
2 Hari kemudian , Reyna sudah perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
Selama itu pula Riana tinggal di rumah sakit. Mau pulangpun tidak bisa, karena ia sudah di usir suaminya, Andre. Bahkan Andre tengah mempersiapkan surat perceraiannya dengan Riana, hanya demi istri barunya itu.
2 hari belakangan itupun Andre tidak pernah menampakan batang hidungnya selama anaknya di rawat di rumah sakit. Begitupun dengan ibu Erin, sang mertua. Jangankan menjenguknya, melihatnyapun tidak sudi. Bapak mertuapun hilang bak di telan bumi, tidak ada kabar satupun darinya. Entah kenapa? Riana'pun tidak tahu.
"Unda ayo kita ulang." ucap si kecil cadel.
'Pulang ke mana? Kita tidak punya rumah lagi sayang..'jawab Riana membatin.
"I-iya sayang.." Jawab Riana terbata.
"Biar kakek dan nenek antar ke rumah Reyna ya.." sahut Tuan Allex.
"Oteh kakek.."jawab Reyna girang.
'Rumah? Rumah mana..'batin Riana.
Riana menatap Tuan Allex dengan penuh tanda tanya, karena ia sudah menceritakan kisah hidup termasuk pengusirannya 2 hari yang lalu. Lalu apa maksud dari ucapannya?
"Ni mobil sapa bun? Bagus kali.." ucap Reyna menatap mobil di depannya.
"Reyna suka.." tanya Nyonya Maya.
"Cuka nek, bagus.." jawabnya.
"Kalau Reyna suka, nanti kita beli yang baru aja ya.? Kalau ini bekas sayang..."padahal satu minggu yang lalu mereka membelinya.
"Benelan nek? Tapi ni macih bagus loh, walnanya uga macih bagus.."ucap Reyna.
"Tidak sayang, ini bekas. Kita beli yang lebih bagus dari pada ini, Reyna mau kan.."ucapnya tersenyum.
"Mau nek, mau.." jawab Reyna kegirangan.
"Reyna, gak boleh gitu sayang, gak sopan namanya.." tegur Riana.
"Maf unda.." Reyna menundukan kepala.
Riana menghela nafas panjang.
"Riana sayang, kenapa kamu menolak.." tanya Tuan Allex.
"Aku tidak ingin terlalu memanjakan Reyna Tuan, Nyonya..."jawab Riana menundukan kepala.
"Ayo masuk, lebih baik kita bicarakan di mobil saja. Tidak enak bicara di tempat terbuka seperti ini.."ucap Tuan Allex.
"Sini sayang, kakek gendong. Kasihan bunda kecapean.."Tuan Allex cukup prihatin dengan tubuh cucunya yang terlihat kurus, wajah kusam serta penampilannya yang sangat sederhana.
"Iya kek. Unda kecapean gala-gala ngulusin aku, ayah sama lumah .." ucap Reyna beralih pada tangan hangat kakeknya, lalu memasuki mobil mewah yang akan membawanya pergi meninggalkan rumah sakit milik Raymond.
__ADS_1
Ngomong-ngomong soal Raymond, diam-diam pria tampan itu memperhatikan mereka setelah ke luar dari ruang rawat, sampai ke lobby rumah sakit.
Sebenarnya ada hubungan apa Riana dengan keluarga konglomerat itu? Kenapa kelihatannya Tuan Allex dan Nyonya Maya sangat menyayangi Riana dan anaknya? Raymond terus bertanya-tanya soal itu. Pernah menyelidikinya, tapi Tuan Allex segera menutup semua akses yang berhubungan dengan Riana maupun anaknya, Reyna.
2 hari belakangan itu pula, Raymond menyelidikinya. Namun, hasilnya tetap saja nihil.
"Reyna, itu tugas bunda menjadi seorang ibu dari kamu, istri dari ayah kamu. Dan rumahpun memang pekerjaannya wanita, jadi bunda tidak capek atau lelah dengan semua itu sayang. Bunda senang melakukannya.." Teringat dengan penghianatan suami, membuat mata Riana memanas, dan akhirnya menetes.
"Unda napa nangis?.." tanya Reyna beralih pada pangkuan bundanya.
"Siapa yang nangis? Bunda gak nangis kok sayang, mata bunda kelilipan.." jawab Riana memeluk anaknya erat.
'Maafin bunda sayang, bunda tidak bisa mempertahankan rumah tangga ini. Bunda sudah tidak sanggup menjalaninya.'batin Riana menangis.
Nyonya Maya menggenggam tangan cucunya erat, guna menguatkan hati Riana yang tengah hancur berkeping-keping.. Bagaimanapun, Nyonya Maya bisa merasakan apa yang di rasakan cucunya karena mereka masih ada ikatan darah.
"Kamu harus kuat, demi Reyna.." ucap Tuan Allex mengusap punggung cucunya.
"Terima kasih Tuan, Nyonya..
"Jangan panggil kami seperti itu sayang. Kami ini keluargamu, jadi mohon panggil kami sepantas-pantasnya.."ucap Nyonya Maya.
"Baiklah nenek, kakek.." ujar Riana tersenyum..
"Kek, Eyna ngen bobo.." sahut Anna beralih pada kakeknya.
"Benel kek..."Tanya Reyna menatap Tuan Allex..
"Tidak sayang, bunda kamu bohong itu. Sini sama kakek.." jawab Tuan Allex menggapai Reyna dalam pelukan cucunya..
"Tapi kek.." ucap Riana terhenti.
"Sudah, biarkan saja. Kakekmu ini sangat merindukan cicitnya."sahut Nyonya Maya.
'Reyna, wajah kamu sangat mirip seperti Juannya kakek. Cara terlelappun sama, percis seperti Juan saat kecil. Kakek janji, akan membahagiakan kalian berdua. Maafkan kakek karena sudah menelantarkan kalian selama ini. Maafkan kakek, karena sudah telat menemukan keberadaan kalian...'batin Tuan Allex menatap wajah Reyna dalam pangkuannya.
"Nek, kita mau ke mana? Ini bukan jalan menuju rumahku..." tanya Riana.
"Sayang, bukankah kamu bilang kalau kamu sudah tidak punya rumah? Tapi kenapa kamu masih menganggap rumah itu milik kamu. " tanya balik Nyonya Maya..
"Maaf.." Riana menundukan kepala.
"Sudahlah, kamu jangan bersedih lagi. Nenek tidak akan mengantarkan kamu ke rumah itu , tapi kami akan mengantarkanmu ke tempat tinggal yang baru.."ucapnya.
"Yang baru.? Di mana? Aku tidak punya rumah baru selain rumah itu nek.." tanya Riana.
"Masih ada kok sayang, banyak malah. Nanti kamu lihat sendiri aja ya.."jawabnya tersenyum.
Tak perlu membutuhkan waktu terlalu lama, kini mobil mewah itu memasuki mansion yang cukup tinggi nan megah terlihat dari luar.
__ADS_1
Pekarangan luas, dengannya banyaknya bunga, membuat pekarangan itu sangat indah di pandang. serta sebagian pekarangan itu di gunakan wahana permainan anak kecil. Mungkin di mansion ini ada anak kecilnya, pikir Riana...
Sejuk..
Angin menerpa wajah Riana setelah ke luar dari mobil.
"Selamat datang Nyonya Muda..",ucap para pekerja di sana membungkuk hormat. Dari pelayan, satpam, tukang kebun, serta anak buah Tuan Allex yang di utus menjaga cucu dan cicitnya.
"Sayang. jawab.." titah Nyonya Maya menyenggol tangan cucunya.
"Hah.."Riana tercengang.
"Jawab sayang, kasihan mereka..", Terlalu lama membungkuk.
"Iy-iya pih..
"Te-terima kasih.."jawab Riana terbata.
"Kalian, boleh pergi ke tempat masing-masing.." titah Nyonya Maya.
"Baik Nyonya Besar. " Mereka langsung membubarkan diri.
"Mom, daddy duluan masuk ya.? Kasihan Reyna tidurnya tidak nyenyak kalau seperti ini." pamit Tuan Allex.
"Ok dad, nanti mommy sama Riana nyusul.." jawabnya.
"Sayang, kakek duluan ya..",
"Ya kek..
"Bagaimana menurutmu sayang? Apa bagus.." tanya Nyonya Rianty setelah suaminya pergi.
"Bagus, seperti istana nek.." jawab Riana sedikit bingung.
"Kamu suka kan.." tanya Nyonya Maya..
"Su-suka.."- jawabnya terbata.
"Syukurlah kalau kamu suka. Nenek seneng dengarnya. Berarti kakek kamu tidak salah pilih.." Nyonya Maya tersenyum.
"Tidak salah pilih,? Maksudnya nek.." tanya Riana benar-benar tidak mengerti dengan pembahasan neneknya.
"Ini tempat tinggal kamu yang baru sayang, kakek kamu sendiri loh yang mendesainya.."Jawabnya.
Riana membelalakan matanya....
Mansion sebesar ini miliknya? apa ia salah dengar.?Apa ini juga mimpi..
Bersambung..
__ADS_1