Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Pengecut


__ADS_3

“Kenapa wanita itu ada di ruang kerjamu? Apa yang kalian lakukan? Kalian tidur bersama?” Rentetan pertanyaan itu adalah milik Samantha yang baru menyusul Maximo masuk. Tubuhnya masih basah kuyup, hanya diselimuti kimono handuk. Kekesalannya timbul saat melihat Crystal terbaring di sofa ruang kerja Maximo dalam keadaan lemah.


“Tidak, mana mungkin aku menidurinya.” Maximo menjawab dengan santai. Ia menarik handle pintu untuk menutup pintu ruang kerjanya.


“Sebaiknya kamu segera ganti baju.” Maximo memegangi pundak Samantha lalu mendorong pelan gadis itu untuk pergi ke kamarnya.


“Kamu belum menjelaskan apapun Max, aku ingin tahu mengapa perempuan itu tidur di ruang kerjamu? Tidak mungkin tidak terjadi sesuatu diantara kalian.” Sambil berjalan Samantha terus berceloteh. Sementara Maximo hanya tersenyum kecil dan tetap membawa perempuan itu masuk ke kamarnya. Menyenangkan membuat wanitanya cemburu seperti ini.


“Duduklah,” Maximo mendudukkan Samantha di tepian tempat tidurnya. Ia mengambil baju ganti dari lemari Samantha. Dress hitam warna favoritnya. Warna ini selalu cocok saat dikenakan oleh Samantha yang berkulit putih.


“Kenapa?” tanya Maximo saat ia melihat Samantha sedang memandanginya dengan wajah kesal. Ia berjalan santai menghampiri Samantha. Mengeringkan rambut wanita itu dengan handuk, tetapi Samantha segera menepis tangan Maximo.


“Jangan menyentuhku kalau tidak mau menjelaskan apapun,” ucap ketus wanita itu. Ia menatap Maximo dengan tajam dan penuh kecurigaan.


Maximo balas menatap Wanita yang ia cintai, ia berjongkok di hadapan Samantha seraya tetap menghanduki kaki Samantha yang masih basah.


“Aku sedang menjebak William. Aku mengatakan kalau aku meracuni putrinya dengan trycyclo dan dia harus segera datang untuk membawa penawarnya. Aku yakin, dia akan menghubungi seseorang yang dia kenal dan pernah memberinya racun itu.” Maximo berujar dengan tenang.


“Apa? Kamu meracuni Crystal? Kamu jahat Max, dia seorang wanita!” Samantha benar-benar terkejut.


Maximo hanya tersenyum kecil. Selesai menghanduki kaki Samantha, ia kembali berdiri dan mengambil handuk lainnya untuk mengeringkan rambut Samantha.


“Aku tidak benar-benar meracuninya dengan trycyclo. Lagi pula aku tidak punya obat itu. Aku hanya menyuntiknya dengan obat sejenis muscle relaxan yang efeknya sedikit mirip dengan trycyclo. Efek obat itu akan hilang setelah enam belas jam. Jadi jangan khawatir, aku tidak akan membunuh seorang wanita dengan keji. Aku hanya ingin membuat William mengakui perbuatannya.” Laki-laki itu menatap mata Samantha dengan hangat, penuh keyakinan.


“Aku memiliki dua wanita berarti dalam hidupku, mendiang ibuku dan kamu. Mana mungkin aku tega membunuh seorang wanita?” Maximo berujar dengan sungguh. Tatapannya begitu lekat pada wanita yang menatapnya dengan tidak percaya.


“Lalu bagaimana kalau William marah dan menyerang kita? Bukankah itu akan berakibat buruk pada kita, Max?” Samantha masih berpikir.


Maximo tidak lantas menimpali. Seperti sedang mengurus anak kecil, ia melepas kimono mandi Samantha lalu memakaikan baju gadis itu. Tidak lupa ia mencium leher jenjang wanita itu, membuat Samantha menggeliat. Lantas ia duduk di samping Samantha dan memegang erat tangan wanita yang ia cintai.


“Aku sangat marah pada William karena berani meracuniku. Harusnya dia tahu konsekuensi dari mengusikku. Aku hanya memberinya sedikit pelajaran untuk membuktikan kalau laki-laki itu memiliki keterkaitan dengan mafia yang memiliki obat tersebut, sekalipun mafia itu bukan Slavyk,” urai Maximo dengan detail.


Samantha membalik tubuhnya menghadap maximo, ia menatap lekat laki-laki itu. “Aku rasa William tidak akan tinggal diam. Dia akan membalasmu, Max.” Samantha menatap prianya dengan penuh rasa khawatir.


Maximo segera meraih tubuh Samantha lalu memeluknya dengan erat. “Aku bisa menghadapi laki-laki itu, selama yang dia inginkan adalah aku. Aku juga bisa bertahan dalam kondisi apapun selama kamu ada di dekatku, Sam.” Kalimat laki-laki itu terdengar penuh percaya diri.

__ADS_1


Samantha menengadahkan wajahnya menatap wajah Maximo yang ada di atas kepalanya. Laki-laki itu tampak termenung, tetapi beberapa saat kemudian ia menunduk, membalas tatapan Samantha yang sedang mengkhawatirkannya.


“Aku suka tatapanmu yang seperti ini. Aku merasa sangat dicintai, Sam,” ungkap pria itu seraya mengecup bibir Samantha dengan lembut. Memagutnya beberapa saat dan memberi gigitan lembut yang membuat Samantha membalasnya dengan semangat. Mereka berpagutan beberapa saat, meraup udara beberapa kali dan berakhir meski belum ada rasa puas.


Kedua sisi wajah Samantha di tangkup oleh kedua tangan Maximo yang lebar. Ia menempatkan dahinya di dahi Samantha dan mengusap hidung bangir Samantha dengan ujung hidungnya.


“Kamu harus berhati-hati, Max,” pesan gadis itu. Ia menatap mata Maximo yang berada persis di depan bola matanya.


“Tentu, aku akan sangat berhati-hati.”  Dipeluknya tubuh Samantha dengan erat, sangat erat sampai tidak menyisakan ruang sedikitpun.


“Tuan, permisi tuan,” Suara Paul terdengar di depan pintu kamar Samantha.


“Ada apa?” Suara Maximo terdengar tegas. Laki-laki ini terkadang suka mengganggu kesenangannya.


“Maaf tuan, ada tuan William di bawah.” Suara Paul terdengar gemetaran.


Maximo cukup terhenyak, ia tidak menyangka kalau William akan datang secepat ini. Apa laki-laki itu sudah mendapatkan penawarnya? Bukankah laki-laki itu pernah meracuni Maximo, jadi seharusnya memiliki penawarnya, bukan?


“Aku akan menemuinya.” Maximo segera beranjak.


“Tunggulah di sini, aku akan menghadapinya.”


“Tidak, aku akan ikut.” Samantha segera ikut bangkit. Ia tidak melepaskan tangannya dari Maximo.


“Sam, menghadapi William bukan hal yang mudah. Cukup aku,”


“Karena tidak mudah makanya aku ikut. Aku tidak bisa membiarkan kamu pergi sendirian.” Samantha langsung mematahkan penolakan Maximo. “Sekalipun kamu melarangku, aku akan tetap turun.” Dengar, gadis ini memang keras kepala.


Maximo hanya menghembuskan napasnya kasar, sepertinya ia memang tidak bisa menolak. Akhirnya ia putuskan untuk mengambil pistol yang ada di laci meja kamar Samantha dan membekalkannya pada gadis itu. Maximo sendiri sudah menyimpan satu senjata di pinggangnya. Mereka harus berjaga-jaga.


Sejoli itu akhirnya turun. Mau tidak mau, William memang harus dihadapi. Laki-laki itu berdiri dengan tegak di halaman rumah Maximo dengan dikelilingi oleh para penjaga Maximo yang menodongkan senjata padanya. Seringai tipisnya terbit saat melihat Maximo turun bersama Samantha.


“Dimana Crystal?” tanya William dengan lantang.


“Aku menempatkannya di tempat yang cukup nyaman, kamu tidak perlu khawatir. Kamu sudah membawa obat penawarnya?” Maximo bertanya dengan santai menghampiri William. Ia memberi isyarat pada para penjaganya agar menurunkan senjata yang mereka todongkan pada William.

__ADS_1


“Tentu saja.” Laki-laki itu menyahuti dengan tegas.


“Aahhh, sudah ku duga, kamu memiliki obat penawar itu. Apa itu obat penawar yang seharusnya kamu berikan padaku, Will?” Maximo tersenyum kecil melihat wajah William yang sangat tegang. Akhirnya pria itu merasakan ketegangan yang dirasakan orang-orang terdekatnya. Rasanya puas bisa melihat ekspresi semacam itu di wajah William.


“Perlu kamu tahu Max, aku tidak pernah meracunimu. Saat kamu bertanya tentang rantai mafia yang memperjualbelikan obat itu, aku memang tidak mengenalnya. Aku tidak berbohong tentang hal itu.” William menjawab dengan sejujurnya.


“Waaah, aku ingin sekali percaya mendengar ucapanmu, tapi sayangnya kamu seorang William. Seseorang yang selalu ingin menundukkanku. Apa aku masih harus percaya?” Maximo menatap William dengan tajam. Tangannya bersidekap gagah di depan dadanya.


“Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas aku tidak meracunimu. Mungkin ada yang sedang menebar konspirasi antara kita dan berniat mengadu domba kita.” William menyampaikan pemikirannya.


Maximo terdiam, ia berusaha mencerna ucapan William, entah ia harus percaya atau tidak pada laki-laki ini, yang jelas William tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


“Lalu, darimana kamu mendapatkan penawar itu?” Maximo masih penawaran.


“Dari seseorang yang aku kenal dan kamu tidak perlu tahu.” William berujar dengan penuh ketegasan.


“Usaha yang bagus Will, kamu membuatku semakin penasaran. Perlu kamu tahu, kamu baru saja memberiku alasan untuk tidak membiarkanmu masuk. Aku akan memastikan kalau obat itu tidak akan sampai pada putrimu.” Maximo tegas mengancam William.


William mengerang kesal dalam hati, Maximo memang sangat sulit untuk dihadapi. “Aku tidak tahu identitasnya, dia seseorang yang tersembunyi dan kamu tidak akan mudah untuk menemuinya.” William terpaksa menyerah. Ia tidak bisa membiarkan putrinya mati di kediaman Maximo.


“Beritahu aku cara menghubunginya. Maka aku akan membiarkanmu masuk.” Maximo memang tidak akan semudah itu menyerah.


William tidak menimpali. Dengan kesal ia mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Maximo. “Kamu hubungi sendiri, aku harus segera masuk,” ujar pria itu.


Maximo tersenyum kecil, ia mengambil alih ponsel William, melihat panggilan terakhir pria itu dengan orang misterius tersebut, lantas sedikit bergeser untuk memberi pria itu jalan. William melewati Maximo dan Samantha begitu saja, sementara Maximo masih berupaya menghubungi nomor tersebut. Awalnya nomor itu aktif, tetapi tidak menjawab. Saat dihubungi kembali ternyata nomor itu malah tidak aktif. Sepertinya orang ini tahu kalau Maximo yang menghubunginya.


“Brengsek!” Maximo mengupat dalam hati. Ternyata yang berhubungan dengan William hanyalah seorang pengecut.


“Putrimu akan membaik setelah enam belas jam, kamu tidak perlu memberikan obat itu, karena yang kumasukkan bukan trycyclo,” ucap Maximo tiba-tiba.


Langkah tegap William pun segera terhenti. Ia menoleh pada Maximo dan menatapnya dengan tajam.


“Brengsek!” Merasa dipecundangi, William segera mengacungkan senjatanya pada Maximo dan diwaktu bersamaan pengawal Maximo juga menodongkan senjatanya pada pria itu.


Siapa yang tertembak lebih dulu?

__ADS_1


****


__ADS_2