Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Menyelamatkan


__ADS_3

Samantha benar-benar menahan napasnya saat dua orang agent itu mendekat pada lemari tempat ia bersembunyi. Satu orang agent begitu penasaran ingin membuka lemari itu. Dia sangat yakin kalau seseorang bersembunyi di dalam lemari itu.


Pelan-pelan dia menarik handle pintu lemari membuat lemari besi itu berderit karena usang dan karatan. Samantha semakin tidak karuan, khawatir laki-laki itu kemudian memeriksa bagian belakang lemari. Dia sudah bersiap dengan senjatanya, jika sewaktu-waktu laki-laki itu menyerangnya. Laki-laki itu memeriksa isi lemari dan ternyata isinya hanya buku-buku tua yang nyaris habis dimakan rayap. Beberapa buku berjatuhan dari dalam lemari dan ia menyingkirkannya dengan kaki.


Selesai dengan buku-buku itu, laki-laki itu pun menutup kembali pintu lemari hingga rapat. Dia berjalan ke samping lemari, hendak memeriksa ruang kosong di belakang lemari. Samantha melihat bayangan  laki-laki itu yang semakin mendekat.


“Hey!” panggil salah satu temannya. Laki-laki itu segera menoleh.


“Ada apa?” Samantha menghembuskan napas lega syukurlah dia terselamatkan. Terlihat jelas bayangan laki-laki itu yang mulai menjauh darinya. Laki-laki berpostur tinggi itu menggampiri temannya yang sedang memperhatikan layar monitor di hadapan mereka.


“Lihat, di layar monitor utama tidak ada sudut-sudut ruangan yang ini, mengapa bisa beda? Apa ada yang disembunyikan oleh Alicia?” tanya salah satu agent. Rupanya mereka tetap beranggapan kalau Alicia lah yang melakukan semua ini.


“Iya, beberapa titik CCTV terlihat asing. Sepertinya kita harus segera memberitahu Wilson.”


“Richard sudah memberitahunya, kalau ada wanita itu di markas kita. Dia bilang, dia akan segera kembali.”


“Kalau begitu, aku akan melaporkan keberadaan tempat ini.” Satu laki-laki segera menyalakan handy talky yang menggantung di pinggangnya. Samantha segera waspada, dia berpikir kalau laki-laki ini sampai menghubungi teman-temannya, maka para agent akan datang ke tempat ini dan Samantha akan semakin sulit keluar dari ruangan ini. Tanpa menungu lama, Samantha segera keluar dari tempat persembunyiannya.


DOR! Satu peluru ditembakkan Samantha pada laki-laki yang hendak menghubungi teman-temannya.


“Akh!” Laki-laki itu mengaduh saat tangannya tertembak hingga handy talky di tangannya terjatuh. Hanya satu tembakan karena peluru Samantha habis.


“Sial!” seru satu agent lainnya yang segera menyerang Samantha. Dia memukul Samantha dengan tangan kosong dan Samantha segera menghindari pukulan itu. Dia membalasnya dengan beberapa pukulan di tangan pria itu agar senjatanya jatuh.

__ADS_1


Samantha menendang senjata yang jatuh lalu berguling untuk mengambil senjata itu dan bergegas bangkit sambil menodongkan senjata pada dua lawannya. Satu timah panas dia tembakan pada kaki pria itu hingga satu kaki laki-laki itu terpaksa bertekuk lutut. Tidak sampai di sana, Samantha menambahkan sebuah tendangan yang tidak ringan dan mengenai dada laki-laki itu hingga jatuh terjungkal.


Pria yang sudah tertembak tangannya, balas menyerang Samantha, menendang punggung Samantha hingga wanita itu terhuyung. Satu tangan Samantha masih berhasil menahan tubuhnya di lantai hingga tidak benar-benar terjatuh. Dia berusaha untuk bangkit dan mereka saling menodongkan senjatanya masing-masing.


“Menyerahlah, kamu hanya sendiri Samantha,” ucap salah satu agent.


“Menyerah? Tidak ada di kamusku,” timpal Samantha seraya menyeringai pada dua pria itu. Dengan gerakan yang cepat, Samantha berlari ke arah salah satu pria, menedang tangan laki-laki itu dan menggunakannya sebagai tolakan hingga membuat tubuh Samantha melayang di udara lalu berbalik untuk menendang tubuh pria satunya.


Untuk beberapa detik dua laki-laki itu terkesima di waktu yang salah karena gerakan lincah yang dibuat Samantha itu mengagumkan dan menyakitkan. Di atas sana, Samantha menembakkan dua buah peluru ke pucuk kepala dua orang tersebut.


Dor! Dor!


Suara tambakan yang beruntun itu berhasil melumpuhkan dua laki-laki tersebut hingga jatuh di lantai dalam kondisi berlumuran darah dari kepala dan tidak bernyawa. Dua agent itu berhasil dilumpuhkan. Tidak lama, terdengar suara derap kaki yang menaiki anak tangga menuju asal suara tembakan.


“Sial! Dia naik ke mencusuar!” seru salah satu agent yang baru tiba. Pengalihan Samantha berhasil, mereka segera menekan-nekan tombol lift untuk mengejar Samantha, sayangnya lift sudah terlanjur berjalan. Beberapa agent memeriksa ruangan itu, entah apa yang mereka pikirkan melihat kondisi di dalam ruangan tersebut. Dua agent itu sudah tidak tertolong dan satu agent lainnya menangkap bayangan Samantha tengah berada di basement.


“Dia ada di basement!” seru salah satu agent dan segera menuju tangga untuk mengejar Samantha.


Dengan senjata di tangannya, Samantha menembaki beberapa kamera CCTV, juga tombol lift hingga mati. Beberapa orang agent yang menyusulnya, terpaksa harus terjebak di dalam lift. Samantha segera masuk ke dalam sebuah ruangan, tempat dimana terdapat sebuah tangga menuju ruang bawah tanah.


Samantha mengendap-endap menyisir tempat itu dan tidak lama ia melihat sesosok tubuh tergantung di seutas tali dengan posisi kedua tangan yang terikat kuat.


“Alice?” panggil Samantha.

__ADS_1


Suara Samantha membuat wanita yang setengah sadar dan lemah itu membuka matanya. Samar-samar ia melihat bayangan seorang wanita mendekat padanya.


“Sam,” suara Alicia sangat pelan nyaris tidak terdengar.


Samantha bergegas menghampiri wanita itu. Menembaki tali hingga putus dan tubuh Alicia jatuh. Samantha segera menyanganya agar tidak rubuh.


“Astaga, bertahanlah Alice?” Samantha berusaha melepas tali pengikat di tangan dan kaki Alicia. Alicia yang sangat lemah hanya bisa terdiam dan memandangi Samantha yang tidak di duga datang untuk menyelamatkannya.


“Alice, dengar aku,” Samantha menangkup wajah Alicia dan menatapnya dengan tajam. Sepasang mata itu nyaris tenggelam karena lemah menahan banyak kesakitan di tubuhnya. Wajahnya dipenuhi luka menganga.


“Kamu harus bertahan, kuatkan kakimu karena kita harus keluar dari tempat ini. Setelah itu, kita akan membalas orang-orang yang sudah melakukan ini terhadapmu.” Dengan suara tegas dan penuh penekanan, Samantha berusaha menyemangati Wanita ini.


Alicia hanya mengangguk, tubuhnya merinding mendengar ucapan Samantha dengan sorot matanya yang tajam. Ia pikir, ia akan mati sendirian di tempat ini, nyatanya wanita ini datang di waktu yang tepat.


“Baiklah, ayo bangun! Kita tidak punya banyak waktu.” Samantha segera mengalungkan tangan Alicia di bahunya lalu membantu Wanita itu untuk bangkit.


Pelan-pelan, kaki gemetar Alicia bisa menapak di tanah. Ia berjalan tertatih-tatih berusaha mengimbangi langkah kaki Samantha yang panjang dan cepat. Samantha memang setengah menyeret tubuh wanita ini karena ia tidak punya banyak waktu.


“Naiklah!” Samantha menyuruh Alicia untuk menaiki anak tangga terlebih dahulu. Ada sekitar empat belas anak tangga yang dilalui Alicia dengan susah payah. Samantha segera menyusulnya dan mereka mulai bisa keluar dari ruangan itu dan melihat lagi cahaya matahari. Mata Alicia memincing berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk. Beberapa hari di sekap di ruangan yang gelap membuatnya asing dengan cahaya terang itu.


“Cari mereka di sekitar sini!” suara perintah itu adalah milik Richard.


“Sial!” dengus Samantha saat sadar kalau ia mungkin sudah di kepung oleh Richard dan timnya. Bisakah ia melarikan diri dari tempat ini?

__ADS_1


****


__ADS_2