Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Kebohongan Wilson


__ADS_3

Plak!


Sebuah tamparan keras dilayangkan Wilson pada seorang gadis. Banyaknya luka di tubuh dan wajah gadis itu sepertinya bukan alasan bagi Wilson untuk menghentikan apa yang sudah ia mulai. Adalah Alicia pemilik tubuh yang terhuyung dan jatuh di atas permukaan kasur Gerald.


Sudah satu jam ini Wilson menyiksa gadis itu dengan banyak pukulan. Pria ini sedang melampiaskan kekesalannya. Setelah menyetubuhinya, Wilson mencambuk Alicia dengan ikat pinggang miliknya, hingga sekujur tubuh Alicia dipenuhi luka dan berdarah. Tidak ada kata ampun untuk seseorang yang ia anggap sebagai pengkhianat.


“Katakan, apa lagi yang kamu sembunyikan dariku, perempuan bodoh?!” seru Wilson seraya menarik rambut Alicia hingga kepalanya mendongak. Sementara lututnya menekan keras punggung Alicia agar tidak berkutik dan tetap berada di atas kasur dengan posisi telungkup. Gadis itu meronta, tetapi tidak ada artinya.


“Aku tidak menyembunyikan apapun. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Memberitahukan apa yang seharusnya Samantha tahu.” Suara Alicia tersengau-sengau sambil meringis, menahan sakit dari deraan dan cambukan yang diberikan Wilson.


“Bodoh! Tidak semua hal harus Samantha tahu!” Mata Wilson membulat penuh kemarahan, ia mengibaskan cengkraman tangannya hingga Alicia terangguk dan ambruk tanpa sisa tenaga.


Pagi tadi, tanpa sengaja Wilson mendengar perbincangan diam-diam antara Alicia dengan Samantha. Laki-laki itu langsung meradang. Ia tidak terima Alicia berkomunikasi diam-diam dengan Samantha. Apalagi wanita ini menceritakan detail kejadian di lokasi pembunuhan Gerald, yang seharusnya hanya diketahui oleh mereka berdua saja.


“Samantha berhak tahu kematian kakaknya, kecuali ada yang kamu sembunyikan dariku dan Samantha.” Alicia masih berani untuk berbicara.


Wilson menyeringai kesal, ia kembali menghampiri Alicia dan mencekik leher wanita itu. Wanita itu megap-megap sambil memukuli tangan Wilson, berusaha meraup oksigen yang tidak sampai ke kerongkongannya. Cengkraman Wilson sangat kuat hingga napas Alicia seperti akan terhenti saat itu juga.


“Tentu, ada banyak yang aku sembunyikan dari gadis itu. Pikirmu Samantha tidak menyembunyikan apa-apa dari kita? Asal kamu tahu, wanita itu sudah tidur dengan Maximo, tapi masih berbohong pada kita.” Wilson berujar penuh penekanan. Ia mengabaikan Alicia yang meronta-ronta memukuli tangannya karena cekikan Wilson membuatnya nyaris kehabisan napas. Wajahnya sudah kemerahan dan lehernya tampak tegang di cekal oleh Wilson.


Wilson masih begitu kesal saat ia melihat Samantha berciuman dengan Maximo sepulang dari pesta. Kedekatan mereka juga sangat intens, sikap dan perhatian Maximo sangat istimewa pada Wanita itu dan rasanya tidak mungkin kalau belum terjadi sesuatu antara dua orang itu.


“Harus kamu tahu Alicia, sebuah pengkhianatan terhadapku harus di bayar hingga tuntas. Paham?!” seru Wilson dengan suara menggelegar.


Ia mendorong tubuh Alicia hingga terjungkal. Gadis itu menggelepar di lantai seperti seekor ikan yang kekeringan. Ia masih berusaha meraup udara dengan serakah agar mengisi kembali rongga dadanya yang sesak.

__ADS_1


“Dan hari ini pun kamu berkhianat padaku Alice. Kamu membuatku terpaksa menjebak mereka, seperti halnya saat aku menjebak Gerald. Kalian terlalu banyak tahu dan terlalu banyak bersiasat di belakangku.” Wilson menyeringai dengan buas.


“Apa yang kamu lakukan Wilson? Maksudmu kamu yang membunuh Gerald?” Alicia berusaha untuk bangkit, tetapi tubuhnya terlalu lemah.


Wilson tidak menjawab, ia hanya menatap Alicia dengan tajam dan penuh intimidasi. “Dia mati karena kebodohannya sendiri. HAHAHAHAHAHAHAAH!!!!” Wilson tertawa dengan lepas. Seisi ruangan itu dipenuhi oleh suara tawa Wilson yang menggema.


Alicia hanya memandangi Wilson dengan tidak habis pikir. Tangannya mengepal kuat saat membayangkan bagaimana bisa laki-laki itu begitu tega membunuh Gerald yang sangat loyal pada mereka. Dan entah pengkhianatan apa yang Gerald lakukan hingga membuat Wilson menghabisi nyawanya.


Laki-laki itu terduduk di kursi kerjanya, mengambil pistol yang ia sembunyikan di dalam laci. Lalu mengusapnya dengan hati-hati dan penuh kasih. Pistol itu yang ia gunakan  untuk menembak dada Gerald.


“Hah, dia terlalu bersemangat, aku tidak bisa membiarkannya.” Wilson menengadahkan kepalanya bersandar pada sandaran kursi. Pikirannya mengingat kembali malam kejadian itu.


Malam itu, Wilson dan Gerald berrencana melakukan penyerangan ke kediaman Maximo. Sebagai persiapan, mereka menghabiskan waktu di club untuk membicarakan rencana mereka. Menikmati minuman beralkohol dengan harga yang tinggi dan tentu saja berpesta dengan para wanita malam.


“Apa rencanamu setelah berhasil membunuh Maximo?” pertanyaan itu yang dilontarkan Gerald di sela perbincangan mereka. Laki-laki itu sudah tampak mabuk. Matanya setengah terbuka dan tampak berat.


“Kalau berminat, selanjutnya kamulah yang akan memimpin agency ini. Kita bisa bekerja sama untuk menghabisi lawan-lawan Maximo dan setelah satu per satu mafia itu kita kalahkan, kita bisa sama-sama berkuasa Gerald.” Wilson memberikan penawaran yang menarik.


Mendengar ucapan Wilson, Gerald malah tertawa. Laki-laki itu menatap Wilson dengan tatapan mengejek. “Pikirmu usahamu akan selesai dengan membunuh Maximo saja?” tanya Gerald yang tidak bisa menghentikan tawanya.


“Apa maksudmu?” Wilson tampak terkejut dengan ucapan Gerald.


Laki-laki itu tidak lantas menjawab. Ia malah mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah pil yang akan ia minum untuk menghilangkan rasa sakit dikepalanya.


“Tunggu Gerald, selesaikan dulu bicaramu. Kamu harus berbicara dengan jelas padaku. Kita ini satu tim.” Wilson menahan tangan Gerald agar tidak meminum obat yang bisa membuat laki-laki ini terbang.

__ADS_1


“Hem, apa yang harus kita bicarakan? Aku tidak suka berbicara dengan orang yang terlalu mendominasi, padahal dia bodoh. Hahahahha….” Gerald menunjuk kepala Wilson lalu tertawa terkekeh, terang-terangan mengejek kebodohan Wilson.


Tangan Wilson mulai mengepal, satu pukulan bisa saja ia berikan pada laki-laki lancang ini. Tetapi ia perlu informasi penting dari informan yang sudah ia pekerjakan selama lebih dari dua tahun.


“Aku tidak ingin mendominasi, tapi aku berusaha memimpin melalui peta arah untuk kita sukses Gerald. Tolong pahami itu,” Wilson berusaha membujuk laki-laki itu.


Gerald kembali terkekeh lalu meneguk minumannya. Sepertinya laki-laki ini sengaja sekali ingin menguji kesabaran Wilson.


“Kamu terlalu bodoh Wilson kalau mengira hanya kode Maximo yang bisa membuka brangkas milik Cortez. Aku menyimpan satu lagi kode yang kalau digabungkan, baru akan berhasil membuka brankas itu.” Gerald berujar dengan penuh keyakinan. Walau minuman beralkohol ini sudah membuatnya mabuk dan melantur, tetapi pembahasan tentang Maximo tidak pernah melenceng.


“Katakan, kode apa lagi yang kamu dapatkan?” Wilson sangat antusias.


Gerald menatap Wilson dengan tajam, “Mari kita bertukar. Aku lebih dulu yang akan menggantikan Maximo dan kamu menjadi kaki tanganku. Kalau kamu sepakat, aku akan memberitahumu kode itu.” Gerald mulai memberi penawaran.


“Apa maksudmu? Kamu mau mengkhianatiku?” Wilson langsung meradang.


“Hahahaha… tenang Wilson, tenang. Kamu lupa kalau selama ini aku yang berhadapan dengan rantai kejahatan Maximo? Aku juga yang hampir mati saat berhadapan dengan para mafia itu. Banyak hal yang aku temukan tentang Maximo yang kamu ketahui dan itu atas usahaku. Kamu masih merasa kalau kamu lebih berhak menguasai harta itu di banding aku?” Gerald berujar dengan berani. Mata mabuknya menatap Wilson tanpa rasa takut. Lihat juga bibirnya yang menyeringai tipis.


“Pikirkan baik-baik. Aku akan pergi ke toilet, setelah itu beri aku keputusan.” Gerald beranjak dari tempatnya setelah sebelumnya menepuk bahu Wilson. Laki-laki itu berjalan sempoyongan masuk ke dalam toilet pria. Sesekali ia bertabrakan dengan orang asing tetapi ia bisa mengatasi masalahnya hingga tidak terjadi perselisihan.


“Kamu sudah berani padaku, Gerald.” Wilson tidak terima dengan sikap pria itu. Ia mulai menyusun rencana untuk menghajar Gerald dan mendapatkan kode rahasia itu. Ia memulainya dengan mencampur minuman Gerald dengan obat tidur. Ia sangat yakin saat Gerald tidak sadarkan diri, maka ia akan dengan mudah mengurus laki-laki itu.


Tidak lama berselang, laki-laki itu kembali. Langkahnya masih sempoyongan dan kembali duduk dihadapan Wilson.


“Aku setuju dengan tawaranmu,” ucap Wilson seraya menyodorkan minuman itu pada Gerald.

__ADS_1


Gerald terkekeh dan mengambil gelas itu lalu bersulang dengan Wilson. Mereka sama-sama meneguk minuman itu hinga kemudian Gerald terjatuh tidak sadarkan diri.


****


__ADS_2