
Ditempat berbeda, Maximo baru selesai menaklukan sebuah tebing yang menjadi rivalnya siang ini. Pikirannya yang tidak menentu tentang Samantha, memerlukan pengalihan. Ia sengaja melakukan olahraga panjat tebing, salah satu olahraga extreme yang ia sukai selain skydiving. Laki-laki ini memang menyukai olahraga yang menantang adrenalinnya.
Hanya mengenakan baju tipis dan celana pendek yang melekat ditubuhnya, Maximo tampak terengah, merasakan lelah. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya yag atletis, membuat baju tipis itu melekat sempurna ditubuhnya, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan membentu tubuhnya yang s3ksi.
Wajahnya terlihat merah dengan rambut yang basah karena keringat. Sambil berjalan ia melepas tali pengikat ditubuhnya juga sarung tangan yang ia pergunakan sebagai alas berpegangan. Tangannya sudah merah-merah karena mencengkram batu tumpuan kuat-kuat. Sepertinya darah baru mengalir kembali mengisi orang ekstremitasnya.
Paul yang setia menemani tuannya, memberikan sebotol minum pada Maximo. Laki-laki itu menerimanya dan membuka penutup botol dengan satu tangan saja sambil memandangi tebing yang berhasil ia taklukan. “Cari pria bernama Gerald untukku.” Perintah itu yang tiba-tiba Maximo berikan pada orang kepercayaannya.
“Gerald?” Paul mengulang nama itu dan Maximo tampak mengangguk.
“Dia pengganggu. Aku harus tau siapa pria itu sebenarnya.” Maximo duduk si salah satu bangku dengan kaki yang berselonjor lurus sambil melihat kesekelilingnya.
__ADS_1
“Gerald siapa yang tuan maksudkan? Apa seorang mafia?” Paul mengerucutkan perintah Maximo. Nama Gerald di seluruh Los Angeles tentu tidak hanya ada satu. Terlebih belum tentu laki-laki tu berasal dari Los Angeles. Bisa saja ia datang dari negara atau kota lain. Petunjuk yang ia punya tidaklah cukup.
“Tugasmu untuk mencari tahu itu.” Maximo enggan untuk berpikir karena separuh pikirannya sudah terisi oleh Samantha.
Paul mengangguk paham, sepertinya Maximo tidak tahu apa-apa tentang pria itu selain nama tanpa marga. “Mohon maaf tuan, dengan siapa pria itu terhubung? Apa tuan pernah bertemu dengannya?” Paul tidak memiliki pilihan lain selain bertanya ada Maximo.
“Dia mengganggu Samantha. Tapi sepertinya laki-laki itu sudah mati. Sial! Mana mungkin aku harus berhadapan dengan orang mati? Terlebih dia bagian hidup Samantha yang memberinya kesan mendalam.” Maximo kesal sendiri saat mengingat bagaimana lembutnya len9uhan Samanta saat menyebut nama tersebut.
Paul mulai paham, rupanya yang membuat Maximo seharian ini kesal adalah karena seorang laki-laki bernama Gerald itu.
Sambil menunggu Paul, Maximo mengecek kamera CCTV yang ada dirumahnya. Ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan Samantha. Tangannya dengan lincah memeriksa setiap titik kamera CCTV yang terpasang. Kamera pertama yang ia periksa adalah kamera di kamar Samantha. Ia tidak melihat geliat Samantha di ruang itu. Lantas ia berpindah ke ruangan yang lain, tetapi Samantha masih belum terlihat.
__ADS_1
“Kemana perginya wanita itu?” Maximo mulai kesal bercampur khawatir karena sudah enam ruangan yang ia periksa tetapi Samantha belum terlihat. Ia memutuskan untuk memeriksa CCTV luar rumah, khawatir Samantha kabur karena tidak ada penjagaan.
Seketika, senyumnya langsung terbit saat ia melihat Samantha sedang berenang di kolam renang. Bayangan tubuhnya terlihat dibawah air kolam yang kebiruan lagi jernih. Kakinya terlihat samar bergerak di dalam air, menciptakan buih air yang hanya sedkit.
Maximo memperbesar gambarnya, sedikit pecah tetapi bayangan Samantha terlihat jelas. Pemandangan yang menarik karena bisa melihat sosok Samantha yang penuh misteri itu berbaring di bangku depan kolam renang sambil berjemur. Sesi berenangnya sudah selesai dan masih mengenakan b1kini. Sesekali Wanita itu meneguk minumannya kemudian memejamkan mata seperti ingin tertidur.
“Bodoh, bagaimana kalau dia terkena flu? Ini menjelang musim dingin dan dia hanya mengenakan pakaian yang minim.” Maximo mulai khawatir. Ia juga melhat para penjaga memperhatikan nona muda mereka.
“Kita pulang!” titahnya seraya beranjak dari tempatnya. Kesal melihat Samantha menjadi tintonan para pegawainya.
“Baik tuan.” Paul hanya bisa patuh. Padahal ia baru saja memulai pencariannya untuk seorang laki-laki yang bernama Gerald itu.
__ADS_1
"Ada dua ribu enam ratus Gerld yang ada di Los Angeles. Gerald mana yang tuan maksudkan?" Paul bergumam sendiri, kesal pada tngkah nona mudanya yang berhasil mengikat leher tuan besarnya.
****