
Sebuah pesta meriah menyambut Samantha dan Maximo yang berjalan bersisian. Samantha melingkarkan tangannya dilengan Maximo, seolah mereka pasangan yang sedang berbahagia dengan pesta yang diadakan oleh Wiliam.
Suara musik rambat mengalun menghangatkan suasana berkelas yang coba diciptakan oleh sang pemilik acara. Tidak banyak orang yang menghadiri acara ini, tetapi sangat jelas mereka adalah sosok-sosok mafia yang ditakuti penduduk Los Angeles.
Paul berjalan dibelakang mereka, tatapannya waspada pada sekeliling tuan besarnya. Walaupun ditempat ini sosok Maximo ditakuti sesama mafia, tetapi tidak sedikit orang yang ingin menaklukan Maximo termasuk sang pemilik pesta, Wiliam.
Laki-laki itu menyambut Maximo dipintu masuk sambil merentangkan tangannya.
“Selamat datang Maximo,” sambut pria itu. Ia terlihat sangat ramah dan akrab. Sesekali pria tua itu melirik Samantha yang digandeng Maximo.
“Terima kasih William. Wah, pestanya sangat ramai, sepertinya kamu merayakan sesuatu yang besar,” timpal Maximo yang takjub dengan pesta meriah ini. Banyak para mafia yang ikut hadir dipesta ini dan saling bertatapan dengan penuh selidik satu sama lain.
“Ya, aku ingin merayakan kepulangan putriku, Crystal. Kamu tentu masih mengingatnya." William berujar dengan banggga.
"Ya, tentu aku maish mengingatnya," aku Maximo.
"Dia sangat ingin bertemu denganmu Maximo. Tapi sebentar, siapa wanita cantik ini? Kamu tidak ingin memperkenalkannya?” perhatian William beralih pada wanita yang berada di sisi kiri Maximo. Tempat terbaik untuk melindungi wanitanya.
“Samantha, wanita terdekat Maximo saat ini.” Samantha mengulurkan tangannya dengan penuh percaya diri.
Saat William menyebut sebuah nama putrinya, hal itu seperti alarm bagi Samantha. Ia tidak mau Maximo tergoda oleh wanita manapun karena takut misinya gagal. Apa jadinya kalau pria ini menganggap wanita bernama Crystal itu lebih cantik dari Samantha? Bukankah Maximo akan dengan mudah melanggar janjinya dan keluar dari permainan?
“Waw, jadi namamu Samantha. Cantik, seperti pemiliknya.” William mengecup tangan Samantha sebagai bentuk penghormatan pada wanita itu. Walau diakhir ia tersenyum pada pikirannya sendiri, ‘Darimana Maximo mendapatkan j4lang yang cukup lumayan ini?’
“Terima kasih tuan. Mana putrimu, sepertinya aku pun harus berkenalan dengannya.” Samantha begitu berani dengan perkataannya, membuat Maximo tersenyum kecil. Ia menganggap ini sebagai langkah emosional seorang wanita saat laki-lakinya terancam direbut oleh wanita lain. Pura-pura berani menghadapi apapun padahal hatinya ketar ketir.
Kira-kira pikiran siapa yang akan terbukti?
“Aku di sini. Apa kabar Maximo?” seorang wanita dengan penampilannya yang menarik menghampiri mereka. Samantha tidak menyangka kalau wanita bernama Crystal ini terlihat lebih tua darinya. Apa mungkin karena riasannya yang terlalu tebal? Lihat, ukuran dadanya lebih besar dari Samantha membuat gadis itu merasa mendapat serangan mental. ia segera menegakkan tubuhnya dengan dada yang sedikit membusung untuk mengimbangi wanita bernama Crystal itu.
“Baik. Bagaimana kabarmu?” Maximo menyambut Crystal dengan ramah. Mereka memang teman lama walau kedua orang tua mereka sering berselisih, William dan Cortez.
Hal menyebalkan bagi Samantha Ketika Maximo dan Crystal saling mencium pipi kiri dan kanan satu sama lain. Ada rasa kesal yang muncul didadanya saat melihat Maximo membagi perhatian pada wanita lain.
“Ingat, ini antisipasi, bukan cemburu.” Samantha.
__ADS_1
“Ya, Samantha. Aku akan mencoba percaya.” Author.
"Kabarku baik, lama kita tidak bertemu," timal Crystal seraya tersenyum kecil.
“Hay, aku Samantha. Aku tinggal dirumah Maximo.” Samantha segera memperkenalkan dirinya pada Crystal. Ia terlihat sangat bangga dengan kata-katanya sendiri karena seperti yang Nora katakan, kalau ia wanita pertama yang dibawa Maximo ke rumahnya. Tidak hanya wanita pertama, tetapi akan menjadi wanita stau-satunya.
“Waw, seorang Maximo menggandeng wanita. Apa kabar Samantha? Senang bertemu denganmu.” Crystal bersikap seramah mungkin pada Samantha ia memeluk Samantha dengan erat, seolah mereka adalah kawan lama.
“Kabarku baik.” Samantha yang terkejut segera menimpali.
Setelah sesi perkenalan itu, mereka saling bertatapan satu sama lain. “Bagimana study-mu. Apa sudah selesai?” Maximo bertanya dengan penasaran.
“Ya, sudah selesai. Setelah itu, Papah langsung menyuruhku pulang. Dia tidak bisa hidup tanpa aku,” timpal Crystal sambil bergelayut manja di bahu William.
“Dia sudah semakin dewasa dan sangat menarik, mana mungkin aku membiarkannya lama-lama didunia luar. Aku harus bisa mengendalikannya. Benar Maximo?” tanya William.
“Ya, segala sesuatu harus selalu dibawah kendalimu.” Maximo menyahuti dengan tenang.
“Ngomong-ngomong Samantha, ikutlah berkeliling denganku supaya kita lebih akrab,” ajak Crystal sambil mengulurkan tangannya.
“Ya, tentu.” Dengan senang hati Samantha menimpali. Ia pun pergi berkeliling rumah megah dengan para tetamu yang asyk dengan urusannya masing-masing. Ada yang asyilk berbincang, ada yang senang menari, ada yang menikmati suasana sambil minum-minum dan bermain poker, ada juga yang sedang asyik memperhatikan Samantha dan meliriknya penuh dengan rasa ketertarikan.
“Abaikan Samantha, jangan berulah atau Maximo akan menembak laki-laki itu.” Samantha mengingatkan dirinya sendiri.
“Sudah berapa lama kamu dan Maximo saling mengenal?” Crystal mulai menunjukkan rasa penasarannya. Mereka duduk didepan mini bar dan memesan minuman.
“Mungkin sekitar dua minggu atau lebih.” Samantha menjawab apa adanya.
“Wah, cukup lama juga.” Komentar Crystal sambil meneguk minumannya.
“Lama? Hahahaha….” Samantha sedikit geli dengan kata ‘lama’ yang digunakan Crystal. Menurut Samantha itu masih sangat sebentar.
“Sebuah hubungan bisa dikatakan lama setelah melewati ratusan belokan, tanjakan dan turunan juga ada proses tikung menikung. Walau tidak terbatas waktu, tapi kebersamaanku dan Maximo belum sejauh itu. Hanya saja, mengarah ke arah situ. Dia sangat menyukaiku.” Samantha mengedipkan matanya pada Crystal, membuat gadis itu mengeratkan genggamannya pada gelas yang sedang ia pegang.
Crystal merasa kalau Samantha terlalu sombong memamerkan hubungannya dengan Maximo.
__ADS_1
“Mungkin hanya aku yang sudah melewati hubungan macam itu dengan Maximo. Kami berkenalan sejak kecil dan Maximo memperlakukanku dengan istimewa. Dia bahkan memberiku nama panggilan kesayangan.” Crystal berujar dengan jumawa. Ia merasa kalau ia pun harus meruntuhkan kesombongan Samantha.
“Oh ya? Apa nama panggilanmu?” Samantha terpancing untuk penasaran.
“Kamu bisa menanyakannya sendiri pada Maximo.” Jawaban Crystal memang sengaja mengejek rasa penasaran Samantha. Samantha menoleh ke belakang, memandangi Maximo yang sedang berbincang dengan William. Untuk beberapa hal Maximo memang tampak dominan, tetapi untuk hal lain laki-laki itu tetap bersikap sopan. Apa karena William adalah calon mertuanya?
“Dia terlihat sangat gentle bukan? Aku yakin kamu menyukai Maximo karena hal itu. Apa dia sudah menidurimu?” Crystal semakin banyak ingin tahu. Ia tidak mau sahabatnya dari masa kecil, jatuh pada seorang wanita seperti Samantha. Wanita yang terlihat lugu, polos dan naif, juga cenderung bodoh dan hanya mengandalkan penampilan fisiknya.
Samantha tidak lantas menjawab, ia memilih meneguk minumannya dan memalingkan pandangannya dari Maximo. Pertanyaan Crystal baginya cukup menyebalkan.
“Tidak aneh kalau dia belum menidurimu atau tidak menidurimu. Dia tidak suka meniduri perempuan sembarangan, apalagi kalau hanya sekedar mainannya. Alasan yang dia buat dengan tidak bisa melakukan sesuatu dengan seorang wanita, hanya alasan untuk membentengi dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya dia tidak percaya pada wanita itu dan tidak menginginkan wanita itu sepenuhnya. Wanita tersebut hanya mainan yang bisa ia tarik ulur sesuka hati,” ucap Crystal dengan meyakinkan. Dan jujur, ucapan Crystal seperti sindiran dan tamparan bagi Samantha. Benarkah yang dikatakan gadis ini?
“Kenapa diam? Apa Maximo benar-benar belum melakukan apapun terhadapmu?” Crystal menoleh Samantha penuh selidik.
“Kami saling menjaga untuk satu sama lain.” Jawaban Samantha terdengar diplomatis.
“Hhahahahaha… jawabanmu unik. Kamu sangat tidak suka disudutkan.” Dengan nikmat Crystal menetawakan posisi Samantha saat ini. Samantha hanya mendengkus kesal, entah mengapa ia kesal pada Maximo juga Crystal. Terutama pada kedekatan yang diceritakan Crystal padanya.
“Ngomong-ngomong, darimana kamu mengenal Maximo? Apa dari sebuah kontes atau dari tempat pel4curan?” Crystal semakin semangat merendahkan Samantha.
“Kontes apa maksudmu?” Samantha balik bertanya. Lihat wajahnya yang penasaran dan itu menyenangkan untuk Crystal. Ia semakin semangat untuk merendahkan wanita ini.
“Sebulan sekali biasanya Maximo mengadakan kontes untuk wanita dan memilih wanita mana yang sekiranya menarik untuk dirinya. Dia akan bermain-main dengan wanita itu dan menjadikannya budak yang hanya bisa dinikmati oleh Maximo sendiri. Setelah itu, Maximo akan membuangnya.” Dengan santai Crystal mengambil es batu dari gelasnya lalu melemparkan ke dalam gelas Samantha hingga mencipratkan minuman. Sungguh itu menjijikan.
“Apa maksudmu dengan dibuang?” Samantha semakin penasaran. “Maximo membunuhnya atau menjualnya?” tu pertanyaan keduanya.
“Wah, sepertinya kamu sudah mendengar rumor itu.” Jawaban Crystal sengaja dibuat menggantung.
“Jawab aku, apa Maximo menjual gadis-gadis itu?” Samantha mulai kesal. Ia sampai memegangi tangan Crystal dengan erat, menuntut jawaban.
Crystal memandangi tangannya yag digenggam Samantha. Ia rasa tricknya berhasil untuk membuat Samantha ragu pada Maximo. “Tenanglah Samantha. Coba kamu tanyakan sendiri pada Maximo,” tantang Crystal.
Tanpa menunggu lama, Samantha segera beranjak dari tempatnya. Ia mencari Maximo yang entah menghilang kemana. Crystal hanya terkekeh melihat reaksi Samantha. Ini menyenangkan melihat gadis itu gelisah seperti sekarang.
“Bertingkah bodohlah Samantha, agar Maximo muak dan meninggalkanmu.” Ucap Crystal seraya meneguk minumannya dengan nikmat. Ia menunggu saat Maximo hanya menjadi miliknya saja.
__ADS_1
*****