Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Dalam satu ruangan


__ADS_3

Maximo menatap heran William dan Crystal yang baru datang. Dua orang itu tidak Maximo undang, tetapi dengan santai mereka melangkahkan kakinya masuk ke ballroom yang sudah di penuhi oleh mayat-mayat Maximo palsu juga darah yang berceceran dimana-mana.


Sosok mafia tua itu dikenal oleh sebagian besar tamu yang hadir. Mereka mengangguk hormat pada laki-laki tua yang setia memegangi rokok cerutunya. Tampilannya yang klasik dan berkelas, menunjukkan kharisma seorang mafia lawas yang memegang sebagian besar rantai bisnis di Los Angeles. Pandangannya yang tajam, menyapu tatapan seisi ruangan yang tertuju padanya. Ia tersenyum kecil, lebih tepatnya menyeringai lalu menatap Maximo.


“Apa pertanya sudah berakhir?” tanya laki-laki itu. Ia menatap Maximo dengan segaris senyum.


“Berakhir untuk mereka yang di undang.” Maximo balas menyeringai tipis, ia tidak suka laki-laki ini selalu datang dan mencampuri urusannya.


William balas menyeringai. Ia memberi isyarat pada putrinya untuk mengambil minuman yang tersusun rapi di atas meja. Crystal mengambil satu gelas untuknya dan William, juga dua gelas untuk Samantha dan Maximo.


“Aku mendukung usahamu, izinkan aku untuk bersulang, walau kedatangan kami terlambat,” ujar Crystal saat memberikan gelas untuk Maximo. ia menatap Maximo seraya tersenyum dan mengangkat gelasnya untuk bersulang.


Maximo menyambut usaha Crytal untuk bersulang lantas meneguk minuman itu hingga tandas.


“Anda tidak minum nona Samantha?” tanya William.


“Tidak, aku sudah menikmati minuman sedari tadi.” Samantha menolaknya. Sedikit berbohong karena ia tidak suka pada wanita yang memberinya minuman itu. Entahlah, perasaannya tidak nyaman melihat kedatangan ayah dan anak ini.


“Kalian minumlah, nikmati pestanya. Tidak perlu menangisi mereka yang sudah pergi.” Wiliam menawari tetamu lain yang menatap dua mafia itu dengan ketar ketir. Dua orang berkuasa ini ada dalam satu ruangan. Bukannya menyenangkan, perasaan mereka malah tidak karuan,khawatir mereka bersitegang dan semakin banyak mayat yang bergelimpangan. Terbukti, nyali Maximo palsu tidak seujung kuku Maximo yang sebenarnya.


“Terima kasih tuan.” Mereka mengangguk sopan. Beberapa di antara mereka mengambil minuman dan menikmatinya. Tidak ada pilihan selain pura-pura menikmati pesta ini dengan gaya para mafia.


“Jadi apa aku boleh bergabung dalam sayembara ini?” William berusaha mencairkan suasana.

__ADS_1


“Tidak masalah, kalau kamu memiliki anak buah yang mengunakan namaku untuk menakut-nakuti orang lain.” Maximo berujar dengan santai.


“Kamu menyindirku?” William tampak tidak terima. Ia menaruh minumannya dengan kesal, begitupun dengan Crystal.


“Papah,” Wanita itu berusaha menenangkan ayahnya.


Maximo tersenyum kecil melihat respon William. “Aku tidak menyindirmu, aku mengatakan dengan sebenarnya. Lagi pula salah satu orang kepercayaanmu sudah terang-terangan menggunakan identitasku. Sebagai orang kepercayaanmu, harusnya dia menggunakan identitasmu kan?” Maximo menantang William dengan berani.


Mata William membulat kesal, ia mengeram marah dalam hatinya. Tetapi satu detik kemudian laki-laki itu tersenyum. “Laki-laki itu memang orang kepercayaanku, tapi dia menggunakan identitasmu. Seandainya kamu tidak membunuhnya, maka aku yang akan membunuhnya.” William tidak mau kalah.


Maximo hanya terkekeh dan menaruh gelas kosongnya di atas meja. “Siapapun yang ingin mengikuti sayembara ini, aku memberi kalian waktu satu minggu. Bawa laki-laki itu dalam keadaan hidup kehadapanku dan aku akan memenuhi janjiku untuk memberikan sebagian besar harta peninggalan ayahku juga memberikan nama Maximo Cortez pada siapapun pemenangnya..” Maximo berujar dengan berani dan orang-orang itu langsung riuh. Mereka terlihat sangat berminat dengan tawaran Maximo.


Melihat antusias para tetamu, Maximo tersenyum lega. “Pestaku sudah selesai, aku permisi,” pamit Maximo seraya mengangguk sopan.


William tidak menimpali dan membiarkan Maximo pergi begitu saja sambil menggenggam tangan Samantha yang ikut melewatinya. Ia masih berpikir untuk apa Maximo mencari pembunuh ayahnya sementara Cortez meninggal secara wajar karena penyakitnya. Entah konspirasi apa yang sedang disiapkan laki-laki muda itu.


“Kenapa papah? Aku sedang berusaha mendekati Maximo, kenapa papah melarangku?” Crystal tidak terima.


“Maximo sedang curiga pada kita, jaga sikapmu untuk sementara.” Hanya itu yang William pesankan sekali lalu ia termenung memikirkan apa yang direncanakan Maximo.


"Ck!" Crystal berdecik sebal sambil menilangkan tangannya di depan dada. Menyebalkan sekali pikirnya.


****

__ADS_1


“Kenapa kamu menawarkan sayembara ini? Bukankah kita tahu kalau Gerald sudah meninggal?” Samantha masih tidak mengerti dengan yang dipikirkan Maximo.


Saat ini mereka dalam perjalanan pulang dan melewati hutan pinus yang berjejer sepanjang jalan. Langit tampak cukup cerah dengan cahaya rembulan yang tertutup dedaunnya lurus dan kaku itu. Bulannya lentera malam itu seolah berada di ujung pohon cemara yang sesekali bergoyang terkena angin.


“Aku sengaja melakukannya. Karena, orang yang sudah membunuh Gerald pasti akan kebingungan untuk mencari Gerald. Tapi seperti yang kita lihat tadi, mereka tampak antusias mengikuti sayembara ini. Yang berarti, kemungkinan besar sembilan puluh sembilan persen dari tamu yang hadir bukan pembunuh Gerald. Itu artinya, ada pihak lain yang menuduhku melakukan hal ini,” terang Maximo dengan penuh keyakinan.


Samantha menatap Maximo dengan tidak percaya, ternyata laki-laki ini memang sengaja memberikan misi yang mustahil pada orang-orang itu hanya untuk mengacaukan pikiran dan menyibukkan mereka dengan sesuatu yang tidak mungkin.


“Aku tau kamu mengagumiku, Sam,” komentar Maximo dengan senyum tipis yang laki-laki itu tunjukkan pada wanitanya. Ia sadar Samantha sedang memandanginya dengan lekat.


“Ya, kamu sangat mengagumkan.” Samantha menimpalinya dengan serius. Ia hendak mengecup pipi Maximo tetapi ternyata laki-laki itu malah menoleh. Bibr Maximo lah yang akhirnya Samantha kecup. Mereka berpagutan pelan penuh perasaan, sementara mobil tetap melaju. Akan tetapi semakin lama lajunya semakin melambat membuat Samantha menghentikan pagutannya dengan Maximo.


“Ada apa? Kenapa kita berhenti di tengah hutan seperti ini?” Samantha menatap Maximo dengan khawatir.


Laki-laki itu tidak menjawab, ia malah memandangi kakinya yang berada di atas pedal gas. “Kakiku lemas, Sam.” Suara Maximo terdengar pelan. Laki-laki itu juga memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing berputar.


“Hey, ada apa denganmu?” Samantha segera memegangi tangan Maximo.


Laki-laki itu tidak merespon, tangannya terkulai lemah, hanya bola matanya saja yang masih terbuka dan berkedip lemah. Ia ingin berbicara, tetapi otot ditubuhnya terasa begitu kaku untuk digerakan. Ia juga ingin mengangkat tangan dan kakinya, tetapi terasa sangat berat.


“Hey Max, jangan bercanda denganku. Max!” panggil Samantha sambil mengguncangkan tubuh Maximo. Mobil itu benar-benar berhenti dan hanya mesin dan lampunya saja yang masi menyala.


Tubuh Maximo malah terkulai lemah di pangkuan Samantha, tidak ada tenaga sedikitpun yang menahan tubuh itu agar tidak rubuh dan sekarang menindih tubuh mungil Samantha.

__ADS_1


“Astaga!” Samantha mendadak lemas melihat kondisi Maximo yang seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki ini?


****


__ADS_2