Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Danau


__ADS_3

Setelah cukup lama berjalan, langkah Samantha terhenti. Matanya membulat saat melihat sebuah danau berwarna biru yang berkilauan terkena cahaya matahari pagi. Angin berhembus dengan sangat lembut, menerbangkan helaian rambutnya yang terikat ekor kuda


“Waaahhh, kenapa kamu tidak bilang kalau ada tempat secantik ini?” Samantha terlihat begitu kegirangan. Ia berlari begitu saja, menghampiri danau dan meninggalkan sepedanya yang jatuh menimpa Maximo. Sepertinya ia tidak peduli pada hal lain.


“Astaga, dia mudah sekali teralihkan,” gumam Maximo yang memilih memarkir sepedanya di sekitaran pohon pinus. Lantas ia berjalan menyusul Samantha yang sudah bermain-main di atas susunan kayu dan mencelupkan tangannya di sana.


“Mau berenang?” tawar Maximo.


“Tidak. Airnya terlalu dingin.” Samantha bergidik dingin.


Tetapi seorang Maximo tidak suka penolakan. Ia mengangkat tubuh Samantha dengan kedua tangannya.


“Astaga Maximo! Kamu mau apa?” Samantha berseru karena kaget. Ia segera melingkarkan tangannya dileher Maximo karena takut. Tanpa aba-aba apapun, Maximo melompat ke dalam air bersama Samantha yang ada di gendongannya.


Air sedikit meluap saat tubuh dua orang itu tenggelam didalam pelukan air danau yang dingin. Mereka melayang didalam air, menatap satu sama lain sambil tersenyum. Gelembung udara keluar perlahan dari mulut mereka saat keduanya kompak membuang gas karbon dioksida dari mulutnya. Maximo tersenyum melihat Samantha yang tampak kesal di dalam air lalu muncul ke permukaan lebih dulu.


“Aaahhh!” Samantha membuang napasnya yang semula tertahan. Dadanya cukup sesak karena menahan napas tiba-tiba. Maximo ikut menyusulnya mengangkat kepala ke permukaan air. Menggerak-gerakan kakinya perlahan agar tidak tenggelam. Ia iseng menggoda Samantha dengan mencipratkannya air danau ke wajah cantik yang terlihat sangat putih, dihadapannya.


“Berhenti bermain-main Max, kamu membuatku basah kuyup!” Samantha balas mencipratkan air ke arah Maximo dan laki-laki itu hanya terkekeh.


“Berenanglah, airnya bisa membuat kulit kita awet muda.” Maximo yang lebih dulu berenang dengan gaya punggung dan Samantha terpaksa mengikutinya.


Maximo iseng meraih tangan Samantha dan gadis itu tidak menolaknya saat Maximo memegangnya.


“Kamu sering datang kemari?” Mereka berbincang di dalam air. Menggerakkan kedua kaki mereka pelan-pelan dan seirama.


“Ya, sesekali. Paul yang menunjukkan tempat ini padaku.” Laki-laki itu tampak menikmati melayangkan tubuhnya di dalam air.

__ADS_1


“Paul tahu banyak hal yang tidak terduga.” Samantha melepaskan tangan Maximo dan berenang ke arah utara. Menyusuri danau yang cukup dalam dan sesekali menyelam. Tidak terlihat apapun di dalam sana selain airnya yang semakin biru pekat dan gelap.


Beberapa menit saja Samantha didalam air dan segera mengangkat kembali kepalanya. Tidak disangka kalau ternyata Maximo sedang memandanginya.


“Kenapa tidak berenang? Padahal kamu sendiri yang memaksaku masuk ke dalam air,” protes Samantha. Ia mencipratkan air ke wajah Maximo dan laki-laki itu hanya tersenyum.


“Ayo kita naik,” ajaknya. Sepertinya ia sudah puas untuk berenang. Maximo berenang ketepian dan Samantha menyusulnya. Saat tiba di bibir danau, Maximo memeluk tubuh Samantha, menepatkan tangannya dipinggang Samantha lalu mengangkat tubuh indah itu dan mendudukannya diundakan tepi danau. Sementara ia berusaha naik sendiri.


“Air nya sangat jernih, aku suka.” Komentar Samantha saat ia sudah duduk bersisian dengan Maximo.


“Ya, karena itu aku mengajakmu ke sini. Saat pikiranku tidak karuan, aku sering berdiam diri disini.” Maximo menatap nanar cahaya matahari yang ada didepan sana.


“Pikiranmu pernah tidak karuan?” Samantha mengutip satu kata milik Maximo.


“Hem, dan rasanya tidak nyaman. Kenapa, kamu tidak percaya?” Maximo menoleh gadis cantik itu.


Maximo hanya tersenyum, “Pikirmu seorang mafia itu bukan manusia? Tentu saja aku merasakannya. Hanya saja lebih sering mengabaikannya. Bagaimana denganmu?” Maximo balik bertanya seraya mengambil rumput kecil yang terselip dihelaian rambut Samantha lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


“Hem, aku pernah merasa tidak nyaman. Tapi setelah berbicara dengan orang yang dekat denganku, biasanya rasa tidak nyaman itu hilang. Jadi, kalau kamu merasa tidak nyaman, cobalah berbicara pada orang terdekatmu. Mungkin perasaanmu akan lebih baik.” Samantha memberikan saran berdasarkan pengalamannya.


Maximo mengangguk. “Orang terdekat?" Maximo mengutip dua kata milik Samanta. Ia tersenyum kecil, menertawakan kondisinya sendiri yang tidak pernah memiliki seseorang sebagai tepmpat berbagii.


"Bagaimana kalau orang terdekatku saat ini adalah kamu? Kamu mau mendengarkarku?” Maximo balas bertanya dan Samantha hanya tersenyum kecil.


Ia mendekatkan wajahnya pada Maximo, menempatkan dagunya dibahu Maximo. Ia menatap sepasang bibir yang menurutnya sangat menarik.


“Lakukanlah jika itu membuatmu nyaman. Aku akan mendengarkan apapun yang ingin kamu katakan,” timpal Samantha dengan suara berbisik pelan. Tentu saja ia tidak keberatan karena semakin banyak Maximo bercerita maka semakin banyak informasi akan ia ketahui.

__ADS_1


Maximo menatap Samantha dengan lekat. Telunjuknya menarik dagu Samantha untuk mendongak. Sepasang mata tajamnya menatap wajah cantik wanita itu lalu menelusur leher Samantha dengan telapak tangannya yang lebar dan merengkuh leher Samanta. Ia menempatkan dahinya diatas dahi Samantha, mempertemukan hidungnya dengan hidung Samantha.


Samantha bisa mendengar hembusan napas Maximo yang terdengar lega. “Didekatmu adalah tempat ternyamanku, Sam.” Ucapnya sambil memejamkan mata.


Ia tidak berniat melakukan apapun selain ingin menikmati apa yang ia miliki bersama Samantha saatn ini. Yaitu, waktu untuk bersama-sama. Samantha tetap dengan matanya yang terbuka dan menatap wajah tampan yang persis ada dihadapannya.


"Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata berada didekatmu tidak semengancam yang aku pikirkan." Samantha menimpali, membuat Maximo tertawa dan menunjukkan lesung pipi dipipi kanannya. Samantha baru tahu, karena ukurannya tidak terlalu besar.


"Aku hanya mengancam bagi beberapa orang yang memang ingin aku ancam." Maximo balas membuka matanya dan menatap Samantha dengan lekat.


"Baiklah, kalau begitu aku akan membuat langkah aman dengan tidak membuatmu mengancamku. Kurasa itu satu-satunya caraku agar bisa berumur panjang." Bisa-bisanya Samanta mencandai laki-laki itu dan Maximo hanya tersenyum. Mengusapkan hidungnya ke hidung Samantha lalu menarik tubuhnya menjauh.


"Mari kita berbicara di rumah. Udara disini sangat dingin, kamu bisa terkena flu." Laki-laki itu beralasan.


"Hem, kamu benar. Bulu kudukku mulai meremang." Samantha sedikit bergidik dan memeluk tubuhnya sendiri.


"Bangunlah!" Maximo bangkit lebih dulu dan mengulurkan tangannya pada Samantha. Samantha menyambut uluran tangan Maximo dan lekas  berdiri.


"Malam ini, ajak aku bepergian untuk menghangatkan tubuh. Kamu harus bertanggung jawab karena membuatku kedinginan." Samantha berbicara dengan lugas.


"Aku memang ada pertemuan malam ini di club, tapi aku harap kamu memberi ruang untuk menyelesaikan urusanku." Maximo memberi penawaran.


"Ya tentu, kali ini aku hanya ingin bersenang-senang dan tidak akan mengganggumu. Jadi biarkan aku ikut." Samantha melingkarkan tangannya dileher Maximo. Laki-laki itu mengangguk sebagai bentuk persetujuan.


Samantha tersenyum puas karena akhirnya semakin banyak yang bisa ia ketahui tentang Maximo. Kesempatan ini tidak akan ia lewatkan begitu saja.


*****

__ADS_1


__ADS_2