Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 59


__ADS_3

"Selamat pagi kesayangan mamah.."Ucap Riska.


Seperti biasa, Riska akan memainkan perannya menjadi seorang ibu yang baik , yang menyayangi anaknya jika di depan sang suami. Namun jika di belakang suaminya, Riska akan memainkan peran aslinya menjadi seorang ibu yang jahat, yang tidak punya balas kasih sayang pada anaknya sendiri.


Panggilan apa yang pantas untuk seorang ibu yang seperti itu.?Wanita bertopeng, bukan?.


Sedangkan Mia, ia tengah menikmati peran yang di mainkan majikannya itu.


'Sungguh luar biasa sekali anda Nyonya, peran yang anda jalankan menjadi seorang ibu yang baik sangat sempurna hasilnya.. .'batin Mia tersenyum sinis.


"Heii, kenapa anak kesayangan papah diam saja? Mamah penyapamu loh sayang.." Tegur Andre.


"I-iya mah, selamat pagi juga.."Jawab Andra terbata, dan tentunya anak itu menghindari tatapan tajam yang di berikan mamah'nya untuknya.


"Sini sayang, mamah cium dulu.."Ucap Riska mengulurkan tangan untuk mengambil anaknya dari tangan sang suami.


"Uhh, berat sekali anak kesayangan mamah ini.."Ucap Riska sembari menekan bagian ketiak anaknya.


Andra ingin sekali berteriak kesakitan di saat-saat seperti itu, namun suaranya kembali tertahan begitu mendengar bisikan maut di sampingnya.


"Kalau kamu bersuara sedikit saja, mamah tidak akan segan-segan untuk menghukum mbak Mia'mu itu Andra. "Bisiknya sangat pelan, hanya Andra yang bisa mendengarnya.


Andra menggelengkan kepalanya pelan, sebagai tanda bahwa itu tidak boleh terjadi. Karena Andra sangat menyayangi pengasuhnya itu.


"Kalau kamu mengadukan semua ini pada papah,, mamah yang akan membunuh mbak Mia kesayangan kamu, saat itu juga.."bisiknya lagi menyeringai tipis.


Andra membulatkan matanya mendengar hal tersebut, sembari menahan rasa sakit di pinggangnya karena cubitan tangan mamahnya.


Namun sayangnya Andre saat itu tidak bisa melihat wajah anak kesayangannya, karena posisi Andra membelakangi Andre.


Tentu itu di sengajakan oleh Riska.


Melihat Ekspresi anak asuhnya yang tidak biasa, Mia buru-buru mengambil Andra dari tangan majikannya.


"Tuan Kecil biar saya yang urus Nyonya. Nyonya silahkan layani Tuan saja. " ucap Mia langsung mengambil Andra tanpa menunggu jawaban dari majikannya.


"Bagus, karena saya tidak sudi memegang anak ini lama-lama.." bisik Riska pada pengasuh anaknya.


Mia menggelengkan kepala mendengar bisikan majikannya.


"Baiklah Mbak Mia, terima kasih karena sudah mengerti.."Ucap Riska tersenyum manis.

__ADS_1


"Sama-sama Nyonya.."Dan Mia'pun menjalankan perannya untuk menyempurnakan rencana majikannya. Itupun sesuai anjuran Riska sendiri.


"Mas mau sarapan pake apa saja.." tanya Riska penuh perhatian. Sedangkan pada anaknya sendiri, penuh kejahatan.


"Nasi goreng sama ayam goreng saja, sayang.."Jawab Andre tersenyum manis.


"Mbak Mia, pinggang sama ketiakku sakit.."bisik Andra.


"Nanti kita obati di mobil ya sayang. Sekarang Andra sarapan dulu.."Bisik Mia.


'Ya Tuhan, kapan Nyonya Riska berhenti main kasar pada anak kandungnya sendiri? Aku sungguh tidak tega jika harus melihatnya seperti ini setiap hari, tapi aku tidak bisa apa-ala selain melihat dan mengobati luka-luka di tubuh Andra...'batin Mia menangis.


"Andra mau makan sama apa aja? Biar mamah ambilkan.."tanya Riska menampilkan senyum palsunya.


"Biar saya yang ambilkan untuk Tuan Kecil, Nyonya. Nyonya silahkan makan saja.." sahut Mia, karena ia tahu Riska tidak tulus melayani anak asuhnya.


"Bagaimana sayang? Apa kamu mau di ambilkan makanan sama mbak Mia, mamah, atau sama papah.." Tanya Riska tanpa memperdulikan ucapan Mia.


"Aku.."Andra bingung. Di satu sisi ia ingin di ambilkan makanan oleh papah dan mbak'nya. Namun sepertinya tidak bisa dari dua orang itu, karena mamahnya saat ini tengah menatapnya sangat tajam.


Selalu seperti itu yang Riska tampilkan untuk anak semata wayangnya jika akan makan bersama.


"Aku apa nak? Bilang saja sayang? Tidak perlu bingung seperti itu..Mau papah saja yang ambilkan makanan untuk jagoan papah.." tanya Andre penuh perhatian.


"Anak mamah memang pintar. Kamu mau makan sama apa saja sayang. " Tanya Riska.


"Samain kaya punya papah, Mah..", jawab Andra.


"Wahh, ternyata selera kita pagi ini sama ya sayang.."sahut Andre..


"Iya pah." jawab Andra tersenyum dengan menampilkan gigi putihnya.


"Ini sayang. Mulai makan sendiri ya, kaan kamu udah besar.."Ucap Riska meletakan piring di hadapan anaknya.


"Tapi Tuan Kecil.."Ucapan Mia terhenti.


"Biarkan Andra belajar makan sendiri mbak Mia, dia kan sudah besar.." sahut Riska..


"Iya Nyonya.."Jawab Mia pasrah.


"Gak apa-apa sayang, biarkan Andra di suapi Mbak Mia saja. Anak kita kan masih kecil, mana bisa cara makan daging ayam sebesar itu.."Sahut Andre..

__ADS_1


Mia bernafas lega karena Tuannya mendukung keinginannya.


"Iya pah. Mbak Mia, tolong suapi Andra ya?".sahut Riska.


'Kenapa mas Andre selalu manjain anak ini sih? Kalau tau sebenarnya, gua yakin mas Andre juga membencinya. Sama halnya gue membenci anak ini, gara-gara anak ini...Ahh sudahlah, tidak perlu di bahas lagi, tidak penting. yang penting, posisi gue akan selamanya berasa di samping mas Andre..'batin Riska.


Setelah itu mereka sarapan dengan tenang.


Kediaman Wijaya..


Pagi ini pak Ridwan tengah melamun di balkon yang terhubung langsung dengan kamar yang selama 4 tahun belakangan ini di huninya.


Menikmati angin sejuk di pagi hari sembari di temani teh hangat di tangannya, menjadikan suasana yang nikmat dan tenang.


Pandangan kosong mengarah ke langit saat pak Ridwan mengingat cucunya yang entah di mana keberadaannya.


"Riana, kamu bawa ke mana cucu kakek nak? Bukankah 4 tahun yang lalu kamu bilang, bahwa kamu akan kembali suatu saat nanti? kapan? Tapi Kenapa kalian tidak pulang- pulang? bapak sangat merindukan kalian berdua."Ucap pak Ridwan.


"Pasti Reyna sudah tumbuh sehat di sana, bersama keluarga barunya..."lanjutnya.


"Tapi bukankah keluarga baru Riana sudah meninggal 2 tahun yang lalu? Lalu, mereka bersama siapa sekarang? Kenapa aku melupakan hal itu? Apa jangan-jangan mereka sudah melupakan aku, karena itu mereka tidak memberi kabar selama ini padaku.."Ucap pak Ridwan.


"Melupakan siapa pak. " Tanya seorang wanita yang di hindari pak Ridwan selama ini.


Pak Ridwan enggan menjawab, ia akan bicara jika seperlunya saja. Jika di tentang yang tidak penting, pak Ridwan selalu mengacuhkan dan mengabaikan istrinya maupun anaknya.


"Ibu tanya sekali lagi, tolong bapak jawab jujur pertanyaan ibu ini.."ucapnya tegas.


Pak Ridwan masih setia dengan posisinya.


"Apa maksud dari ucapan bapak barusan?Melupakan siapa? Kabar dari siapa yang bapak tunggu selama ini.."Tanya ibu Erin tegas.


"Apa bapak mempunyai wanita simpanan di belakang ibu, sehingga bapak sangat menghindari keberadaan ibu selama 4 tahun belakangan ini?Perempuan mana yang selama ini bapak pacari?Perempuan mana yang selama ini bapak simpan keberadaannya.."lanjutnya.


Tetap saja pak Ridwan bungkam. Bungkam bukan berarti tuduhkan istrinya benar, tapi pak Ridwan bungkam karena malas meladeni ucapan Ibu Erin yang menurutnya sangat tidak penting dan konyol itu.


"JAWAAABB.."teriak ibu Erin kesal.


"Bapak jangan pergi sebelum menjawab pertanyaan dari ibu.."Ibu Erin menahan pergelangan tangan pak Ridwan, saat si empunya hendak melewati ibu Erin.


"Tidak penting ."hanya jawaban itu yang di dapatkan ibu Erin dari suaminya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2