Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Eveline


__ADS_3

Malam menjelang Maximo memenuhi janjinya untuk bertemu dengan wanita bernama Eveline itu. Di Hotel Alpha sedang digelar sebuah pesta pernikahan. Gadis itu datang untuk menemani pasangannya, Maximo. Ya, pria bernama Maximo yang memenangkannya dipelelangan. Ia terlihat cantik dan memesona. Kulitnya yang putih terlihat kontras dengan gaunnya berwarna abu tua dengan akses batu Swarovski di seluruh permukaan gaunnya.


Maximo sudah menunggu di salah satu sudut ruangan, mencari peluang saat wanita itu berpisah dari prianya. Ia ingin segera megintrogasi wanita ini.


“Tuan, sepertinya penyelenggara pesta adalah orang pemerintahan. Banyak agent yang menghadiri acara ini. Sebaiknya kita berhati-hati.” Paul mengingatkan laki-laki yang sedang menikmati minumannya dengan perasaan gelisah.


Pria itu melihat ke sekitarnya dan benar saja beberapa orang terlihat seperti agent pemerintahan. Pesta ini rupanya dijaga dengan baik agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


“Kamu sudah mencari tahu siapa wanita itu?” sambil meneguk minumannya, Maximo bertanya pada Paul.


“Dia wanita yang dimenangkan oleh Maximo palsu di pelelangan. Ada kemungkinan wanita itu bertemu nona Samantha saat beliau mengikuti pelelangan untuk mendapatkan obat penawar racun trycyclo, tuan.”


“Bagaimana latar belakang wanita itu?”


“Dia seorang wanita malam dari salah satu club terkenal di Moscow. Ayah angkatnya memiliki utang yang cukup banyak sehingga menjual wanita itu ke tempat prostitusi. Seorang pemilik tempat prostitusi melelangnya atas permintaan para pengunjung yang terpesona pada wanita itu.”


“Siapa nama ayah angkatnya?” Maximo semakin penasaran.


“Dmitriy Ivanov.” Menyebut nama itu Paul refleks menoleh Maximo. Mereka saling bertatapan, setelah Paul menyebut nama itu. “Saya akan mencari tahu silsilah tuan Ivanov yang satu ini, tuan.” Sepertinya pikiran mereka sama. Nama belakang yang melekat pada ayah angkat Eveline tidaklah asing.


Menunggu Paul mencari tahu, membuat Maximo cukup tegang, apa ini sebuah kebetulan? Ivanov adalah marga seorang mafia Rusia yang pernah Maximo bunuh saat ia mencari keberadaan adiknya.


Laki-laki yang gelisah itu beranjak dari tempatnya, untuk sekadar berjalan-jalan. Ia mengambil kembali satu gelas minuman dan meneguknya. Malam ini, harusnya ia mendapatkan dua fakta.

__ADS_1


“Sepertinya kamu tipe laki-laki yang tidak sabar menunggu.” Suara halus dan ringan terdengar di belakang Maximo. Laki-laki itu segera menoleh dan ternyata pemilik suara itu adalah Eveline.


“Bisa bicara sekarang?” Maximo segera menaruh gelasnya di atas baki pelayan dan mengambil minuman yang baru.


Wanita itu melihat ke sekitarnya, khawatir orang-orang Maximo palsu memperhatikannya. Setelah merasa aman, ia beranjak dari tempatnya, pergi ke balkon dengan diikuti Maximo. Suasana di balkon itu cukup sepi dan membuat mereka bisa berbicara dengan tenang.


“Samantha yang memberikan pelacak itu kepadaku.” Eveline memulai kalimatnya. Ia menetap Maximo dengan sungguh.


“Kapan?” Laki-laki itu memfokuskan dirinya pada Eveline. Tidak ada yang bole ia lewatkan.


“Saat kami di pesawat, dalam perjalanan pulang ke LA. Sejak di pelelangan, rupanya Samanta memperhatikanku. Dia melihat luka-luka di tubuhku dan sepertinya nalurinya sebagai seorang wanita terpanggil. Kami bertemu kembali di pesawat saat tanpa sengaja kami masuk ke dalam toilet yang sama. Dia melihat tubuhku yang penuh luka dan sepertinya merasa iba. Karena itu, dia memberikan benda ini padaku.” Eveline menaruh alat pelacak itu di atas telapak tangan Maximo.


"Dia bilang, dia akan datang menemuiku dan melepaskan diriku dari cengkraman Maximo Cortez sialan itu.” Eveline tampak kecewa dan meneguk minumannya hingga habis.


“Dia Maximo palsu.” Maximo menimpali dengan cepat.


Laki-laki itu tampak memainkan tangkai gelasnya, memutarnya perlahan dan membiarkan sisa-sisa cairan memabukkan itu menetes di lantai. “Karena akulah Maximo Cortez yang sebenarnya.” Maximo menjawab dengan yakin.


“Pttff! Hahahahahaha….” Wanita itu malah tertawa, renyah sekali sampai menengadah dan matanya berair.


“Mengapa kamu tertawa?” Maximo merasa terganggu dengan tawa Eveline yang seperti sedang mengejeknya.


“Kamu rupanya tertular oleh para pria lain. Semua laki-laki ingin menjadi Maximo supaya ditakuti padahal nyali mereka sebenarnya sangat kecil, hahahaha… kamu gila. Kalian laki-laki gila yang penuh obsesi pada hal yang sifatnya mitos!” Ringan sekali kalimat dan tawa Eveline yang meledek itu. Seolah tidak tahu dengan siapa saat ini ia berhadapan.

__ADS_1


Maximo tidak menimpali. Ia hanya menghembuskan napasnya kasar lalu menaruh gelasnya dengan kasar. Tidak heran wanita ini tertawa karena namanya memang sudah dipakai banyak orang, karena itu ia tidak bisa menyalahkan jika wanita yang ada dihadapannya tidak mempercayainya.


Tawa Eveline tiba-tiba berhenti saat melihat Maximo tidak menimpalinya. Biasanya mereka yang mengaku sebagai Maximo Cortez akan meradang saat Eveline menertawakannya. Mungkin karena mereka merasa egonya sedang ditertawakan.


“Tunggu, kamu benar-benar Maximo Cortez?” tanya Eveline dengan suara cukup keras. Beberapa orang menoleh dan Eveline pun segera mengatupkan mulutnya.


Maximo tidak menjawab. Melainkan menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia berusaha berdiri dengan tegak, semua yang ingin ia ketahui tentang Samantha sudah ia dengar.


“Hey, jawab aku!” Eveline menarik tangan Maximo, tetapi laki-laki itu mengibaskan tangannya. Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain Samantha.


“Hey, tunggu aku!” Eveline menghadang jalan Maximo. Menatap lekat wajah laki-laki yang mengusap wajahnya dengan kasar dan lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Beritahu aku, di mana Samantha sekarang? Kenapa dia tidak datang menolongku?” Wanita itu kembali memfokuskan dirinya untuk membahas Samantha.


Maximo memilih tidak menimpali. Ia kesal mendengar pertanyaan yang ia sendiri tidak bisa menjawabnya.


“Hey! Jawab aku!” Eveline tidak putus asa, ia terus memaksa sampai memegangi tangan Maximo.


“Diam!” seru Maximo yang membuat suasana hening seketika. Orang-orang langsung menatap ke arahnya termasuk Paul yang segera menghampiri tuan besarnya. Ia tidak mau Maximo gagal mengendalikan dirinya dan malah menodongkan senjatanya pada Eveline. Mata laki-laki ini sudah menyalak tajam, seperti dewa kematian yang siap mengakhiri hidup orang dihadapannya.


“Nona, tolong berhenti. Tuan, mari kita pulang.” Paul berbicara pada Eveline dan Maximo bergantian, lantas mengangguk sopan sebelum mengajak Maximo pergi.


“Apa Samantha baik-baik saja?” Wanita itu masih kukuh bertanya. Langkah kaki Maximo pun berhenti. Pertanyaan Eveline benar-benar menghujam ulu hatinya dan membuat rongga dada serta isi kepalanya mendidih. Lantas laki-laki itu berbalik, meraih tangan Eveline dan membenamkan pelacak itu di tangan gadis tersebut.


“Berdo’alah agar Samantha segera menyelamatkanmu,” ucap Maximo tanpa menatap wajah Eveline. Laki-laki tu pergi begitu saja setelah memberikan alat pelacak itu. Rasanya ia ingin menembak wanita yang tadi banyak bertanya dan mengusik rasa sedihnya. Namun entah mengapa ada perasaan yang melarangnya.

__ADS_1


Apa karena gadis itu mengenal Samantha dan Samantha berniat membebaskannya dari tangan Maximo palsu? Mengapa kebengisannya menumpul dihadapan gadis ini?


****


__ADS_2