
Hari demi hari berlalu tanpa bisa di cegah. Waktu merambat pelan menyiksa seseorang yang selalu merindukan kekasihnya. Segala usaha sudah di coba oleh Maximo untuk menemukan seorang Samantha yang jatuh ke lautan lepas, tetapi nyatanya waktu lebih dari satu bulan tidak pernah cukup untuk membawa wanita itu kembali ke daratan.
Membawa rindu yang tidak pernah usai, seorang Maximo selalu datang ke tempat ini setiap harinya. Tempat terakhir kali ia melihat wajah kekasih yang begitu dicintainya. Pria ini selalu berdiam diri di atas batu karang besar sambil memandangi riak air laut yang terkadang tenang dan sering kali bergelombang. Meski berada di tepian, kedalaman air laut tempat Samantha tenggelam, sangatlah dalam. Di bawahnya dipenuhi karang tajam dengan posisi yang curam karena tepat di bawah tebing.
Satu minggu setelah kejadian, tim SAR sebenarnya sudah menghentikan pencarian. Kemungkinan Samantha untuk selamat nol besar. Tetapi laki-laki itu masih tetap menolak keputusan tim SAR. Ia sangat yakin dan percaya kalau Samantha masih hidup dan sedang berusaha untuk kembali. Hal itu karena hingga saat ini tidak ada potongan tubuh atau benda yang dipakai Samantha terapung di atas permukaan laut.
“Lautan cemburu terhadapku karena dia tahu hati Samantha hanya untukku. Karena itu dia memeluk Samantha terlalu erat. Aku percaya, suatu hari lautan akan melepaskan Samantha dan kembali kepadaku.” Kalimat itu yang pernah diucapkan Maximo setiap kali Paul mencoba menyadarkannya pada realitas yang ada. Karena hal itu juga, ia bersikeras untuk datang ke tempat ini setiap hari. Ia menempatkan penjaga dan membuat rumah kecil tidak jauh dari tempat jatuhnya Samantha. Ia ingin Samantha memiliki tempat yang di tuju saat wanita itu ingin pulang.
Perubahan besar juga terjadi pada diri Maximo. Laki-laki gagah ini benar-benar berubah drastis baik secara sikap maupun mental. Maximo tidak pernah banyak bicara, perilakunya lebih bengis di banding sebelumnya. Siapa saja yang terlihat menentangnya, maka senjata yang akan berbicara.
“Tuan, pemilik casino ini sepertinya melakukan kecurangan. Dia memanipulasi alat judi dengan menempatkan sebuah magnet besar di bagian bawah mesin. Sehingga para pemain akan selalu kalah.” Itu laporan yang diterima Paul dari salah satu pegawainya. Laki-laki itu juga menunjukkan bukti kecuragan salah satu pengelola Casino milik Maximo.
“Apa sebaiknya kita segera memberi tahu tuan besar, tuan? Saya khawatir para pengunjung tahu kecurangan yang dilakukan pengelola dan bisa berakibat buruk pada reputasi casino,” imbuh pria tersebut.
“Tunggu sebentar, aku yang akan berbicara dengan tuan besar, tapi tidak sekarang,” sahut Paul. Ia memandangi Maximo yang masih terduduk di atas karang karena prosesi mengenang Samantha di hari ini belum selesai.
Sudah satu jam pria itu berada di atas karang, teriknya matahari mulai menyengat. Ombakpun mulai bergulung-gulung. Paul turun untuk membawakan payung. Sekarang untuk menuju batu besar itu ada jalan setapak yang dibangun Maximo. Ini memudahkan untuknya pergi ke atas karang dan sebagai jalan jika suatu hari Samantha ingin pulang ke rumah kecil yang dibangunnya.
“Tuan, matahari sudah semakin terik,” ucap Paul menyadarkan tuan besarnya yang masih termenung. Masih selalu ada air mata setiap kali Maximo termenung di tempat ini. Rasa berdukanya belum habis dan rasa kehilangannya belum bisa ia terima.
Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar, bersamaan dengan air mata yang membasahi wajahnya.
“Apa kamu menciumnya Paul, aku rasa angin hari ini wangi parfum Samantha. Sangat segar dan membuatku tidak ingin beranjak dari sini.” Dengar, laki-laki itu mulai bermain lagi dengan halusinasinya. Setelah kemarin mengatakan kalau ia mendengar suara Samantha dari tempat ini, hingga membuatnya berkendara dini hari ke tempat ini, sekarang wangi parfum Samantha yang ia hirup.
Entah seperti apa Paul harus menimpali kegilaan yang semakin menjadi dari tuan besarnya. Periode depresi yang dialami Maximo sangat panjang, kepergian Samantha benar-benar membawa serta kesadarannya untuk ikut hilang.
__ADS_1
“Tuan, lautan memang selalu punya misterinya sendiri. Wangi nona Samantha memang sangat melekat di pikiran kita, berbeda dengan air yang membuatnya samar dan mulai tidak tercium. Wangi itu ada di pikiran tuan, bukan pada angin yang menyapa tuan. Jadi, meskipun tuan meninggalkan tempat ini, wangi itu akan selalu tercium.” Kalimat itu yang Paul ucapkan untuk menyadarkan pikiran Maximo.
Maximo menghembuskan napasnya kasar, seraya mengurut dadanya kuat-kuat. Sepertinya berat sekali perasaannya hingga dadanya terasa begitu sesak. Matanya masih menatap nanar ombak yang berkejaran.
“Kapan dia akan melepaskan wanitaku? Kenapa tega sekali menyekap Samantha dalam waktu selama ini?” Maximo menatap tajam ombak yang bergulung kemudian pecah membentur batu karang.
Paul terdiam sejenak, entah seperti apa ia harus menjawabnya.
“Jangan bilang Samantha tidak akan pernah kembali Paul, karena aku bisa berupaya untuk membuat lautan mempertanggung jawabkan perbuatannya.” Kegilaan itu semakin menjadi. Semua hal yang ada di depan matanya dan berhubungan dengan Samantha, akan selalu ia anggap sebagai musuhnya.
“Segala sesuatu yang memang masih menjadi milik Anda, akan selalu menemukan caranya untuk pulang, tuan,” ujar Paul dengan penuh kesungguhan.
Maximo tersenyum kecil mendengar ucapan Paul. Laki-laki ini memang selalu tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan Maximo dengan cara yang laki-laki ini inginkan, bukan dengar cara yang benar. Karena otak Maximo sedang tidak membutuhkan sebuah kebenaran, terlebih kebenaran kalau seorang Samantha sudah tiada.
Paul menghela napas lega, akhirnya setelah satu bulan lamanya tuan besarnya memiliki keinginan untuk makan. “Tentu saja, tuan. Mari saya antar.” Paul begitu bersemangat. Ia berjanji akan memesan semua menu di resto itu dan membiarkan Maximo makan sepuasnya. Bukankah selama ini hanya minuman beralkohol dan sebuah apel yang menjadi makanan Maximo? Ya, hanya apel yang menjadi makanan Maximo selama ini. Mungkin karena Samantha sangat menyukai buah yang satu ini.
Paul meminta supir melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Mereka harus segera menuju resto yang ingin dikunjungi Maximo. Saat tuan mafia itu tiba, Paul segera meminta pemilik resto untuk mengosongkan tempat ini.
“Tidak, tetaplah ramai seperti ini. Samantha suka keramaian tempat ini.” Maximo melarangnya. Padahal biasanya laki-laki ini lebih suka makan dalam suasana yang hening dan tenang tanpa ada hiruk pikuk manusia lain.
“Baik, tuan.” Paul hanya bisa menurut. Asalkan tuan besarnya mau makan, ia akan menuruti semua keinginan Maximo.
Makanan mulai disajikan di atas meja. Semua menu makanan terbaik memenuhi meja bundar itu. Maximo tersenyum senang melihat satu mangkuk makanan berkuah kental kesukaan Samantha. Ia mengambil mangkuk itu dan mengaduk-aduknya dengan sendok. Tidak memakannya, hanya menciumi baunya yang terasa nikmat.
“Buatkan satu porsi lagi makanan ini,” pinta Maximo.
__ADS_1
Pelayan dengan sigap membuatkan dan menaruhnya berhadapan dengan milik Maximo. Lagi, laki-laki itu tersenyum puas. Ia tengah bermain dengan imajinasinya, membayangkan Samantha ada di hadapannya dan tengah menikmati makanan itu dengan lahap. Tangannya terulur, seolah mengusap sisa kuah yang tersisa di sudut bibir Samantha.
Paul hanya bisa memalingkan wajahnya, menahan perasaan getir melihat kegilaan Maximo yang semakin menjadi. Sepertinya halusinasi Maximo tentang Samantha semakin tidak bisa dikendalikan.
“Wah, mejanya penuh sekali.” Seorang pria mabuk tiba-tiba menghampiri Maximo dan duduk di tempat Samantha. Mata Maximo langsung membulat melihat kedatangan laki-laki itu yang tiba-tiba dan tanpa rasa bersalah.
“Boleh aku memakannya?” Laki-laki itu menunjuk pasta yang ada dihadapannya. Paul segera menghampiri hendak mengusir laki-laki itu tetapi Maximo menahannya.
“Makanlah,” timpal Maximo sambil memandangi laki-laki tersebut.
“Kau laki-laki yang baik. Harusnya ada seorang wanita yang menemanimu di sini agar makanannya tidak terbuang sia-sia.” Laki-laki itu berujar dengan ringan sambil melahap pastanya. Satu detik kemudian, senyum Maximo itu hilang, berubah menjadi tatapan dingin dan tajam. Laki-laki itu sampai gemetar melihat perubahan ekpresi Maximo yang menurutnya sangat menakutkan.
“Ada apa? Apa aku salah bicara?” tanya laki-laki itu yang mulai gelagapan.
Maximo tidak menimpali. Ia mengambil senjata dari pinggangnya, DOR! DOR! DOR! Tiga tembakan ia sarangkan di kepala laki-laki tersebut.
Seketika, tubuh laki-laki itu pun ambruk di atas meja. Darahnya bercampur dengan pasta yang sedang ia nikmati. Sebagian pengunjung berteriak histeris melihat apa yang dilakukan Maximo. Ringan sekali laki-laki itu mencabut nyawa seseorang yang telah dengan lancang mengusik bayangan seorang wanita yang ada dipikirannya.
“Dia pasti sangat kenyang sampai berbicara melantur,” ucap Maximo. Ia melanjutkan menikmati wangi makanan yang ada di mangkuk itu tanpa merasa terusik oleh mayat laki-laki yang melotot di atas meja makannya.
Paul sudah ingin membawa tuannya pergi, ia tidak rela perilaku Maximo menjadi tontonan bagi pengunjung resto lainnya. Tetapi laki-laki itu sudah terlanjur mengambil sendoknya dan memakan makanan di tangannya dengan lahap di temani bayangan Samantha. Paul hanya bisa terdiam dan membiarkan Maximo menghabiskan makanannya sebelum ia membawa tuannya pulang.
“Tuan, kapan Anda akan membaik?” batin Paul seraya menatap Maximo dengan perasaan sedih.
***
__ADS_1