Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Memiliki satu sama lain


__ADS_3

Seperti anak kecil yang bertemu dengan ibunya, Maximo langsung berlari dan memeluk Samantha yang menunggunya di teras rumah. Ia memeluk wanita itu sangat erat. Samantha sampai terkejut dan kebingungan melihat sikap Maximo yang tiba-tiba ini. Tidak biasanya seorang Maximo terlihat sangat gelisah dan marah seperti ini.


“Hey, kita masuk dulu. kamu bisa memelukku sepuasmu.” Samantha berbisik lirih. Ia mengusap punggung Maximo yang melengkung memeluknya.


Maximo mengangguk dan mengecup leher Samantha sebelum kemudian pelukan keduanya terlerai. Samantha memandangi wajah pria di hadapannya, matanya terlihat sedih. Ia usap pipi laki-laki itu lalu ia kecup dengan lembut.


“Ikutlah denganku,” ajak Samantha. Ia menarik tangan Maximo dan membawanya masuk. Mereka masuk ke dalam lift dan selama di dalam lift Maximo memeluknya dari belakang. Ia mengusap kepala Maximo yang berada dibahunya dan memandangi wajah laki-laki itu dari pantulan dinding lift. Melihat wajahnya yang tampak sedih, Samantha tahu kalau perasaan Maximo sedang tidak baik-baik saja.


Pintu lift terbuka, mereka segera menuju kamar Samantha dan berdiam diri di balkon. “Duduklah,” Samantha mendudukan Maximo dan laki-laki itu menurut saja. Ia menatap gusar dinding tinggi berwarna abu-abu yang ada di hadapannya. Hanya ada ujung pohon pinus yang ia lihat dari tempatnya. Ia sadar, selama ini hanya pemandangan ini yang dilihat samantha dari balkonnya. Udara segar pun tidak terlalu terasa. Hebatnya Samantha tidak pernah mengeluh, bahkan tidak mencoba melarikan diri dari rumah yang memenjarakannya.


Diam-diam, Maximo memperhatikan Samantha yang sedang membuka botol Wyne. Ia tersenyum melihat gadis itu. Benar bukan, kalau Samantha adalah satu-satunya orang yang bisa menenangkannya.


“Kenapa?” tanya Samantha saat melihat Maximo sedang memperhatikannya. Maximo menggeleng, seraya tersenyum. Samantha segera menghampiri laki-laki itu dan memberikan gelasnya pada Maximo, lalu duduk di samping Maximo. Sofa kecil ini cukup untuk ia dan Maximo. Mereka duduk berdekatan, saling menempel dan rasanya sangat nyaman.


“Mau bercerita padaku?” tanya Samantha. Ia menatap Maximo dengan hangat. Maximo tidak lantas menimpali. Ia meneguk minumannya dan termenung beberapa saat. Memikirkan dari mana ia harus memulai ceritanya.

__ADS_1


“Dia berbohong,” tiba-tiba saja Maximo mengatakan kalimat yang menggantung itu. Samantha memandanginya dengan penuh tanya. Maximo yang sadar sedang dipandangipun melanjutkan meneguk minumannya untuk menenangkan dirinya.


“Aku mendatanginya dan mengajaknya untuk bisnis trycyclon sebagai pancingan. Tapi laki-laki itu menolakku. Dia juga tidak menunjukkan ekspresi yang berbeda saat melihatku. Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi, aku mulai terganggu saat tahu kalau orang yang berusaha meracuniku adalah William.” Suara Maximo terdengar berat, ia menjedanya sesaat dengan meneguk lagi minuman, rasa pahitnya sama dengan perasaannya saat ini.


“Kamu serius?” Samantha ikut terkejut mendengarnya.


Laki-laki itu mengangguk lemah. “Laki-laki itu adalah sahabat Cortez dan berjanji akan menjagaku setelah Cortez meninggal. Kami memang saingan bisnis, tapi tujuannya agar perdagangan di dunia mafia tetap menjadi kekuasaan kami. Sekarang aku baru tau kalau dia berusaha membunuhku dan dia tidak mengakuinya. Dia bahkan tidak menunjukkan rasa bersalahnya sedikitpun padaku. Aku merasa bodoh karena mempercayai laki-laki itu dan sekarang, aku tidak tahu siapa yang harus aku percaya.” Maximo mengguyar rambutnya dengan kasar, menengadahkan kepalanya seraya mencengkram rambutnya dengan kuat sampai terasa pedih di kulit kepalanya.


Samantha ikut termenung. Kekecewaan yang dirasakan oleh Maximo, ia pun merasakannya. Laki-laki yang ia percaya pun telah menyembunyikan banyak hal darinya, banyak hal yang tidak ia duga akan dilakukan oleh seorang Gerald yang begitu baik.


“Kakak angkatku memiliki riwayat komunikasi dengan Slavyk,” ucap Samantha tiba-tiba. Maximo segera menoleh Samantha dengan tidak mengerti.


Samantha tersenyum kecil, menertawakan banyak hal yang tidak ia tahu dari seorang Gerald. Aku mengecek ponselnya. Temanku berhasil menemukan passcode ponselnya yang tidak aku ketahui sama sekali. Entah seberapa banyak lagi, hal yang dia sembunyikan dan membuatku merasa kalau aku bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Sosok Gerald bahkan tidak aku ketahui siapa dia sebenarnya.” Samantha terpekur, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Maximo.


“Aku rasa, aku hanya bisa mempercayai diriku sendiri dan mempercayaimu, Max. “ Wanita itu menengadah, menatap wajah Maximo yang ada di atas kepalanya.

__ADS_1


“Tidakkah kamu merasa kalau William dan Gerald mungkin terhubung?” tanya Maximo.


Samantha mengangguk. Ia menatap jauh ke depan sana. “Membayangkan hal itu aku semakin takut Max. Gerald yang aku tahu semakin jauh dari bayanganku. Misteri kematian Gerald masih belum bisa aku pecahkan dan sekarang ada dugaan baru kalau Gerald mungkin terhubung dengan William. Padahal dia sangat memusuhi seseorang yang dia pikir sangat berbahaya dan ingin menghancurkannya." Samantha menjeda kalimatnya, nyaris saja ia mengatakan semuanya pada Maximo termasuk siapa yang Gerald incar.


“Orang itu adalah aku. Benar, Sam?” tanya Maximo tiba-tiba.


Samantha langsung menoleh dan menatap Maximo dengan penuh keterkejutan, “Kenapa kamu bisa menyangka seperti itu?” Ia menatap Maximo dengan penasaran.


“Karena aku membaca semuanya. Membaca cara kamu masuk dalam hidupku. Membaca perubahan sikapmu. Membaca semua usahamu dan membaca rencanamu yang berubah haluan dari ingin membunuhku menjadi begitu mencintaiku hingga bersedia kehilangan nyawamu. Ya, sebaik itu aku membacamu, Sam.” Maximo menjeda kalimatnya beberapa saat seraya menetap wajah gadis yang terkejut itu. Ia menangkup sebelah pipi Samantha yang ia usap dengan lembut.


“Seseorang hanya akan berurusan denganku hanya karena dua kemungkinan. Yaitu, dia adalah seorang mafia atau seorang agent yang ingin memburuku dan menghancurkan usahaku. Aku masih penasaran, kakakmu ada di pihak mana? Mengapa dia sempat memburuku tapi sekarang terbukti memiliki keterkaitan dengan Slavyk? Jika kamu bersedia, bantu aku untuk membuka halaman berikutnya dan mencari kebenaran semuanya, Sam. Aku rasa, kita hanya bisa menyelesaikan semua misteri ini jika kita menghadapinya bersama-sama. Jangan menyembunyikan apapun dariku seperti halnya aku yang tidak akan menyembunyikan apapun darimu. Bisakah?” Maximo berujar dengan sungguh, membuat Samantha tidak bisa berkata-kata. Tatapan Maximo teramat lekat dan seolah sedang membaca apa yang sedang ia pikirkan.


“Ya, mari kita selesaikan sama-sama. Aku tidak akan menolak bekerjasama denganmu Max. Aku merasa aku hanya bisa mempercayaimu,” ucap Samantha dengan penuh kesungguhan. Ia meraih tangan Maximo yang ada di pipinya, lalu mentautkan jemarinya dengan jemari Maximo.


Maximo tersenyum kecil. Ia mengecup tangan lalu lembut bibir Samantha dan sesekali melum4atnya dalam. Mereka berpagutan satu sama lain, melepaskan perasaan yang selama ini mereka tahan dan mereka sembunyikan. Puas saling bertukar saliva, Maximo menempatkan dahinya di dahi Samantha. Mereka sama-sama memejamkan mata merasakan jiwa keduanya yang mulai saling terikat dengan kuat.

__ADS_1


“Mulai sekarang, beri kepercayaan yang lebih banyak untukku, Sam.” Suara Maximo terdengar begitu lembut, tatapannya juga hangat pada Samantha. Samantha terangguk pelan lantas mengecup pipi Maximo. Setelah itu semua kehangatan itu kembali di jalin dengan lebih erat. Saling memeluk dan merengkuh di atas sofa sempit. Samantha duduk di atas pangkuan Maximo. Tangan laki-laki itu menelusur tubuh Samantha yang kemudian menggelinjang. Lantas meraih benda kenyal yang ada di hadapannya. Inti tubuh mereka bertemu dan membuat keduanya saling melenguh. Sejoli itu saling berpelukan dengan erat sebelum memulai semuanya lebih gila lagi. Apapun yang terjadi hari ini, mereka mulai memiliki satu sama lain.


****


__ADS_2