
"Untung Tuan Raymond segera datang, saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya jika Tuan tidak datang.." ucap Direktur.
"Memangnya kenapa.." Tanya Raymond bingung.
"Orang-orang beliau selalu mengawasi pergerakan saya yang membuat saya takut Tuan, pasalnya saat mereka meminta jawaban, saya selalu di todong senjata berbahanya.." Jawab Direktur.
"Senjata berbahaya.."Ucap Raymond mengulangi, ia tidak percaya jika itu perintah langsung dari Riana, karena yang ia lihat Riana tidak sekasar itu.
"Pistol, Tuan.." jawab Direktur.
'Sepertinya ada yang tidak beres.."batin Raymond.
"Di mana mereka sekarang.." Tanya Raymond.
"Seperti kata saya, beliau ada di lantai 20, kamar VVIP no 231." jawab Direktur.
"Mari saya antar..
"Cepat.."Tanpa banyak kata-kata lagi, Raymond langsung pergi ke tempat tujuannya.
Dengan langkah lebar, mereka berdua memasuki liftt.
Ting..
Pintu lift terbuka, dan saat itu juga mata Direktur membulat sempurna melihat anak buah pasiennya yang tengah berbaris dan mengarahkan pistolnya ke arahnya dan Raymond.
Sedangkan Raymond terlihat biasa saja, tidak ada rasa takut sedikitpun dalam wajahnya.
"Siapa kau.." Tunjuk orang itu pada Raymond.
"Turunkan senjata kalian, karena perbuatan kalian sudah membuat pasienku ketakutan.." ujar Raymond tegas.
"Jawab dulu pertanyaan kami, atau..
"Saya pemilik rumah sakit ini.."sahut Raymond menyela ucapan orang itu.
"Cepat turunkan senjata kalian atau saya mengusir anak dari majikan kalian sekarang juga..." Ancam Raymond merasa di perbudak di rumah sakitnya sendiri.
"Turunkan.." ucap orang itu pada teman-temannya, sesuai perintah, mereka langsung melaksanakannya.
"Anda mau kemana.." tanya orang itu saat Raymond hendak melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Saya perlu bicara dengan majikan kalian.." jawab Raymond.
"Anda tidak boleh masuk, biarkan saya panggilkan tangan kanan beliau saja.." tolak orang itu mentah-mentah.
"Ha ha, apa-apaan ini? Kalian melarang saya masuk ke rumah sakit saya sendiri? Apa itu pantas di ucapkan pada pemilik rumah sakit ini? Benar-benar konyol.."ucap Raymond tertawa dengan ucapan orang itu.
"4 tahun yang lalu saya pernah bertemu dengan Tuan Allex beserta Nyonya Maya, saat itu mereka juga sangat di jaga ketat. Tapi tak sebodoh dan seketat ini Tuan.."Lanjut Raymond.
Orang itu membisikan sesuatu pada temannya, lalu ia menganggukan kepala dan masuk ke ruangan no 231..
"Tuan, di luar sana ada orang yang mengaku-ngaku sebagai pemilik rumah sakit ini.."Bisik orang itu pada Trisstan.
"Saya akan keluar, suruh dia menunggu saya..
"Ada apa Trisstan.." sahut Riana.
"Ah, tidak ada apa-apa Nona, saya permisi dulu untuk mencari angin luar..." jawab Trisstan.
Riana merasa ada yang di tutupi Trisstan darinya, tapi ia tidak tahu soal apa itu. Tentu Riana tidak tahu apa-apa yang sudah terjadi di luar sana karena ia menyerahkan semua itu pada Sekretarisnya, Trisstan.
Riana tidak tahu jika Trisstan menyalah gunakan peraturan yang selama ini di seganinya. Jika ia tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, sudah di pastikan Riana akan murka.
Di luar..
"Jadi kau dalang di balik kekacawan ini, Sekretaris Trisstan.." ucap Raymond.
"Saya tidak membuat kekacawaan apaun Tuan Raymond, saya hanya ingin memberikan fasilitas terbaik, teraman untuk putri Nona Riana. Apa saya salah melakukan ini.." sahut Trisstan.
"Anda bisa lihat kesana."Ucap Raymond menunjuk orang-orang yang sedang ketakutan di sana.
"Pasti kau tahu jawabannya bukan.."Lanjut Raymond.
"Ada apa ini.." tanya seorang wanita yang baru keluar dari kamar itu.
"Tuan Raymond, anda di sini juga.." ucapnya mendekati.
"Maaf, jika saya mengganggu kenyamanan anda Nona Riana. Tapi saya sedikit tidak nyaman dengan perilaku orang-orang anda yang sudah membuat dokter dan pasien-pasien saya ketakutan.." ujar Raymond.
"Ketakutan? Maksudnya apa Tuan Raymond? Saya tidak mengerti, memang apa yang di lakukan orang-orang saya.." Tanya Riana bingung.
Fixx, jadi Riana benar-benar tidak tahu soal itu, pikir Raymond.
__ADS_1
"Pak Direktur, tolong jelaskan orang-orang ini pada majikannya, sesuai yang anda katakan pada saya.." ucap Raymond.
"Begini Nona, orang-orang anda sudah bla bla bla bla.." Direktur menceritakan semua masalah yang terjadi di rumah sakitnya.
"A-apa.."Ucap Riana terbata setelah mendengar penjelasan tentang perbuatan orang-orangnya.
"Kalau anda tidak percaya, anda bisa melihat ini." sahut Raymond memperlihatkan rekaman CCTV yang terjadi di rumah sakitnya.
"Tidak, saya tidak tahu apa-apa soal ini Tuan.." ucap Riana tidak percaya jika orang-orangnya seperti itu.
"Lalu,.." Tanya Raymond, menyimpan ponselnya kembali.
"Saya memang tidak tahu soal ini, tapi saya benar-benar minta maaf karena sudah membuat kekacawan di rumah sakit anda. Saya akan tanggung bertanggung jawab, dan soal sewa menyewa 1 lantai itu juga saya tidak tahu apa-apa. Ini semua di luar pengetahuan saya, tolong maafkan orang-orang saya Tuan Raymond.."Ucap Riana tulus.
Sedangkan Trisstan merasa bersalah saat Nona'nya mengharapkan kata maaf pada orang lain karena ulah nya sendiri.
'Bener-bener perempuan yang sangat baik, rela berkorban demi semua orang-orangnya, sangat sempurna.."batin Raymond menatap wajah Riana yang tengan menatapnya balik.
"Saya sudah memaafkannya sebelum anda minta maaf Nona Riana.." jawab Raymond..
"Saya akan melakukan apa saja demi membuat pasien-pasien saya nyaman dan aman, jadi anda tidak perlu khawatir soal itu. Dan saya harap, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, di rumah sakit ini, atau di rumah sakit manapun, karena ini sangat-sangat mengganggu kenyamanan pasien saya yang lainnya.."ujar Raymond.
"Saya akan mengingatnya, terima kasih atas kemurahan hati anda Tuan.." ujarnya..
"Tan, beserta kalian semua tolong pergi dari rumah sakit ini.." ucap Riana menatap tajam semua orang-orangnya termasuk Trisstan.
"Tapi Nona,..
"Pergi sekarang, persiapkan dirimu segera karena saya akan mengirimmu ke Jerman malam ini juga.." sahut Riana.
"Nona,..
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku, masih ada mereka di sini. Jadi, pulanglah, karena perusahaan kita sedang menunggumu."sahut Riana menujuk orang-orangnya.
"Saya minta maaf, saya tahu kalau saya salah. Saya melakukan karena ingin membuat Reyna nyaman dan..
"Saya tahu, tapi cara yang kau lakukan itu salah Tan.." sahut Riana cepat.
"Maaf,,"Kini hanya tinggal penyesalan yang ada. Perhatian dan kasih sayang Trisstan curahkan pada Riana, tapi dengan cara yang salah, terlalu berlebihan dan Riana sangat tidak suka itu.
Bersambung..
__ADS_1