Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Gaun satin


__ADS_3

Setengah perjalanan pulang menuju kediaman Maximo, diisi oleh suara ocehan Samantha yang mulai sadarkan diri sepenuhnya. Tidak dia masih mabuk, hanya saja mulai bisa berbicara walau tidak karuan. Banyak hal yang dikatakan gadis itu dan membuat Maximo membiarkan gadis itu mengoceh memcah kesunyian.


“Kamu tau Max, aku rasa wanita gelas-gelas kaca itu menyukaimu. Dia mendekatkan tubuhnya seperti ini padamu seperti sedang berharap kamu menyentuh dadanya.” Samantha mendekatkan tubuhnya pada Maximo, menunjukkan belahan dadanya yang menarik.


Maximo hanya terkekeh tertahan, menutup mulutnya dengan jari-jari yang sedang ia gigiti dengan gemas.


“Ya aku akui dadanya lebih besar dari aku, bagaimana bisa ukurannya sebesar kepala orang dewasa?” Samantha terus berceloteh dengan ekspresi wajah yang bingung sambil bersidekap.


“Sejak kecil memang ukuran dadanya lebih besar dibanding gadis lainnya.” Maximo iseng menimpali. Padahal ia tidak terlalu memperhatikan perubahan tubuh Crystal karena ia tidak tertarik. Ia hanya ingin menggoda Samantha.


“Akh sial. Aku pikir punyaku yang paling menarik. Lalu kenapa kamu memperhatikannya? Apa aku sudah tidak menarik? Padahal sebelum berangkat aku jelas melihat kalau kamu sangat menyukaiku. Hah, mata laki-laki memang selalu menuntut sesuatu yang lebih indah. Egois.” Samantha mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


Tubuhnya yang masih lemah, membuat ia ikut oleng kemanapun mobil Maximo berbelok.


“Kemarilah!” Maximo menarik tubuh Samantha untuk menampel dengan tubuhnya lalu mendekap tubuh Samantha dengan satu tangannya.


“Kamu sangat baik Max, sayangnya aku belum mempercayaimu sepenuhnya.” Mata Samantha yang setengah tertutup khas orang mabuk, menatap Maximo dengan penuh sesal.


Maximo tersenyum kecil mendengar ocehan Samantha. “Artinya kamu mulai mempercayaiku?” Maximo iseng bertanya.


“Hem,” gadis itu mengangguk lalu menyandarkan kepalanya didada bidang Maximo. Ia juga mengusap dada Maximo dengan pelan.


“Aku tidak suka melihat wanita lain menyentuh dadamu. Apalagi melingkarkan tangannya dilehermu. Rasanya aku ingin menendang bokongnya dan membuat mereka lari terbirit-birit.” Gumaman Samantha terdengar melemah, seperti gadis ini akan tertidur.


“Hey, jangan tidur dulu, lanjutkan kalimatmu.” Maximo masih ingin mendengar ocehan lucu Samantha yang membuat hatinya berbunga-bunga seperti sekarang.


“Maximo, banyak yang berusaha menjadi dirimu. Tapi hanya kamu yang mengganggu pikiranku.” Telunjuk Samantha menunjuk dada Maximo, menurunkan sedikit kancingnya, tetapi ternyata sulit. Dia menyerah dan menepatkan tangannya diatas jantung Maximo yang berdetak cepat.

__ADS_1


“Jangan buat aku resah dan membuatmu terlihat bersalah karena itu membuatku kecewa.” Suara Samantha benar-benar lemah seperti gadis ini akan tertidur. Tertidur sambil memeluk laki-laki disampingnya dengan nyaman.


Maximo tidak bergerak, ia tidak mau mengusik tidur Samantha yang mungkin hanya beberapa saat karena mereka sudah hampir tiba.


Tiba dikediamannya, Paul segera membuka pintu mobil dan memberi jalan untuk tuannya yang menggendong Samantha dengan kedua tangannya. Laki-laki itu berjalan dengan tegap, gesturenya juga tidak sekaku dulu. Ia benar-benar memeluk tubuh Samantha dalam dekapannya. Ia membawa Samantha naik ke kamarnya dan membaringkan tubuh Samantha diatas tempat tidurnya. Entah mengapa, setiap kali Samantha mabuk, ia selalu lebih tenang membiarkan wanita itu tidur diatas ranjangnya, berada dalam jangkauannya dan memandanginya semalaman.


“Max,” suara Samantha kembali terdengar saat Maximo akan melepaskan rengkuhannya.


“Hem,” Maximo menimpali. Ia urung melepaskan pelukannya.


“Tanganmu sangat kokoh, jangan lepas pelukanmu. Aku tidak mau mimpi buruk lagi,” gumam bibir berwarna merah terang yang begitu menggoda Maximo.


Maximo tersenyum kecil. Ia tetap melepaskan rengkuhannya. “Andai kamu memintanya saat kamu sadar, aku tidak akan melepaskanmu,” timpal Maximo. ia terduduk disamping Samantha, melipat kakinya yang bisa ia peluk kapan saja. Namun ia memilih menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur sambil memandangi wajah Samantha yang tertidur. Ia beranjak sedikit untuk menekan tombol sambungan telepon.


“Selamat malam tuan,” suara Nora yang kemudian terdengar.


“Bawakan aku kapas dan baju tidur Samantha. Antarkan ke kamarku.” Maximo memberi perintah pendek, setelah itu ia mengakhiri panggilannya.


“Saya Nora, tuan.” Suara Nora terdengar dibalik pintu yang sedikit terbuka.


“Masuklah,” sahut Maximo.


Takut-takut Nora membuka pintu kamar Maximo. ia memperhatikan lingkungan sekitar dan tuan besarnya sedang berdiri membelakangi Samantha sambil melihat keluar sana dari celah tirai yang sengaja tidak ditutup sempurna. Ditangannya ia memegang segelas minuman yang menunjukkan kalau tuan besarnya sedang gelisah.


“Ganti baju Samantha dan bersihkan riasannya!” Titah pria itu seraya berlalu pergi keluar dari kamarnya.


Nora mengangguk patuh. Ia segera menghampiri Samantha yang terbaring diatas ranjang Maximo.

__ADS_1


“Permisi nona, saya akan membersihkan riasan Anda.” Nora berujar lirih. Ia mulai mengusap wajah Samantha dengan hati-hati. Nona mudanya memasang sangat cantik saat tertidur seperti ini. Mungkin ini yang membuat tuan besarnya gelisah. Tak ayal, apa yang Maximo perintahkan saat ini adalah bentuk perhatiannya yang sangat besar pada sosok Samantha. Gadis ini sepertinya telah berhasil menempati tempat istimewa dihati Maximo dan laki-laki itu sedang menjaga dan merawatnya dengan sepenuh hati.


“Saya akan mengganti baju Anda, nona.” Nora sedikit membalik tubuh Samantha yang sudah tertidur lelap. Melepas resletingnya dan membiarkan baju itu tanggal dari tubuh Samantha. Lantas ia menggantinya dengan gaun malam yang terlihat cocok ditubuh Samantha.


“Tuan, apa Anda bisa kuat bertahan melihat nona muda yang seperti ini?” Nora memandangi sosok Samantha yang sudah ia ganti pakaiannya. Baju tidur berbahan satin itu membuat tubuh Samantha terlihat bercahaya.


Nora inisiatif menarik selimut dan menelimuti tubuh Samantha. Seperti mengurus seorang bayi, Nora memiringkan tubuh Samantha agar memeluk gulingnya.


“Max,” Gumaman lirih terdengar dari mulut Samantha, membuat Nora tersenyum kecil. Ia tidak bisa membayangkan kalau Maximo mendengar suara Samantha beberapa detik lalu.


“Selamat tidur nona, jaga diri Anda baik-baik,” ucap Nora. Selesai dengan pekerjaannya ia segera beranjak.


“Saya sudah selesai, tuan.” Suara Nora kembali terdengar. Tidak lama sosok Maximo membukakan pintu. Ia melihat Samantha beberapa saat lalu memalingkan wajahnya. Nora tersenyum kecil melihat reaksi tuannya.


“Keluarlah. Besok pagi siapkan sarapan yang cocok untuk Samantha.” Maximo memberi perintah.


“Baik, tuan. Selamat malam.” Nora mengangguk patuh pada tuan besarnya.


Sepeninggal Nora, Maximo terduduk ditepian tempat tidurnya. Ia memandangi punggung Samantha yang membelakanginya. Dilepasnya jas dan kemeja yang semula menutupi tubuhnya dan hanya menyisakan celana panjang yang menutupi tubuh bagian bawahnya.


Pelan-pelan Maximo membaringkan tubuhnya disamping Samantha. Sedikit berjarak, agar tidak terlalu dekat dengan Samantha. Samantha seperti marget yang bisa menariknya kapan saja dan itu sangat menyiksa. Namun kalau ia tertidur disofa, ia malah tidak tenang dan ingin terus memandangi Samantha.


Dengan beralaskan kedua tangannya Maximo tidur terlentang. Ia menatap langit-langit kamarnya lalu tersenyum pada pijar kuning yang menerangi kamarnya. Ia masih mengingat setiap kalimat Samantha yang melantur tetapi membuat hatinya berbunga-bunga.


“Astaga!” Tiba-tiba saja Maximo terhenyak saat ternyata Samantha berbalik ke arahnya dan memeluk tubuhnya dengan erat. Kakinya berada di atas perut Maximo dan menghimpitnya.


“Astaga, Sam. Kamu benar-benar mengujiku.” Maximo menggerutu dalam hatinya. Entah bagaimana ia tidur malam ini. Apa mimpinya akan indah karena dipeluk Samantha?

__ADS_1


Tenanglah, ia masih berusaha menahan jiwanya yang meronta dan ingin memeluk Samantha. Malam, segeralah siang. Matahari, segeralah terbit.


****


__ADS_2