Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Yang ku kenali


__ADS_3

Sorot mata hitam dan tajam itu menatap lekat sepasang mata biru yang membelalak kaget melihat seorang pria yang tidak ia kenal tiba-tiba menarik tangannya,memebawanya ke salat satu sudut ruangan yang sepi seraya membekap mulutnya. Laki-laki itu mengunci tubuh wanita itu pada dinding dengan tahanan lengan yang kokoh, membuatnya tidak bisa bergerak.


Cukup lama laki-laki itu menatap sang gadis. Ia seperti berusaha mengenali sorot mata yang kini menatapnya. Nyantanya, mata yang ia lihat bukan sepasang mata yang ia rindukan, tetapi cukup tidak asing diingatannya. Terutama adanya tahi lalat kecil di sudut mata gadis itu.


Perlahan, Maximo menurunkan tangannya, ia berhenti membekap mulut wanita itu saat sadar kalau wanita itu bukan wanita yang ia cari dan membuatnya gila. Meski bayangan Samantha menguasai pikirannya, namun ia masih bisa membedakan mana Samantha dan mana wanita lain. Hancur dan kecewa, dua perasaan itu kembali ia rasakan.


Wanita itu segara memalingkan wajahnya dari Maximo setelah laki-laki itu menurunkan tangannya.


“Siapa kamu? Mengapa memakai pelacak milik wanitaku?” Laki-laki itu bertanya dengan tegas. Mendadak ada rasa terhimit di dadanya karena rasa kecewa yang sungguh besar. Pelacak yang sempat memberinya harapan ternyata bukan menunjukkan keberadaan Samantha.


Wanita itu tidak menjawab, ia masih terkejut dengan serangan tiba-tiba yang dilakukan Maximo.


“Hey! Jawab aku!” Maximo mencengkram dagu wanita itu agar menatapnya dan menjawab pertanyaannya. Kesabarannya tidak banyak, terlebih jika menyangkut Samantha.


“Lepas! Tidak perlu memelototiku hanya untuk membuatku takut! Aku sudah melihat banyak pasang mata yang melotot terhadapku dan itu tidak lagi bisa mengintimidasiku.” Wanita itu balas mencengkram lengan Maximo agar melepaskan cengkaraman kokoh pria itu, dari dagunya.


Maximo melepaskannya dengan kasar. “Jawab pertanyaanku, atau aku akan menghabisimu.” Maximo segera mengeluarkan senjatanya dan menodongkannya di kepala gadis itu.


Bukannya takut, gadis itu malah tersenyum. “Anda terlihat sangat lemah dan putus asa tuan. Mana bisa anda menghardikku.” Kalimatnya terdengar meledek.


“Jangan bermain-main denganku, karena aku tidak segan untuk memecahkan kepala serang wanita.” Maximo semakin menekankan ujung senjatanya di pelipis wanita itu dengan napas menderu dikuasai emosi. Sang Wanita sadar kalau laki-laki ini tidak sedang bercanda.

__ADS_1


“Ya, baiklah. Bicara baik-baik denganku, maka aku akan menjawab apa pun, jika aku rasa bisa aku jawab.” Gadis itu menepis senjata Maximo dari kepalanya lalu bersidekap. Menakutkan juga laki-laki yang tidak memiliki batasan iba ini.


Maximo mencoba menenangkan dirinya, ia mengusap wajahnya dengan kasar agar bisa bertanya dengan baik pada wanita ini. Wanita ini tidak memiliki rasa takut sedikitpun, tidak ada gunanya ia mengancam wanita ini.


“Pelacak itu milik kekasihku. Bagaimana kamu bisa memilikinya?” Maximo mengulang pertanyaannya. Ia sudah tidak sabar.


Wanita itu tidak lantas menjawab. Ia membuka liontin kalungnya dan mengeluarkan pelacak yang ia simpan di sana. “Maksudmu ini?” Ia tunjukkan benda kecil seukuran biji jagung itu pada Maximo.


Maximo berusaha merebutnya, tetapi wanita itu menggerakkan tangannya dengan cepat, mengangkat benda itu ke udara, mejauhkannya dari jangkauan Maximo.


“Katakan siapa wanita yang kamu maksud?” Wanita ini masih ingin memastikan.


“Yaaa, yaa, yaa… aku percaya.” Wanita itu segera memotong kalimat Maximo yang menurutnya terlalu lengkap dan menyebutkannya sangat cepat seperti penyanyi rap. “Kalau kamu kekasihnya, lalu kenapa begitu gelisah dan mencarinya?” Lagi gadis itu bertanya.


Pada pertanyaan ini Maximo tidak bisa menjawab. Laki-laki ini menghembuskan napasnya kasar.


“EVELINE! EVELINE!” sebuah suara besar memanggil sebuah nama dan gadis itu segera mengintip dari tempatnya.


“Sial!” dengus wanita itu, saat mendapati seorang laki-laki tengah mencarinya.


“Katakan, bagaimana kamu bisa memiliki benda ini?” Maximo menghadangkan tangannya agar Eveline tidak pergi.

__ADS_1


“EVELINE!” suara laki-laki itu semakin keras, membuat Maximo mengeluarkan senjatanya. Ia ingin menembak laki-laki berisik itu.


“Berhenti!” Eveline langsung menahan tangan Maximo. “Jangan lakukan apa pun sekarang. Temui saja aku di Hotel Alpha jam setengah delapan malam. Jangan terlambat, karena waktuku tidak banyak,” imbuh wanita itu. Ia memasukkan kembali alat pelacak itu ke dalam liontinnya lalu tersenyum kecil seraya menepuk pipi Maximo, sebelum kemudian wanita itu pergi begitu saja.


“Ya, sayang,” sahut Eveline pada laki-laki yang menunggunya.


“Dari mana saja kamu?” Laki-laki itu terlihat kesal. Ia melihat ke sekelilingnya dan ternyata tidak ada siapa-siapa, karena Maximo masih bersembunyi di balik dinding.


“Jangan terlalu merindukanku, sayang. Aku tidak akan pergi ke mana pun,” sahut Eveline yang melenggang santai sambil melingkarkan tangannya di lengan laki-laki itu. Ia melirik sedikit pada Paul yang ada di sekitarnya dan tersenyum kecil. Rasanya laki-laki ini ia kenal, tetapi entah pernah melihatnya di mana.


Setelah kepergian Wanita itu, Paul segera menghampiri Maximo. Ia mendapati laki-laki itu sedang berjongkok sambil menunduk dalam. Ia memukuli kepalanya sendiri karena kesal. Padahal ia sudah sangat senang menemukan jejak yang ia pikir Samantha, tetapi ternyata jejak itu milik wanita lain, yang tidak ia kenal sama sekali.


“Dia sungguh mempermainkanku Paul. Aku bisa gila dibuatnya. Argh!” Maximo mengeram kesal sambil mengepalkan tangannya.


“Bersabarlah tuan, saya yakin wanita itu mengenal nona Samantha. Kita akan segera bertanya pada wanita itu. Semoga ini petunjuk untuk kita aar bisa menemukan nona Samantha.” Meski kosong, Paul tetap memberikan harapan palsu itu.


Maximo tidak menimpali. Pikirannya benar-benar rumit dan ia tidak bisa berpikir dengan benar saat ini.


"Sam, aku sangat merindukanmu."


****

__ADS_1


__ADS_2