Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Mencari puing-puing


__ADS_3

Sarapan pagi dinikmati Samantha dan Maximo didalam kamar. Paul yang menyiapkan semuanya meski laki-laki itu tidak ikut bergabung. Maximo menyiapkan sarapan untuk ia dan Samantha karena belakangan wanita ini sangat suka makan dari dalam piringnya. Ia juga menyuapi Samantha yang sibuk membaca majalah fashion ditangannya.


“Semalam aku melihat orang-orang bertransaksi obat-obatan di sini. Dari mana mereka mendapatkan barang-barang itu?” Samantha iseng bertanya. Rasa penasaran akan lingkungan sekitarnya semakin menuntut untuk dijawab.


“Beberapa dariku dan sebagian dari mafia lain yang ikut bertransaksi di sini. Kenapa, apa ada yang menawarimu obat aneh-aneh?” Maximo langsung waspada.


Samantha menggeleng. Ia mengambil jus jeruk miliknya dan meneguknya dengan nikmat. “Tidak, aku hanya penasaran saja.” Wanita itu bersikap biasa saja seolah tidak ada hal penting dari pertanyaannya.


“Ngomong-ngomong, apa ada obat kimia yang bisa membuat mayat seseorang terlarang untuk disentuh?” Samantha semakin penasaran. Ia mengingat bagaimana Alicia melarangnya menyentuh jenazah Gerald beberapa waktu lalu karena katanya beracun.


“Ada.” Maximo menjawab dengan tegas.


“Benarkah?” Samantha langsung berhenti mengunyah.


“Ya, ada tiga jenis obat seperti itu yang beredar dipasaran. Kami menyebutnya triocyclo. Obat itu di produksi di Rusia. Biasanya diberikan untuk meracuni seseorang secara perlahan. Tapi tidak semua orang bisa mendapatkan obat ini dan setahuku persediannya terbatas.” Maximo menjawab sesuai dengan pemahamannya.


“Meracuni?” Samantha langsung menutup majalahnya. Ia penasaran dengan penjelasan Maximo berikutnya.


“Ya. Salah satu efek dari obat itu tidak langsung membunuh korban saat korban mengkonsumsinya. Ada jeda waktu beberapa jam bahkan beberapa hari sampai obat itu benar-benar bereaksi didalam tubuh.”


“Seperti apa bentuknya?” Samantha benar-benar penasaran.

__ADS_1


Maximo membuka ponselnya dan menunjukkan salah satu gambar pada gadisnya. “Ini adalah tiga jenis obat tricyclo. Jenis pertama, dia akan membuat organ tubuh korban membusuk dari dalam. Jeda waktu reaksinya sekitar tujuh puluh dua jam dari sejak korban meminumnya. Lalu yang ini, bisa menyebabkan kelumpuhan syaraf bagi korban yang mengkonsumsinya. Yang tetrakhir ini, aku tidak yakin efeknya seperti apa. Yang jelas orang-orang menyebutnya a rest pill. Berhenti sejenak. Entah apa maksudnya.” Maximo menjelaskan dengan lengkap dan hal itu membuat Samantha semakin mengernyitkan dahinya.


Bentuk ketiga contoh obat ini sama, hanya kodenya saja yang berbeda.


“Ada apa? Kamu pernah melihatnya?” Maximo balas penasaran. Tidak biasanya Samantha bertanya hal yang berhubungan dengan dunia mafia.


“Ti-tidak. Aku hanya penasaran saja.” Wajah Samantha berubah pucat walau ia berusaha terlihat biasa-biasa saja. Ia segera meneguk kembali jus jeruk miliknya dan mengundang rasa penasaran Maximo menjadi lebih besar. Ia curiga Samantha sedang menyembunyikan sesuatu karena gadis ini tidak pernah bertanya tanpa alasan yang tidak jelas.


Setelah mendengar penjelasan Maximo, Samantha tampak melamun. Kalau tidak salah ingat, ia pernah melihat Gerald mengkonsumi obat beberapa hari sebelum laki-laki itu meninggal. Laki-laki itu mengeluh pusing karena mabuk setelah kalah berjudi. Apa mungkin obat sejenis itu yang Gerald minum?


“Hey,!” Maximo menjentikkan jarinya didepan Samantha setelah beberapa kali ia panggil dan gadis itu tidak merespon.


“Ada apa? Ada yang kamu pikirkan?” Maximo masih dengan rasa penasarannya.


“Tidak. Tidak ada apa-apa. Ayo suapi aku lagi.” Gadis itu menarik tangan Maximo untuk segera menyuapinya lagi. Dengan senang hati Maximo menyuapi gadis itu.


Sambil mengunyah makanan, pikiran Samantha masih tertaut pada setiap ucapan Maximo. ia berpikir kalau ia harus mengecek obat yang pernah Gerald minum dan mungkin masih ada sisanya di rumah. Ia harus memeriksa itu.


Ia juga berpikir, kalau penjelasan Maximo semakin mengerucutkan kenyataan kalau Maximo mungkin bukan pembunuh Gerald. Alasannya adalah karena laki-laki itu menceritakan dengan gamblang obat-obat yang ia ketahui seolah ia memang hanya sekedar tahu. Buktinya, Maximo tidak tahu kalau tubuh Gerald terlarang untuk disentuh karena efek obat yang ada ditubuh laki-laki itu.


“Kenapa?” tanya Maximo saat Samantha memandanginya dengan lekat. Seolah banyak pertanyaan yang ingin Samantha sampaikan pada dirinya.

__ADS_1


“Maukah kamu membelikanku pakaian lagi? Di toko yang waktu itu kita datangi.” Samantha berusaha mencari celah. Ia berharap dengan pergi ke toko itu ia bisa menghubungi Alicia lagi dan menanyakan beberapa hal.


“Tentu. Kapan kita akan pergi?” Gayung bersambut, Maximo mengiyakan ajakannya.


“Sore ini. Aku juga ingin makan malam ditempat yang waktu itu kita kunjungi. Apa boleh?” Lagi ia berusaha mencari peluang.


“Tentu. Sepertinya kamu mulai suka bepergian denganku. Boleh aku menganggapnya sebagai ajakan kencan?” Maximo memandangi Samantha dengan lekat. Lihat juga bibirnya yang tersenyum simpul, gemas ingin mengigit wanitanya.


“Ya. Aku sangat suka saat melihat para gadis yang menatapku dengan iri karena berjalan disampingmu.” Samantha beralasan.


“Waah, kamu mulai pandai menyanjungku. Kalau begitu, apa bayaran yang akan aku dapatkan setelah mengajakmu berjalan-jalan sore nanti?” Maximo semakin menikmati perbincangan mereka.


“Aku akan menjamumu malam nanti.” Samantha mengedipkan mata kanannya dengan genit pada Maximo. Ia juga mengusap wajah Maximo dengan lembut dan menggoda.


“Boleh aku minta dari sekarang?” Maximo setengah memohon. Ia mencondongkan tubuhnya mendekat pada Samantha lantas menggesekan rambutnya ke bahu Samantha.


“Tidak Max, kakiku masih gemetar, beri aku jeda waktu.”


“Hem, baiklah. Aku akan sabar menunggu.” Senang sekali ekspresi wajah laki-laki itu. Samantha ikut tersenyum walau dalam benaknya ia masih harus menyusun strategi untuk menemukan pembunuh Gerald yang sebenarnya.


****

__ADS_1


__ADS_2