Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Memanfaatkan Peluang


__ADS_3

Panjang umur, baru beberapa detik nama itu di sebut, ternyata pemiliknya sudah datang. Samantha pura-pura peduli dengan kedatangan laki-laki itu dan tersenyum pada pria pelontos yang usianya sudah pasti jauh lebih tua darinya. Wajahnya begitu berkarakter dan sedikit kaget melihat Samantha yang tiba-tiba tersenyum padanya.


Mungkin ia berpikir, siapa wanita yang tiba-tiba tersenyum padanya. Ia berbisik pada bawahannya dan bawahannya menggeleng tidak yakin. Sepertinya Slavyk bertanya apa bawahannya mengenal Samantha atau tidak. Laki-laki itu masih memandangi Samantha sampai dengan ia masuk ke dalam ruang lelang.


Samantha ikut beranjak dan mengikuti langkah laki-laki itu dengan senyum terkembang. Berpura-pura bahagia melihat kedatangan pria yang sedang ia tunggu.


“Slavyk tidak pernah gagal memilih perempuan,” komentar laki-laki yang berdiri di samping Diego. Laki-laki itu tersenyum kecut saat melihat Samantha melintas begitu saja dihadapannya dan masuk ke dalam ruang lelang.


Samantha duduk di salah satu sudut dan mendengarkan Slavyk membuka acara itu. Ia duduk dengan tenang dan menunggu acara lelang di mulai. Beberapa orang penting diperkenalkan pada acara itu, mereka bertepuk tangan sebagai bentuk penyambutan pada sesama mafia yang saling mendukung pada acara ini. Samantha menyimak saja dan melihat sejauh mana acara ini berlangsung.


Lelang dimulai dan lelang pertama adalah lelang batu Giok asal Tiongkok. Sebuah giok berwarna kehijauan yang memang sangat indah. Beberapa orang melakukan penawaran dan satu orang mendapatkan barang bernilai sejarah itu dengan harga tinggi.


Lelang kedua adalah sebuah guci antic. Samantha tidak persis yakin seperti apa penting dan menariknya guci itu. Tetapi banyak orang yang melakukan penawaran dengan harga tinggi.


Barang lelang selanjutnya adalah sesuatu yang cukup besar dan ditutupi kain berwarna merah darah. Samantha menegakkan tubuhnya ikut penasaran pada apa yang dilelangkan berikutnya. Slavyk membuka kain penutupnya dan ternyata isinya adalah seorang wanita cantik yang didandani dengan pakaian minimalis yang sangat tipis. Samantha bahkan bisa melihat beberapa tonjolan di tubuh wanita itu meski jaraknya cukup jauh.


Wanita berambut pirang itu terlihat sangat sedih di dalam sebuah kerangkeng besi yang sangat sempit. Ternyata selain barang-barang berharga, seorang wanita pun bisa mereka perjual belikan dengan cara lelang. Tidak manusiawi menurut Samantha, tetapi ia sadar dunia mafia memang tidak mengenal manusiawi. Segala hal boleh dilakukan tanpa perlu merasa ragu asalkan ia punya kekuasaan dan kemampuan.


Seorang laki-laki berperawakan tinggi yang memberikan penawaran tertinggi dan berhasil mendapatkan wanita itu. Wanita itu di tarik keluar dari dalam pejaranya dan diperintahkan untuk bertekuk lutut dihadapan tuannya yang baru. Tangan Samantha tiba-tiba ikut mengepal melihat perlakuan laki-laki itu pada wanita yang ia beli. Uang membuat laki-laki itu merasa punya kuasa penuh. Wanita itu tampak terisak, sementara para pria yang ada di ruangan itu malah tertawa. Terlebih saat laki-laki itu mencium dengan kasar bibir wanita itu. Samantha sudah hampir beranjak kalau saja ia tidak ingat apa tujuannya datang ke tempat ini.

__ADS_1


“Selamat, Anda sangat beruntung tuan Maximo.” Samantha sampai terhenyak saat Slavyk menyebut nama itu. Nama yang sama dengan laki-laki yang sedang ia tolong. Laki-laki itu tertawa puas dan Samantha sangat penasaran dengan wajah laki-laki itu. Tetapi laki-laki itu tidak menoleh, Samantha hanya bisa melihat bahu pria itu yang bidang.


Selesai dengan urusannya, laki-laki bernama Maximo itu meninggalkan ruangan lelang lebih dulu. Samantha sudah sangat ingin menyusulnya, tetapi sesuatu menahannya.


“Lelang berikutnya adalah lelang penawar Trycyclon,” ujar Slavyk yang membuat Samantha urung melanjutkan langkahnya. Ia menelan salivanya kasar-kasar dengan ribuan kekesalan dalam dadanya. Ia tidak menyangka, di negara ini pun ada orang yang menggunakan nama Maximo dan memperjual belikan wanita. Apa Maximo itu yang dimaksud Wilson?


Akh, pikiran Samantha benar-benar tidak fokus. Beberapa kali ia berusaha mengatur napasnya untuk menenangkan dirinya sendiri. Tetapi ingatan tentang pria bernama Maximo itu terus membayangi dirinya. Apalagi jika mengingat tentang kematian Gerald di tangan orang bernama Maximo.


“Baik, lima ratus ribu dolar.” Suara itu menggema di telinga Samantha. “Lima ratus ribu dolar pertama? Ada penawar lain?” tanya Slavyk.


Samantha segera mengangkat papannya dan menuliskan angka 500.001 dolar. “Hahahaha penawaran yang menarik, nona,” ujar Slavyk saat melihat angka yang ditulis Samantha. Orang-orang menoleh pada sosok cantik itu dan mereka ikut tertawa.


“Baik, ada penawaran lain?” Slavyk kembali bertanya. Seseorang mengangkat papan yang bertuliskan enam ratus ribu dolar dan Samantha tidak mau kalah dengan menuliskan satu juta dolar.


“Satu juta dolar pertama, satu juta dolar kedua dan satu juta dolar ketiga.” Hingga penawaran berakhir, tawaran Samantha lah yang paling tinggi.


“Silakan ke depan, nona,” ujar Slavyk dengan sopan. Samantha beranjak dari tempatnya dan menghampiri pria itu. Langkahnya yang Anggun memang menarik banyak pasang mata pada wanita itu, termasuk Slavyk.


“Nama Anda, nona?” Slavyk bertanya dengan penasaran.

__ADS_1


“Jelena,” Samantha menjawab dengan tegas.


“Baik nona Jelena, selamat atas kemenangan Anda. Barang ini sekarang menjadi milik Anda.” Slavyk memberikan sebuah kotak berwarna hitam pada Samantha.


Samantha memandangi kotak itu dengan perasaan berdebar. Ia ingin menyentuh kotak itu tetapi rasanya sangat takut.


“Bisakah Anda mengantarkan kotak ini ke tempat saya? Saya juga ingin menjamu Anda minum segelas Wyne,” tawar Samantha.


Slavyk tersenyum kecil. Ia menatap Samantha dengan lekat dan rasanya ia ingin melepas topeng itu untuk melihat wajah sang wanita secara utuh. Wanita ini sangat menarik dan membuatnya penasaran.


“Dengan senang hati.” Laki-laki itu menimpali dengan penuh rasa terhormat. Sementara itu Samantha menghembuskan napasnya lega karena dengan begini ia akan mendapatkan pengawalan gratis dari Slavyk.


“Bisa kita berangkat sekarang?” tanya Samantha.


“Tentu saja,” Slavyk dengan senang hati menyambut.


“Tuan, bagaimana dengan lelangnya?” tanya bawahan Slavyk.


Slavyk tidak menimpali, dengan isyarat tangannya ia meminta bawahannya untuk diam dan mundur. “Silakan nona,” Slavyk mempersilakan Samantha berjalan di sampingnya dan di tangannya ia membawakan kotak berwarna hitam itu.

__ADS_1


“Terima kasih.” Samantha mengangguk dengan sopan dan berjalan di samping Slavyk dengan perasaan yang tidak menentu. Setelah lepas dari mulut pada harimau, sekarang ia memberikan kepalanya pada seekor singa, apa gadis ini akan selamat?


****


__ADS_2