
Insiden penyerangan dalam perjalanan pulang membuat Samantha tidak tenang. Meski tubuhnya sudah sangat lelah, tetapi ia tidak bisa memejamkan matanya. Semuanya seperti sebuah kejutan yang tidak diketahui asalnya. Belum diketahui juga siapa yang menyerangnya dan mengapa menyerang mereka diperjalanan menuju rumah? Samantha tahu, musuh Maximo banyak dan mencari salah satu pelakunya tidaklah mudah. Entah ini berhubungan dengan dirinya atau tidak yang jelas hal itu terjadi tepat setelah ia bertemu dengan Alicia.
Di kamarnya saat ini Samantha merenung seorang diri. Berjalan mondar-mandir dengan perasaan tidak karuan sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Alicia, saat ini menjadi satu-satunya orang yang ada dipikiran Samantha. Ia berpikir, apa mungkin Alicia menemukan sesuatu dan hal itu diketahui oelh Wilson? Lalu apa yang Alicia temukan dan Wilson ketahui? Lalu bagaimana kabar Alicia saat ini apa wanita itu baik-baik saja? Tidakkah Wilson mengira kalau Alicia adalah seorang pengkhianat karena diam-diam bekerja sama dengannya?
“Apa mungkin dia tertangkap basah?” Pertanyaan itu yang kemudian muncul di benak Samantha, membuat bulu kuduknya meremang. Ia tidak bisa menduga bagaimana respon Wilson jika tahu ia dan Alicia diam-diam menyelidiki semuanya.
“Akh sial! Bagaimana kalau Alicia benar-benar dikira pengkhianat? Apa dia akan baik-baiak saja? Apa itu alasan Wilson menyerang markas Maximo? Apa dia ingin menghabisiku dan Maximo sekaligus?”
Pikiran-pikiran itu terus berputar di kepala Samantha, seperti benang kusut yang sangat sulit untuk ia urai. Semakin dipikirkan, pikiran itu mulai berubah menjadi kecemasan. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Alicia dan gadis itu menderita karenanya.
“Harusnya aku juga bertanya, apa mungkin Wilson pernah tahu lokasi rumah Maximo?” Pikiran itu juga muncul di benaknya, mengingat ia pernah memakai alat pelacak yang dipasangkan Wilson ditubuhnya dan pernah ia pakai berkeliling di rumah ini.
Nora pernah berkata, kalau di rumah ini tidak ada signal telepon ataupun radio. Yang berarti tidak ada siapapun yang bisa melacak tempat ini selain orang yang pernah memasangkan pelacak ditubuhnya. Signal ditubuhnya pasti hilang di suatu tempat dan mungkin saja titik hilangnya adalah terowongan. Itulah mengapa Wilson menyerangnya di pintu terowongan. Sebuah tempat yang tidak pernah Samantha duga memang ada.
“Lalu mengapa tembakannya membabi buta? Apa dia juga ingin membunuhku? Apa dia sudah tidak peduli terhadapku? Apa aku memang hanya umpan yang tidak ia pedulikan walau kelak tidak selamat?” Pertanyaan-pertanyaan itu yang saat ini semakin menajam dipikiran Samantha. Ia bisa membayangkan bagaimana egoisnya Wilson saat ini.
Semua pikiran itu membuat Samantha semakin tidak bisa tidur. Ia duduk ditepian tempat tidur dan masih termenung. Apa yang kemudian harus ia lakukan? Kepercayaannya pada Wilson mulai goyah, tetapi ia juga belum bisa mempercayai Maximo serratus persen.
“Gerald, kenapa begitu sulit mencari tahu siapa pembunuhmu. Semuanya abu-abu dan sekarang malah cenderung gelap.” Samantha mengguyar rambutnya dengan kasar lantas ia menarik-narik rambut tebal itu, berusaha menghilangkan rasa pening dikepalanya.
“Siapa yang harus aku percaya sekarang? Bagaimana agar aku bisa segera menemui Alicia? Apa aku bisa bertemu dengannya lagi?” Sambil berpikir Samantha mengigiti jarinya dengan gugup. Ia tidak mau kalau sampai ada hal buruk yang terjadi pada Alicia.
Untuk menghilangkan kegundahannya, Samantha memilih untuk mandi. Ia mengguyur sekujur tubuhnya yang mendadak panas dan tidak nyaman. Darah dan isi kepalanya sama-sama mendidih. Dibawah guyuran air shower itu ia terus mempertimbangkan, siapa yang harus lebih ia percaya.
“Maximo menyukaiku, aku bisa memanfaatkan peluang ini lebih baik lagi. Aku yakin semakin lama dia akan semakin terbuka padaku. Dan untuk mengetahui apa yang Maximo pikirkan, aku harus semakin dekat dengannya. Menjadi satu-satunya orang yang dipercaya Maximo bahkan kalau perlu, hanya aku yang dia jadikan tempat bercerita. Dengan begitu aku akan belajar memahami semua yang ada dipikiran Maximo.” Simpulan itu yang kemudian Samantha. Ia tersenyum tipis saat ia merasa ide itu yang paling baik. Ia menganggap Maximo adalah sebuah pohon yang rindang. Tempat ia bernaung. Semakin dekat ia dengan pohon itu maka akan dengan mudah ia membaca arah condong pohon itu. Ia juga bisa membaca angin mana saja yang menghantamnya.
Melihat apa yang terjadi saat ini, Samantha memutuskan untuk lebih percaya pada Maximo. Hingga saat ini Maximo masih belum mengetahui kondisi Gerald saat meninggal yang berarti laki-laki itu tidak membunuh Gerald secara langsung. Laki-laki itu juga akan mencari pembunuh Gerald dan sekarang ia dan Maximo sama-sama di serang. Bukankah itu berarti Maximo hanya dijadikan kambing hitam? Apa itu artinya Maximo benar-benar tidak terkait dengan kematian Gerald?
Entah mengapa pikiran Samantha semain mengerucut pada kemungkinan itu. "Kali ini aku akan mempercayaimu Max." Ia meninggalkan aliran shower yang mengguyur tubuhnya. Ia memutuskan untuk segera berpakaian dan pergi ke suatu tempat. Ya, pergi ke kamar Maximo.
__ADS_1
Ia berjalan dengan mengendap-endap. Tidak ada satu pun pengawal yang berjaga di lorong menuju kamar Maximo. Samantha meneruskan langkahnya dan bergegas menuju kamar Maximo. Tetapi baru sampai dipersimpangan, Samantha menghentikan langkahnya. Ya, ia berhenti karena melihat pintu kamar Paul yang sedikit terbuka?
Ada suara beberapa orang di dalam dan Samantha segera mendekat. Ia mengintip dan mencuri dengar dari celah pintu.
“Pegangi tangannya Nora.” Suara tegas itu Samantha kenali sebagai suara Maximo. Mata bulat Samantha mengintip dari celah pintu dan ia melihat tubuh Paul yang membelakanginya. Di samping kirinya ada Nora dan di samping kanan ada Maximo. Beberapa pengawal juga ikut memegangi Paul. Sedang apa mereka?
“Eemmhhh… Emmmmhhh….” Suara Paul yang meraung tertahan terdengar cukup jelas. Sepertinya lelaki itu sedang kesakitan.
“Darahnya banyak, apa tidak sebaiknya kamu hentikan dulu?” Suara Maximo kali ini terdengar panik.
“Mohon maaf tuan, peluru yang masuk ke tubuh tuan Paul sepertinya telah merobek dinding pembuluh darah besar dikakinya.” Suara seorang laki-laki kemudian terdengar.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Kali ini suara Nora yang terdengar.
“Saya harus menjahit pembuluh darahnya terlebih dahulu. Sebaiknya tuan Paul berbaring karena saya akan memberinya obat bius.” Dokter itu memberi penjelasan.
“Tidak, aku tidak mau. Jangan membiusku. Bagaimana kalau aku tidak bangun lagi? Siapa yang akan menjaga tuan Maximo?” Laki-laki itu begitu takut dibius dengan alasan yang cukup manis menurut Samantha.
Akhirnya Samantha memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Paul. Orang-orang di dalam pun menoleh padanya. “Boleh aku masuk?” tanya Samantha. Ia menatap Maximo dengan sungguh.
“Kamu belum tidur? Maximo menatap Samantha dengan terkejut. Samantha menggeleng.
"Masuklah.” Maximo memperbolehkannya.
Samantha pun masuk dan memperhatikan Paul yang sedang dipegangi disisi kiri dan kanan oleh beberapa orang pengawal. Sepertinya laki-laki ini berontak setiap kali merasakan sakit karena proses pengobatan. Paul yang melihat kedatangan Samantha malah tampak ketakutan. Ia khawatir nona mudanya ini malah melakukan hal jahil terhadapnya.
“Nona, sebaiknya Anda beristirahat.” Sempat-sempatnya Paul meminta Samantha untuk istirahat.
“Mana mungkin aku beristirahat sementara suara dari ruangan ini sangat berisik. Sampai kapan kamu akan meraung terus menerus Paul?” Samantha pura-pura merasa kesal padahal ia tidak mendengar apapun dari kamarnya.
__ADS_1
“Benarkah nona, suara saya sekeras itu?” Paul sepertinya tidak sadar dengan kontrol suaranya sendiri.
“Iya. Makanya aku datang kemari.” Samantha bersidekap dengan expresi kesal.
“Maafkan saya, Nona.” Paul tertunduk lesu karena sesungguhnya ia pun sudah lelah berteriak kesakitan dan membekap mulutnya sendiri dengan bantal. Tetapi Samantha masih saja mendengar raungannya.
“Apa gunanya meminta maaf, kamu membuat kantukku hilang padahal tubuhku sangat lelmah. Tidak bisakah kamu segera menyelesaikan pengobatan untuk Paul?” Kali ini Samantha bertanya pada dokter.
“Maafkan saya nona. Pembuluh darah tuan Paul teregang terus menerus karena beliau tegang dan ketakutan. Hal itu membuat saya sulit menjahit pembuluh darahnya.” Dokter yang memegang alat jahit di tangan kanannya itu tampak sudah kekelahan. Dahinya sudah berkeringat dan sarung tangannya juga sudah berlumuran darah.
“Ayolah Paul, kamu tidur saja. biarkan dokter mengobatimu. Kamu cukup pasrah saja supaya semuanya segera selesai. Aku ingin segera tidur.” Samantha pura-pura menguap.
“Tapi bagaimana kalau saya tidak bangun lagi, nona?” Paul tampak ketakutan. Matanya sampai berkaca-kaca. Mungkin itu yang membuat pria itu menolak untuk dibius.
“Tenanglah, aku akan membangunkanmu. Aku akan menamparmu beberapa kali supaya kamu siuman dan tidak mati.” Jawaban Samantha memang unik dan membuat Maximo ingin tertawa saat mendengarnya.
“Benarkah nona?” Entah mengapa Paul malah mempercayai ucapan Samantha.
“Tentu saja. Aku akan mengawasi dari sini dan memastikan dokter bekerja dengan benar. Kamu harus bangun lagi Paul, karena aku tidak punya teman bermain golf yang baik selain kamu.” Samantha beralasan dengan jahil.
Paul menghembuskan napasnya kesal, tetapi kemudian ia mengangguk. “Suntik saja aku, aku percaya nona muda akan membangunkanku.” Dengar, laki-laki itu mempercayai ucapan Samantha. Nora dan Maximo dibuat kaget dengan persetujuan Paul. Padahal sedari adi mereka membujuk Paul dan malah gagal.
“Baik tuan.” Dokter itu dengan semangat menyahuti. Ia mengeluarkan jarum suntik dan mengisinya dengan obat bius. Saat melihat obat bius itu wajah Paul berubah pucat. Rupanya laki-laki ini juga takut dengan jarum suntik. Lantas kenapa dia memilih untuk menjadi kaki tangan seorang mafia? Bukankah itu lebih menakutkan?
“Aakkhh tolong pelan-pelan. Aakhhh….” Hanya beberapa saat saja Paul berteriak kesakitan sebelum kemudian akhirnya tidak sadarkan diri.
“Hah, hanya aku yang bisa menangani Paul, kalian berdua payah,” ledek Samantha saat melihat Paul sudah tidak sadarkan diri. Maximo hanya tersenyum kecil, wanitanya memang luar biasa.
Sabarlah Paul, semoga cepat sembuh. Teman main golfmu sudah menunggu.
__ADS_1
****