
Lapangan golf yang hijau, ternyata cukup menyegarkan mata Samantha yang terlalu sering melihat dinding berwarna abu dan hitam di kediaman Maximo. Areanya yang luas memang tidak rata, ada beberapa gelombang bukitan yang menjadi tantangan nyata bagi Samantha.
Sang mafia itu benar-benar menuruti keinginan Samantha untuk berjalan-jalan sekedar melepas penat. Ia pun dengan senang hati menjadi tutor Samantha dalam bermain golf. Olahraga mahal yang biasanya hanya dimainkan oleh kalangan tertentu salah satunya kalangan Maximo.
Acara bermain golf ini sebenarnya adalah pengemasan dari sebuah pertemuan penting Maximo dengan beberapa orang rekanannya. Mereka sama-sama mafia dan sejauh ini hubungan mereka berjalan baik.
Saat ini rekanan Maximo sudah menunggu disebuah ruang terbuka yang hanya diteduhi oleh payung-payung besar berwarna putih. Udara bebas menyapa mereka dengan leluasa sambil menikmati wine digelas masing-masing.
Sementara Maximo sendiri masih sibuk mengajarkan Samantha cara bermain golf. Kalau sudah berhubungan dengan wanita ini, maka Maximo akan selalu lebih memprioritaskannya. Tidak masalah orang lain menunggu, asal bukan Samantha.
Di hadapan sebuah bola golf Samantha berdiri. Bola kecil berwarna putih dan keras itu, cukup menarik untuknya. Postur tubuhnya ia buat berancang-ancang mengikuti arahan Maximo. Sedikit membungkuk sementara Maximo memeluknya dari belakang dan tangan kokohnya merangkul tangan Samantha. Kulit keduanya terlihat kontras, putih dan kecoklatan, tetapi sangat serasi saat dipadukan. Kepala Maximo berada disisi kanan kepala Samantha dengan jarak yang sangat dekat. Ia tengah ikut mengatur ayunan stick saat dihantamkan pada bola kecil itu.
“Tunggu sebentar, ada yang membawa spidol?” Samantha menjeda aksinya dengan bertanya pada Maximo yang ia toleh.
“Untuk apa?” Maximo mengernyit penasaran.
“Aku ingin menuliskan sesuatu di sini. Sebagai penanda kalau bola golf ini punya kita karena ini bola keberuntungan." Samantha memberikan alasan.
Maximo hanya tersenyum dengan isi kepala Samantha, ia tidak lagi protes, melainkan langsung memberi kode pada Paul untuk mencarikan spidol atau sejenisnya. Paul berlari menuju meja rapat untuk mencari spidol.
“Apa Maximo masih lama berurusan dengan wanitanya?” seorang laki-laki bertanya pada Paul.
“Aku tidak bisa menentukan. Kita hanya bisa bersabar. Ada yang punya spidol?” Paul menjawab dengan terengah karena berlari dari lapangan menuju tempat rapat, walaupun masih area terbuka.
“Pakai ini dan segera suruh Maximo kemari,” ucap salah satu lelaki tua yang sudah mulai bosan menunggu. Ia ikut memperhatikan Maximo yang asyik memakaikan kacamata pada Samantha dan menatapnya dengan lekat.
“Apa Maximo benar-benar akan memiliki pendamping atau hanya mainan saja?” laki-laki itu penasaran, bertanya pada teman disampingnya.
“Entahlah. Tapi sejauh ini, hubungan dengan wanita ini yang terjauh. Baru wanita ini yang dia bawa menemui kita dan meluangkan waktunya begitu banyak,” sahut pria satunya.
“Astaga, bisa-bisa Maximo mengajak Wanita itu bercint4 dilapangan golf.” Satu pria lainnya berkomentar sambil mengusap wajahnya kasar saat melihat postur Samantha yang begitu s3ksi ketika belajar memegang stick golf. Maximo memeluknya dari belakang dan sudah dipastikan laki-laki itu tidak baik-baik saja.
__ADS_1
“Kita lihat, berapa lama rapat ini akan ditunda.” Untuk saat ini mereka hanya bisa menyaksikan tayangan gratis premium dari Samantha dan Maximo.
“Silakan nona.” Paul sudah kembali dengan membawa ballpoint dan Samantha segera melepaskan rengkuhan Maximo yang betah berlama-lama menempel ditubuhnya.
Gadis itu berjongkok dengan santai dan Maximo segera mengambil jaketnya untuk menutupi kaki Samantha yang terekspose kemana-mana bahkan terlihat oleh para bandot tua yang sedang menonton mereka.
“Hahhahhaa… Maximo sangat pelit padahal kita hanya melihatnya sedikit.” Komentar salah satu tetua yang asyik tertawa.
“Itu artinya Maximo bersungguh-sungguh dengan wanita ini," timpal satu lelaki tua lainnya. Mereka sama-sama tertawa.
“Apa yang kamu tulis?” Maximo penasaran karena sedari tadi Samantha terus berjongkok.
“Sebentar lagi selesai.” Suara gadis itu tidak terdengar jelas karena sambil menggigit tutup ballpointnya.
Paul sedikit mengintip tapi saat Maximo menatapnya, laki-laki itu segera memalingkan wajahnya.
“Sudah jadi. Sam, love and Max.” Tulisan itu yang Samantha pamerkan pada Maximo.
“Ya artinya aku, gambar hati dan kamu. Namamu Maximo kan?” Samantha kesal sendiri karena harus menerangkan.
“Hahhaahha… ya aku paham. Jadi isi tulisan ini untuk apa?” Maximo mengambil alih bola golf itu dari tangan Samantha lalu memperhatikannya.
“Ini penanda, supaya tidak tertukar dengan yang lain. Jadi, kemanapun bola ini pergi, Paul harus mencarinya dan tidak menukarnya dengan bola lain. Itu tugas pentingmu hari ini.” Kali ini Paul yang ditatap tajam oleh Samantha lantas gadis itu tersenyum.
Maximo terkekeh mendengar rencana wanitanya.
“Tuan, apa saya benar-benar harus melakukannya?” Paul sudah tidak yakin. Tidak terbayangkan seperti apa Samantha memukul bola, pasti ke sembarang arah.
“Ya. Kamu sudah lama tidak berolahraga, tidak ada salahnya berlarian disekitar sini. Lagi pula, udara cukup bagus, keringatmu akan banyak terbuang dan tubuhmu akan lebih segar.” Maximo begitu puas ikut mengejek. Kapan lagi ia bisa kompak dengan Samantha mengerjai Paul.
“Baik tuan.” Paul hanya bisa menurut saja.
__ADS_1
“Nona, tolong pastikan Anda memukul bola sesuai arah lubang yang telah ditentukan. Jangan melenceng terlalu jauh.” Paul berusaha mengingatkan. Ia tidak sanggup kalau harus mengikuti arah tembak Samantha yang mungkin akan mengelilingi dunia.
“Maximo sudah mengajariku secara exclusive. Kalau arah tembakku salah, kamu salahkan saja tutorku.” Samantha melirik Maximo dengan sudut matanya yang tajam, dipoles eyeliner.
“Mana mungkin saya menyalahkan tuan besar saya.” Paul menggerutu dalam hati dan Maximo hanya menahan senyumnya melihat wajah Paul yang sudah mulai ketar-ketir.
“Baiklah, aku akan berbincang dengan rekan-rekanku, kalian lanjutkan permainan,” pesan Maximo seraya memberikan tongkat golf nya pada Samantha.
Samantha mengangguk saja dan membiarkan Maximo pergi.
“Apa mereka juga Mafia?” tanya Samantha, sambil memperhatikan Maximo dari kejauhan. Lelaki itu terlihat akrab satu sama lain.
“Sebaiknya kita segera memulai permainan nona.” Paul lebih memilih mengalihkan pembicaraan mereka.
“Hah, kamu tidak menyenangkan, Paul. Suka sekali tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu,” keluh Samantha. Ia menaruh bola golf ditempatnya lalu melakukan ancang-ancang dan satu pukulan dilayangkan. Bola melambung tinggi membuat Samantha dan Paul menengadah, melihat kemana perginya bola itu.
“Segera ambil Paul, bukannya kamu sudah tidak tahan untuk bekerja?” ejek Samantha saat bola itu jatuh ke rumput dan entah disebelah mana.
Untuk beberapa saat Maximo terkekeh ditempatnya, melihat tingkah Samantha yang asyik mengerjai Paul.
“Apa kita hanya akan menonton permainan golf payah itu atau ada hal penting yang ingin dibicarakan?” salah satu diantara mereka mulai protes.
“Oh, ya. Kita akan berbicara.” Susah payah Maximo memfokuskan pikirannya pada empat orang dihadapannya.
Sepertinya ia harus berhenti sejenak memperhatikan Samantha yang asyik bermain golf dan mengerjai Paul. Sesekali Paul berlari dan sesekali juga berjalan santai. Dan sekali lagi ia mengaduh saat ternyata bola golf yang dipukul Samantha malah mengenai mata Paul.
Maximo ingin tertawa tetapi teman-temannya sedang membahas rencana Maximo untuk menjerat pelaku pembunuhan pada Gerald.
“Selamat bersenang-senang, Sam. Selamat berlelah ria, Paul."
Dengar, tawa Samantha begitu kencang melihat Paul yang kepayahan berlari kesana kemari dibawah terik matahari
__ADS_1
****