
"Kamu menceraikan Riana cuma gara-gara perempuan ini Dre?."Tanya Ayahnya Andre marah besar setelah mendengar anaknya menceraikan menantu kesayangannya.
"Dan kamu memilih perempuan ini di bandingkan dengan Riana dan Reyna, anak kandung mu? Bapak tidak menyangka kalau bapak punya anak sebodoh kamu."Lanjut menggeleng-gelengkan kepala.
'Sialan pak Tua ini. Berani sekali dia merendahkan harga diri gue,.'batin Riska kesal.
"Sudah lah pak, biarkan saja Andre dan Riana bercerai, mungkin sudah takdirnya seperti itu. Lagi pula Riska ini juga sedang hamil dan sebentar lagi akan memberi kita cucu. Jadi, bapak gak usah khawatir kalau kita tidak akan memiliki cucu lagi.." sahut ibu Erin.
"Kenapa ibu bicara seperti itu? Ibu setuju Andre dan Riana berpisah.." tanya pak Ridwan.
"Ya mau bagaimana lagi. Setuju gak setuju kita harus mendukung keputusan anak kita bukan.." tanya balik ibu Erin.
"Sudahlah pak, Andre sudah besar. Andre sudah mengambil keputusan yang baik untuk hidup kedepannya agar lebih bahagia..Andre yakin, Riska adalah kebahagiaan Andre. Jadi aku minta, bapak jangan seperti ini. Kasihan Riska, dia juga istri Andre."Sahut Andre.
Riska memerankan wajah sedihnya.
"Aku tidak apa-apa kok mas. Mungkin bapak saat ini masih tidak bisa menerima keberadaanku karena masih sayang sama mbak Riana. Tapi aku yakin, aku dan calon anak kita bisa menggantikan mbak Riana dan Reyna di hatinya.." ucap Riska.
"Tidak akan, dan tidak akan pernah mungkin." entah kenapa pak Ridwan sangat membenci menantu barunya itu.
"Pak.." bentak Andre merasa sakit saat istri barunya di perlalukan demikian.
"Baiklah, jika ini keputusan yang paling tepat menurutmu, bapak tidak bisa melarangmu lagi." ucap Pak Ridwan menghela nafas panjang.
"Kenapa gak bilang dari tadi saja sih pak, kan gaak usah pake ribut-ribut begini." sahut ibu Erin.
"Tapi apa kamu yakin kamu akan hidup bahagia dengan wanita pilihanmu ini Dre..." tanya pak Ridwan.
"Bukankah Andre sudah bilang tadi, kalau kebahagiaannya ada di Riska. Kenapa bapak tanya lagi sih.." sahut ibu Erin.
"Bapak tanya Andre, bukan tanya ibu.."Ucap pak Ridwan.
"Ya, aku sangat yakin pak." jawab Andre menatap lembut pada istri barunya.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi ingat Dre, suatu saat kamu akan menyesal telah menelantarkan anak dan istrimu." ucap pak Ridwan.
Setelah mengatakan itu, pak Ridwan langsung pergi meninggalkan kediaman anaknya..
"Bapak kenapa seperti ibu.." ucap Andre menatap kepergian ayah kandungnya ..
"Biarkanlah, bapakmu kan orangnya memang seperti itu. Sayang bener sama Riana. Apa hebatnya sih perempuan itu? Miskin iya..", cibir Ibu Erin.
"Kamu yang sabar ya sayang, jangan dengarkan ayahnya Andre. Awal-awal memang kaya gitu, nanti lama-lama kelamaan dia juga akan sayang sama kamu." lanjut ibu Erin menenangkan menantu barunya.
"Iya bu, terima kasih karena sudah membelaku." ucap Riska sambil menyeka air matanya.
"Anggap saja ibu ini seperti ibu kamu, jadi kamu tidak boleh sungkan sama ibu." Ujar ibu Erin lembut.
"Kalau kamu usir Riana, lalu mereka tinggal di mana sekarang Dre.." tanya ibu Erin kepo.
"Aku mana tahu bu, gak penting juga." jawab Andre.
"Terus anak kamu gimana? Katanya membutuhkan pendonor darah.."tanyanya.
"Ibu tahu dari mana kalau Reyna masuk rumah sakit.." Karena Andre tidak memberitahunya sedikitpun.
"Dia sempet hubungi ibu, dia minta ibu untuk datang ke rumah sakit untuk melakukan tes darah karena anaknya katanya membutuhkan pendonor darah. Karena waktu itu ibu lagi sibuk arisan, jadi ibu tidak pergi. Dan setelah itu, Riana tidak hubungi ibu lagi.."jawabnya.
"Apa bapak tahu soal ini.." tanya Andre.
"Ya tidak lah Dre. Kalau bapakmu tahu, pasti dia marah besar.." jawab ibu Erin.
"Kalau bapak gak di kasih tahu dan malah tahu dari orang lain gimana mas.? Nanti bapak marah besar dan menyalahkan aku lagi atas semua ini.." sahut Riska memasang wajah sedih lagi.
"Mana ada orang lain, palingan perempuan sialan itu yang ngasih tahu.." sahut Ibu Erin.
"Kamu tenang saja sayang, Riana tidak akan berani mengadukan soal ini pada bapak karena sebelum wanita itu pergi, aku sempat mengancamnya." sahut Andre tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kamu pintar." sahut Ibu Erin senang.
'Bahagianya hidupku ini, mendapatkan Mas Andre seutuhnya, mendapat mertua yang baik dan lebih penting lagi, rumah ini akan menjadi milikku"batin Riska bersorak kegirangan.
Ingin sekali Riska meloncat-loncat kegirangan seperti anak kecil, hanya saja itu tidak mungkin. Karena dirinya berada di tempat yang tidak tepat.
"Rian, maafkan bapak sayang. Bapak sudah gagal mendidik Andre. Semoga kamu masih ingat dengan pesan bapak dulu nak."ucap pak Ridwan sambil menatap foto mantu dan cucunya.
"Sekarang kalian tinggal di mana? Bapak rindu, ingin bertemu.."ucapnya..
"Di manapun keberadaan kalian, yang penting kalian baik-baik saja. Dan semoga Allah melindungi kalian berdua, amin."lanjtnya.
*****
"Jadi, ini tempat tinggal nenek dan kakek selama ini..." Tanya Riana tengah berada di ruang tamu bersama Tuan Allex beserta Nyonya Maya.
Mereka berdua tersenyum..
"Bukan sayang. Kami tidak tinggal di sini, ini tempat kamu dan Reyna yang baru." jawab Nyonya Maya.
"Lalu, kakek dan nenek tinggal di mana? Apa kalian bukan orang sini.." tanya Riana penasaran.
"Kakek dan nenekmu ini tinggal di Jerman sayang, dan kami asli orang sana." jawaab Tuan Allex tersenyum.
"Hahh, jadi kalian dan ayah.." ucapnya terhenti.
"Benar sayang, ayah kamu juga asli orang sana. Lahirnya'pun di sana.."sahut Nyonya Maya.
"Wahh, ternyata banyak rahasia yang ayah tutupi dari aku"ucap Riana.
"Ayah kamu pasti tidak bermaksud menutupi identitas aslinya dari kamu, mungkin ia hanya ingin melindungi kamu dari pengejaran anak buah kakek kamu sayang." ucap Nyonya Maya.
"Tapi ayah kamu sangat pintar dan cerdik, buktinya Juan bisa menyembunyikan keberadaannya dan kamu dari kami. Padahal kakekmu ini sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaanmu dan hasilnya nihil sampai sekarang.."tambah Tuan Allex.
__ADS_1
"Dan kami berada di sini tentunya mendengar kabar dari orang kepercayaan kakekmu, bahwa di kota ini ada seorang pasien anak kecil yang membutuhkan golongan darah yang sama dengan kakekmu. Maka dari itu kami langsung berangkat saat itu juga. Entah kebetulan atau sudah di takdirkan Tuhan, kami bisa menemukan cucu dan cicit kami yang selama ini hilang. Meski harapan kami bertemu Juan dan istrinya, namun tidak apa-apa karena kami sudah menemukan penerusnya.."tambah Nyonya Maya meneteskan air mata.
Bersambung..