
Di kamar Samantha saat ini Maximo dan Eveline berada. Mereka menyaksikan sendiri saat dokter memeriksa perut Samantha yang katanya menegang. Samantha berbaring di atas ranjangnya, di sampingnya ada Maximo yang setia memegangi tangan Samantha dengan erat. Tangannya sangat dingin karena ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Maximo juniornya. Ia merasa bersalah karena telah membuat Samantha kelelahan.
“Apa itu gambar bayinya?” Eveline bertanya dengan antusias. Ia sampai mendekat ke layar monitor demi melihat gambar hitam dan kekuningan yang tampak di layar.
“Benar nona. Usianya janinnya sekitar tiga belas sampai empat belas minggu. Anda mau mendengar detak jantungnya?” dokter itu membuat penasaran saja.
“Ya. Aku ingin mendengar suara jantung keponakanku.” Gadis itu benar-benar sangat bersemangat.
“Baik,” dokter itu menggerakan transdusernya kearah bawah perut Samantha lalu sedikit menekannya.
“Pelan-pelan, jangan tekan terlalu dalam!” seru Maximo yang memperhatikan gerakan tangan dokter di atas perut wanitanya. Ia sangat khawatir Samantha dan bayinya terluka.
“Baik tuan,” dokter itu sampai terhenyak mendengar suara tegas Maximo. Ragu-ragu ia menyentuhkan kembali transducernya pada perut Samantha.
“Tenanglah Max, dokter tahu apa yang dia lakukan.” Samantha yang memberikan pembelaan. Lelakinya benar-benar paranoid setelah tahu ia hamil. “Lakukan saja apa yang harus Anda lakukan, jangan hiraukan tuan paranoid ini,” imbuh Samantha sambil menatap tajam lelakinya. Dokter itu mengangguk patuh.
“Aku hanya ingin memastikan kalau benda itu tidak melukaimu ataupun anak kita.” Masih saja pria ini beralasan.
“Ketakutanmu tidak masuk akal, kamu terlalu berlebih Max.” Samantha menggigit lengan suaminya yang erat memegang tangannya.
“Gigit saja, aku tidak akan melepasnya.” Laki-laki itu berusaha menyembunyikan rasa sakit dan raut wajah meringisnya atas gigitan iseng Samantha.
“Bilang saja kalau sakit, Max.” Samantha melihat kalau mata suaminya sampai berkaca-kaca.
“Tidak, aku baik-baik saja.” Gengsi laki-laki ini memang sangat tinggi.
Samantha hanya terkekeh mendengar ucapan suaminya, lantas mengecupi tangan Maximo berulang kali. Sementara laki-laki itu hanya tersenyum, balas mengecupi kepala Samantha dengan sayang.
Pelan-pelan terdengar suara yang cukup nyaring dari alat USG. “Suara apa itu?” Maximo terlihat begitu penasaran.
“Itu suara detak jantung bayi Anda, tuan,” sahut sang dokter dengan yakin.
“Benarkah? Kenapa suaranya tidak seperti suara jantungku?” Maximo menyentuh dadanya sendiri, dada kiri yang terasa menghangat dan berdegub kencang setelah mendengar suara itu. Seolah jantung mereka saling bertautan.
“Tentu akan berbeda tuan, karena kecepatan detak jantung orang dewasa adalah 60 sampai 100 kali per menit, sementara pada janin adalah 110 sampai 160 kali per menit. Itu sebabnya, terdengar lebih cepat seperti suara kuda berlari,” terang dokter tersebut.
“Apa aku bisa mendengarnya langsung dari perut Samantha?” Maximo semakin penasaran saja.
“Belum bisa tuan. Detak jantung bayi hanya bisa di dengarkan oleh alat saja. Tetapi, kalau tuan atau nyonya berbicara, janin ini bisa mendengarnya. Karena itu, sering-seringlah mengajaknya berbicara. Agar dia mengenal suara tuan dan nyonya.”
Maximo mengangguk paham. Ia mengusap perut Samantha perlahan lantas mengecupnya dengan lembut. “Hay, ini dady. Kamu mendengar suaraku makhluk kecil?” tanya laki-laki itu.
__ADS_1
Samantha tersenyum gemas melihat tingkah lelakinya. Ia mengusap kepala Maximo dengan lembut, sedikit terkekeh saat jambang pria ini mengenai permukaan kulitnya dan memberi sensasi geli. Sesi pemeriksaan itu menjadi ajang romantisme pasangan mafia ini.
“Tuan, apa saya boleh masuk?” Sebuah suara terdengar di luar sana. Suara itu milik Paul yang sedang dilanda rasa penasaran.
“Untuk apa?” Maximo segera waspada. Ia tidak mau Paul melihat perut wanitanya.
“Saya ingin melihat Maximo junior tuan. Samar-samar saya mendengar suaranya juga. Apa saya boleh menemuinya langsung?” Rasa penasaran Paul begitu tinggi. Pria itu memang di larang masuk oleh Maximo dan hanya bisa menguping di balik pintu kamar Samantha.
“Jangan lancang kamu Paul! Hanya aku yang boleh menemuinya secara langsung. Kamu hanya boleh melihatnya lewat monitor USG ini. Itupun sebentar saja.” Dengar cara laki-laki yang berpikiran kotor dan pencemburu itu memberi jawaban.
“Baik, tuan.” Jawaban seperti itu saja pun membuat hati Paul berbunga-bunga. Ia dan Nora segera masuk dan memandangi layar monitor yang menunjukkan gambaran janin bayi Samantha beserta detak jantungnya yang berdegub kencang. Paul tidak bisa menahan rasa harunya, ia mengusap air matanya yang entah sejak kapan menetes. Nora dengan setia memberikan serbetnya untuk mengelap air mata Paul.
“Lihat, ternyata pria tua itu punya hati, Sam,” bisik Maximo yang membuat wanita itu mencubit lengan lelakinya dengan gemas.
“Astaga, pedas sekali!” Maximo mengusap lengannya yang sakit Karena cubitan Samantha.
“Lain kali, jaga bicaramu Max. Jangan mengumpat orang tua di depan anakku,” protes Samantha.
“Dia juga anakku, Sam. Aku daddy-nya.” Laki-laki itu berujar dengan jumawa.
"Kalau begitu, berhati-hatilah dengan ucapanmu."
"Baik," baru kali ini Maximo benar-benar patuh. Selama pemeriksaan laki-laki ini lebih banyak menyimak. Termasuk menyimak saran sang dokter untuk mengurangi aktivitas s3ksu4lnya bersama Samantha. Pria ini nyaris protes, tetapi saat melihat tatapan Samantha, ia tidak berani berbicara.
“Sebentar Max, aku mau ke toilet,” Samantha menurunkan tangan Maximo yang melingkar dipinggangnya.
“Biar ku bantu.” Maximo turun lebih dulu dan menggendong Samantha ke toilet. Ia mendudukan wanitanya di closet dan dengan sabar menunggui wanita itu.
“Keluarlah Max, aku tidak bisa buang air kalau kamu berdiri dihadapanku seperti itu,” protes Samantha pada laki-laki yang bersidekap sambil memandanginya.
“Aku sudah sering melihat seluruh tubuhmu tanpa kecuali, kenapa mempermasalahkan masalah buang air?” Laki-laki itu enggan untuk beranjak.
“Ayolah Max, aku mau menikmati waktuku sendirian di toilet. Cukup ambilkan saja kursi rodaku dan tutup pintunya. Aku ingin belajar mengurus diriku sendiri.”
“Aku tidak bisa. Aku khawatir kamu jatuh.” Dengar, laki-laki ini memang keras kepala.
“Baiklah kalau kamu memaksa. Sebagai gantinya, jangan memelukku lagi. Aku tidak mau berdekatan dengan orang yang tidak menghargai privasiku.” Samantha akhirnya memberi ancaman.
“Astaga, apa harus sampai mengancam seperti itu?” Laki-laki itu mengguyar rambutnya frustasi. Sepertinya kali ini ia harus menuruti keinginan Samantha untuk keluar dan mengambilkan kursi roda milik wanitanya, daripada ia tidak dapat jatah untuk memeluk wanitanya.
“Silakan, nyonya,” ucap pria itu saat menaruh kursi roda di dekat closet.
__ADS_1
“Terima kasih, tuan mafia,” timpal Samantha sambil mendelik sebal.
Laki-laki itu hanya terkekeh seraya berlalu meninggalkan Samantha, “Pastikan untuk menarik kembali ancamanmu nyonya, atau aku akan memaksa untuk memelukmu selama dua puluh empat jam penuh.” Masih sempat-sempatnya pria itu menggerutu, membuat Samantha hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak paham.
Sekitar lima belas menit Samantha berada di toilet. Ia berusaha sebisa mungkin untuk mengurus dirinya saat di toilet. Mengambil tissue sendiri, membersihkan tubuhnya sendiri dan berpindah sendiri ke kursi roda seperti yang pernah di ajarkan terapisnya. Semua ia lakukan dengan baik.
Samantha tersenyum senang, ini pencapaian yang luar biasa bagi dirinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kursi rodanya. Saat ia menghampiri Maximo, ternyata laki-laki itu sudah tertidur telungkup sambil memeluk bantal. Pria itu belum memakai baju atasnya. Rupanya laki-laki itu kelelahan mengurusinya.
"Bayi besarku tingkahnya lebih banyak," gumam Samantha seraya beranjak menuju lemari. Udara yang dingin membuat Samantha mengambil mantel dari dalam lemarinya. Matanya membulat kaget saat melihat sesuatu tergantung di dalam lemarinya.
“Max! Ini apa Max?!” panggil Samantha para laki-laki yang sedang tertidur itu.
“APA?!” Maximo segera meloncat kaget dari tempat tidurnya. Matanya yaang merah ikut melihat lemari yang dibuka Samantha dan di tatap wanita itu dengan bingung.
“Oh, ya, aku yang membelinya,” sahut laki-laki itu pada akhirnya. Ia berjalan mendekat pada Samanta lalu berdiri di belakang Samantha seraya membungkukkan tubuhnya. Kedua tangannya bertumpu pada lengan kursi roda Samantha.
“Baju itu aku beli saat aku berjalan-jalan ke butik langgananmu. Kamu menyukainya?” bisik pria itu.
“Ya bajunya indah. Tapi untuk apa kamu membeli baju itu?” Samantha mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
Maximo tidak lantas menjawab, ia beranjak sejenak untuk mengambil sesuatu di dalam laci samping tempat tidur Samantha. Tangannya yang lebar memainkan benda berbentuk kotak berwarna navy di tangannya. Dengan keyakinan penuh, ia menghampiri Samantha. Ia bertekuk lutut di hadapan Samantha seraya menatap wanita itu dengan lekat.
“Tanpa memakai jas dan dasi kupu-kupu, tanpa makan malam romantis, tanpa bunga yang mewangi nan cantik juga tanpa kejutan berarti, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Sam,” Laki-laki itu menjeda kalimatnya dan menunjukkan kotak berwarna navy itu di hadapan Samantha. Ia membukanya perlahan sambil tetap menatap Samantha.
“Aku tidak mau lagi mengurungmu dalam sangkar ini. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah menjadikanmu rumahku. Tempat yang akan aku tuju saat aku ingin pulang. Jadi, menikahlah denganku, Sam,” pinta Maximo dengan serius. Ia menatap Samantha dengan lekat dan penuh kesungguhan.
Hati Samantha bergetar mendengar ucapan Maximo. Perasaannya bergemuruh, namun logikanya mencoba menepis. Wanita itu tersenyum kecil melihat usaha Maximo. “Astaga, candaanmu tidak lucu Max. Kamu sendiri yang mengatakan tidak pernah berpikir tentang sebuah keluarga dan pernikahan. Jadi, tidak perlu bermain-main hal yang seperti ini denganku. Sudahlah, tidak perlu kamu lanjutkan, ini tidak lucu sama sekali,” timpal Samantha seraya memalingkan wajahnya. Tidak hanya itu, ia juga memutar kursi rodanya untuk meninggalkan Maximo. Jantungnya berdebar kencang dan kempis kembung seperti akan pecah. Ia tidak yakin kalau Maximo benar-benar mengatakan hal itu. Ia mengira tuan mafia itu hanya mencandainya.
“Aku serius, Sam,” ujar laki-laki itu dengan tegas, membuat Samantha menghentikan laju kursi rodanya menuju balkon. Jantungnya seperti akan lepas dari tempatnya.
“Mungkin hidupku terlihat seperti candaan selama ini. Bermain-main dengan nyawa diri sendiri dan orang lain. Namun harus kamu tahu Sam, aku tidak pernah menganggap hidupku sebagai sebuah candaan. Apa yang aku lakukan sekarang adalah hal paling serius dalam hidupku. Aku sudah menemukan arahku dan arah itu adalah menuju padamu, Sam. Jadi, bisakah kita mewujudkan mimpi pertama kita dengan menjadi tuan dan nyonya Maximo?” lagi Maximo bertanya. Ia menghampiri Samantha dengan membawa cincin dan gaun yag telah ia beli lalu kembali bertekuk lutut dihadapan Samantha.
“Aku ingin melihatmu memakai gaun ini di depan pendeta dan orang-orang terdekat kita. Aku juga akan menyematkan cincin ini di jarimu dan mengikat janji sehidup semati kita di hadapan semesta.” Maximo benar-benar memohon dan berharap pada Samantha.
Samantha melihat benar kesungguhan Maximo dengan ucapannya. Ia menatap lekat dua benda di tangan Maximo. Hatinya terrenyuh, laki-laki ini tidak sedang bergurau, melainkan sangat serius. Ia masih tidak menyangka kalau laki-laki ini benar-benar akan menikahinya. Siapkah ia menjadi nyonya Maximo?
“Aku mungkin bisa memberimu kesempatan untuk menyematkan cincin itu di jariku, tapi aku tidak yakin kalau aku bisa memakai gaun itu dengan pantas. Gaun itu hanya cocok dipakai dengan menggunakan high heels, sementara kakiku,” dada Samantha terasa sesak, antara sedih dan haru bercampur dalam dadanya. Padahal ia sudah membayangkan bagaimana indahnya suasana pernnikahan yang ada dalam benaknya.
“Ssstt… Sam,” Maximo menggenggam tangan Samantha lantas menangkup satu sisi wajah wanitanya dengan tangannya yang besar. Ia mengusap pipi wanita itu dengan lembut. “Aku bisa saja menikahimu meski dalam keadaan telanjang tanpa gaun, sekalipun. Apa masalahnya Sam? Aku akan menikahi semua hal yang bahkan terlihat mustahil darimu. Tanpa rasa ragu sedikitpun dan tanpa syarat apapun. Aku harap, kamu pun tidak ragu padaku,” ungkap Maximo dengan penuh kesungguhan. Mata bulatnya terlihat penuh keyakinan. Ya, ia sangat yakin kalau Samantha adalah pelabuhan hidupnya.
Samantha tersenyum penuh haru, ia mengecup tangan Maximo dengan lembut. “Maka segera nikahi aku dan bawa aku ke depan altar. Kita buat semua orang iri dengan janji sehidup semati kita,” tegas Samantha tanpa rasa ragu.”
__ADS_1
Maximo tidak bisa berkata-kata. Ia memeluk Samantha dengan erat, sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya. Ia kecupi juga dahi, pipi dan bibir Samantha, lalu ia ***** dengan dalam. Pada akhirnya, mereka sepakat bahwa hidup itu adalah tentang mengisi satu sama lain tanpa rasa ragu.
****