
"Michael?"
Maximo masih terkejut dengan sosok yang berdiri dihadapannya. Ia tidak menyangka kalau laki-laki yang menyerangnya adalah sang kakak yang ia cari selama ini. Ia pikir Michael sudah meninggal, tetapi ternyata Michael masih hidup dan merupakan sosok yang sama dengan Gerald.
Dunia terkadang terlalu bercanda pada orang-orang yang bersungguh-sungguh.
“Ya, rupanya kamu masih mengenal gelang ini. Gelang bodoh yang membuat kita menjadi budak Cortez.” Gerald melepas gelangnya dan melemparnya pada Maximo. Benda itu jatuh tepat di tengah-tengah antara Maximo dan Michael. Laki-laki itu menyeringai tipis, melihat Maximo yang tampak kaget melihat dirinya masih hidup.
“Benda itu harusnya hanya di pakai olehmu, anj6^ng setia Cortez.” Kalimatnya bernada ejekan yang membuat para pengawalnya ikut tertawa. Maximo melihat ke sekitarnya, memperhatikan orang-orang Gerald yang mengelilinginya dan Samantha. Sepertinya pria ini sudah menyusun rencana yang sempurna untuk menyerangnya. Pria di samping Maximo pun memakaikannya borgol agar Maximo tidak melawan.
“Gelang itu diberikan oleh Cortez agar memudahkan saat kami mencarimu, dia tidak pernah berniat meninggalkanmu dan Mirella. Mengapa kamu melepas pelacaknya?” Maximo mencoba menjelaskan kesalahpahaman sang kakak.
“BOHONG! Itu hanya alasan. Kalian tidak pernah benar-benar berniat mencariku dan Mirella. Lima belas tahun kita terpisah Maximo, lima belas tahun bukan waktu yang sebentar. Mana mungkin seorang Cortez tidak bisa menemukan manusia sepertiku kalau dia memang berniat mencariku? Hah? Apa dia bersungguh-sungguh mencariku atau hanya main-main saja?“
“Ya, aku tahu. Sejak dulu, hanya kamu yang menjadi kesayangan Cortez. Orang yang akan dia jadikan penerusnya. Sementara aku dan Mirella, kami hanya beban yang harus dia singkirkan. Maka, jangan lagi membelanya!” kalimat Gerald terdengar penuh kekecewaan, laki-laki itu menatap Maximo dengan tajam. Ia masih mengingat saat Cortez lebih memilih menarik tangan Maximo untuk ia ajak bertukar dengan mafia Rusia, di banding dirinya yang berusia lebih tua dari Maximo. Semua kesalahan Cortez itu yang membuat Gerald terpaksa harus hidup sendiri di panti asuhan yang asing bersama Samantha. Keadaan yang tidak menyenangkan itu membuat Gerlald merasa benar-benar dibuang.
“Cortez tidak pernah berhenti mencarimu. Kami bahkan mendatangi mafia Rusia itu untuk membuat kesepakatan baru. Tetapi kamu melarikan diri Michael.”
“Aku tidak melarikan diri! Dia menjualku!” teriak Gerald mematahkan kalimat Maximo. Ia begitu emosional hingga membuat salivanya ikut bercipratan. Matanya menyalak merah penuh kebencian.
“Lantas mengapa tidak datang pada kami, saat kamu bisa melepaskan diri dari orang-orang itu? Bukankah kamu bisa menuntut keadilan pada Cortez?” Maximo masih tidak habis pikir.
“Karena aku tidak berniat kembali untuk menjadi anj^ng Cortez. Aku hanya ingin menghancurkan kalian. Bagaimana rasanya melihat Cortez mati perlahan-lahan? Apa menegangkan atau menyenangkan?” tanya Gerald seraya terkekeh.
“Maksudmu? Kamu yang membunuh Cortez?” Maximo berreaksi dengan cepat.
“Tidak, aku hanya memberinya vitamin saja. Tapi sepertinya tubuh tua nya tidak bisa mencerna vitamin itu dengan baik. Maka pada akhirnya,” Gerald meneruskan kalimatnya dengan gerakan memotong lehernya dengan tangannya, yang berarti kematian. “Hahahahahaha…..” laki-laki itu tertawa dengan puas.
“Brengsek!” seru Maximo yang meradang. Ia tidak menyangka kalau kematian Cortez bukan karena penyakit yang dideritanya.
BUK!
__ADS_1
Laki-laki di samping Maximo tiba-tiba memukul bahu Maximo dengan senjata di tangannya hingga laki-laki itu jatuh bertekuk lutut. “Jangan menghardik tuanku, atau aku akan menghabisi nyawa seorang Maximo Cortez,” ucap pengawal itu dengan tawa menyeringai.
“Hahahahahaha….” Gerald malah tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman anak buahnya. Tawanya baru berhenti saat ia melihat Samantha mendekat dengan kursi rodanya. “Bawa dia kemari!” Gerald memberi perintah pada pengawalnya.
Maximo yang melihat wanitanya di todong senjata pun berusaha suntuk bangkit. “DIAM!” seru laki-laki itu seraya menendang punggung Maximo hingga jatuh tersungkur lantas menginjak leher Maximo dengan sepatunya yang tinggi dan berat.
“Lepaskan dia brengsek!” seru Samantha dengan kesal. Tetpi laki-laki itu malah semakin menambah injakannya pada Maximo hingga laki-laki itu tidak berkutik. Lelaki itu hanya terkekeh, merasa puas bisa menginjak seorang Maximo yang melegenda.
Pengawal di belakang Samantha terus mendorong kursi roda Samantha menuju Gerald dan laki-laki itu menyambutnya dengan wajah ceria. “Apa kabar, Sam?” tanya laki-laki itu seraya membungkukkan tubuhnya pada Samantha. Wanita ini benar-benar membuatnya lelah karena menciptakan banyak permasalahan dalam hidupnya.
DUK!
Bukannya menjawab, Samantha malah menanduk Gerald dengan kepalanya, hingga hidung Gerald berdarah.
“Brengsek!” seru Gerald seraya mencengkram dagu Samantha. Sementara kedua tangannya sudah di borgol oleh pengawalnya. Samantha berusaha berontak, tetapi cengkraman Gerald sangat kuat. Laki-laki itu melotot menatap tajam wajah Samantha yang menantangnya. Darah di hidungnya ia biarkan mengalir mewarnai giginya yang menyeringai.
“HEYY!! LEPASKAN DIA BRENGSEK! KALAU KAU JANTAN, BERDUEL DENGANKU!” seru maximo dengan napas terengah-engah karena lehernya di injak sang pengawal.
“AKU AKAN MEMBUNUHMU MICHAEL!” teriak Maximo dengan sekuat tenaga.
“Hahahahah…benarkah? Lakukan saja! Aku sangat menunggumu untuk bangun dan mendatangiku untuk merebut benda ini.” Gerald menunjukkan alat picu bom di tangannya pada Maximo. Maximo meronta-ronta berusaha bergerak, tetapi ia tidak berdaya dengan tangan terborgol dan leher yang diinjak pengawal.
Tanpa di duga, tiba-tiba Samantha beranjak dari tempatnya, berdiri dengan cepat lalu menendang alat picu itu dengan gerakan memutar di udara. Entah dari mana asal kekuatan kakinya yang masih gemetar namun mampu membuat alat picu itu terlempar jauh dari tangan Gerald.
“Brengsek!” seru Gerald yang menarik kembali lengan Samantha. Sayangnya tubuh wanita itu sangat licin. Ia menyikut perut Gerald dengan sangat keras lalu mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi tegak lurus untuk menendang kepala Gerald yang ada dibelakangnya. Laki-laki itu terjengkang ke belakang dan dengan cepat Samantha pun menendang perut pengawal Gerald yang ada di sampingnya. Semuanya dilakukan dengan cepat, layaknya ia sedang menampilkan keahliannya berkelahi menggunakan kemampuannya sebagai atlet taekwondo. Dua laki-laki itu terkapar sambil mengaduh kesakitan di jalanan beraspal.
Pengawal yang menginjak Maximo di buat kaget dan saat ia lengah. Maximo segera berguling lalu menendang kedua kaki laki-laki itu hingga terjengkang. Ia bergerak dengan cepat untuk mengambil senjata di tangan laki-laki itu.
DOR!
Ia menembak laki-laki itu dalam posisi membelakanginya. Tangannya masih terborgol, tetapi bukan tidak mampu melubangi dahi pria itu dengan peluru dari senjata di tangannya. Ia juga menembak borgol di tangannya hingga terlepas, lalu menembak borgol Samantha, untuk membebaskan wanita itu.
__ADS_1
Samantha segera berlari menuju mobil untuk menyelamatkan Eveline, Paul dan Nora. Sementara Maximo berduel dengan para pengawal Gerald yang menyerangnya. Jumlahnya tidak sedikit hingga membuat Maximo nyaris kewalahan.
“Eveline, bangunlah Eveline!!” seru Samantha seraya menandangi pintu mobil Eveline.Ia berusaha membuka pintu mobil Eveline yang terkunci dari dalam.
Eveline yang sudah sadarkan diri, berusaha keluar dari mobil tersebut. Kepalanya menyembul keluar dari jendela mobil yang berhasil ia pecahkan. Saat ia akan keluar, ia melihat Gerald mendekat pada Samantha sambil menodongkan senjatanya ke kepala Samantha.
“MERUNDUK!!!” teriak Eveline dengan keras. Tanpa berpikir panjang, Wanita itu mengambil senjatanya dan menembakkannya ke arah Gerald.
DOR! DOR!!
Tembakan itu mengenai dada dan lengan kanan Gerald. Laki-laki itu terjungkal dengan darah yang mulai membasahi lengan kanannya. Eveline segera keluar dan menghampiri Gerald yang tidak bisa mengangkat tangan kanannya untuk membalas Eveline.
“Jangan menembakku, musuh kita yang sebenarnya adalah Maximo,” ucap Gerald sambil meringis menahan sakit.
“Benarkah? Tapi dalam ingatanku, kamulah yang menjualku ke tempat pelacuran dan menyekapku di gudang yang gelap. Kamu mencekokiku dengan banyak minuman hingga aku muntah dan tidak sadarkan diri. Kamu meninggalkanku Michael. Kamu memberikan tubuhku pada pria-pria jahat itu!” seru Eveline saat tiba-tiba ingatan kejadian itu muncul dikepalanya.
Gerald tercengang, ia pikir Eveline sudah tidak mengingat kejadian itu karena efek obat yang ia berikan. Tetapi nyatanya,
“Kamu brengsek Michael, BRENGSEK!!!” teriak Eveline.
DOR! DOR! DOR! DOR!
Tembakan bertubi-tubi disarangkan Eveline di dada dan kepala Gerald. Tubuhnya sampai gemetar saat ingatan mengerikan itu kembali muncul di kepalanya. Gadis itu terhuyung jatuh sambil memegangi kepalanya. Dan saat ini, hanya ada mereka berlima di jalanan beraspal itu, sementara Gerald dan orang-orangnya berhasil dilumpuhkan.
Mereka terdiam di tempat masing-masing, menatap nanar mayat dan darah yang bergelimpangan.
“Nona, Anda baik-baik saja?” Paul, dia baru tersadar.
“Kamu terlambat Paul, tidur saja lagi. Terima kasih karena tidak mati,” ucap Samantha.
****
__ADS_1