
Jas hitam berkelas berbahan high twist atau polyester, membalut tubuh tegap Maximo yang sedang merapikan penampilannya didepan cermin. Laki-laki itu tengah merapikan rambutnya hingga kelimis dan sedikit membarkan pelembab pada wajahnya yang maskulin.
Malam ini, sesuai rencana Maximo akan menghadiri sebuah pesta dikediaman rekanannya yaitu Wiliam. Salah satu Mafia terkenal di Los Angeles yang menjadi teman sekaligus saingan bisnisnya. Malam ini juga menjadi malam pertama dimana ia akan mengajak seorang wanita untuk menghadiri sebuah pesta. Siapa lagi kalau bukan si cantik Samantha yang sedang mermpercantik dirinya didepan cermin. Ia mengenakan dress hitam berbahan dasar sutra yang melekat cantik ditubuh idealnya. Ia juga mengenakan anting-anting yang disediakan Maximo juga cincin berlian untuk menyempurnakan penampilannya.
Maximo memang mempersiapkan banyak hal untuk Samantha malam ini. Selain mengajak wanita ini berbelanja baju, ia juga memesan perhiasan terbaik dan semua aksesoris untuk wanita yang terlihat berkelas dan elegan. Meski jarang berdandan glamour, Samantha mengeratui banyak hal tentang mode dan fashion juga penataannya, terlebih setelah Alicia mengajaknya ke salon dulu dan mengajarinya cara merias diri.
"Apa ada yang kurang?" tanya Samantha pada pelayan yang sedari tadi setia menemaninya berdandan. Tidak, setiap saat pelayan ini menemani Samantha. Mungkin ia tidak mau nona mudanya kesepian dirumah sebesar ini.
"Anda sangat cantik nona, sempurna," ungkap wanita muda bernama Nora.
Samantha tersenyum kecil, ia sedikit berputar didepan cermin lalu berpose layaknya seorang model.
“Tolong pilihkan sepatu yang cocok untukku.” Kali ini dengan sudut matanya, Samantha menunjuk deretan sepatu yang sudah dibelikan Maximo. Entah berapa jumlahnya yang jelas sangat banyak.
Nora memilih satu dan memberikannya pada Samantha. “Silakan coba ini, nona.” Ia berjongkok dihadapan Samantha dan memakaikan sepatu pada wanita cantik itu.
Samantha mencobanya, rasanya cukup nyaman dan tampilannyapun elegan. “Seleramu bagus Nora,” puji Samantha. Ia tidak menyangka Nora memiliki selera yang sangat bagus.
“Terima kasih, nona.” Wanita itu mengangguk sopa seraya tersenyum. “Noan terlihat sangat cantik. Tuan besar pasti tidak akan pernah bisa berpaling. Jika boleh berpesan, malam ini tolong jangan menatap pria manapun, karena saya yakin tuan besar tidak akan terima,” ujar Nora dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
“Hah, kamu benar. Dia suka sekali menembak orang. Tidak mengenal tempat dan waktu. Apa dia selalu seperti itu pada wanita yang dia kencani?” Samantha menatap penasaran pada Nora.
Nora tersenyum kecil. “Hanya nona wanita yang dibawa tuan besar ke rumah ini.” Ucapan Nora terdengar tegas, tanpa keraguan.
“Waahh, rupanya dia cukup menyukaiku. Atau mungkin aku hanya burung kesayangannya yang kalau dia sudah bosan, dia juga akan menembakku.” Seketika tatapan Samantha kosong pada dirinya. Ia memikirkan masa itu, walau entah kapan hal itu akan terjadi.
“Saya percaya tuan besar akan sangat menjaga nona dan tidak akan menyakiti nona.” Nora mengatakan hal yang sebaliknya, membuat Samantha tersenyum kecut, entah pikiran siapa yang nanti akan terbukti.
Selesai berdandan, Samantha segera keluar kamar. Ternyata Maximo sudah menunggu dibawah. Samantha sengaja menggunakan tangga untuk turun menghampiri Maximo yang sedang berbicara dengan Paul. Saat suara steleto Samantha terdengar dan Paul mengangguk sopan pada nona mudanya, Maximo pun segera menoleh. Matanya sampai melotot melihat seorang wanita cantik layaknya bidadari yang berjalan ke arahnya. Menuruni satu per satu titian anak tangga dengan anggun. Maximo sampai terkesima dan matanya enggan untuk berkedip.
“Kamu tidak berniat membantuku?” tanya Samantha yang menghentikan langkahnya di satu anak tangga.
“Te-tentu.” Baru kali ini seorang Maximo tergagap. Ia segera menghampiri Samantha dengan langkah cepat dan mengulurkan tangannya pada gadis cantik itu. Dengan senang hati Samantha membalas uluran tangan Maximo, menggenggam tangan lelaki itu dengan erat dan tersenyum kecil pada pria tampan yang sangat menyenangkan untuk dipandangi.
“Selamat malam, nona.” Maximo menyahutinya seraya tersenyum kecil. Jantungnya berdebaran melihat Samantha yang begitu mempesona.
“Pesta apa yang akan kita hadiri? Aku sudah tidak sabar untuk menikmatinya. Apa aku bisa menari disana?” Samantha sedikit menggerakan tubuhnya dengan gemulai. “Atau menari bersamamu?” kali ini Samantha berputar dihadapan Maximo lalu sengaja menubrukkan tubuhnya pada pria itu.
Maximo segera menangkap tubuh Samantha, memeganginya lalu mengusap wajahnya kasar seraya tersenyum kecil. “Astaga, kamu benar-benar ujian terbesarku,” ujar Maximo ditelinga Samantha.
__ADS_1
“Aku memang sengaja melakukannya. Aku ingin melihat apa kamu masih tunduk pada prinsipmu atau kamu hanya laki-laki lemah yang akan menyerah pada godaan?” tantang Samantha yang sengaja balas berbisik membuat bulu kuduk Maximo meremang.
“Lakukan sesukamu dan aku akan melakukan bagianku. Termasuk membuatmu lebih dulu menyerahkan dirimu padaku. Tenanglah, walau itu sebuah kemenangan untukku, tapi hal itu tidak akan membuatmu merasa ditaklukan dan dipecundangi olehku.” Saantha memang tidak bisa dikalahkan dengan mudah, ia selalu bisa menimpali Maximo.
“Baiklah, aku akan menunggu masa itu. Masa dimana aku menyerahkan diriku sendiri tanpa paksaan dan tanpa dipengaruhi minuman beralkohol.” Kali ini Samantha sengaja menyentuhkan ujung hidungnya pada hidung Maximo, membuat laki-laki itu harus menahan napasnya beberapa saat untuk mengerem hasratnya yang membuncah.
“Aku harap kamu berhasil Max, untuk meyakinkanku,” imbuh wanita cantik itu.
Maximo tersenyum kecil, “Tidak ada sesuatu hal pun yang pernah gagal saat Maximo yang melakukannya.” Maximo berujar dengan tegas.
“Okey, semoga kali ini pun berhasil.” Samantha menepuk dada Maximo, merapikan bajunya lalu berdiri tegak. “Ayolah, segera bawa aku ke pesta. Aku ingin melihat seperti apa pesta para mafia.” Samantha terlihat begitu bersemangat.
“Kita akan berangkat, tapi berjanjilah kalau kamu tidak akan menggoda laki-laki manapun.” Maximo masih memegangi tangan Samantha dengan erat.
“Kalau mereka yang menggodaku?” Samantha balas bertanya.
“Hasilnya akan sama,” tegas Maximo seraya mengedipkan matanya pada Samantha. Samantha memahami benar maksud dari hasil yang sama itu seperti apa, apa lagi kalau bukan berakhir dengan suara tembakan.
Hah, tuan ini memang sangat posesif.
__ADS_1
****