Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Dunia Maximo


__ADS_3

Di pagi hari yang dingin, seorang wanita tampak datang ke kediaman Maximo. Wanita bertubuh tinggi yang mengenakan mantel tebal itu disambut oleh para penjaga. Ia menunjukkan sesuatu di tangannya yang membuat ia diperbolehkan masuk dengan mudah.


“Selamat pagi, tuan,” sapa wanita itu, saat tiba di hadapan Paul.


“Selamat pagi. Masuklah.” Paul tersenyum senang menatap wanita yang berdiri dihadapannya. Wanita itu adalah Alicia, ia sudah pulih setelah mendapat pengobatan intensive di salah satu rumah sakit.


“Terima kasih. Bagaimana kabar tuan Maximo?” Sejak kejadian itu, Alicia memutuskan untuk mengabdikan dirinya pada Maximo. Dia sepakat dengan pendapat Samantha beberapa waktu lalu kalau Maximo tidak seperti yang diceritakan Wilson. Tentu saja, laki-laki itu pembohong besar di mata Alicia.


“Beliau ada di kamar nona Samantha.” Hanya itu jawaban Paul yang diikuti senyum kelu penuh kekhawatiran. Sudah pasti karena kondisi laki-laki itu tidak baik-baik saja. Pria tua itu mempersilakan Alicia untuk duduk di kursi yang menghadap ke taman, ia hendak mengajak wanita itu sarapan bersama.


“Apa beliau masih berhalusinasi?”


“Ya. Seluruh dunianya masih hanya nona Samantha. Sulit sekali mengenalkannya dengan realitas.” Paul duduk bersisian dengan Alicia. “Silakan untuk sarapan dulu. Beberapa jam lagi kemungkinan tuan besar turun dan kita harus bersiap menghadapinya.” Paul menghembuskan napasnya kasar seraya menggeleng. Berat sekali bebannya.


“Terima kasih,” Alicia menurut saja. ia mengambil setangkup roti yang sudah disiapkan oleh Nora.


“Nora, kamu tidak menyiapkan cereal?” Paul bertanya pada wanita yang sedang menuangkan teh untuk Alicia.


“Apa hari ini pun tuan besar akan sarapan dengan cereal lagi?” wajah Nora berubah cemas. Setiap harinya Maximo hanya sarapan cereal, itu pun tidak pernah habis. Lalu saat makan siang dan makan malam, laki-laki itu hanya makan apel. Tubuh tegapnya perlahan mulai menyusut. Seperti kesedihannya menggerogoti tubuh Maximo dari dalam.


“Sediakan saja. Tuan besar pasti ingin sarapan dengan bayangan nona Samantha yang ada dipikirannya.” Paul sudah hafal benar apa yang dilakukan Maximo setiap waktunya.


“Baiklah.” Nora menyiapkan sekotak cereal dan susu vanila kesukaan tuan besarnya. Dahulu makanan itu dinikmati Samantha dan Maximo setiap kali mereka sarapan. Maximo akan dengan senang hati menyuapi wanitanya. Wajahnya penuh cinta dan kebahagiaan, jauh berbeda dengan Maximo yang saat ini dipenuhi kesedihan dan penderitaan.

__ADS_1


Suara derap langkah malas, terdengar menuruni anak tangga. Seorang laki-laki yag bertelanjang dada dan hanya mengenakan outer hitam, berjalan menghampiri mereka.


“Selamat pagi, tuan.” Paul, Nora dan Alicia kompak menyambut sosok Maximo. Seperti biasa, laki-laki itu terlihat berantakan dan aroma minuman tercium jelas dari tubuhnya yang mendekat.


Maximo tidak menimpali, ia langsung duduk di tempatnya. Meneguk air mineral lalu menumpahkan cereal di mangkuknya dan menyiramnya dengan susu vanila. Ia tidak banyak bicara, pikirannya mulai tertaut pada sosok Samantha yang seolah duduk di sampingnya dan menatapnya.


“Max, suapi aku. Aku sangat lapar.” Halusinasi Maximo kembali muncul. Setiap kali efek minuman beralkohol itu hilang, maka bayangan Samantha lah yang akan muncul kemudian.


Laki-laki itu tersenyum kecil, tangannya terangkat seolah mengusap kepala seseorang. Alicia yang melihat hal itu segera menoleh Paul dan Paul hanya mengangguk saja. Ia tidak berani berkomentar karena salah-salah, senjata di atas mejanya yang akan berbicara.


Maximo juga menyuapi Samantha yang ada dalam dunia khayalnya. Cereal dan susu itu berjatuhan di lantai, tetapi bagi Maximo, Samantha sedang menikmatinya.


“Mau jalan-jalan ke mana hari ini?” tanya laki-laki itu.


Seketika pandangan Maximo pun beralih pada Alicia karena merasa terganggu. Pandangan tajam yang membuat Alicia merinding. Gadis itu di anggap lancang karena sudah berani menjeda perbincangannya dengan bayangan Samantha.


“Dia mengganggu kita Max. Bunuh saja!” Sesekali bayangan Samantha itu memang sangat provokatif, seperti keinginan terpendam Maximo untuk membunuh siapa saja yang mengganggunya dan Samantha.


Dengan cepat, Maximo mengambil senjatanya dan menodongkannya pada Alicia.


“Tuan, ini nona Alicia.” Paul segera menahan senjata itu. Ia tahu persis, kalau Maximo mulai merasa terusik. “Beliau sahabat nona Samantha,” imbuh laki-laki itu dengan cepat. Ia tidak ingin Maximo tiba-tiba menembak gadis yang gemetaran di sampingnya.


“Mo-mohon maaf tuan, saya datang untuk menyapa tuan dan nona Samantha.” Alicia terpaksa berbohong. Tubuhnya sudah gemetaran, ia belum siap jika tiba-tiba Maximo menembaknya di tempat.

__ADS_1


Tangan Maximo pun perlahan turun dengan lemas. Ia menoleh bayangan di sampingnya, “Benarkah dia sahabatmu?” tanyanya pada bayangan Samantha. Dalam pikiran Maximo bayangan itu terangguk.


“Suapi lagi aku, Max,” pinta gadis itu seraya menopang dagunya dengan tangan kanan dan memandangi Maximo dengan penuh cinta. Pandangan yang selalu membuat mata Maximo merah dan basah.


Laki-laki itu kembali menyuapi bayangan Samantha. Paul dan Alicia hanya terdiam. Sepertinya Alicia harus mulai mengikuti dunia Maximo yang hanya berisi Samantha ini.


Membiarkan Maximo menikmati sarapannya dengan bayangan Samantha, Nora memutuskan untuk pergi ke kamar Samantha. Ia harus membersihkan kamar itu. Dimulai dari menyapu dan mengepal juga menyedot debu yang ada di kamar itu. Mengganti selimut, membuka gorden juga melepas seprai dan sarung bantal.


Kamar ini terlalu pengap karena jendelanya selalu tertutup. Nora membuka kaca jendela agar udara segar bisa masuk ke kamar ini dan menggantikan bau minuman beralkohol yang begitu menyengat.


Nora memperhatikan meja rias Samantha, tempat wanita itu menaruh beberapa alat make up. Semuanya berjejer rapi di sana. Satu lipstick terlihat  patah, mungkin karena digunakan Maximo untuk menulisi kata-kata cinta di cermin.


"Aku mencintaimu terlalu sungguh, Sam. Hingga saat kamu pergi, Seluruh hidupku ikut pegi dan mati. Langitku runtuh hingga aku hanya bisa mengaduh dalam kegelisahan."


Baru kali ini Nora melihat Maximo menuliskan kata-kata penuh cinta yang membuat dadanya ikut sesak. Nora yakin kalau tulisan ini dibuat saat Maximo setengah mabuk, karena hanya saat setengah mabuklah laki-laki itu sadar kalau Samantha sudah tidak ada disisinya.


Nora memutuskan untuk tidak menghapus tulisan itu. Ia biarkan saja tulisan itu menjadi prasasti cinta seorang Maximo pada Samantha. Yang ia lakukan sekarang hanya mengganti lipstick patah itu dengan lipstick baru yang tersimpan di dalam laci.


“Benda apa ini?” Nora memandangi benda yang tanpa sengaja ia temukan di dalam laci. Benda itu berbentuk pipih mirip ponsel, tetapi layarnya lebih kecil. Di sudut atas ada seperti lampu yang terus berkedip memberi sinyal merah dan kuning bergantian. Nora menyalakan layarnya dan tampilannya seperti alat untuk melacak sesuatu.


“Apa ini milik nona Samantha? Apa beliau masih memakai pelacak?” Nora bertanya pada dirinya sendiri. Tetapi baru beberapa saat ia perhatikan, layar itu mati, sepertinya nyala lampu kuning tadi adalah indikasi kalau baterai benda ini lemah.


Tanpa menunggu lama, Nora segera meninggalkan pekerjaannya. Ia berlari untuk menghampiri Maximo dan menunjukkan benda pipih ini. Bisakah benda ini memberi petunjuk?

__ADS_1


****


__ADS_2