
Sang surya menyapa sesosok pria yang sedang berdiri di tepian jurang. Ia menengadahkan kepalanya sambil memejamkan mata, menikmati hangatnya cahaya matahari yang terbit dari ufuk timur. Wajah tampannya tidak terlihat segar, karena semalaman ia tidak bisa tidur. Rambutnya juga berantakan, tidak tersisir rapi. Selaman yang ia lakukan hanya bermain-main dengan bayangan Samantha yang selalu mengisi pikirannya.
Bayangan Samantha seperti menjelma menjadi mahluk nyata yang membuat Maximo merasa bahagia hanya karena melihat keberadaannya. Ia berbicara sepanjang malam dengan bayangan yang ada di pikirannya, menceritakan hari-harinya yang terasa berat tanpa wanita itu. Sekelilingnya sunyi, hanya isi kepalanya yang berisik.
Seperti saat ini, meski matanya terpejam dan mulutnya bungkam, namun batin Maximo tetap berujar lirih. Ia membayangkan kalau Samantha ada di sampingnya dan sedang menyandarkan kepalanya di bahu Maximo. Menikmati suasana tenang dengan alunan suara deburan ombak yang pelan menyapa syaraf auditori keduanya.
“Hay Sam, aku datang lagi. Seperti biasa, aku datang tidak dengan suasana hati yang lebih baik. Dadaku masih sesak dan bergemuruh karena merindukanmu. Bagaimana hari-harimu di sana? Tidakkah kamu merindukanku?” tanya pria itu.
Perlahan ia membuka matanya dan menatap riakan air laut yang berombak tenang. Mungkin karena matahari belum tinggi. Udara dingin terasa terasa erat memeluk Maximo hingga bulu kuduknya meremang meski sudah mengenakan mantel yang tebal.
“Kita baru bertemu semalam, Sam. Tapi aku selalu merasa kalau waktuku tidak cukup banyak untuk mengenangmu. Apa ku akhiri saja hidupku agar bisa bersamamu tanpa ada ruang yang memisahkan kita?” Maximo melangkah mendekati bibir jurang yang curam. Bayangan wajah pucat Samantha yang berteriak kaget melintas jelas di pikirannya. Bayangan yang selalu membuatnya lemah dan jantungnya seperti terlepas dari tempatnya. Ia jatuh terduduk di tepi jurang itu.
Menunduk dalam, menatap kembali jalan setapak yang ia buat hingga ke bawah. Sampai detik ini tidak ada jejak kaki yang terlihat selain jejak kakinya semalam. “Apa dengan menenggelamkan diri di lautan itu, bisa membuat kita bertemu, Sam?” Pikiran Maximo semakin tidak masuk akal. Rasa putus asa membuat ia ingin melompat saja kalau tidak ingat ucapan Eveline yang mengatakan, Samantha akan bersedih kalau ia mati dengan cara yang bodoh. Ya, bagian itu ia setuju, tetapi kerinduannya pada Samantha terlalu menyiksa.
“Aku putuskan untuk tetap menjalani hidup ini Sam, meski tidak lagi sama. Akan ada masanya dimana kita bertemu kembali. Entah aku yang pulang untuk menemuimu atau kamu yang pulang untuk menghampiriku, yang jelas aku sangat yakin kalau suatu hari kita akan bertemu. Tetaplah berada dalam isi kepalaku, agar aku tidak terlalu kesepian.”
Tangan Maximo mencengkram tanah yang ada di hadapannya, lalu menaburnya perlahan dari bibir tebing. Hembusan angin membawa butiran tanah bercampur pasir itu bertebaran. Sebagian mungkin jatuh ke permukaan laut dan sisanya entah kemana.
“Akhir pekan, aku akan datang lagi ke sini Sam. Tolong tunggu aku,” janji Maximo.
Puas berbicara sendiri, ia pun beranjak. Ia berniat untuk pulang ke rumahnya dan mengistirahatkan tubuhnya di kamar Samantha. Bercint4 dengan bayangan sang kekasih yang ia rindukan.
__ADS_1
Mobil Maximo melaju dengan kencang di jalanan beraspal. Sekitar 40 km jalanan berkelok-kelok itu dilalui Maximo. Pemandangan indah di sepanjang perjalanan tidak berhasil menghiburnya. Mobilnya baru berhenti di salah satu lampu merah. Ia harus bersabar menunggu antrian, berderet rapi bersama mobil yang lainnya.
Tangannya iseng menjentik-jentikan jarinya di atas kemudi. Di hadapannya banyak kendaraan yang melintas dan seketika hentakan jarinya terhenti saat ia melihat sesosok bayangan yang samar melintas di hadapannya. Matanya langsung membulat enggan berkedip saat ia merasa mengenal pemilik wajah yang ada di balik kaca mobil yang sedikit gelap itu.
“Samantha?” gumamnya. Maximo sampai mengucek matanya dan melotot untuk memperjelas penglihatannya. Mobil itu sudah melaju, ia sangat yakin kalau yang ia lihat bukan fatamorgana. Wanita itu menoleh entah pada siapa.
“Sial! Aku yakin itu benar-benar dia!” seru Maximo. Ia membunyikan klaksonnya beberapa kali agar mobil yang ada di depannya segera menyingkir dan tidak menghalangi jalannya. Tetapi sayangnya antrian lampu merah menjebaknya dan mobil yang ia lihat semakin jauh saja.
“AKH!! Brengsek!” laki-laki itu mengupat kesal sambil memukuli stirnya.
Seperti kehilangan akal, Maximo segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesaat setelah antrian lampu merah itu terurai. Ia mengikuti arah berlalunya mobil sedan yang tadi ia lihat, memutar stirnya sembarangan hingga mobil sport itu ikut berputar dan menyisakan bekas rem kehitaman di aspal. Pria itu di hujani klakson oleh pengemudi lainnya. Nyaris saja ia bertabrakan dengan pengendara lainnya.
Cafe, resto, club dan banyak tempat lainnya yang ia kunjungi. Hal tidak terduga terjadi saat Maximo mendatangi toko baju yang biasa samantha datangi. Ia masuk ke toko itu beberapa saat setelah Samantha keluar dari toko tersebut. Wanita itu membeli baju untuk makan siang bersama Slavyk. Maximo yang datang terlambat, tidak sempat bertemu dengan wanita tersebut. Takdir belum mempertemukan kalian Max.
Kelelahan berlari, Maximo akhirnya duduk di depan sebuah toko kue. Ia menunduk lemah sambil memikirkan kemana kira-kiranya mobil itu pergi. Maximo terus berusaha menebak, tempat yang mungkin di datangi samantha. Matanya sampai terpejam rapat untuk memfokuskan pikirannya.
Tiba-tiba saja Maximo berdiri saat ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia mengenakan kembali mantelnya dan mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Sebuah rumah yang ia kunjungi. Ia mengetuk pintu besi yang dipenuhi gambar-gambar seni abstrak. Bangunannya jauh dari kesan bagus, tetapi orang yang tinggal di rumah ini sangatlah penting.
“Mau mencari siapa?” seorang wanita berwajah eksotis membuka celah pintu yang berbentuk kotak. Ia hanya menampakkan sepertiga wajahnya saja dan berbicara dengan Maximo dari sana.
“Aku perlu bertemu dengan Alan.” Ucapan Maximo terdengar tegas.
__ADS_1
“Dia sedang tidak bisa di ganggu,” timpal wanita itu.
“Katakan, Maximo Cortez yang datang.” Maximo tidak bisa menunggu lebih lama, ia terpaksa mengungkap identitasnya.
Tidak lama, pintu terbuka hingga mengeluarkan suara berderit. Sosok wanita yang semula hanya terlihat wajahnya saja itu, kemudian terlihat secara utuh.
“Pengenalmu?” tanya wanita itu. Ia menengadahkan tangannya pada Maximo. Maximo mengeluarkan ponsel dan menunjukkan laman identitasnya di dunia mafia. Wanita itu hanya menatap Maximo beberapa saat, lalu membuka pintu lebih lebar.
“Temanmu, datang!” seru wanita itu cukup keras. “Masuklah,” ia pun mempersilakan Maximo masuk.
Maximo memasukki sebuah rumah yang cukup gelap. Hanya ada lampu pijar kuning yang menyala di salah satu sudut. Tempat pria ini masih sama, berantakan. Banyak botol minuman yang terserak di lantai juga memenuhi meja. Sofa yang tersedia pun di penuhi barang-barang. Pakaian kotor dan entah apalagi. Bau ruangannya sangat tidak nyaman.
“Tidak perlu duduk kalau tidak suka.” Wanita itu seperti paham arti ekspresi Maximo.
“Aku tidak akan lama,” sahut Maximo. Ia menoleh tangga kecil menuju lantas atas dan tidak lama seseorang turun. Laki-laki berambut keriting yang berasal dari Sao tome and principe itu menyeringai melihat sosok Maximo yang berdiri di hadapannya.
“Lama tidak bertemu, Max.” Laki-laki itu benar-benar mengenal Maximo. Ia mengulurkan tangannya pada Maximo dan mereka berjabat tangan cukup erat.
“Aku membutuhkan bantuanmu. Waktuku tidak banyak.” Maximo langsung pada inti pembicaraannya.
****
__ADS_1