Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Penolong


__ADS_3

Mata seorang pria tampak sangat berbinar saat ia duduk berhadapan dengan seorang Samantha di sebuah restoran mewah untuk menikmati makan siangnya. Mimpi yang menjadi kenyataan itu, membuat senyumnya tidak henti terkembang, lengkap dengan gejolak perasaan yang terus bergemuruh di rongga dadanya. Menculik Samantha ternyata sesuatu yang mengasyikan. Penuh ketegangan dan lebih menegangkan di banding harus melakukan pengiriman obat illegal yang diawasi oleh para agent pemerintah.


Semua ketegangan dari sejak ia memutuskan menjemput Samantha sampai dengan berhasil menjauh dari kediaman Gerald, seperti terbayar lunas saat ia duduk satu meja dengan wanita yang menjadi impiannya sejak lama.


“Waw, kamu terlihat sangat cantik, Sam,” ungkap pria itu dengan penuh kekaguman. Wanita itu terlihat cantik mengenakan dress sederhana, namun terlihat berkelas dan elegan saat dipakai oleh Samantha. Dress itu yang ia pilih saat berbelanja di butik.


“Kamu memilihkan baju yang tepat untukku, terima kasih.” Samantha balas memuji laki-laki itu hingga membuat hidung pria itu kempis kembung.


“Aku tidak melakukan banyak hal. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Terima kasih karena sudah mau memenuhi janjimu untuk mentraktirku makan siang. Ini sangat berarti, Sam.” Slavyk mengungkapkan perasaannya dengan penuh kesungguhan.


“Tidak masalah, aku hanya berusaha memenuhi janjiku. Tapi tuan Slavyk, tidakkah kamu berpikir kalau ini berbahaya untukmu? Michael mungkin akan sangat marah padamu, karena berani membawaku keluar dari rumahnya. Apa yang akan kamu jelaskan nantinya?” Samantha mencoba menguji Slavyk.


“Tidak masalah kalau dia marah terhadapku. Lagi pula, selama ini dia yang membutuhkanku. Sekalipun dia marah, dia tidak akan berani melakukan apa pun terhadapku. Mungkin hanya sebatas duel antar pria. Dia masih beruntung Sam, karena aku tidak berpikir untuk menculikmu selamanya.” Slavyk begitu ringan berujar.


“Hahahaha… kamu sangat berani. Aku akan sangat beruntung kita bisa berteman, Slavyk. Oh maaf, apa aku boleh memanggilmu dengan panggilan semacam itu?”


“Tentu tidak masalah. Aku senang kita terdengar akrab. Mau ku potongkan steaknya?” tawar Slavyk dengan sepenuh hati.


“Tidak perlu terima kasih. Tolong jangan membuatku terlihat lemah dan bergantung pada orang lain.” Samantha memberi penolakan. Karena ia pernah bergantung pada seseorang dan ternyata orang tersebut mengecewakannya.


“Oh ya, mohon maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.” Slavyk terlihat merasa bersalah.


“Tidak masalah. Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu mengenal Michael? Dan bagaimana kalian bisa berkenalan?” Samantha mencoba menggali informasi lebih dalam dari Slavyk. Mungkin saja hal ini berguna.


“Emmm, aku bertemu dengan Michael satu tahun lalu. Saat itu dia dideportasi oleh pemerintahan Rusia karena diketahui menggunakan identitas palsu. Entah apa alasannya, yang jelas hal itu membuat dia tidak bisa bepergian ke luar negeri. Aku membantunya saat itu dan kami berbincang cukup banyak. Hingga akhirnya aku tahu kalau aku dan Michael bekerja di dunia yang sama. Sejak saat itu kami saling bekerja sama untuk banyak hal, terutama obat-obatan.” Slavyk menceritakan hal itu dengan gamblang.

__ADS_1


“Obat apa yang dia beli dan untuk apa?” Samantha semakin penasaran. Ia sampai urung melanjutkan memotong steaknya. Baginya lebih menarik menyimak cerita Slavyk sambil menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling terjalin.


“Untuk di jual kembali. Dia cukup terkenal sebagai distributor. Kemarin dia membeli obat terbaru dariku. Aku sangat khawatir kalau dia menggunakannya padamu, Sam. Karena obat itu bisa melumpuhkan tubuhmu, mirip dengan tricyclon yang pernah kamu dapatkan penawarnya di pelelangan. Hanya saja obat itu memberi efek ketergantungan karena menenangkan.”


Samantha tercenung mendengar cerita Slavyk yang terlihat jujur. Entah apa tujuan laki-laki ini menceritakan hal semacam ini. Entah karena ia sudah nyaman berbicara dengan Samantha atau hanya usahanya untuk membuat Samantha membenci Gerald. Jika maksudnya seperti itu, Samantha sudah lebih dulu membenci Gerald.


“Tidak, aku rasa dia tidak melakukannya. Kakiku memang lumpuh karena sakit. Itu saja.” Samantha berusaha menepis dugaan itu.


“Ya, semoga saja. Saranku, jangan terlalu percaya pada Michael, aku rasa dia memiliki banyak rahasia yang berbahaya.” Slavyk mencoba mengingatkan.


“Ya, terima kasih sudah diingatkan.” Samantha menanggapinya dengan santai.


Deringan ponsel terdengar nyaring, ponsel itu milik Slavyk. “Dia panjang umur,” ucap Slavyk sambil tersenyum miring. Sepertinya Gerald yang menghubunginya.


“Silakan di jawab,” ucap Samantha. Ia juga penasaran dengan perbincangan dua laki-laki itu.


Laki-laki itu baru kembali dari pasar tradisional untuk mencari buah apel yang sesuai dengan pesanan Samantha, buah apel matang yang didapatkan dari hasil panen ke tiga. Airnya tidak boleh terlalu banyak, kulitnya tidak boleh terlalu hijau atau terlalu kuning. Pasti menyulitkan bukan? Samantha tersenyum kecil untuk usaha mengerjainnya itu.


“Tenanglah Michael, aku hanya mengajaknya berjalan-jalan. Dia mengeluh bosan terus-menerus berada di rumahmu.” Slavyk ini memang pandai beralasan. Dengan genitnya ia mengedipkan mata pada Samantha.


“Iya, tentu saja. Tidak perlu menyusulku. Aku akan mengembalikannya, sampai dia sendiri yang memintaku mengantarkannya padaku.” Itu kalimat terakhir yang diucapkan Slavyk pada Gerald. Tidak lama panggilanpun terputus dan Slavyk hanya tersenyum kecil.


“Apa kamu berjanji untuk mengantarku pulang?” Samantha bertanya dengan penasaran.


“Ya, dia memaksa. Dia bilang akan meledakkan kepalaku kalau aku tidak mengembalikanmu.” Slavyk berujar dengan kesal. Padahal ia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Samantha.

__ADS_1


“Apa kamu tidak berniat meledakkan kepalanya lebih dulu? Mungkin aku bisa lebih lama bersamamu,” Samantha berusaha merayu.


“Kamu tidak mau pulang?” Slavyk terlihat antusias.


Samantha menggeleng dengan senyum terukir di bibirnya. Ia menatap Slavyk dengan penuh harap. "Bisakah?" tanyanya.


“Sial!” laki-laki itu tampak gelisah. Antara harus memenuhi janjinya untuk mengembalikan Samantha atau harus memenuhi permintaan gadis ini.


“Dia pasti akan melakukannya lagi malam ini. Tubuhku yang lemah ini sampai kesakitan dan sulit terbangun. Tenaga laki-laki itu benar-benar mematikanku.” Samantha mulai berakting mengusap lehernya sensu4l, lalu turun ke dada, seolah menunjukkan cara Gerald saat menjamahnya.


“Brengsek, apa dia seganas itu terhadapmu?” Lihat, laki-laki itu terpancing.


Samantha mengangguk pelan dengan wajah yang memelas. Tanpa berpikir panjang, Slavyk segera menghubungi anak buahnya. “Sediakan satu hotel yang aman dan pantau pergerakan Michael. Aku tidak mau bertemu dengan laki-laki itu.” Pria itu langsung memberi perintah dengan tegas dan singkat.


“Kamu melakukan ini untukku? Apa kamu tidak akan menyesal?” tanya Samantha dengan wajah yang dibuat terharu. Pandai memang wanita ini memainkan mimiknya.


“Tentu, aku akan melakukan semuanya untukmu, Sam.” Slavyk menggenggam tangan Samantha yang ada di atas meja. Genggaman tangannya sangat erat.


“Terima kasih banyak Slavyk. Kamu temanku yang terbaik,” ungkap Samantha.


“Tidak masalah, Sam. Tenanglah, kamu tidak harus pulang. Kita akan bersembunyi di tempat yang aman, sampai aku membereskan laki-laki itu.” Slavyk begitu bersungguh-sungguh dengan perkataannya, membuat Samantha tersenyum haru.


“Samantha?” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari laki-laki yang berdiri di belakang Slavyk.


Samantha terhenyak dan segera melepaskan genggaman tangan Slavyk. Sejak kapan laki-laki itu ada di sini?

__ADS_1


****


__ADS_2