
Riana turun dari taksi dan membawa dua koper besar berisi pakaian miliknya dan anaknya.
Wanita malang itu berlari dari lobby rumah sakit menuju ruangan tempat anaknya di rawat dengan penampilan yang sama seperti sebelumnya.
Cekleek..
Riana membuka pintu ruangan anaknya perlahan dan mendapati dokter menepati janji menjaga anaknya sampai ia datang.
"Nona.." ucap Dokter terkejut melihat penampilan Riana sangat memperihatinkan.
"Nona, kepala anda kenapa berdarah.." lanjut Dokter.
"I-ni, ta-di waktu di rumah saya terpeleset di kamar mandi dan kepala saya terbentur dingdingnya.." jawab Riana terbata. Dokter itu menatap dalam mata Riana, ia bisa melihat ada kesedihan dan kekecewaan di matanya itu.
"Biar saya periksa luka anda nona, sepertinya lukanya cukup parah.." ucap Dokter melihat darah Riana masih basah serta pipinya merah seperti bekas tamparan.
"Tidak usah dokter, biar saya saja yang membersihkannya. Lukanya tidak terlalu parah kok dok,," tolak Riana halus.
"Baiklah kalau begitu, ini kotak P3Knya.." ujar Dokter memberikan kotak putih.
"Terima kasih dokter.." ucapnya.
"Oh, iya nona, suami anda mana.."tanya dokter itu bingung hanya mendapati Riana seorang diri.
"Su-ami sa-ya gak ada Dok.." jawab Riana terbata.
"Dokter, apa anak saya sudah sadar.." lanjut Riana mengalihkan pembicaraan. Dokter merasa ada yang tidak beres dengan Riana saat melihat dua koper besar yang ibu pasiennya itu bawa.
"Belum nona, kemungkinan pasien tidak bangun sebelum ia mendapatkan darah. Karena kondisinya sangat memperihatinkan." jawab Dokter.
"Lalu bagaimana dengan pendonor darahnya, apa anda sudah mendapatkannya.." tanyanya.
" Belum Dok.." jawab Riana menunduk menangis.
"Baiklah, lebih kita berdo'a saja semoga Tuhan mengirimi kita malaikat penolong bagi anak anda nona.." ucap Dokter bahwa ia sudah tahu yang punya rumah sakit ini tengah mencari orang yang mempunyai jenis golongan darah AB-.
"Baik dokter, terima kasih karena sudah menjaga anak saya.." ucap Riana tulus.
" Sama-sama nona, kalau tidak ada yang anda tanyakan lagi saya permisi.."ucap dokter pamit.
"Silahkam dok.." sahut Riana.
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, sang dokter ke luar dari ruangan pasien betapa terkejutnya ia saat membuka pintu itu melihat Tuan Muda Raymond berdiri dengan memasukan tangan ke dalam kantong celananya.
"Astaga,,.." ucap Dokter memegang dadanya.
"Bagaimana keadaan gadis kecil itu? Apa ibunya sudah mendapatkan pendonornya?" tanya Raymond langsung ke intinya.
"Keadaannya menurun tuan Raymond dan Ibu pasien tidak mendapatkan pendonornya.." jawab Dokter menunduk, cukup perihatin dengan keadaan pasiennya.
"Bagamana dengan ayah gadis kecil itu?" tanya Raymond menatap punggung ibu pasien itu bergetar hebat. Seperti menangis dalam diam.
"Kata ibu pasien itu ia tak tahu keberadaan suaminya tuan, saya rasa ada yang tidak beres dengan rumah tangganya. Soalnya saya tadi lihat ibu itu membawa dua koper besar dengan penampilan sangat kacau serta wajah memperihatinkan.." jawab Dokter.
"Memperihatinkan.."tanya Raymond menautkan alisnya.
"Iya tuan Raymond. Kepala ibu itu berdarah dan pipinya seperti bekas tamparan yang sangat kuat hingga pipi ibu itu memar.." jawab Dokter.
"Pergilah.." titah tuan Raymond dengan wajah mengerikan.
"Ba-aik tuan, sa-ay permisi.." ucap Dokter takut melihat penampilan mengerikan tuannya.
Raymond marah saat mendengar ucapan dokter soal perihal ibu pasien itu.
'Sepertinya ada yang tidak beres dengan suaminya itu.."batin Raymond meninggalkan tempat itu.
"Bai-ik tuan.." ucap Suster itu terbata.
Setelah mengucapkan itu, Raymond kembali ke ruangan dengan perasaan campur aduk.
'Setelah ini kita akan tinggal di mana sayang, kita sudah tidak punya rumah lagi nak. Rumah kita sudah di ambil mereka, Kenapa ayah tega sekali mengusir kita di saat keadaan kamu seperti ini. Ya Allah, berikan hamba jalan untuk keluar dari masalah ini.' batin Riana menanggis memegang tangan anaknya.
"Permisi nona..' ucap suster itu setelah masuk keruangan yang di maksud tuannya.
"Ya suster, ada apa? Bukankah anak saya sudah di periksa dokter.?" tanya Riana bingung, membersihkan sisa air matanya.
"Benar nona. Tapi saya kesini bukan untuk memeriksa pasien. Namun saya di utus untuk membersihkan luka anda.." ujar Suster itu.
"Siapa yang mengutumu.." tanyanya.
"Presdir rumah sakit ini nona, biar saya obati lukanya. Kalau tidak segera di obati maka akan terjadi infeksi dan memperlambat penyembuhan.." ujar suster mengambil peralatan yang di butuhkan.
'Bagaimana presdir rumah sakit ini bisa tahu keadaanku, sebenarnya siapa yang punya rumah sakit ini?"batin Riana bertanya-tanya.
__ADS_1
"Suster, biar saya saja yang mengobatinya.." Seperti tadi, Riana akan menolak tawaran para tenaga medis saat ingin membersihkan lukanya. Alasannya adalah untuk menghemat pengeluaran, walaupun kepalanya terasa sakit dan pipinya perih bekas kelakuan kasar suaminya selalu ia tahan demi mencukupi biaya pengobatan anaknya.
"Presdir rumah sakit ini akan mengeluarkan anak anda jika anda menolaknya perintahnya.."sesuai yang Raymond katakan.
'Maksudnya apa ini,"Batin Riana.
"Baiklah.." ucap Riana pasrah, dari pada anaknya harus di keluarkan mending nurut saja, pikir Riana.
*************
Pesawat jett milik Sallex Group turun di Bandara kota J dengan sempurna. Tuan Allex menggandeng istrinya turun dari pesawat dan di sambut hangat oleh semua anak buah yang ada di kota J.
Banyak para wartawan dari berbagai stasiun televisi merekam serta mempotret detik-detik turunnya pengusaha hebat itu dari pesawat nya.
Mike mengerahkan anak buahnya untuk berjaga-jaga supaya wartawan tidak mendekati tuan atau melukai tuannya. Karena orang di luaran sana banyak yang iri dengan kesuksesan keluarga besar Sallex, jadi Mike menjaga ketat dua pengusaha hebat itu.
"Siapkan mobil untuk tuan dan nyonya kita.."perintah Mike pada anak buahnya..
"Baik tuan Mike.." ujar anak buah itu dengan hormat.
"Sayang, apa kau lelah.." tanya tuan Allex saat di dalam mobil.
"Mommy tidak apa-apa kok, daddy tenang saja.."jawab nyonya Maya tersenyum manis.
"Baiklah, Mike apa masih lama perjalan kita.." tanya tuan Allex pada sekertarisnya.
"30 menit lagi tuan.."perkiraan sekertarisnya.
12 Mobil rombongan keluarga Sallex menuju rumah sakit Molland hospital di kota itu. Mobil yang di tumpangi Tuan Allex dan Nyonya Maya di jaga ketat di setiap sampingnya.
Molland Hospital.
Sekertaris Han berlari dari lobby rumah sakit ke ruanganan tuannya. Saat mendapatkan informasi dari anak buah soal kedatangan pengusaha terhebat no 1 di dunia beserta istrinya.
"Apa kau sudah mendapatkan pendonor Han.." tanya Raymond.
"Tidak tuan.." jawab Han mengatur nafasnya.
Brakk..
"Terus kenapa kau kesini kalau tidak mendapatkan pendonor itu hah.." Bentak Raymond dengan wajah mengerikan, Han melihat wajah itu langsung bergidik ngeri bingung dengan sikap tuannya.
__ADS_1
" Saya punya informasi yang akan menggegerkan publik tuan.." ujar Han.
Bersambung..