Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Tamu


__ADS_3

Gudang itu menjadi tempat yang di tuju Wilson untuk menyiksa Gerald. Ia mengikat tangan Gerald pada sebuah tiang lalu memukuli pria itu denga sebilah balok hingga babak belur. Gerald yang berada di bawah pengaruh obat-obatan, tidak bisa melawan perlakuan Wilson. Ia masih belum sadarkan diri sepenuhnya. Wilson benar-benar puas menghajar Gerald dan menumpahkan semua kemarahannya.


Sekali waktu Wilson menyiram tubuh Gerald dengan oli untuk menyadarkan laki-laki itu. Tubuh Gerald dipenuhi oli dan matanya perlahan membuka. Rupanya laki-laki itu mulai tersadar. Ia menatap Wilson dengan penuh kemarahan.


“Katakan padaku, berapa kode kedua yang kamu dapatkan?” Wilson langsung bertanya. Ia menodongkan senjatanya ke dagu Gerald.


“Hahaha….” Gerald malah tertawa lirih. Laki-laki itu juga sengaja menyemburkan oli yang  masuk ke mulutnya, pada Wilson.


“Brengsek!” Wilson yang tidak terima memukul kepala Gerald dengan ujung senjatanya. Laki-laki itu sempat terhuyung karena rasa sakit di kepalanya, tetapi ikatan yang kuat di tangannya membuat ia hanya bergelantungan lemah.


“Cepat katakan, atau aku akan membunuhmu!” Wilson kembali mengancam, tetapi Gerald masih dengan senyumnya tanpa rasa takut.


“Kamu tidak akan membunuhku Wilson, karena kamu membutuhkanku.” Gerald berujar dengan penuh percaya diri.


“Brengsek!” merasa di tantang, Wilson kembali memukul wajah Gerald dengan kepalan tangannya. Wajah pria itu berpaling dan membuat sudut bibirnya kembali terluka. Tetapi Gerald tetapi tersenyum, menertawakan emosi Wilson yang menggebu-gebu. Wilson yang naik pitam, menodongkan senjata itu ke kepala Gerald.


“Aku masih memberimu kesempatan. Sebutkan kode itu, maka aku akan melepaskanmu dan menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi. Tapi, kalau kamu masih bersikeras, aku tidak segan untuk membunuhmu.” Wilson kembali memberi ancaman.


“Memberitahumu? TIDAK AKAN PERNAH!!!” Gerald berteriak pada Wilson lalu tertawa tingan hingga bahunya bergerakk naik turun. Ia bersikukuh tidak mau memberitahukan kode itu. Baginya Wilson hanya memanfaatkannya untuk tujuan pribadinya. Baik ia memberikan atau pun tidak kode tersebut, pada akhirnya Wilson akan tetap membunuhnya.


“SIAL!”


Dor!


Wilson yang gelap mata, akhirnya terpaksa menembak Gerald di dada kirinya. Laki-laki itu terkulai lemah dengan kepala yang tidak lagi tegak. Wilson panik karena ia tidak menyangka kalau ia akan membunuh Gerald seperti ini. Usahanya hanya untuk menakut-nakuti Gerald ternyata berujung dengan tembakan yang menghilangkan nyawa pria tinggi tersebut.


Dalam kepanikannya, Wilson membuat siasat seolah Gerald dibunuh oleh Maximo. Ia menyayat beberapa bagian tubuh Gerald lalu menyandarkan tubuh pria itu di antara tong oli. Ia memeriksa semua saku Gerald untuk mencari kode itu dan ternyata tidak ditemukan apapun. Hanya ada foto Maximo dan kedua adiknya yang selalu Gerald bawa kemanapun. Sayangya foto itu pun tidak utuh. Sebuah rekayasa ia susun dengan baik, termasuk memberitahu Alicia bahwa Gerald meninggal di tangan Maximo.


“Kamu brengsek Wilson, kamu berngsek!” Makian itu yang kemudian Wilson dapatkan setelah menceritakan hal itu pada Alicia. Gadis yang sudah lemah itu berusaha bangkit dan memegangi kaki Wilson. Kakinya yang tajam seperti ini mencabik kaki kekar pria itu. Tetapi dengan mudah Wilson menendang Alicia hingga jatuh terjengkang.


“Jangan macam-macam Alice, aku bisa membuatmu berakhir seperti Gerald. Jadi sebaiknya, mulai sekarang, kamu patuh pada perintahku,” ucap Wilson seraya menodongkan senjatanya pada Alicia.


Alicia hanya bisa mendengus kesal. Dadanya panas dipenuhi kemarahan. Wilson telah membuka topeng aslinya dan terang-terangan mengakui bahwa ia yang membunuh laki-laki yang sangat ia cintai. Alicia mulai tahu siapa Wilson sebenarnya. Lihat senyumnya yang menyeringai itu, rasanya Alicia ingin merobek mulutnya.


“Jadi, apa pilihanmu? Patuh padaku atau mati menyusul Gerald supaya cinta kalian kekal abadi dan tidak terpisahkan?” tanya Wilson.

__ADS_1


Alicia tidak menjawab, ia hanya menatap Wilson dengan tajam. Sungguh ia sangat membenci pria ini.


****


“Silakan, nona.” Sepiring salad disajikan oleh Nora untuk nona mudanya. Tidak biasanya, gadis itu meminta salad untuk makan siangnya. Wajah gadis itu terlihat masih pucat seperti tanpa tenaga, polesan make up tidak lantas menutupi kondisi kesehatannya.


“Terima kasih, Nora.” Samantha menyahuti dengan lemah.


“Dengan senang hati nona. Apa ada hal lain yang nona perlukan?” Nora menatap Samantha dengan khawatir. Setelah kejadian semalam kondisi Samantha sepertinya tidak terlalu baik.


“Tidak, aku tidak ingin apapun.” Gadis itu menolak. Nora mengangguk sopan dan pamit meninggalkan Samantha bersama tuan besarnya.


“Hey, apa tubuhmu masih sakit?” Maximo ikut khawatir dengan kondisi gadis ini. Ia menggenggam tangan Samantha dengan erat. Gadis itu menggeleng pelan. Sejak pagi tadi Samantha tidak banyak bicara. Maximo bahkan menggendongnya ke kamar mandi saat gadis ini mengatakan ingin buang air kecil. Katanya kakinya sangat lemas.


“Aku baik-baik saja,” akunya. Ia menyuapkan salad ke mulutnya dan mengunyahnya dengan lemah.


“Apa makanan seperti itu cukup untuk mengembalikan tenagamu? Mau pergi jalan-jalan dan mencari makanan kesukaanmu?” Maximo sampai memberi penawaran. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Samantha.


Lagi gadis itu menggeleng dan menunduk sambil memijat-mijat kepalanya yang terasa pusing. Sekilas ia memperhatikan makanan di mangkuk Maximo dan membuatnya menelan salivanya kasar-kasar.


“Kamu makan apa Max?” tanya Samantha tiba-tiba.


“Hem,” Samantha mengangguk pelan.


Maximo segera berpindah duduk ke samping Samantha, membawa serta makanan yang sedang ia nikmati. “Biar aku suapi,” imbuh pria itu.


Samantha pasrah menurut. Ia menikmati satu per satu suapan dari tangan Maximo. Sesekali Maximo mengerjainya dengan menyuapkan sendok itu ke mulut Samantha, namun saat Samantha membuka mulutnya, laki-laki itu malah menciumnya.


“Max, jangan seperti itu. Aku tidak suka baumu.” Samantha langsung mendorong Maximo menjauh.


“Apa? Aku bau?” Maximo langsung berhenti. Ia menghembuskan napasnya di tangannya lalu menciumnya sendiri. Tidak berbau sama sekali, wangi mint seperti biasanya. Ia juga menciumi baju dan tubuhnya, semuanya wangi.


“Sudahlah, aku sudah tidak selera.” Samantha menepis tangan Maximo lantas beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Maximo.


“Sam, mau kemana?” Maximo segera menyusul gadis itu.

__ADS_1


“Aku mau berenang,” keinginannya kali ini sedikit random. Ia merasa kepalanya pusing dan sepertinya akan menyegarkan kalau ia terjun ke kolam yang luas lagi dalam itu.


“Tapi udara cukup dingin Sam, tidak baik untuk kesehatanmu.” Maximo mengikuti langkah Samantha menuju kolam renang.


“Kamu banyak mengaturku Max, aku tidak suka.” Nada suara Samantha terdengar kesal.


“Bukan itu maksudku. Aku mengkhwatirkanmu. Kamu belum pulih sepenuhnya, bagaimana kalau kita pergi ke dokter lagi untuk memastikan kesehatanmu? Kalau baik-baik saja, aku akan menemanimu berenang.” Maximo berusaha membujuk.


Samantha langsung menoleh dan menunjukkan wajahnya yang kesal. Lihat matanya yang menyalak lalu mendelik.


“Baiklah, kamu boleh lakukan apapun, aku akan menemanimu.” Maximo akhirnya pasrah. Tidak kuat kalau sudah melihat wajah dingin Samantha, seperti dunianya akan segera hancur.


“Tumben sekali kamu mau menuruti keinginan seorang wanita, Max?” tanya seseorang.


Samantha dan Maximo kompak menoleh pada kedatangan seseorang yang tidak lain adalah Crystal. Gadis itu tersenyum sinis pada Samantha.


Samantha mendengus kesal, ia merasa seperti seseorang menyerangnya tiba-tiba di waktu yang tidak seharusnya. “Tentu saja dia menurut, karena wanita itu adalah aku.” Samantha yang menimpali. Tidak hanya itu, ia juga menangkup wajah Maximo lalu mencium laki-laki itu dengan rakus dengan tetap menatap sinis pada Crystal. Maximo membalasnya, tentu saja ia menikmati serangan tiba-tiba Samantha.


Crystal langsung memalingkan wajahnya dan tersenyum sinis pada tingkah Samantha yang sengaja memamerkan kemesraannya dengan Maximo. Tingkah Samantha membuat gadis itu mengumpat kesal.


Berhasil membuat wajah Crystal mengukir kesal, Samantha akhirnya melepaskan pagutannya. “Selesaikan urusanmu, aku mau berenang.” Wanita itu menepuk pipi Maximo yang masih ketagihan dengan cumbuannya. Ia menatap sinis pada Crystal sambil melepas dressnya di sana, hanya menyisakan underwe^rnya saja.


Dengan langkahnya yang gemulai, ia menuruni anak tangga untuk masuk ke dalam air. Tidak lama tubuh wanita itupun menyatu dengan air kolam yang dingin. Maximo hanya tersenyum seraya menjilat bibirnya sendiri yang masih menyisakan cita rasa khas bibir Samantha yang menjadi candunya.


“Ada apa?” perhatiannya kini beralih pada Crystal, ia sadar wanita itu sedang memperhatikannya. Maximo menuangkan wyne untuk wanita itu dan wanita itu dengan senang hati menerimanya.


Crystal tersenyum kecil melihat sikap manis Maximo padanya. Ia mencium wangi wyne yang sangat enak dan istimewa menurutnya karena dituangkan oleh laki-laki yang paling ia puja. “Hanya mengunjungimu sebagai seorang teman. Aku merasa hubungan kita semakin buruk sejak terakhir kali kamu datang ke rumahku. Aku ingin memperbaiki itu.” Ucapan Crystal terdengar bersungguh-sungguh.


“Bisa kita berbicara di dalam? Aku tidak terlalu kuat dengan udara dingin seperti ini.” Gadis itu juga pura-pura bergidik sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ini cara yang ia lakukan untuk melulukan Maximo, mencari perhatiannya.


“Masuklah,” Maximo mengiyakan. Ia berpikir, ini saatnya ia menggunakan Crystal untuk mencari tahu apa yang dilakukan oleh William.


Wajah Crystal langsung sumeringah, “Samantha! Aku pergi dulu! Kami harus berbicara empat mata,” seru Crystal pada wanita yang sedang berenang di tepian kolam.


Samantha yang mendengar panggilan Crystal pun memperhatikan dua orang itu. Ia kesal dengan senyum sumeringah wanita itu, terlebih saat Crystal melingkarkan tangannya di lengan Maximo. Acungan jari tengah ia berikan pada wanita itu.

__ADS_1


“Perempuan j^lang!” dengus Samantha yang kembali menenggelamkan dirinya di dalam air kolam. Ia tidak tahu kalau Maximo mengibaskan tangan Crystal yang menurutnya membuat tidak nyaman.


****


__ADS_2