Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Kepergiannya


__ADS_3

Malam sudah semakin larut dan pencarian pada tubuh Samantha masih terus dilakukan. Cahaya lampu dari senter dan mercusuar sesekali mengenai wajah Maximo yang masih termenung sendirian di atas karang. Laki-laki itu masih belum berbicara apa pun sejak ia berhasil di tarik ke daratan oleh petugas tim SAR. Usahanya gagal untuk menyusul dan menemukan Samantha yang jatuh ke dalam lautan yang luas.


Pencarian sudah dilakukan selama delapan jam, tetapi tubuh Samantha masih belum ditemukan. Hanya ada tubuh Wilson yang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Menurut tim SAR, kepala laki-laki itu membentur karang dan beberapa organ tubuhnya rusak di dalam tubuhnya. Tubuhnya membiru dan menggembung. Mayatnya ditemukan di kedalaman enam kilo meter di bawah laut.


Petugas SAR membawa mayat Wilson ke daratan lalu memasukkannya ke dalam kantung mayat berwarna kuning dengan resleting di atasnya. Mayat itu di muat dalam sebuah mobil ambulans untuk di bawa ke rumah sakit terdekat.


“Tuan,” Paul menghampiri Maximo yang sedari tadi tidak beranjak dari tempatnya. Selimut yang digunakan pria itu sudah ikut basah dari tubuhnya. Ia mengabaikan setiap udara dingin yang menyapanya. Samantha tentu lebih kedinginan dari ini, bukan?


“Petugas SAR akan melanjutkan pencarian besok pagi. Untuk saat ini, mereka harus berhenti karena kondisi lautan yang pasang menyulitkan pencarian.” Paul mencoba memberikan pemahaman pada tuan besarnya. Ia paham benar rasa takut dan sedih yang sedang dirasakan Maximo.


“Tidak, mereka tidak boleh berhenti. Mungkin saja Samantha masih berusaha berenang dan menunggu bantuan kita.” Baru kali ini Maximo bersuara dengan sebuah penolakan yang tegas.


“Tapi tuan,”


“TIDAK! TIDAK ADA YANG BOLEH BERHENTI MENCARI SAMANTHA!!!” teriak Maximo hingga membuat Paul terhenyak. Wajah laki-laki itu tampak meradang. Mata bulatnya yang tajam, menyalak pada Paul. Tubuhnya sampai gemetar karena rasa marah yang meluap-luap.


Paul hanya bisa terdiam, menatap Maximo dengan perasaan khawatir. Laki-laki itu tampak hancur dan tidak memiliki keinginan lain selain untuk menemukan wanitanya.

__ADS_1


“Kalau kalian mau pergi, pergilah. Aku akan tetap di sini, aku akan berenang dan mencari Samantha sendiri. Aku tidak butuh bantuan kalian.” Suara Maximo terdengar bergetar walau berusaha kuat. Laki-laki itu berusaha turun menuju batu karang di bawahnya. Tetapi saat batu karang itu di pijak, batu karang itu patah, tidak sanggup menopang bobot tubuh Maximo.


“Tuan!” Paul segera menahan tubuh Maximo agar tidak jatuh dan menariknya lagi ke atas.


Maximo mengibaskan tangannya, ia tidak suka Paul memeganginya.


“Tuan, tidak hanya Anda yang takut, tidak hanya Anda juga yang bersedih. Tetapi Tuan bisa melihat sendiri, kondisi lautan tidak menungkinkan kita untuk melanjutkan pencarian. Ombak semakin besar dan kemungkinan akan ada badai. Saya mohon tuan, kita akan mencari nona Samantha besok pagi. Sangat pagi sekali. Saya akan ikut turun bersama tuan. Kita cari nona Samantha sama-sama. Bisakah tuan? Saya mohon…” Paul benar-benar memohon pada tuannya yang bersikeras.


Maximo tidak menimpali, ia hanya tertunduk menatap deburan ombak yang pecah di antara batu karang. Semakin lama ombaknya memang semakin besar, karena itulah tim SAR menghentikan pencarian.


Sejujurnya Maximo paham dengan yang diucapkan Paul. Hanya saja ia masih tidak rela kalau harus meninggalkan Samantha seorang driri di lautan yang luas. Ia membayangkan bagaimana kalau Samantha sedang berusaha berrenang ketepian, tetapi ia kesulitan karena ombak yang besar. Entah bagaimana kondisinya saat ini, yang jelas tidak ada jejak sedikitpun yang mereka dapatkan.


Paul hanya bisa mengangguk patuh. Ia memerintahkan beberapa orang untuk berjaga dan mengawasi tempat ini. “Segera melapor saat kalian menemukan hal sekecil apa pun tentang nona Samantha,” titah pria itu sebelum pergi.


“Baik, tuan,” sahut para pengawal yang sudah disiapkan Paul.


Perjalanan menuju kediaman Maximo dilalui dengan lamban. Laki-laki itu terus termenung di belakang sana, mengingat Samantha yang saat ini tidak ada di sampingnya. Mata tajamnya menitikkan air mata penuh kesedihan saat ia sadar kalau ia telah gagal melindungi wanitanya. Padahal ia sudah berjanji kalau ia akan menjaga Samantha lebih baik lagi.

__ADS_1


Paul memperhatikan Maximo dari kaca spion tengahnya. Laki-laki itu benar-benar terpukul. Matanya selalu basah dan merah. Ia duduk meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan dan kesepian tanpa Samantha.


“Bertahanlah Tuan, kita akan kembali ke tempat ini besok pagi,” batin Paul dengan penuh kekhawatiran. Pekatnya langit malam ini seolah menjadi bukti gelapnya hari yang akan dilewati Maximo tanpa Samantha. Ia sempat mendengar dari tim SAR kalau kemungkinannya sangat kecil menemukan Samantha dalam kondisi hidup-hidup. Ombak terlalu besar dan mungkin saja tubuh Samantha sudah hancur hingga tidak bisa mereka temukan.


Hah, mengingat ucapan itu membuat hati Paul ikut hancur. Seketika ia begitu merindukan nonanya yang sangat suka menggoda dan mengerjainya. Ia merindukan bagaimana Samantha menahan tawa saat berhasil mengerjai dirinya. Rasanya ia rela di kerjai seumur hidup oleh nona mudanya, asal wanita itu kembali dan menampakkan wajahnya yang baik-baik saja.


Tiba di kediaman Maximo, Nora menyambut mereka dengan derai air mata. Ia menatap Maximo dengan penuh rasa iba. Benar yang dikatakan Paul kalau tuan besar mereka sangat hancur. Cara berjalannya tidak setegak biasanya. Tubuhnya membungkuk, seolah berat sekali beban kehilangan Samantha yang harus ia pikul.


“Tolong jangan bertanya sekarang. Segera siapkan saja kamar nona Samantha untuk tuan besar.” Paul segera memberi perintah pada Nora dan wanita itu menurut saja. Sambil terisak, ia merapikan kamar Samantha yang sunyi dan sepi. Sebuah lilin aromatherapi di nyalakan di atas meja. Samantha sangat suka wangi lilin ini menemaninya tertidur.


Benar saja, setelah berganti pakaian, Maximo memilih pergi ke kamar Samantha. Wangi parfum wanita itu membuat Maximo sangat merindukan kehadiran Samantha di dekatnya. Ia membaringkan tubuhnya di kasur Samantha, mengusap permukaan kosong di sampingnya. Seketika ia seperti melihat bayangan Samantha yang ada dalam dekapannya. Suara wanita itu begitu jelas di pendengarannya, gelak tawanya yang menggemaskan, hingga tatapan matanya yang hangat membuat Maximo menangis tersedu-sedu. Ia sangat merindukan wanita itu. Andai saja ia tidak datang terlambat, mungkin ia masih bisa memeluk wanita itu sepuasnya.


“Sam, aku merindukanmu.” Laki-laki itu berujar dengan lirih. Perasaannya begitu hancur dan separuh jiwanya seperti pergi dan belum kembali.


Sepanjang malam itu Maximo tidak memejamkan matanya, ia menunggu matahari terbit dan terlihat di ujung pohon cemara yang biasa ia pandangi bersama Samantha.


Mengapamalam ini terasa begitu panjang?

__ADS_1


****


__ADS_2