
Kediaman Maximo diliputi kebahagiaan saat laki-laki itu memberitahu seisi rumah bahwa Samantha menerima lamarannya. Kabar itu begitu mengejutkan bagi semua orang yang tidak pernah menyangka kalau Maximo berniat mengukuhkan hubungannya dengan Samantha dalam suatu bentuk yang sakral, yaitu pernikahan.
Tak ayal, laki-laki itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dari orang rumah. Senyum istimewanya membawa keceriaan di setiap sudut ruang yang biasanya sepi dan tegang. Paul menari-nari dan berdansa bersama Nora sementara Eveline asyik menggoda calon kakak iparnya. Ia sangat antusias mendengar Maximo akan menikahi Samantha. Bukankah kehidupan keluarga ini akan menjadi sempurna?
“Apa tidak sebaiknya kita berbelanja kebutuhan pernikahan? Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian?” Eveline begitu semangat membuat rencana untuk sang kakak. Ia sudah bersiap untuk menjadi bagian dari tim yang menyiapkan pernikahan Samantha dan Maximo agar berkesan untuk seumur hidup mereka.
“Aku akan menikahinya minggu depan.” Maximo langsung memberikan jawaban.
“Apa? Kenapa cepat sekali?” Samantha menoleh laki-laki itu dengan heran. Ia tidak menyangka kalau semuanya akan secepat ini.
“Beri aku satu alasan untuk menundanya.” Maximo membalas Samantha dengan tegas.
“Tentu saja karena kita harus menyiapkan semuanya Max. Menyiapkan pernikahan itu tidak semudah menyiapkan malam pertama. Tidak, kita tidak perlu malam pertama, lagi pula pelurumu sudah bersarang di sini.” Samantha menunjuk perutnya.
“Lalu, memangnya tidak bisa menyiapkan pernikahan dalam waktu satu minggu?”
“BISA!” Eveline menimpali dengan cepat. Gadis itu segera berdiri di hadapan Maximo dan Samantha. Ia yang akan mengambil komando untuk acara sakral ini. “Duduklah!” ia juga menyuruh Paul dan Nora untuk duduk.
Kedua orang itu tampak ragu, tetapi setelah Maximo memberinya perintah lewat tatapan mata, mereka pun segera duduk di sofa yang sama dengan tuan dan nyonyanya. Sebagai alat bantu, Eveline menggunakan tabletnya.
“Okey, aku harus tahu, pernikahan kalian mau yang terpublish atau private Max, Sam?” Eveline memulai rencananya.
“Private!” keduanya kompak menjawab. Maximo menengadahkan tangannya pada Samantha dan Samantha membalasnya dengan toas semangat.
__ADS_1
“Awal kekompakan yang bagus!” Eveline mengacungkan jempolnya pada Samantha dan Maximo. “Karena kita mau mengambil sakralnya saja, maka undangan pun tidak akan terlalu banyak. Acara kita selenggarakan dengan orang-orang terdekat saja, karena kondisi Samantha yang sedang hamil khawatir di kelelahan. Aku akan mencari orang-orang terbaik untuk menyiapkan semuanya. Dan kita mulai kesibukan kita besok yaitu dengan berbelanja kebutuhan kalian. Kalian siap?”
“SIAP!” empat orang itu berseru dengan semangat.
Keesokan harinya, kesibukan itu benar-benar di mulai. Diawali dengan membeli pakaian Samantha dan Maximo, juga Eveline, Nora dan Paul. Mereka membeli gaun dan tuxedo dengan model terpadu yang membuat penampilan mereka tampak serasi. Eveline yang menjadi juru foto dan mengambil beberapa gambar mereka dengan berbagai pose dari berbagai sudut. Ternyata ini salah satu bakat Eveline, menjadi dokumentor. Selama berbelanja, ekspresi mereka terlihat begitu bahagia padahal hari pernikahan baru akan terlaksana dalam beberapa hari ke depan, tetapi rasanya sudah di ujung mata.
Mereka juga mendatangi beberapa event organizer untuk membantu penyeeleggaraan acara hingga mengunjungi gereja tempat mereka melangsungkan pernikahan. Semuanya mereka lakukan dengan penuh kekompakan dan keseruan.
“Apa kamu merasa lelah, Sam?” Maximo memperhatikan sang istri yang saat ini banyak terdiam. Saat ini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Satu tangan Maximo menggenggam tangan Samantha, sementara satu tangan lainnya tetap mengendalikan stir.
“Tidak, aku hanya sedang menikmati keheningan setelah tadi kita berjibaku dengan banyak hal dan kebisingan. Andai kakiku sudah bisa berjalan, mungkin semuanya akan lebih sempurna,” ungkap Samantha seraya memandangi kedua kakinya yang masih lemah.
Maximo tidak lantas menimpali, ia menyandarkan kepalanya di kepala Samantha, menggesekkannya lalu mengecup kepala itu dengan lembut. Tidak lupa dengan tangan Samantha yang sedari tadi selalu ia genggam.
Samanta tersenyum mendengar ucapan laki-lakinya. Ia mengecup bibir Maximo beberapa saat dan Maximo membalasnya. Mereka berpagutan cukup lama dan mobil itu pun melambat dengan sendirinya. Eveline sampai bisa menyalip mobil Maximo dan hanya menggelengkan kepala melihat dua orang yang sedang tergila-gila satu sama lain itu.
Semuanya indah, semuanya hangat dan dunia ini hanya milik mereka berdua sampai kemudian,
DHUAR!!
Ledakan keras terdengar menggema di jalanan yang sepi itu. Menghindari tembakan, Maximo segera memutar stirnya 360 derajat bersamaan dengan pedal rem yang ia injak dalam-dalam hingga roda mobil berputar melingkar dan berdercit karena di paksa berhenti. Tubuh Samantha nyaris terombang-ambing, beruntung ia mengenakan sabuk pengaman dan berpegangan pada handle grap di samping kepalanya.
Beberapa saat setelah berhenti, Maximo dan Samantha baru sadar kalau mobil yang dinaiki Eveline sudah terbalik. Rodanya berada di atas dan masih berputar.
__ADS_1
“Sial!” dengus Maximo seraya mengambil senjata dan membuka pintu mobilnya. Namun baru ia akan keluar, seseorang sudah lebih dulu menodongkan pistol di kepala Maximo.
“Turunlah, taruh senjatamu, atau temanku akan meledakkan kepala wanita di sampingmu,” ucap tegas laki-laki yang berdiri di samping Maximo.
Maximo yang sudah mengambil senjatanyapun urung melawan saat ia melihat Samantha sudah ditodong senjata di kepalanya. Wanita itu meliriknya dan memberi isyarat agar lelakinya mengikuti permintaan dua laki-laki yang menyergap mereka.
Tidak ada pilihan selain kemudian ia turun dari mobilnya dengan kedua tangan terangkat di udara. Ia menoleh Samantha yang masih berada di dalam mobil dan wanita itu sedang diturunkan secara kasar ke kursi rodanya.
“HEY! JANGAN KASAR PADA WANITAKU!” teriak Maximo dengan suara yang menggelegar dan mata merah yang melotot tajam. Tubuhnya sampai bergetar karena kemarahan yang meluap.
“DIAM! ATAU KU LEDAKKAN KEPALA WANITAMU!” teriak laki-laki yang menodongkan senjatanya pada Samantha. Maximo tidak bisa berkutik, ia hanya bisa memandangi Samantha dari kejauhan. Ia juga melihat mobil Eveline yang terbalik. Eveline, Paul dan Nora tampak tidak sadarkan diri di dalamnya.
“Siapa bajingan yang memerintahmu?” tanya Maximo pada laki-laki yang berdiri di sampingnya. Ia berjanji kalau ia akan mencabik-cabik orang-orang yang hari ini menyerangnya.
“Dia,” jawab laki-laki di samping Maximo pada seorang pria bertopi yang berjalan se arah mereka. Di pundaknya ia membawa senjata laras panjang yang tadi ia gunakan untuk menembaki mobil Eveline dan Maximo.
“Hello brother,” sapa laki-laki yang menyeringai pada Maximo. Laki-laki yang sedang mengunyah permen karet itu melepas topinya lantas melempar sesuatu ke arah mobil Eveline. Sebuah magnet peledak dengan alat picu yang ada di tangannya.
“Siapa kamu, brengsek?!” tanya Maximo setengah berteriak. Ia tidak merasa punya urusan dengan orang ini. Tetapi tunggu, wajahnya cukup familiar. Ia pernah melihatnya.
Belum muncul ingatan akan nama pria itu dalam pikiran Maximo, laki-laki itu sudah lebih dulu menunjukkan sebuah gelang di tangannya. Gelang hitam yang sama persis dengan miliknya.
“Michael?” gumam Maximo dengan penuh keterkejutan.
__ADS_1
****