


"Tenang Nila.." sahut Riana.


"Iya kak.." ucap Nila tanpa menoleh.


"Belok kanan pak. " lanjut Nilla.


"Apa masih jauh Non.." tanya Jack, menjaga sekaligus menyupiri Nona'nya.


"Tinggal 2 belokan lagi sampai pak. Tolong lebih cepat lagi ya pak.." jawab Nila.


"Akan saya usahakan Non.." jawab Jack menambah kecepatannya di saat jalan mulus dan memperlambat kecepatannya di saat jalan yang di laluinya hancur.


"Pemandangan di kampung halaman kak Nila bagus banget ya Bun? Banyak pohon-pohonnya, ada sawah, banyak pegunungan juga. Udaranya juga sejuk,, Reyna suka tempatnya.." sahut Reyna melihat pemandangan luar dari jendela.


"Iya sayang, Reyna benar. Pemandangannya sangat indah, bunda juga suka.."Jawab Riana.


"Kalau bunda suka, kenapa bunda tidak membangun villa saja di tempat ini? Kan pasti seru tuh, kalau libur sekolah liburannya ke sini.." Reyna menyalurkan idenyaa.


"Takut kenapa..


"Di sini kan banyak pohon-pohonnya sayang, kalau ada hewan buas gimana? Lalu menyerang kita pas kita lagi tidur? Bunda gak bisa bayangin gelapnya tempat ini jika di malam hari, pasti sangat menyeramkan, bukan.." Sahut Riana.


"Bunda jangan nakut-nakutin Reyna dong. Tapi Reyna gak takut sih, karena Rehya yakin bunda akan menjaga Reyna dengan baik jika pembangunannya jadi di lakukan di sini. Reyna juga tahu kali kalau bunda cuma mempemainkan Reyna saja, bunda gak mau nuruti kemauan Reyna. kan.. " tanya Reyna.


"Ha ha ha,, ketahuan juga akhirnya.." ucap Riana.


"Ketahuan apa...


"Iya-iya,nanti kita akan membuat villa di kota ini.. "Ujar Riana mengacak-acak rambut anaknya.


Di Mobil lain menuju kediaman Andre Wijaya. seperti Tidak ada kehidupan yang terjadi di sana. Sunyi, sepi seperti di kuburan, terasa hampa saat orang tersayang lebih memilih tinggal dengan orang tuanya di bandingkan dengan dirinya.


Ya, sebelum mobil Andre menuju kediamannya, ia lebih dulu mengantarkan kedua orang tuanya ke rumah. Namun Andre merasa ada yang aneh saat Ima, sang pengasuh anaknya ikut-ikuttan turun dari mobil dan menurunkan semua barang-barang milik anaknya.

__ADS_1


Riska belum memberi tahu soal keinginan sang mertua pada suaminya. Biarkan saja, biar mertuanya bilang sendiri pada anaknya, pikir Riska duduk santai di samping suaminya.


"Ima, itu gak usah di turunkan, itu kan punya anak saya.." tegur Andre dari arah kemudi.


"Turunkan barang-barang milik Andra.." sahut pak Ridwan tegas.


"Loh,, kenapa begitu pak? .." Tanya Andre bingung.


"Andra akan tinggal di rumah bapak.."


"Apa? Gak bisa gitu dong pak? Kalau Andra tinggal di sana, bagaimana denganku? Aku tidak bisa jauh-jauh dari anakku.." tanya Andre langsung keluar dari mobilnya. Ia tidak terima jika di pisahkan dengan anak kesayangannya.


"Kau kan bisa jenguk Andra, atau kau juga bisa menginap di rumah bapak."jawab pak Ridwan santai.


"Tidak bisa, Andra anakku, jadi dia harus ikut denganku karena aku orang tuanya. Ima, cepat masukan barang-barang Andra ke dalam mobil, kita akan pulang sekarang juga."Ucap Andre tegas.


'Ck ck, biarkan saja sih anak kurang ajar itu tinggal di sini, kan gue yang enak. Gue bebas, gue bisa pergi ke mana saja tanpa memikirkan bocah tengil itu.." batin Riska.


"Jangan dengarkan dia, Ima. Kamu pasti tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk Andra. Bawa masuk barang-barang Andra ke dalam, biar Andra, saya yang gendong." sahut pak Ridwan.


Sesuai perintah, Ima langsung membawa barang-barang itu ke dalam tanpa memperdulikam panggilan dari majikannya. Karena yang di ucapkan pak Ridwan benar, kalau ia juga tahu mana yang baik dan buruknya untuk Andra.


"Ima, saya perintahkan kamu bawa kembali barang-barang anak saya. Jika kamu memaksa, terpaksa saya akan memecat kamu."Ancam Andre.


"Kamu pecat Ima, biar bapak yang ambil kembali dia untuk menjaga anakmu. Kamu jangan khawatirkan soal gajinya, biar bapak yang bayar..


"Kamu mau tahu alasan bapak membawa Andra ke rumah ini.."


"Apa..


"Karena rumah ini lebih aman dari rumahmu." jawabnya.


"Lebih aman dari rumahku? Maksudnya apa ini pak..


"Tanyakan saja pada istri kesayanganmu itu, karena dia pasti tahu jawabannya..


Riska membulatkan mata..

__ADS_1


Setelah mengucapkan kata-kata itu, pak Ridwan langsung membopong cucuknya, dan membawanya ke dalam mobil..


Bersambung..


__ADS_2