Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Berakhir pada satu orang


__ADS_3

Pesta yang diadakan oleh William untuk menghibur Maximo, nyatanya berlangsung sangat hambar. Pesta itu hanya dinikmati orang-orang tertentu saja, tetapi tidak oleh Maximo. Sejak kedatangannya, Maximo tidak terlalu bersemangat. Laki-laki itu lebih banyak berdiam diri, mengabaikan para wanita yang mencoba merayunya dengan segala kemolekan yang mereka miliki. Hanya Eveline yang tampak menikmati pesta itu. Tidak ada lelahnya gadis itu meliukkan badan di lantai dansa, membuat banyak pasang mata laki-laki tertarik untuk menikmati sensu4lit4snya. Hal itu menjadi hiburan tersendiri bagi Maximo, menyaksikan sang adik menikmati kebebasannya.


Satu kali saja Maximo mau turun ke lantai dansa. Itu pun saat Crystal memaksanya untuk menemaninya berdansa. “Tolong jangan membuatku malu Max,” bujuk wanita itu dengan penuh harap.


Walau dengan berat hati, akhirnya Maximo mau berdansa dengan Crystal. Hal ini dilakukan hanya sebatas menghargai usaha orang tua sang gadis yang berniat menghiburnya. Laki-laki itu berdiri di salah satu sudut ruangan yang luas ini, berbicara dengan para kolega sambil sesekali memperhatikan Crystal dan Maximo. Minuman di tangannya, menjadi teman yang menemaninya menyaksikan senyum bahagia sang putri. Belakangan ini sang putri terus merajuk, meminta bantuan William untuk mendekati Maximo. Maka, untuk alasan itulah laki-laki ini menggelar acara yang mewah ini.


Belum berakhir pesta yang mereka ikuti, Maximo sudah mengajak Eveline dan Paul untuk pulang. Ia merasa tubuhnya tidak terlalu sehat. Bukan, hatinya yang masih merasa hampa dan tidak bersemangat. Ia lebih suka berdiam diri dalam kesunyian di banding berada di tengah-tengah hingar bingar pesta yang membuat kepalanya pening.


Menempuh perjalanan pulang, Maximo memilih menurunkan kaca jendelanya. Ia merindukan hembusan angin malam yang terakhir ia nikmati bersama Samantha. Gadis itu seolah duduk di sampingnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Maximo. Mereka tidak banyak bicara, saling terdiam sambil memandangi nyala lampu malam yang membias di jalanan beraspal. Lampu-lampu yang menyala dari bangunan di tepian jalan, tampak menarik dengan warnanya yang beragam dan membuat mata mereka cukup disegarkan.


“Max, aku benar-benar tidak suka dengan perempuan itu. Tolong jangan jadikan dia kakak iparku.” Suara itu tiba-tiba terdengar dari mulut seorang gadis yang duduk di depan bersama Paul.


“Siapa maksudmu?” Maximo menimpali tanpa mengalihkan padangannya dari mobil truck penjual corn man. Itu jajanan kesukaan Samantha.


“Siapa lagi kalau bukan wanita gelas kaca.” Eveline menimpalinya dengan sinis. Ia tidak suka cara Crystal yang menatapnya sinis seolah tengah meerendahkannya setelah tahu kalau Eveline pernah menjadi wanita malam yang diperjual belikan. Memangnya itu keinginanku? Pikir Eveline.


“Berhenti di depan Paul,” ucap Maximo tiba-tiba.


Eveline dan Paul saling menoleh penasaran mendengar permintaan Maximo, meski pada akhirnya Paul tetap menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. Maximo turun dari limousine mewah itu dan berjalan di trotoar jalan. Langkahnya begitu pelan, seolah begitu menikmati nostalgia suasana malam yang pernah ia habiskan bersama Samantha. Ia ingat, dulu ia berlarian bersama Samantha di trotoar ini sambil memegangi corn man.


Pria itu pun menuju penjual corn man dan memesan tiga corn man untuk dirinya, Eveline dan tentu saja Paul. Ia tidak pernah duduk-duduk di pinggir jalan seperti ini, tetapi kalau sambil mengenang Samantha, membuatnya cukup menyenangkan.

__ADS_1


“Aku tidak menaruh simpati atau perasaan apapun pada Crystal. Dia hanya putri dari teman ayah angkat kita.” Tiba-tiba saja Maximo mengatakan hal itu, membuat gadis di sampingnya menoleh seraya tersenyum kecil.


“Baguslah! Karena kalau sampai kalian ada hubungan lebih, sepertinya aku tidak bisa mengakrabkan diri dengan wanita itu. Dia sangat jauh berbeda dengan Samantha.”


Maximo menunduk lantas tersenyum mendengar nama wanitanya di sebut.


“Maaf Max, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih dengan mengingatkan Samantha.” Eveline langsung tersadar, melihat sang kakak yang termenung.


“Tidak masalah. Aku suka orang-orang yang dekat denganku menyebut nama Samantha. Karena itu berarti mereka pun tahu kalau wanita itu pernah ada di sampingku.” Baru kali ini Maximo berujar dengan bijak dan tenang. Tidak menodongkan senjata pada siapapun yang menyebut nama Samantha.


“Tentu saja, dia pernah ada di sampingmu. Di sampingku juga pernah. Dia memberiku banyak pertolongan hingga akhirnya aku bertemu lagi dengan kakakku yang tampan ini.” Eveline berujar dengan manis. Ia melingkarkan tangannya di lengan Maximo lalu menyandarkan kepalanya di lengan kokoh itu.


“Saat kamu sudah bisa menerima kepergian Samantha, berjanjilah untuk mencari wanita yang lebih baik dari dia. Jangan memperbandingkannya, supaya wanita yang kamu pilih tidak merasa tersakiti, Max.” Eveline melanjutkan kalimatnya sebagai bentuk peringatan. Ia menengadahkan kepalanya, untuk melihat wajah muram Maximo.


“Dia yang terbaik, Max.” Eveline menimpali sang kakak dan laki-laki itu mengangguk dengan pasti.


Tidak lama, corn man pesanan Maximo selesai di buat. Masing-masing mendapatkan satu dan mulai menikmatinya, meski asapnya masih terlihat mengepul. Musim dingin ini benar-benar terasa menusuk karena dijalani sendiri oleh Maximo. Beruntung ada gadis kecil ini di sampingnya yang sesekali bisa membuatnya tertawa. Cara bicaranya lugas, mirip dengan Samantha.


“Aku pernah makan makanan ini saat aku kecil. Tapi sekarang rasanya sedikit berbeda,” komentar Eveline pada makanan yang memenuhi mulutnya.


“Ya, rasanya memang berbeda. Tergantung dengan siapa kamu menikmatinya.” Maximo merasakan hal yang sama. Corn man di tangannya tidak seenak yang pernah ia makan bersama Samantha.

__ADS_1


“Tapi paling tidak, makanan ini bisa membuatku kenyang Max. Aku ingin tidur lelap malam ini.” Gadis itu begitu menikmati makanannya hingga membuat Maximo memberikan satu miliknya yang baru ia gigit sedikit.


“Pulanglah dengan Paul. Aku ada urusan dulu,” ucapnya.


“Mau pergi ke mana? Apa aku tidak boleh ikut?” Gadis itu menatap Maximo dengan penuh selidik.


“Aku sedang ingin sendiri. Tidak perlu mencariku,” laki-laki itu beranjak dari tempatnya, menyetop taksi yang melintas.


“Tolong jangan mati ya Max. Aku baru beberapa hari merasakan kehidupan yang lebih baik bersamamu. Jangan membuatku menangis,” teriak Eveline dari tempatnya.


Maximo hanya tersenyum, lantas melambaikan tangannya pada Eveline sebelum pergi dengan taksi yang ditumpanginya.


“Dia mau ke mana?” Eveline bertanya pada Paul yang duduk di sampingnya.


“Menemui cintanya.” Hanya itu jawaban Paul yang membuat dahi Eveline berkerut.


“Apa perasaan cinta bisa membuat seseorang sehancur itu, Paul?” Eveline balik bertanya.


“Saya belum pernah merasakannya, nona.” Laki-laki itu berbicara dengan datar.


“Kamu payah! Cobalah untuk jatuh cinta. Aku rasa ada satu wanita yang cocok untukmu. Mau aku bantu untuk pendekatkan?” Gadis itu iseng bertanya sambil mendekatkan wajahnya pada Paul.

__ADS_1


Paul hanya tersenyum, entah wanita mana yang nona mudanya maksudkan.


****


__ADS_2