
“Aku tidak tahu kalau kamu punya teman, Sam. Sejak kapan kamu mengenal temanmu itu?” Pertanyaan itu dilontarkan oleh Maximo dalam perjalanan pulang. Suara laki-laki itu mengusik pikiran Samantha yang sedang tidak karuan, memikirkan apa Alicia berhasil menemukan obat itu atau tidak.
“Hey, Sam,” panggil Maximo, saat Samantha masih dengan pikirannya yang kosong sambil memandangi pemandangan jalanan di balik jendela sana.
“Tidak semua hal perlu kamu tau, bukan?” Samantha mulai tersadar dan pikiran tentang Gerald pun hilang dari benaknya. Ia menegakkan tubuhnya lantas menoleh pada Maximo.
“Tapi tau lebih banyak sepertinya akan lebih baik.” Dengan satu tangan Maximo menarik pinggang Samantha untuk mendekat padanya.
“Baik untuk siapa? Untukmu?” Samantha tersenyum sinis. Ia juga mendorong Maximo menjauh darinya.
Maximo memandangi Samantha beberapa saat lantas tersenyum tipis. Tangannya menngusap pelan dagu dan bibirnya sendiri dengan telunjuk tanpa melepaskan pandangannya dari sosok wanita cantik yang selalu membuatnya penasaran.
“Aku pikir, kamu sudah tidak marah karena sudah berani menciumku di depan banyak orang. Kamu seperti sangat taku aku melirik temanmu.” Maximo tetap berusaha berbicara dengan Samantha meski gadis itu terlihat enggan.
"Eveline tidak akan tertarik padamu." Samantha berujar dengan sinis.
"Eveline? Bukankah namanya Irene?" Maximo mengerutkan dahinya heran. Diwaktu yang bersamaan Samantha terhenyak mendengar pertanyaan Maximo.
"Ya, dia memiliki kembaran namanya Eveline dan aku memang sering keliru memanggil namanya." Bisa saja Samantha beralasan, padahal ia memang lupa nama yang ia berikan pada Alicia beberapa saat lalu.
Maximo mengangguk pelan dan membuat samantha waspada. Ia sangat takut kalau Maximo curiga terhadapnya.
“Jangan membahas mereka lagi Max, aku tidak suka membicarakan wanita lain.” Samantha bersidekap dengan sikapnya yang acuh.
“Okey, kita akna berhenti membahas Eveline dan Irene. Aku lebih tertarik untuk membahas alasan kemarahanmu?” pria itu bergeser mendekat pada Samantha. Menelusur lengan kanan Samantha dengan jari telunjuknya dan kemudian ia usap dengan lembut.
__ADS_1
Samantha menoleh sebentar lalu kemudian mendengus. Benar-benar masih kesal rupanya.
“Lain kali, gunakan pelindung saat akan meniduriku. Aku tidak mau kalau harus menggugurkan janin dalam kandunganku akibat ulah adikmu yang brutal itu.” Samantha melirik sinis adik Maximo yang ada di bawah perutnya.
“Heemm, adikku memang sangat brutal dan aku rasa dia menyukainya." Maximo menurunkan tangannya untuk mengusap perut Samantha dan terus ke bawah.
"Max! Aku tidak sedang bercanda." Samantha langsung meradang.
"Okey, aku minta maaf." Maximo segera mengangkat tangannya dan urung mengusap area sensitive wanitanya. "Memangnya kenapa janin dirahimmu harus digugurkan?” Maximo mentautkan sepasang alisnya yang tebal lagi rapi. Ia penasaran dengan alasan Samantha.
“Karena aku tidak mau dia bingung saat orang-orang meragukan siapa ayah biologisnya.” Suara Samantha terdengar meninggi.
“Mengapa harus ragu? Bukankah kamu sendiri tahu dengan siapa kamu membuat anak itu? Itu sudah lebih dari cukup, Sam.” Maximo terlihat santai saja dengan kalimatnya.
Maximo tidak menimpali, ia memilih memandangi Samantha yang terlihat serius dengan ucapannya.
“Kamu ingin kita menikah?” Maximo bertanya dengan tegas. Ia mengunci sepasang mata yang gusar itu.
“Aku tidak memaksa.” Samantha segera menimpali. Ia memalingkan wajahnya dari Maximo. Tatapan Maximo membuatnya merinding dan seolah melihat masa depan yang indah dengan laki-laki yang kerap membuat jantungnya berdebar kencang.
“Paling tidak, gunakan pelindung itu agar cairan milikmu tidak berkembang biak di dalam rahimku. Semua itu perlu dilakukan agar tidak menyulitkan siapapun.” Alih-alih terdengar sebagai solusi, jawaban Samantha lebih terdengar sebagai sebuah keputusasaan.
Maximo tidak lagi menimpali. Ia memilih duduk dengan tegak dan memandangi ke depan sana. Jalanan gelap menembus hutan sedang mereka lalui seperti gelapnya masa depan yang tidak bisa ia tebak kelanjutannya seperti apa.
Dalam benak Samantha, mungkin sebuah keluarga itu indah. Tetapi untuk seorang Maximo, keluarga itu penuh darah dan air mata. Mereka sama-sama dibesarkan di panti asuhan walau dalam kurun waktu yang berbeda, tetapi bagi Maximo memiliki keluarga tidak menjamin hidupnya tenang dan bahagia.
__ADS_1
Tidak adanya respon dari Maximo, membuat Samantha sedikit kecewa. Sepertinya seorang mafia seperti Maximo memang tidak pernah memikirkan adanya sebuah keluarga. Bukan keturunan yang mereka inginkan melainkan hanya penerus yang ia butuhkan. Karena baginya semua hanya tertang permainan dan kesenangan beberapa saat saja dan bisa ia tinggalkan jika kelak ia bosan.
Di tengah pergulatan pikiran itu, tiba-tiba terdengar suara ban mobil yang pecah dan membuat mobil mereka oleng.
“Ada apa?” tanya Maximo saat Paul terlihat kesulitan mengatur kemudi mobilnya.
“Seseorang sepertinya menembak mobil kita, tuan.” Ujar Paul. Laki-laki itu terus berusaha mengemudikan mobilnya walau tetap tidak stabil.
Maximo segera mengeluarkan senjatanya dan tidak lama, suara tembakan kedua terdengar dan mengenai body mobil bagian depan. Percikannya jelas terlihat.
“Kemarilah!” Maximo menarik tangan Samantha dan segera ia peluk untuk melindungi wanita itu. Samantha ikut waspada melihat ke sekitarnya. Saat ini mereka sudah memasuki hutan. Jendela yang biasanya tertutup sekarang dibiarkan terbuka.
“Dari mana arah tembakannya, Paul?” Maximo masih dengan kewaspadaannya yang tinggi.
“Dari, akh!” Tiba-tiba saja Paul mengaduh saat timah panas menembus kaca mobil hingga pecah dan berlanjut menembus lengan kanannya. Lengan kanan Paul meneteskan darah segar, tetapi laki-laki itu masih tetap dengan usahanya mengendalikan laju mobilnya.
“Berhenti di depan Paul!” seru Maximo yang semakin waspada.
“Ba-baik tuan.” Paul segera menepikan mobilnya di tengah hutan yang sepi sambil meringis menahan sakit
Beberapa saat tidak terdengar lagi suara tembakan. Maximo memejamkan matanya dan memfokuskan pikirannya. Suara mesin yang sudah mati membuat ia bisa mendengar suara alam yang hening ini. Suara binatang malam pun ikut senyap.
“MERUNDUK!” seru Maximo seraya mendorong tubuh Paul hingga menunduk. Ia juga melindungi kepala Samantha yang ada dalam pelukannya.
*****
__ADS_1