
Samantha akhirnya bisa bernapas lega setelah ia berhasil duduk di kursi penumpang pesawat. Ia melepas masker yang sedari tadi menutup mulutnya untuk membantu ia menyamar. Hanya syal dan kacamata hitam yang masih ia kenakan. Gadis itu menyandarkan tubuhnya dengan nyaman dan menyalakan pemutar musik saat pesawat mulai melakukan pergerakan dan siap lepas landas.
Mengangkasa selama sebelas jam bukanlah waktu yang sebentar. Selama perjalanan Samantha setia memeluk tas punggung yang berisi obat. Ia sangat takut kalau obat ini pecah jika ia simpan di bagasi atas. Untuk itu, ia lebih memilih mendekapnya hingga ia turun nanti.
“Permisi Nona, apa Anda mau minum?” tawar seorang pramugari. Rupanya ini waktunya untuk kudapan.
Samantha yang tidak benar-benar tidurpun segera membuka matanya. Ia menurunkan sedikit kacamatanya, “Orange juice,” Samantha memesan minuman yang aman untuk ia konsumsi.
“Silakan Nona,” pramugari itu memberikan segelas orange juice pada Samantha. Tetapi sesaat sebelum orange juice itu sampai ke tangan Samantha, tiba-tiba seseorang menabrak tangan pramugari hingga minuman di tangannya jatuh dan tumpah di baju Samantha.
“Ah, maaf. Saya tidak sengaja,” ucap wanita itu. Ia mengangguk sopan dan menyembunyikan wajahnya di balik topi yang ia kenakan. Wajahnya terlihat sangat panik dan gelagapan.
Ia melepas jaketnya dan hendak membersihkan baju Samantha, tetapi tangan Samantha menahannya.
“Tidak perlu, baju saya tidak terlalu kotor,” ucap Samantha. Ia melihat tangan wanita itu biru lebam dan gadis itu segera menutupi jejas di tangannya saat sadar Samantha memperhatikannya.
“Sekali lagi saya mohon maaf,” lagi wanita itu mengangguk sopan, penuh sesal.
“Tidak apa-apa, santai saja.” Samantha berusaha menenangkan. Wanita yang gelagapan itu segera pergi meninggalkan Samantha dan pramugari.
“Kami memiliki kaos maskapai, Nona. Apa Nona mau mengganti pakaian Nona?” tanya pramugari yang merasa bersalah.
Samantha melihat bajunya yang memang cukup kotor. Tumpahan orange juice menyisakan noda kekuningan di dada dan perut Samantha.
“Ia, boleh.” Akhirnya samantha setuju.
“Mohon tunggu sebentar Nona, akan saya ambilkan.” Pramugari itu segera pergi dan mengambilkan kaos untuk Samantha.
Sepeninggal pramugari, Samantha termenung seorang diri. Ia mengingat kembali gadis yang tadi menabraknya. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi ia melihat ada luka biru lebam di tangannya.
“Apa gadis itu di pukuli?” tanya Samantha pada pikirannya sendiri. Ia tidak bisa menduganya, tetapi sangat merasa kalau gadis itu tidak baik-baik saja.
“Silakan nona, ini bajunya.” Pramugari itu menyodorkan baju pada Samantha.
__ADS_1
“Terima kasih,” dengan senang hati Samantha menerimanya. Ia segera beranjak, berjalan ke belakang untuk mencari toilet pesawat. Di bagian tengah badan pesawat, ada dua toilet yang berhadapan. Toilet di sisi kiri, pintunya tertutup rapat dan satunya lagi sedikit terbuka. Dengan yakin Samantha mendorong pintu toilet itu dan ternyata keberadaan seseorang di dalam sana membuat Samantha terhenyak.
“Hey, kamu sedang apa?” tanya Samantha saat wanita itu terduduk lemah di lantai toilet yang sempit. Kepalanya bersandar pada dudukan toilet, seperti tubuhnya tidak bisa bangkit.
“Apa kamu sakit? Biar aku panggilkan crew pesawat, tunggu sebentar.” Samantha segera beranjak.
“Tolong, jangan....” suara wanita itu terdengar sangat lemah.
“Kenapa? Sepertinya kamu sakit. Kamu mungkin memerlukan dokter.” Samantha tidak tega dengan kondisi wanita tersebut.
“Jangan, saya mohon jangan.” Wanita itu meraih tangan Samantha dan memeganginya. Tangan memiliki banyak luka kebiruan seperti bekas pukulan dan membuat samantha ngilu membayangkan rasa sakitnya.
“Astaga, ada apa denganmu?” tanya Samantha.
Wanita itu tidak menjawab, hanya napasnya saja yang terdengar berat dan sesekali berdesis menahan sakit.
“Kemarilah, duduk di atas dudukan toilet.” Samantha membantu wanita itu untuk duduk di atas dudukan toilet. Tubuhnya sangat lemah dan ringan. Dengan mudah Samantha mengangkat tubuh kurus itu.
Samantha memperhatikan wanita itu baik-baik. Satu tangannya terus memegangi perutnya, sepertinya ia kesakitan.
Wanita itu menengadahkan wajahnya dan menatap Samantha. Wajahnya terlihat sangat pucat dan dipenuhi luka lebam bekas pukulan. Sudut bibirnya juga sobek dan menyisakan darah yang sudah mengering. Pelipis kirinya tampak menonjol dan kebiruan karena benturan keras.
“Eveline,” jawab wanita itu dengan pelan, nyaris tidak terdengar.
“Aku samantha. Aku tidak menyangka kalau aku benar-benar bertemu dengan seseorang yang bernama Eveline.” Samantha menatap tidak percaya pada gadis ini. Nama Eveline pernah ia sebutkan, tetapi nama samaran untuk Alicia.
Gadis itu tersenyum kecil pada Samantha. “Senang bisa melihatmu, Samantha.” Suara gadis itu terdengar bergetar.
“Aku yang tidak senang karena bertemu denganmu dalam kondisi seperti ini. Tunggu, rasanya aku pernah melihatmu?” Samantha berusaha mengingat pemilik mata bulat berwarna kehijauan ini. Wajahnya juga tidak asing, bentuk rahangnya terasa familiar untuk Samantha.
“Aku juga melihatmu,” gadis itu balas tersenyum.
“Dimana?” Samantha balik bertanya.
__ADS_1
“Tempat pelelangan. Kamu menatapku dengan tajam,” gadis itu kembali tersenyum. Ia masih mengingat bagaimana Samantha menatapnya dengan penuh kemarahan saat tangan kasar seorang laki-laki menariknya keluar dari dalam kerangkeng besi yang ditutupi kain merah.
“Ya, kamu gadis dipelelangan itu. Apa mereka menyiksamu?” Samantha mulai mengingat pemilik wajah sendu ini.
Gadis itu hanya tersenyum kecil, lalu meringis saat dadanya ikut sesak setelah ia tersenyum.
“Harusnya mereka langsung membunuhku saja. Tidak perlu menyisakan tubuh yang tidak berharga seperti ini. Menyusahkan saja.” Gadis itu mengeluarkan obat dari dalam sebuah botol, tetapi obat itu malah jatuh berserakan di tangannya yang gemetar.
“Brengsek! Harusnya kamu tidak membiarkan mereka menyiksamu seperti ini. Wanita itu bukan mahluk yang boleh di tindas sesuka hati! Memangnya mereka terlahir dari mana?” samantha mengomel kesal. Ia membantu Eveline mengambilkan butiran obat itu dan menaruhnya di telapak tangan yang gemetar itu.
“Tidak semua wanita kuat dan hebat sepertimu, Sam. Jangan terlalu sombong dan membuatku iri.” Eveline menimpali dengan sarkas, sungguh ia sangat putus asa dengan keadaannya saat ini.
“Tentu saja aku harus sombong dihadapanmu agar kamu melihat bahwa tidak semua wanita lemah sepertimu. Aku pun dulu wanita yang lemah, anak yang dibuang oleh orang tuanya. Tapi bukan berarti orang-orang bisa merendahkanku dan memukuliku seenaknya. Diriku hanya milikku, orang-orang bukan pemilik diriku. Mereka hanya pemilik uang dan kekuasaan yang dipergunakan secara seenaknya!” sambil mengomel Samantha memberikan sebotol air minum pada Eveline lalu membantu gadis itu untuk meminumnya. Dari botolnya Samantha melihat kalau obat yang di minum Eveline adalah obat pereda sakit.
Eveline menelan obat itu hingga sampai ke lambungnya. “Terima kasih, kesombonganmu membuatku ingin menyaingimu.” Eveline tersenyum sinis.
“Bangkitlah kalau mau menyaingiku.” Samantha mengulurkan tangannya dan Eveline membalasnya.
“Apa kamu tinggal di Los Angeles?” tanya Samantha penasaran.
“Entahlah. Aku akan ikut kemana pun laki-laki yang membeliku itu pergi.” Hanya itu jawaban Eveline.
Samantha tidak menimpali. Ia melepaskan sebuah liontin yang ada di kalungnya dan memberikannya pada Eveline. “Sampai di Los Angeles, mari kita bertemu lagi. Kita hajar manusia-manusia yang melukaimu. Dengan benda ini, aku bisa menemukanmu dimana pun. Jadi pastikan, benda ini tidak pernah jauh darimu.” Samantha berujar dengan penuh kesungguhan.
Eveline menatap liontin itu beberapa saat lalu memasukkannya ke dalam saku celananya yang longgar karena ia terlalu kurus.
“Ganti bajumu, kamu bisa masuk angin,” ucap Eveline sambil menatap Samantha. Melihat gadis ini membuat tenaganya bertambah berkali lipat.
“Berdirilah, aku akan menggunakan toilet itu.” Samantha sengaja bersikap kasar seperti itu. Benar saja, Eveline bangkit dan berusaha menegakkan tubuhnya. Entah karena efek obat atau memang semangatnya yang tumbuh, wanita itu bisa melangkahkan kakinya meski terseok-seok. Ia keluar lebih dulu dan meninggalkan Samantha yang masih mengganti bajunya. Bibirnya yang pucat pasi itu tersenyum kecil, ia tidak menyangka kalau ia akan bertemu dengan perempuan gila seperti samantha. Terkadang kita memang perlu menyentuh harga diri seseorang agar semangatnya bangkit.
“Mari kita bertemu lagi, Sam,” ucap Eveline dalam hatinya. Niatan untuk menemui Samantha dikemudian hari membuat gadis itu memaksa kakinya untuk melangkah kembali. Benar yang dikatakan Samantha, tidak ada yang boleh menghancurkannya tanpa seizinnya.
****
__ADS_1