Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 31


__ADS_3

"Ayah, bunda.." ucap Riana tercekat.


"Iya sayang, ayah sama bunda kamu baik-baik saja kan.." tanya Nyonya Maya.


"Me-ereka semua sudah pergi.." jawab Riana..


"Pergi, pergi kemana.." tanya Tuan Allex bingung.


"Pergi kamana sayang? Bilang sama kami, biar kakekmu ini akan menyuruh anak buahnya untuk menjemput ayahmu. ." sahut Nyonya Maya penuh harap.


"Rumah ayah kamu di mana, biar kakek sendiri yang akan menjemputnya.." sahut Tuan Allex tidak sabar ingin segera bertemu dengan anak semata wayangnya itu.


"Mereka sudah tidak ada Tuan..Hiks hiks hiks." jawab Riana menangis tergugu dengan pandangan kosong.


"Sayang tenanglah, bicarakan pada kami pelan-pelan." ucap Nyonya Maya mengusap punggung Riana yang bergetar hebat.


"Maksudnya tidak ada gimana."tanya Tuan Allex menautkan kedua alisnya dengan penasaran.


"Mereka sudah meninggal.." jawab Riana sesegukan.


Deegg..


Jantung nyonya Maya dan Tuan Allex seakan berhenti berdetak dan tak lama...


Bruukk..


Nyonya Maya jatuh pingsan di atas sofa dan merosot ke lantai.


"Mommy.." teriak Tuan Allex.


"Nyonya.." teriak Sekertaris Mike dan Riana.


Tuan Allex segera membopong tubuh Nyonya Maya ke ranjang king sizenya.


"Sayang, bangun.." ucap Tuan Allex mengusap kepala istrinya yang berkeringat.


"Mike, cepat suruh dokter ke sini.." titah Tuan Allex khawatir.


"Baik Tuan.." jawab Mike dan berlari mencari dokter.


"Maaf.." ucap Riana menunduk.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka.." tanya Tuan Allex.


"Mereka meninggal karena mengalami kecelakaan hebat saat akan menjemputku di sekolah.." jawab Riana masih ingat dengan kesialan yang menimpanya pada menginjak umur 17 tahun.


"Ya Tuhan, anakku.." ucap Tuan Allex meneteskan air mata, dengan memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Tuan, anda kenapa.." tanya Riana khawatir.

__ADS_1


"Obat.." ucapnya pelan.


"Di mana obatnya Tuan.."tanya Riana cemas.


"Di sana.." jawab Tuan Allex menunjuk tas istrinya.


"Tapi.." ucap Riana ragu, tidak berani memegang atau membuka barang pribadi milik orang lain.


"Bukalah sayang, tidak apa-apa kok.." sahut Nyonya Maya pelan saat setelah membuka matanya.


Karena dapat izin dari si empunya, akhirnya Riana membuka tas itu dan mencari obat pereda nyeri Tuan Allex.


"Ini Tuan.." ucap Riana memberikan obat itu.


Tuan Allex mengambil obat itu dan memasukan obat itu ke dalam mulutnya.


"Ini Tuan minumnya.." ucap Riana memberikan air putih pada pada Tuan Allex.


"Terima kasih nak.." ucap Tuan Allex setelah meminum obat .


"Sama-sama.." ujar Riana tersenyum manis.


"Sayang, boleh antar kami ke makam mereka.." tanya Nyonya Maya penuh harap.


Belum sempat Reyna menjawab pertanyaan Nyonya Maya, seorang dokter masuk ke ruangan itu dengan tujuan penting.


"Ya, ada apa Dok.." tanya Tuan Allex.


"Begini Tuan Allex, nona Reyna susah sadar, dan sekarang sedang menangis mencari ibunya." jawab Dokter.


"Reyna..." ucap Riana segera berlari menuju ruangan anaknya di rawat.


"Saya permisi Tuan Allex, Nyonya Maya.." ucap dokter undur diri.


"Heemmm.." jawab Tuan Allex singkat.


"Apa gadis kecil yang daddy tolong itu adalah cicitku.." tanya Nyonya Rianty campur aduk, antara senang dan sedih menjadi satu.


Senang karena mereka bisa menemukan cucu dan cicitnya, dan sedih karena mereka kehilangan anak dan mantunya.


"Benar sayang, dia cicit kita.." jawab Tuan Allex.


"Juandra.." ucap Nyonya Maya.


"Juan mommy merindukanmu nak, kenapa kalian ninggalin daddy dan mommy dengan cara seperti ini, maafkan mommy yang dulu egois sama kamu Juan, mommy minta maaf nak..."ucap Nyonya Maya menangis.


"Sudahlah mom, kita ikhlaskan kepergian Juan dan menantu kita. " ucap Tuan Allex memeluk istrinya yang tengah menangis.


"Kalau mommy merestui hubungan mereka, mereka pasti masih hidup dan berkumpul dengan kita.." ucap Nyonya Maya.

__ADS_1


"Sudah ya jangan menangis lagi, kita akan membayar kesalahan masa lalu kita pada Juan dan Istrinya dengan menjaga anak dan cucunya semampu dan sebisa kita. Daddy yakin, pasti Juan dan menantu kita sudah memaafkan kita juga. Lebih baik mommy bangun, daddy akan mengantar mommy ke ruangan cicit kita, apa mommy mau melihatnya..." tanya Tuan Allex menenangkan istrinya.


"Ya, mommy ingin ketemu dengan cicit kita...."jawab Nyonya Maya, membersihkan sisa-sisa air matanya.


"Walaupun Juan sudah tidak ada, paling tidak masih ada mereka yang akan menemani hari-hati kita kedepannya..", ucap Tuan Alllex.


"Tapi...


"Permisi Tuan Allex, saya akan memeriksa keadaan Nyonya Maya.." ucap Seorang Dokter yang Sekertaris Mike bawa.


"Tidak perlu Dok, keadaan saya baik-baik saja sekarang.." ucap Nyonya Maya.


"Tapi Mom..",


"Bukankah tadi daddy mengajak mommy bertemu dengan cicit kita, bawalah mommy sekarang dad, mommy ingin sekali melihat dan memeluknya.." ucap Nyonya Maya sedih, membuat Tuan Allex tak tega.


"Baiklah.." ucapnya pasrah.


"Dokter, maaf.." ucap Tuan Allex.


"Tidak apa-apa Tuan Allex, saya mengerti. Senang bisa bertemu pengusaha-pengusaha hebat seperti kalian. Kalau begitu saya permisi dulu.." ucap Dokter itu merasa senang bisa bertemu dan berbicara langsung dengan pengusaha paling hebat di dunia.


"Terima kasih dokter atas pengertiannya.." balas Tuan Allex berjabat tangan dengan dokter itu sebelum ke luar.


"Dokter, ada apa.?" tanya Raymond saat berpapasan di depan ruangan istirahat Nyonya Maya.


"Tadi saya di utus Sekertaris Mike untuk memeriksa keadaan Nyonya Maya yang sedang pingsan. Tapi saat saya kemari ternyata Nyonya Maya sudah sadar dan menolak jika saya memeriksanya, karena Nyonya Maya merasa jika dirinya sudah baik-baik saja, begitu Tuan Raymond.." ucap Dokter panjang lebar.


"Ya sudah, kau boleh pergi.." ucap Raymond dingin.


"Baik tuan.." ujar dokter itu meninggalkan Raymond seorang diri di depan pintu istirahat Nyonya Maya.


'Dokter itu bilang Nyonya Maya pingsan, Tapi kenapa.."batin Raymond hendak memegang knop pintu itu, belum sempat tangannya memegang knop pintu, knop itu lebih dulu berputar dan terbuka dari dalam.


"Tuan Raymond, kau mengagetkanku saja.."ucap Tuan Allex mengusap dadanya.


"Maaf Tuan Allex , saya tidak tahu jika anda akan ke luar. Nyonya Maya, apa keadaan anda baik-baik saja? Saya dengar dari dokter kalau anda sempat pingsan tadi.." tanya Raymond cemas.


"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan keadaan saya nak Raymond, seperti yang nak Raymond lihat keadaan saya baik-baik saja.." jawab Nyonya Maya tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu, kalau boleh tau kalian akan kemana.." tanya Raymond.


"Kami akan ke ruangan gadis kecil itu Tuan Raymond, karena istri saya ingin melihatnya.." sahut Tuan Allex menutupi masalah keluarganya pada Raymond.


"Baiklah, mari saya antar.." ucap Raymond menawarkan dirinya.


"Terima kasih nak Raymond atas tawarannya.." sahut Nyonya Maya tidak keberatan jika Raymond mengantarnya. Sedangkan Tuan Allex menghela nafas karena istrinya menerima tawaran itu begitu saja. Sebenarnya ia ingin menolak tawaran Raymond tapi merasa tidak enak jika istrinya sudah menerima tawaran itu lebih dulu. Karena ini masalah pribadi keluarganya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2