
Samantha yang mulai mabuk, mencoba merambat naik menuju ruangan Maximo. Ia berpegangan pada pinggiran tangga, mencoba memijak anak tangga yang lebih tinggi dan sesekali sersandung. Keseimbangannya mulai berkurang karena ia minum cukup banyak. Penglihatannya mulai samar seolah laki-laki di club ini adalah gerald.
“Gila, apa aku sangat merindukannya, sampai semua wajah yang kulihat adalah wajah Gerald?” Samantha mengusap wajahnya dengan kasar, juga rambutnya yang mulai berantakan dan bercampur keringat. Langkahnya terseok-seok nyaris jatuh. Orang-orang memperhatikannya dan tersenyum dengan maksud yang entah.
Suara dentuman musik membuat kepalanya semakin pusing berputar, juga nyala lampu disko yang sering kali berwarna kemerahan yang membuat matanya silau, semakin menyulitkan Samantha untuk tiba diruangan Maximo.
"Biar saya bantu nona." Seorang pengawal mendekat pada Samantha dan hendak membantunya berjalan. Tetapi samantha mengibaskannya.
"Jangan sentuh aku, Maximo bisa menembakmu." Baru kali ini ia sadar kalau ia bisa menjadi penyebab kematian seseorang hanya karena orang itu mendekatinya.
Pengawal itu kembali mundur, menjaga jaraknya dari Samantha. Walau gadis itu hampir jatuh, mereka hanya bisa berjaga-jaga dan memandanginya. Ia tidak mau mencari masalah dan menjadi sasaran timah panas dari tuan besarnya.
Tiba didepan pintu, Samantha langsung mendorong pintu itu. "AW!" Seorang wanita berteriak kaget. Wanita itu tidak mengenakan pakaiannya sehabis mempertontonkan sekujur tubuhnya yang mulus dihadapan Maximo dan Paul. "Siapa wanita ini?" Wanita itu menatap Samantha dengan kaget.
"Jangan pedulikan aku, aku hanya wanita mabuk. Lanjutkan saja urusanmu." Samantha tersenyum kecil pada wanita itu. "Aku tidak yakin kalau Maximo akan suka, ukuran dadamu terlalu kecil." Sempat-sempatnya gadis mabuk itu menggerutu dan tersenyum sinis. Ia berusaha berdiri tegak dan melanjutkan langkahnya. Tidak lupa ia melambaikan tangan pada Maximo dan Paul.
"Siap wanita itu, kenapa berani sekali menerobos masuk dan menghinaku?" Wanita itu rupanya tidak terima. Ia menatap Maximo dan Paul bergantian.
__ADS_1
Maximo memilih tidak menjawab. "Pakai pakaianmu dan pergilah." Pria dingin itu beranjak dari tempatnya dan menyusul Samantha masuk.
"Sial, dia benar-benar menghinaku. Kalian beritahu pada wanita itu kalau aku akan menghancurkannya setelah aku bertemu dengan tuan Maximo." Sempat-sempatnya wanita itu mengancam. Belum puas hatinya kalau belum mengumpati Samantha dan membayangkan gadis itu dihabisi oleh Maximo yang ada dikepalanya. Ia tidak tahu siapa yang sedang ia hadapi saat ini.
Mendengar kalimat melantur dari wanita itu, membuat Paul kesal pada wanita ini. "Pergilah!" titahnya. Ia tidak mau Maximo mendengar lebih banyak lagi makian dari mulit wanita ini untuk Samantha.
"Brengsek!" Dengan kesal wanita itu memakai kembali pakaiannya dan keluar dari ruangan Maximo. Ia sudah senang karena orang kepercayaan Maximo mau menemuinya, tetapi ternyata hanya hinaan yang ia dapatkan.
Menyusul Samantha ke dalam ruangannya dan ia mendapati Samantha sedang membaringkan tubuhnya di sofa. Gadis itu terlihat sangat berantakan. Tubuhnya berkeringat dan rambutnya menutupi sebagian wajahnya.
“Jangan tidur disini Sam, badanmu bisa sakit.” Ucap Maximo dengan penuh kekhawatiran. Maximo mengambil tangan Samantha dan melingkarkannya dileher. Ia hendak memindahkan Samantha ke atas tempat tidur yang biasa ia gunakan untukk beristirahat saat ingin menginap di club. Ruangan ini layaknya ruang perinstirahatan bagi raja sang penguasa club.
“Jangan menyentuhku.” Tiba-tiba saja samantha bersuara. Matanya yang semula terpejam kini terbuka dan sedikit memincing. Gadis itu masih berada di bawah pengaruh minuman beralkohol. Walau tidak sepenuhnya mabuk, kepalanya cukup pusing dan tubuhnya sangat lemas hingga tidak bisa bangkit.
“Kamu tidak tidur?” Maximo cukup terkejut. Ia pikir samantha sudah kalah dengan whisky yang tadi diteguknya dengan bebas.
“Apa urusanmu sudah selesai?” Dengar, dia balik bertanya. Lihat juga, wajah gadis ini yang tampak kesal. “Apa menyenangkan melihat tubuh para gadis seperti itu? Kenapa tidak kamu tiduri sekalian?” Kekesalannya semakin bertambah dan terlihat jelas.
__ADS_1
Maximo malah tersenyum. Ia duduk dilantai disamping sofa yang ditiduri Samantha. “Kamu cemburu?” tanya pria itu dengan perasaan berdebar. Rasanya sangat manis saat melihat Samantha yang memprotes sikapnya dengan cara seperti ini.
“Untuk apa aku cemburu? Kamu sudah melakukan hal itu sejak dulu, sebelum aku mengenalmu. Yang berarti itu sudah menjadi kebiasaan. Aku tidak cemburu pada kebiasaan seseorang karena aku tau, aku tidak akan bisa merubahnya. Hanya dia sendiri yang bisa merubahnya.” Kalimat Samantha cukup panjang untuk seseorang yang sedang mabuk.
“Penjelasanmu sangat masuk akal, tapi itu membuatku kecewa.” Maximo menatap Samantha dengan lekat. Diusapnya kepala Samantha dengan lembut dan lagi, Samantha mengibaskan tangan itu.
“Aku tidak suka tangan bekas menyentuh orang lain, menyentuhku. Entah berapa tubuh yang kamu sentuh selama aku berada dibawah dan itu menjijikan.” Ucapan Samantha terdengar penuh kekesalan. Sepertinya kalimat yang mengatakan kalau ia tidak cemburu, itu bohong.
“Aku tidak menyentuh mereka. Tidak ada satupun yang aku sentuh.” Tiba-tiba saja Maximo berbicara dengan serius.
“Ck! Pikirmu aku percaya?” Samantha tersenyum sinis dan memilih membalik tubuhnya membelakangi Maximo.
Maximo mengangguk paham, gadis ini sepertinya memang kesal meski mengingkarinya. Ia bertekad untuk menjelaskan semuanya meski Samantha tidak ingin mendengarnya. Sambil memandangi tengkuk Samantha yang tidak terhalang rambut hitamnya.
****
__ADS_1